dufan2010 - niagaragara

Setelah semester empat yang penuh dengan perkuliahan, tugas kelompok, ujian akhir semester dan pekerjaan freelance web desain yang Alhamdulillah rasanya ada saja terus (dan saya banyak belajar hal-hal baru karenanya), hari selasa kemarin saya dan teman-teman terdekat di kampus saya akhirnya memutuskan untuk ke Dufan. Haha, saya tahu hal ini terdengar sangat seperti remaja, tapi keluar dari rutinitas sehari – hari apalagi dengan teman-teman dekat kamu, apapun itu,  sangat-sangat mengasyikan. 🙂

Berapa biayanya?

Saya tidak ingin post ini menjadi sekedar cerita-cerita saja. Sampai H-2, saya dan teman-teman masih kelimpungan mencari informasi mengenai cara terbaik ke sana (dari Bandung) dan berapa biayanya. Setelah mondar-mandir menelpon berbagai macam travel (dan bertanya via twitter ke @infobdg – yang mana sangat membantu), akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan jasa Cipaganti travel. Well, gunakan nama besar yang terjaga demi kelancaran acara wisata. FYI, saya dengan teman-teman ada tujuh orang (dan saya laki-laki sendiri LOL) dan kami sudah mantap untuk melakukannya pada weekday agar tidak terlalu crowded. Ini dia estimasi biayanya:

  • Sewa Kijang Innova selama 18 jam. Sudah termasuk driver, bensin, parkir, dll. Tau jadi saja deh, ngga ribet. Rp. 850,000 / 18 jam
  • Overtime sewa Innova 10% dari biaya total per jam-nya. Jadi sekitar Rp 85,000 / jam
  • Tiket terusan Dunia Fantasi & Gelanggang Samudera Ancol (yang akhirnya hanya kita gunakan tiket Dufannya saja) Rp 145,000 per tiket
  • Makan siang di Dufan. Range harga makanan disana antara Rp 15,000 – 30,000an
  • Makan malam di Rest Area. Waktu kemarin kita makan di Solaria. Makan dan minum sekitar Rp 25,000 – Rp 35,000an

Dengan estimasi biaya seperti diatas, saya hitung-hitung kemarin per orangnya untuk mobil dan tiket habis Rp 270,000. Ditambah dengan makan, cemilan, dan overtime mobil satu jam kurang lebih kena sekitar Rp 350,000an.

Apa saja yang terjadi?

Saya dan teman-teman berangkat dari Bandung pukul 6 pagi. Berangkat dengan tepat waktu, ternyata Kijang Innova milik Cipaganti cukup nyaman, dan drivernya pun ramah sekali. Sialnya, ternyata pihak cipaganti ‘menitipkan’ tiket terusan Dufan kami pada rombongan lain (yang terlambat berangkat sekitar 1 jam) sehingga kami harus menunggu sekitar 1 jam di rest area KM 62. Ini satu-satunya minus pada pelayanan Cipaganti kali ini. Untungnya kami menanggapinya tidak dengan emosi jiwa. Dengan teman-teman dekat anda, berada di kondisi seperti apapun sepertinya asik-asik saja. Bercanda terus! 😀

Kami tiba di Dufan sekitar pukul 10.30. Begitu masuk Dufan, kesan yang kami dapat satu: ini bingung sekali harus kemana terlebih dahulu. Kalau berbicara dalam bahasa user experience web, navigasinya kacau dan kurang dapat dikenali. Haha, dasar geek. :p

Permainan pertama yang kami jajal adalah sejenis roller coaster kecil dengan bentuk kereta seperti ulat yang entah apa namanya. No scary things, hitung2 pemanasan lah.

Kesempatan kedua, kami langsung menjajal wahana tornado, dimana kami duduk di satu baris kursi dan diputar-putar dalam keadaan kaki kepala – kepala di kaki di ketinggian 10 meter. Cukup menegangkan, apalagi saya orangnya paranoid keselamatan. Haha, beres naik tornado saya sempat update status facebook saya menjadi seperti ini:

ternyata tempat untuk mengingat Tuhan tidak hanya d musola / masjid, di wahana tornado dufan juga efektif.

Turun dari Tornado dan berjalan ke wahana berikutnya, seorang teman saya memegangi tangan saya, dan mendadak jatuh. Oalah, ternyata teman saya ini darah rendah. Diputar-putar di ketinggian seperti itu membuatnya sangat pusing. Well, saya juga ada darah rendah tapi Alhamdulillah tidak separah itu. Hal ini membuatnya harus beristirahat di kursi taman, hingga akhirnya harus beristirahat di ruang P3K hingga sore demi kesehatannya.

Pesan moralnya? Kalau kamu darah rendah, jangan naik wahana yang memutar2 kamu di ketinggian 😉

Beres dari wahana Tornado, saya dan teman-teman dalam kurun waktu 4 jam sempat menjajal berbagai wahana lain: Kora-kora (sama seperti wahana kora-kora lainnya, hanya beda ukuran saja), Kincir-kincir (kurang lebih sama seperti tornado, hanya dengan lebih banyak variasi, ukuran yang lebih kecil dan arah rotasi yang lebih membuat mual), dan masuk ke dalam bola angin yang diapungkan di atas air (i know, hanya saya dan seorang teman saya yang masuk ke benda absurd itu, sisanya balita. haha, mumpung tidak ada yang kenal LOL).

Pendapat saya? Lebih menegangkan mengantrinya daripada naik wahananya. Mengantri 45 menit untuk wahana 5 menit. Haha, untung rame-rame 😀

Setelah makan siang, solat dan sedikit istirahat kami lalu melanjutkan penjajalan. Saya menaiki wahana Niagara-gara (kereta diatas jalur berair yang diakhiri dengan tanjakan setinggi 6 meter dan meluncur ke jaur penuh air – tanpa pengaman) yang saya peringatkan, jika kamu laki-laki jangan duduk di kursi paling depan kecuali jika kamu ingin selangkangan kamu tertekan dan rasanya sangat menyakitkan. Anyway, antrinya luar biasa panjang.

Setelah itu kami lalu memasuki rumah miring yang berada di dalamnya cukup membuat saya pusing tapi sangat menarik karena disorientasi gravitasi. Sempat-sempatnya pula foto-foto didalamnya LOL

Beres dari rumah miring, kami sempat mencegat rombongan parade Dufan untuk foto-foto. Haha. Dasar orang Indonesia, hobi sekali foto-foto. 😀

Dari pencegatan parade, kami melaju ke wahana Arum Jeram, menaiki perahu bundar untuk 8 orang dan menyusuri sungai artifisial penuh ombak. It was super duper fun! So far, ini adalah wahana paling fun yang kami naiki karena satu hal: yang fobia ketinggian juga bisa bisa menikmati wahana ini, tidak seperti wahana lain yang yang rasanya di desain untuk “menguji nyali”. Well, tidak semua orang terhibur dengan diuji nyalinya sih 🙂

Anyway, jika kamu ingin menaiki wahana ini, pastikan bawa baju ganti karena sekujur tubuh kamu akan basah. Kalau bisa sih barang2 kamu termasuk dompet dan handphone dititipkan ke teman yang tidak menaiki wahana ini. Seriously. Saya dengan dodolnya meninggalkan celana ganti saya dimobil membuat saya harus kedinginan dengan celana basah selama 2,5 jam.

Beres dari arum jeram yang kami naiki dua kali, saya dan dua orang teman melaju ke wahana halilintar (roller coaster terbesar yang ada di Dufan) sementara sisanya ganti baju ke ruang ganti. Sempat paranoid dengan keamanannya, tapi akhirnya saya merasa yah-masa-gitu-doang karena durasinya cepat sekali dan hanya satu putaran.

Setelah halilintar, saya berniat menjajal histeria (dinaikkan keketinggian 30 meter untuk lalu dijatuhkan kembali – seperti bungee jumping tapi menggunakan kursi dan dimulai dari bawah) tapi saya urungkan karena antriannya yang panjang dan harus mencari teman-teman yang tadi terpisah. Anyway, ada kembang api juga (saat itu sekitar pukul 7). Keren. Setelah kembali berkumpul, kami berniat lenjeh-lenjeh di bianglala, tapi karena setelah mengantri dan dapat giliran ternyata kuota kursinya hanya untuk 6 orang sementara kami 7 orang dan berada terpisah di bianglala berbeda rasanya sangat2 absurd, saya dan seorang teman yang agak paranoid ketinggian memutuskan untuk menjajal bom-bom car (istilah apa pula ini, haha) dan menabraki mobil-mobil lain yang kurang beruntung dengan bom bom car. haha 😀

Beres menjajal bom-bom car, waktu tepat menunjukan pukul 8. Booth-booth dan berbagai wahana sudah mulai ditutup karena jam operasional Dufan sendiri hanya hingga jam 8. Waktu itu baru jam 8 tapi rasanya seperti sudah larut malam saja karena kaki kami sudah sangat letih karena mengantri.

Keluar dari Dufan, saya mengambil celana ganti dan mengganti celana saya yang basah karena arum jeram di toilet terdekat dan kami pun berangkat pulang. Tiba di Rest Area KM 16 untuk makan malam dan solat, kami tiba di bandung pukul 1. Overtime satu jam, kena charge 85 ribu.

Apa yang bisa kamu pelajari?

Ada beberapa poin yang saya catat dari jalan-jalan kemarin:

  • Dari Bandung ke Dufan, biaya perjalanan + tiketnya untuk satu rombongan yang terdiri dari 7 orang adalah sekitar Rp 270,000. (belum termasuk makan dan overtime)
  • Servicenya Cipaganti oke juga
  • Dufan saat weekday saja ramainya sudah menyebalkan, apalagi saat weekend. Kalau mau ke Dufan, saya sarankan usahakan saat weekday saja
  • Menaiki wahana arum jeram asik, tapi pastikan kamu membawa baju dan celana ganti. Termasuk underwear juga. Dan jangan ditinggal di mobil, bawa masuk ke dalam.
  • Jam 12 sampai jam 5 sore adalah waktu paling ramai. Sebelum atau sesudah jam tersebut, antriannya sudah agak berkurang
  • Ada dua jenis wahana: yang menguji nyali dan yang seru-seruan. Meski saya pribadi tidak ada masalah dengan ketinggian, tapi saya tidak mendapati diri saya sangat terhibur dengan uji nyali. Well, setiap orang berbeda-beda.
  • Kalau kamu darah rendah/tinggi, hati-hati dalam memilih wahana yang akan kamu naiki. Daripada tepar dan harus istrihat di ruang P3K, lebih baik cari wahana lain saja 😉
  • Keluar dari rutinitas dengan teman-teman akrab kamu itu sangat-sangat menyenangkan! We have to travel again next time 😀
  • Sendirian ke Dufan itu akan sangat tidak oke sekali, mengingat antrian-antriannya yang luar biasa panjang
  • Pastikan bahwa satu hari setelah main ke Dufan, jadwal kamu kosong. Seriously. It was fun but also tiring. Saat saya menulis ini, satu orang teman saya encok pegal linu (kaya orang tua saja, hihi), satu orang flu, satu orang ke rumah sakit (yang darah rendah, mau ngecek kenapa dia bisa separah itu) dan satu orang lain bbm-an dengan saya karena sangat ingin refleksi. Saya sendiri setelah solat subuh tidur lagi dan saat terbangun sudah jam setengah 11 saja :p

Itu tadi sedikit cerita dari kegiatan bebas-perkuliahan & pekerjaan (meskipun masih sempat-sempatnya membalas email klien sih :p) saya. Bagaimana dengan kegiatan liburan kamu? 😉

Semoga tulisan saya bermanfaat untuk kamu.

ternyata tempat untuk mengingat Tuhan tidak hanya d musola / masjid, di wahana tornado dufan juga efektif.