Akhir – akhir ini, saya mendapatkan banyak sekali e-book yang amat – sangat keren. Rata – rata 100 halaman lebih. Masalahnya adalah, saya masih merasa tidak nyaman membaca e-book via layar PC. lelah. Saya rasa radiasi layar dan Posisi duduk ikut mempengaruhi hal ini.

Akhirnya, saya mencoba mem-print dua e-book. Blog Profits Blueprint ( 69 halaman ) dan The Art & Science of CSS ( 200 halaman ). Wow, saya exciting sekali ketika keduaratus halaman buku tersebut selesai di print.

Tapi seketika, satu pikiran berkelebat di benak saya.

Saya adalah tipikal laki – laki yang ‘gatal’ jika melihat kertas polos. Namun saya selalu merasa bersalah ketika membuang – buang kertas. Membayangkan pohon – pohon ditebangi? Oh no. saya pecinta pohon. Saya amat menikmati hijaunya pepohonan yang ditimpa cahaya ramah matahari di pagi hari, dan selalu merutuki setiap pepohonan yang di tebang.

Terlebih lagi, saya percaya dengan faktor kali. Menghemat kertas mungkin hanya perkara kecil, tapi jika 6 milyar penduduk bumi concern dengan perkara kecil seperti “menghemat kertas” ini, dahsyat sekali membayangkan betapa banyak pohon yang di selamatkan.

Jadi, pilih mana?

baca e-book via screen PC? = Merusak Tubuh.
baca e-book hasil print? = Merusak Bumi.

Pilihan yang sulit. πŸ™

Bagaimana menurut anda?

Silahkan sumbangkan pendapat anda, dengan semangat 2.0 πŸ˜€

P.S. :

Pada akhirnya, saya menetapkan standar ganda : Baca di desktop e-book yang masih bisa saya baca via desktop (cukup pendek), dan Print e-book yang benar – benar saya butuhkan, dengan pertimbangan, jika e-book tersebut memang benar – benar baik, akan ada orang lain yang bisa mendapatkan manfaat dengan membacanya juga. Mengapa tidak beri versi digitalnya saja? Pengalaman yang lalu – lalu sih, e-book yang simply copy and paste, tidak terbaca πŸ˜›