link to www.fimadani.com

Dalam Islam, kebebasan yang sejati direpresentasikan dalam kebebasan setiap orang untuk memilih sendiri alat pembayaran. Dan, ketika kebebasan itu tersedia, semua orang memilih emas dan perak, dinar dan dirham. Kembalinya dinar dan dirham akan mengawali berakhirnya kapitalisme dan cengkeramannya terhadap dunia Islam. Dinar dan dirham memprasyaratkan kembalinya otoritas di satu sisi dan mengembalikan muamalah di sisi lain.

Kondisi sekarang: Jangankan dinar-dirham atau kembali kepada standar emas yang dilakukan Rusia, bitcoin mulai populer aja (setau gue) otoritas finansial langsung ketar-ketir. CMIIW.

206950948_6c822f621f_time

Lebih Besar Dari Waktu

Beberapa minggu lalu, gue sempat terpikir hal ini. Biar enak, ini gue jelasin pake gambar:

00.

Kita manusia

01 There is this human

 

01.

Manusia hidup dalam ruang. Panjang X Lebar.

02 Who lives in a space

02.

Ruang bergerak “dalam” lorong waktu yang selalu maju, tidak pernah mundur. Well setidaknya menurut manusia waktu selalu maju, tidak pernah mundur.

03 Which the space is travels in time

03.

Pertanyaannya: sebutlah ada “sesuatu”, kita sebut saja X, yang lebih besar daripada waktu:

04 What happens if there's something which is bigger than time

04.

Logically, bagi X yang lebih besar daripada waktu, waktu menjadi irelevan. Bagi X, tidak ada yang namanya masa lalu, masa ini, dan masa depan. X bisa melihat dan mengetahui masa lalu dan masa depan “pada waktu” yang bersamaan.

05 there is no time

Which means, dalam sudut pandang “tertentu”, masa lalu dan masa depan terjadi di “waktu yang sama”.

***

Gue ngga punya latar belakang pengetahuan astrofisika atau apapun yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan ini. Jadi kalau ada yang punya pengetahuan dan latar belakang yang sesuai, let’s discuss. Please correct me if i’m wrong.

***

P.S.: Beberapa lalu gue sempet ngediskusiin ini dengan Om @arisetyo di twitter:

There was a problem connecting to Twitter.

Photo by Trinity

link to time.com

A great piece by TIME (John Arlidge):

You might think you’d recognize him if you passed him on the street, but you wouldn’t. He’s not particularly tall, is well built and bald(ish), has two-day-old stubble and dresses like dads do on weekends — navy polo shirt, canvas trousers, desert boots. He speaks slowly and softly in an Essex accent totally unaffected by living in America for more than two decades

Great people focuses on what matters the most. 

 

Photo by marcopako ?