Beberapa minggu terakhir, layar Macbook Air 13 inchi semakin kerasa sesek dan ngga efisien karena gue banyak bekerja menggunakan chrome + web inspector. Akhirnya gue memutuskan untuk berinvestasi (halah gaya) di large secondary monitor (dan juga mouse dan keyboard-nya karena large secondary monitor-nya akan jadi monitor utama sementara built in display-nya Macbook Air akan jadi secondary monitor).

 

Berikut ini adalah beberapa hal yang gue pelajari dari pencarian monitor kemarin.

Spesifikasi

Gue mencari layar 27inchi dengan resolusi 2560 x 1440 pixel karena ini adalah resolusi maksimum yang bisa digunakan oleh Macbook Air early 2014 gue (detailnya gue cek di EveryMac). Lalu untuk kebutuhan gue, resolusi 2560 x 1440 pixel ini oke karena secara berasa layar 13 inchi dijejerin empat biji. Muat untuk dua window chrome ukuran desktop dibuka dengan web inspector-nya.

The Obvious Choice

Pilihan paling jelas sebenarnya Apple Thunderbolt Display 27 inchi yang kompatibilitas dan kualitasnya ngga usah mikir dan tinggal plug and play aja. Masalahnya:

  • Seperti biasa, mahalnya diatas rata-rata. Price tag-nya USD 999 dan dengan kondisi rupiah yang lagi babak belur seperti sekarang, di Bandung minimal jadi Rp 15juta-an. Dan dengan skema monitor besar sebagai monitor utama, bisa-bisa abis Rp 17-jutaan total. *Pampers Makna apa kabar 😅*
  • Sudah tiga tahun lebih belum keluar versi baru
  • Kosong di semua premium reseller di Bandung. Gue udah telponin satu-satu1 😂
  • Dan yang paling bikin turned off adalah gue ngecek di Infinite Apple Premium Reseller di TSM, BUSET INI LAYAR TEBEL AMAT MALES DEH HIH 😂😂😂

Singkat kata, kayanya lebih baik cari alternatif lain. Gue udah googling kemana-mana, monitor 27 inchi keluaran lain harganya bisa 50% – 70% dari Thunderbolt display. Buset deh.

The Reference

Setelah berhari-hari riset via googling dan muter-muter BEC dengan pengetahuan bahwa jarang banget ada yang jual dan nyetok monitor 27 inchi di BEC2, akhirnya pilihan gue jatuh di Dell UltraSharp UZ2715H. Di Amazon harga-nya sekitar USD 600-an dan masuk Indonesia jadi sekitar Rp 8 jutaan (hampir setengahnya dari Thunderbolt display, *le sigh*). Alasan gue milih versi ini:

  • The Wirecutter recommends it. Pilihan utamanya Wirecutter untuk monitor 27″ saat ini sebenarnya kakaknya Dell UltraSharp UZ2715H yakni Dell UltraSharp U2713HM keluaran tahun 2013. Sayangnya Dell UltraSharp U2713HM ini lebih mahal 2jt-an karena ada beberapa port tambahan yang gue ngga butuhkan, dan terlihat outdated banget dengan bezel-nya yang tebel 😐
  • Bezel-nya Dell UltraSharp U2715H lebih tipis. Warna dudukannya juga sama dengan abu-abu alumunium-nya MBA. Visual wise, me gusta.
  • Disertakan dengan kabel DisplayPort to Mini DisplayPort jadi gue ngga usah beli-beli konektor lagi. Satu hal yang ngebuat gue agak males pake layar third party ini ya urusan konektor yang belum tentu kompatibel.

Setelah pilihan dibuat, sekarang tinggal satu masalah lagi: belinya dimana? Nyari dan googling se Bandung raya ngga ada. Akhirnya pilihan jatuh ke enterkomputer.com yang lengkap banget dan service-nya oke tapi kok websitenya nggak banget ya. Gue pernah beli RAM secara online di sana dan terbukti oke. Beberapa poin yang menarik:

  • Lu bakal dikasih opsi ekspedisi, mau MEX atau TIKI. MEX nambah 100ribu-an dan TIKI nambah sekitar 400ribu-an (berat monitor 16kg + packing kayu).
  • Common sense gue mikirnya yang lebih mahal harusnya lebih oke, tapi untungnya gue nanya mbak-mbak sales-nya dan mbak-mbak sales-nya ngerekomendasiin MEX
  • Gue transfer setelah ashar sebelum batas pengiriman harian jam 17:30, besok paginya jam 9-an udah nyampe rumah dong. AMAZING.

A happy bugslayer desk, powered by 27 inch display:

monitors in comparison

Built in 13 inch display compared to 27 inch display

You had me at no-connector-required

You had me at no-additional-connector-required

Mouse & Keyboard

Nggak aneh-aneh sih, tapi pilihan gue akhirnya jatuh ke Apple Magic Mouse dan Apple Wired Keyboard. Alasannya:

  • Ada finger gesture-nya. Ngga seoke touchpad memang, tapi lumayan oke lah. Dengan monitor selebar 2560pixel, mouse ini ngebantu banget bergerak dari ujung kanan ke ujung kiri dengan cepet. Kalo pake touchpad lama banget3
  • Gue sempet ngetes wireless keyboard-nya Apple tapi pas dicoba kok rada ribet nge-detect-nya ya, padahal pas Magic Mouse cepet. Berhubung harganya juga beda 200ribuan yang mana lumayan, gue ambil wired keyboard-nya aja deh. Setelah dicoba, ternyata baru ketahuan karena ukurannya lebih lebar, posisi tombol function, control, option, dan command-nya jadi rada beda. Kelingking gue jadi salah pencet melulu4, belum terbiasa 😐

Justifikasi

Gue invest (halah gaya phrasing-nya) lumayan banyak untuk large monitor setup ini, tapi justifikasinya selalu kalo keluar uang rada gede tapi ngebantu uang masuk terus menerus yang nantinya akan balik modal dan bahkan lebih, yaudah keluarin aja.

Tinggal satu lagi nih: koneksi speedy yang ndut-ndutan ganti dengan yang lebih reliable.


  1. Sebenarnya di Zoom PVJ ada, tapi kayanya versi lama atau abang-abangnya ngga ngerti 

  2. Karena harganya agak tinggi, sebisa mungkin gue ingin beli offline dan bisa ngetes langsung dengan MBA gue 

  3. Gue sempet kepikiran beli touchpad lagi aja tapi touchpad ini kalo berurusan dengan banyak klik dan drag bikin pegel 

  4. terutama pas nge-summon emoji