jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu saya chatting dengan salah satu teman saya. Seorang Mahasiswi psikologi salah satu universitas ternama di Jakarta yang sedang patah hati.

*Well, saya tulis disini mbak, siapa tahu jadi inspirasi untuk orang lain 🙂

Beliau bercerita tentang masalahnya, dan saya hibur ( *hibur ? ) dengan salah satu hal yang saya pelajari tentang teori manusia diciptakan berpasang – pasangan. Setelah masalah beliau ini beres, pembicaraan pun berlanjut. mulai dari hal – hal yang saya anggap prinsip, hingga perilaku – perilaku manusia. Well, berhubung saya memiliki minat terhadap perilaku manusia, dan dia kuliah di psikologi, obrolannya jadi nyambung deh. 🙂

satu hal yang saya pelajari dari percakapan kemarin adalah perbedaan antara pria dan wanita, dalam konteks ‘tertarik terhadap lawan jenis’ :

Pertama kali pria tertarik pada wanita, mulainya dari fisik( luar ), baru melihat karakter ( dalam )

Sedangkan wanita tertarik pada pria, mulanya dari sesuatu perilaku si pria yang mempesona ( dalam ) baru ke fisik ( luar )

Get what i mean? Pria cenderung tertarik dari luar ke dalam, sedangkan wanita cenderung tertarik dari dalam ke luar.

contoh nyata : saya belum pernah menemui wanita yang menikahi seorang pria yang parameter utamanya adalah penampilan. selalu ada parameter lain yang digunakan si wanita sebelum urusan penampilan : Karakter ( penyayang, sabar, perhatian ), kemampuan ( mampu membuat orang lain merasa berharga, etc ), Agama, dan kemampuan finansial biasanya menjadi tolak ukur yang lebih tinggi prioritasnya daripada penampilan ( ganteng, cute, atau tampak tua ).

pesan moral : Anda Pria, membaca post ini dan anda merasa tidak cukup ganteng untuk seseorang? kalem saja, dunia belum berakhir kawan. 😀 parameter utama wanita bukan penampilan.

sebaliknya dengan pria. pria jika menemukan seseorang wanita yang cukup cantik dalam lingkungannya, tanpa sadar si pria itu mulai akan mencuri – curi pandang. jika ada kesempatan didekati. Namun ketika mengetahui wanita yang didekati tersebut memiliki karakter yang kurang cocok dengan si pria. perlahan tapi pasti si pria akan menjauh.

Teman saya yang Mahasiswi psikologi tadi, karena memahami hal ini melakukan tindakan yang cukup jitu : beliau tidak pernah dandan berlebihan. sampai – sampai temannya meledeki dia agar dandan. namun beliau tidak bergeming. alasannya? dia bilang begini :

gue nyari cowo yang mau menerima gue apa adanya
bukan yang ada apanya.

Ahaha, saya bilang, nice decision mbak.

Semoga bermanfaat. bagaimana dengan anda? 😉