Siapa yang ingin menjadi kaya?

Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang sangat – sangat menarik sekali. Saya teringat akan salah satu materi yang saya dapatkan saat mengikuti training Mr. Tung Desem Waringin di JITEC kemarin. Berdasarkan materi yang saya dapatkan saat itu ternyata semua orang pasti ingin menjadi kaya, kecuali tiga jenis orang :

1. Orang Suci.

orang yang sudah lepas dari kenikmatan duniawi. Orang yang sudah tercukupkan dengan pemuasan spiritualnya saja.

2. Orang yang Gila.

orang yang sudah tidak memikirkan apa – apa.

3. Orang yang salah program.

Orang yang memiliki keyakinan yang salah tentang uang.

Sebenarnya menurut saya tidak ada yang salah dengan orang yang tidak memiliki keinginan untuk menjadi kaya. Namun menurut saya, kita perlu bertindak lebih objektif : Uang memang bukan segalanya, Namun kita hidup dalam dunia yang segalanya membutuhkan uang.

Makan butuh uang.
Membiayai pendidikan butuh uang.
Menikah pun butuh uang.
Sehat butuh uang.
Membangun tempat ibadah pun butuh uang.
Beribadah – Naik Haji pun butuh uang.
Hampir segala hal yang penting di dunia modern ini di pengaruhi oleh uang. Beberapa orang mungkin tidak setuju dengan pendapat saya ini. contoh lah : ” Loh, kata siapa segalanya membutuhkan uang? Cinta kan tidak membutuhkan uang?”

Anda betul. Bersyukurlah kita bahwa Cinta, Perasan mencintai, atau Perasaan dicintai tidak membutuhkan uang. Tapi aplikasi dari cinta, perasaan mencintai, atau perasaan dicintai-nya sendiri membutuhkan uang. Katakanlah anda adalah seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita. Anda sangat mencintainya sehingga Anda hendak meminang wanita tersebut untuk menjadi istri anda. Pertanyaannya, apakah untuk meminang wanita tersebut, – dikarenakan perasan mencintai anda – tidak membutuhkan uang? Butuh. Pernikahan membutuhkan biaya. Minimal untuk Mahar dan Walimah.

Anda butuh uang untuk mengaplikasikan perasaan cinta anda tersebut.

Hampir segala hal yang penting di dunia modern ini di pengaruhi oleh uang.

Memang tidak semua hal di dunia ini membutuhkan uang. bersyukurlah kita bahwa kita tidak dikenakan biaya setiap tarikan dan hembusan nafas kita. Tapi apakah hidup kita cukup dengan bernafas? Tidak.

Tanyakan hal ini kepada mayoritas penduduk indonesia yang berada dibawah garis kemiskinan. Apakah hidup mereka cukup dengan bernafas saja?

saya yakin jawaban mereka tidak.

Itulah mengapa saat saya mampir di salah satu blog, dan membaca salah satu postingan di blog tersebut yang berpandangan bahwa “Bahkan burung pun diberi makan oleh Tuhan, Kenapa harus mencari-cari yang lebih (Kekayaan)?”

Maaf. Saya tidak setuju dengan pendapat anda. Tidak apa kan berbeda pendapat ? πŸ˜‰

Menurut saya, jauh lebih baik jika sebagai manusia kita memiliki kelebihan. Oke, dalam konteks ini, kekayaan.

Kembali saya teringat oleh cerita yang disampaikan oleh Mr. Tung Desem Waringin dalam salah satu sesi seminarnya yang saya ikuti. beliau mendapatkan cerita ini langsung dari Robert T. Kiyosaki. Pengarang Buku Rich Dad Poor Dad, Cashflow Quadrant, Bussiness School, dan buku – buku lainnya yang banyak mengajarkan tentang konsep kekayaan. Suatu waktu, setelah buku karangan R. T. Kiyosaki ( Saya lupa yang mana) meledak di pasaran, Robert T. Kiyosaki diundang untuk hadir ke salah satu acara populer di dunia, The Oprah Winfrey Show. Di sela-sela acara, saat commercial break, salah seorang penonton bertanya kepada Robert T. Kiyosaki :

( Terjemahan Bebas )

“Robert, untuk apa sih anda menulis dan mengajarkan tentang bagaimana caranya menjadi kaya? Saya sendiri sudah merasa cukup dengan apa yang saya dapat dan merasa tidak perlu untuk menjadi kaya.”

Sebelum Robert T. Kiyosaki menjawab, Oprah menjawab duluan :

( Terjemahan Bebas )

Tutup Mulutmu! Kamu tidak tahu rasanya kalau kamu miskin dan orang tua mu sakit kamu tidak bisa membayar biaya berobat? Kalau kamu miskin kamu tidak bisa menyekolahkan anakmu? Kamu tidak pernah merasakan rasanya menjadi miskin?”

Cerita tepatnya saya tidak hafal, namun kurang lebih maksudnya seperti ini. dan saya tidak terlalu mempedulikan percakapannya, namun maksud dari percakapan itu sendiri :

Kalau anda miskin, anda akan kesulitan saat orang tua anda sakit keras dan anda tidak memiliki dana untuk pengobatan orang tua anda.
Kalau anda miskin, anda akan kesulitan saat anak anda masuk tahun ajaran baru.
Kalau anda miskin, anda akan kesulitan saat harga barang pokok naik.
Kalau anda miskin, perasaan anda akan tercabik – cabik saat anak anda menangis kepada anda karena temannya memiliki sesuatu yang anak anda tidak miliki, dan hal tersebut disebabkan karena anda miskin dan tidak mampu memberikan sesuatu yang anak anda inginkan.

Dan masih banyak kesulitan lain jika anda miskin. Bukannya saya mendewa – dewa kan uang dan menganggap uang dan kekayaan adalah segalanya. tapi cobalah jujur dan jangan munafik. Di dunia yang kita tinggali, orang yang kaya ( dengan cara yang benar tentunya ) memiliki lebih banyak kemudahan dibandingkan dengan orang yang miskin. Dan mendapatkan perlakuan lebih baik dari pada orang miskin.

Betul?

Lalu apa kesimpulannya? Kesimpulannya adalah kembali ke judul dari pertanyaan tadi. “menjadi kaya. Haruskah?” Tidak harus. bukan harus. tapi WAJIB. Tentunya dengan cara yang benar. Dan dengan tetap mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada kita sekarang. Alhamdulillah.

Demikian, semoga bermanfaat dan semoga bermakna untuk anda.

Salam Hangat,
Fikri

P.S. :

Bagaimana menurut Anda? πŸ˜‰