Hi, I am Fikri Rasyid1. This is my personal blog which I have maintained since 2008. The content of this blog is mainly categorized into four major themes:

  1. Thought My thoughts on things
  2. Experience Things I’ve done
  3. Awesomeness Stuffs that spark ideas on my mind
  4. WordPress My thoughts & experiences around WordPress

For more specific themes, you can browse this blog by its tags. Happy reading2.

Update

  1. August 29, 2014 – All work related stuffs (including WordPress) is now moved to pro.fikrirasyid.com Wait for it…. wait until you read the next list item…
  2. September 17, 2014 – All work related stuffs is now published on the most epic3 domain name ever: http://fikrirasy.id

  1. You can get to know me more here

  2. And do some epic conversations about what you’ve read. 

  3. This is obviously biased tho 

Comments Off

Wednesday, 01 October 2014

Moving Files

Don’t Use Finder For Migrating Large or Lots of Files

I was migrating my files from my old MacBook Pro to External HDD1 when I learned this lesson:

Finder is not reliable for moving large or lots of file.

I was copying my iPhoto libraries and the progress was stuck at 80% for hours. I cancelled the operation and copied it using Forklift, and it is done way much faster.

For deleting bulk (and large) files, use OmniDiskSweeper. Don’t even rely on Finder for that.


  1. Which will be moved back to my MacBook Air 

September 2014

Tuesday, 30 September 2014

You Should Be Careful Of What You Wish For

Sejak beberapa tahun lalu, gue kerap berhati-hati dengan apa yang gue harapkan. Karena apa yang lu harapkan itu punya banyak sisi, bukan terbatas oleh apa yang lu liat doang. Kalo gue formulasikan1:

Keinginan = kondisi 1 + kondisi 2 + kondisi 3 + kondisi n

Kondisi 1 bisa aja baik. Kondisi 2 bisa aja necessary pain. Kondisi 3 bisa aja super epic necessary pain.

Case in points:

  1. Lu ingin makmur. Bisa aja jalannya supaya makmur itu lu dihina-hina dulu oleh orang lain.
  2. Lu ingin pinter. Bisa aja jalan supaya lu pinter itu lu harus merasa bodoh dan dipermalukan dulu di depan orang banyak
  3. Dll.

Lu ingin makmur dan pinternya. Lu ingin dan siap ngga ngehadapi dihina-hina, merasa bodoh, dan dipermalukannya?

As Imam Suhaib Webb puts it beautifully into this single tweet:

imamsuhaibwebb-status-516801680894328834

You should be careful of what you wish for2.


  1. Tsailah, formulasikan 

  2. Incubus – Zee Deveel. Salah satu frase favorit gue dari seluruh lagu Incubus. 

Monday, 29 September 2014

Travelling Ke Cirebon, Powered by Kereta Api & Beli Tiket Online

Sejak pacaran dan akhirnya menikah dengan @rizkiyafauziyah, gue mulai sering bulak-balik Bandung – Cirebon, Jakarta – Cirebon, hingga akhirnya Bandung – Cirebon lagi.

Pertama kali gue bulak-balik Bandung – Cirebon buat nganter kue lebaran, gue nyobain pake bis umum. Not good. Bis yang ugal-ugalan + jalan yang kecil jadi penyebab enggannya gue pake bis. Alternatifnya? Kereta Api. Di rute Bandung – Cirebon ada kereta Ciremai Ekspress yang harga kursi ekonomi AC-nya cuma sekitar 70ribu. Untuk rute Jakarta – Cirebon, ada kereta Cirebon Ekspress yang harga tiket bisnis-nya sekitar 95ribuan. Ngga ada istilah macet buat kereta api, badan yang lega dan memungkinkan gue untuk jalan-jalan dalam kereta, dan estimasi waktu yang relatif lebih akurat menjadi alasan gue untuk hampir selalu menggunakan kereta api setiap kali mengunjungi Cirebon.

Beli Tiket Kereta Api, Pesawat dan Layanan Lainnya

Seinget gue, setidaknya gue pernah membeli tiket kereta api dengan tiga cara:

1. BELI TIKET KERETA API LANGSUNG DI STASIUN

Jaman-jamannya gue kerja di Jakarta, gue pernah beberapa kali dengan koboi-nya dateng ke Gambir abis waktu kerja untuk nyari tiket. Sekarang sih gue jarang beli langsung di stasiun. Alasannya:

  1. Kudu ngantri, dan antriannya suka panjang.
  2. Buang-buang waktu dan uang untuk perjalanan ke stasiun-nya.
  3. Belum tentu dapet pula.

2. BELI TIKET DI MINIMARKET

Sejak dikasih tau pacar-yang-sekarang-jadi-istri gue bahwa dia sering beli tiket di minimarket seperti alfamart dan indomaret, gue mulai sering beli tiket di minimarket. Setidaknya gue ngga perlu jauh-jauh datang ke stasiun dengan resiko ngga dapet tiket dan mengarungi kemacetan ibukota. Sayangnya, pengalaman belanja tiket di minimarket itu ada hal menyebalkannya tersendiri:

  1. Kalo di Alfamart, lu harus nanya ke mas-mas / mbak-mbak kasirnya. Leuheung kalo tiket yang lu pesen itu ada di jam yang ngga rame dan lu punya kebebasan memilih opsi jam yang ada. Kalo lu mau beli tiket di rute dan jam yang ramai, lu bakal berulang kali nanya ke petugas kasir “Kalau jam yang ini ada ngga mas? Kalau jam yang ini ada?”. Annoying, time consuming, dan kasian orang lain yang antri di belakang gue.
  2. Indomaret agak canggihan dikit. Di beberapa branch Indomaret, mereka biasanya punya alat sendiri (seperti mesin ATM lah) dimana lu bisa milih tiket yang lu inginkan, lalu lu dikasih struk untuk kemudian dibayarkan di kasir. Masalahnya, UI dan UX dari alat ini memiliki kesalahan yang sangat fatal: touch screen-nya sangat ngga responsif dan saat lu memilih rute, dia akan menunjukan semua rute terlepas dari apakah masih ada tiket tersisa di rute tersebut atau tidak. Yang terjadi selanjutnya adalah lu membuang bermenit-menit di depan alat tersebut untuk meng-klik satu opsi, popup berisi pesan “gerbong ini sudah penuh”, lalu kembali meng-klik opsi lain yang sesuai dengan waktu dan budget lu.
  3. Lu harus jalan ke minimart tersebut.

3. BELI TIKET ONLINE

Saat startup yang bergerak di bilang online ticketing seperti Tiket.com, Traveloka, Wego, dan yang lainnya menjamur, gue sempet berpikir ini orang kok pada rame-rame masuk market ini ya? Memangnya ada sebanyak itu orang yang belanja tiket online di Indonesia? Dilihat dari animonya, demandnya sepertinya memang terlihat meningkat dari tahun ke tahun.

Belakangan, gue sendiri jadi sering beli tiket secara online karena experience membeli tiket via minimarket, seperti yang gue sebutkan diatas, terasa sangat menyebalkan. Praktis dan cepat menjadi alasan gue memilih membeli tiket secara online. Gue mulai menyadari kalau kehadiran online ticketing company seperti Traveloka.com, Tiket.com, Wego, dll kayanya ngga hanya jadi alternatif semata, tapi lebih ke terobosan yang menawarkan suatu hal yang baru dari segi pelayanan dan unique selling point lainnya seperti kemudahan, penggunaan waktu, dll.

Selain praktis, hal yang gue suka dari membeli tiket secara online adalah gue bisa membandingkan harga antara tiket satu dengan yang lainnya untuk mendapatkan harga dan waktu yang terbaik. Saat ini kebutuhan gue masih ngebandingin antara harga kereta Ciremai VS kereta Harina dan gue bisa nge-save lumayan banyak budget. Kalau suatu saat kebutuhan gue naik untuk ngebandingin harga tiket antar maskapai baik yang LCC seperti maskapai Citilink, Lion Air, Sriwijaya Air, AirAsia dan yang premium seperti Garuda Indonesia dan Batik Air, tentunya akan ada lebih banyak lagi budget yang gue bisa save.

Jadi buat yang sering travelling dalam negeri, biasanya pada pake apa dan gimana kamu beli tiketnya?

Disclaimer: tulisan ini disponsori oleh Traveloka.

Friday, 26 September 2014

unsplash-sheep

Tentang Pilkada Langsung / Tak Langsung

IMO, andaikan wakil rakyat dan DPRD itu merupakan kumpulan manusia paling cerdas cendikia, paling mementingkan kepentingan publik, paling bijaksana, dan paling segalanya dalam konteks yang positif1, gue pribadi lebih cenderung memilih Pilkada yang “diwakili” DPRD. Seharusnya lebih baik pilihan 30 orang cerdas cendikia daripada 3 juta orang yang parameter memilihnya bercampur baur dimana suara satu pemilih yang mempertimbangkan pilihannya dengan cermat sama nilainya dengan pilihan pemilih yang disogok dengan uang Rp 200 ribu 2.

Sayangnya, realitanya saat ini tidak sama dengan kondisi ideal yang gue sebutkan diatas: pemimpin yang kelihatan kerjanya seperti walikota Bandung saat ini3 terpilih melalui mekanisme pemilihan langsung.

Buat gue, issue yang lebih fundamental itu begini: gimana sih caranya agar orang-orang yang duduk di kursi DPR/DPRD itu orang-orang yang, seperti namanya, benar-benar orang terbaik yang mewakili kepentingan rakyat? Gue pribadi tidak merasa terwakili dengan mereka. Siapa yang gue pilih di pemilu DPR / DPRD lalu aja gue ngga inget4.


  1. Ya intinya kumpulan manusia terbaik dari suatu daerah ini lah. You got the point. 

  2. Devil advocate’s: sebenarnya akan beda kondisi idealnya jika seluruh rakyat di suatu kondisi memilih dengan cermat. But we all know it’s likely impossible to happen

  3. The soon-to-be legendary Ridwan Kamil, if he’s working well 

  4. Kalo ngga salah gue ngga milih malah di pemilu terakhir karena sedang macul di Jakarta 

Monday, 22 September 2014

Sunday, 21 September 2014