






Kemaren-kemaren sempet nonton ini. Terus mendadak kepengen sekolah terus sampai S3, random abis :)))







Kemaren-kemaren sempet nonton ini. Terus mendadak kepengen sekolah terus sampai S3, random abis :)))
Mengantisipasi perpindahan status dari freelancer kontrakan jadi karyawan full-time BINUS di divisi Digital-Media Development pada awal Mei 2013 kemarin, gue sudah mulai nyari kosan di sekitar BINUS Syahdan sejak April 2013 silam. Di sela-sela waktu meeting mingguan di bulan April, gue mencoba jalan kiri-kanan ngeliat-liat kosan. Ada beberapa hal (yang gue temukan) yang gue pikir akan berguna untuk siapapun yang di masa depan berniat untuk nyari kosan di sekitaran BINUS Syahdan. Maka dari itu, gue nulis post ini.
Pertanyaan dasar banget. Berdasarkan lumayan banyak kosan yang sempat gue datangi, IMO sementara ini kosan sekitaran BINUS Syahdan bisa dibagi ke dalam tiga kategori:
Setiap orang punya kebutuhan berbeda-beda, tapi gue pribadi memiliki kebutuhan-kebutuhan ini:
FYI, poin satu sampai empat itu gampang banget dicari. Poin keenam biasanya bisa didapat KALAU punya budget yang lebih. Yang susah itu poin ke lima: di sekitaran BINUS ini banyak banget kosan. BANYAK BANGET. Yang susah itu mencari kamar kosan yang ada jendelanya. Sepengamatan gue, kebanyakan kosan di sekitar BINUS Syahdan yang modelnya model gedung (satu gedung terdiri dari beberapa lantai yang satu lantainya bisa sepuluhan kamar lebih) dan sangat/terlalu mengandalkan AC. Banyak banget kamar yang ngga punya jendela yang mana buat gue mengagetkan banget. Sekalinya ada kamar yang punya jendela, jendelanya ngga bisa dibuka :| Kalo lu beruntung, lu bisa dapet kamar kosan yang ada jendelanya dan bisa dibuka.
Setelah berkali-kali jalan dan ngecek langsung, gue masih belum nemu tempat yang sreg banget dengan kebutuhan gue. Akhirnya gue baru keinget, kenapa ngga googling aja *facepalm.jpg*. Setelah gue coba browsing-browsing, ternyata ngga terlalu banyak website yang bisa dijadikan referensi untuk kosan di sekitar BINUS. Buat gue, hal ini memunculkan pertanyaan juga: apakah ngga banyak orang yang nyari informasi mengenai kosan di sekitar BINUS melalui internet sehingga ngga banyak informasi yang searchable tentang topik ini?
Balik lagi ke topik nyari kosan, setelah googling-googling, gue nemu informasi mengenai beberapa kosan dari kostjakarta.com. Begitu ada waktu luang sehari, gue coba mendatangi dan mengecek kosan-kosan tersebut.
Setelah keliling-keliling nyari kosan yang mana melelahkan banget ini, gue akhirnya memutuskan untuk ngekos di D’Balcony. Alasannya:
Dibandingkan dengan opsi fasilitas/budget kosan lain di sekitar BINUS, ini kombinasi paling oke yang bisa gue temukan. Atau lu tau ada lagi yang lebih oke?
Berikut ini beberapa foto D’Balcony yang gue ambil via iPhone:
Dalam pencarian gue, gue menemukan beberapa alternatif yang sebenernya cukup oke cuman secara budget / lokasi / fasilitas gue pikir ngga seoke D’Balcony:
PENTING: harga dari kosan-kosan yang gue sebutkan diatas bisa aja berubah. Kalo lu ngegunain informasi yang gue sebutkan ini sebagai referensi, CEK LAGI.
Well itu aja sih yang terpikir saat ini. Ada yang mau nambahin? :)
Ini cuman gue doang, atau lu juga merasakan hal yang sama?
Gue, most of the times.
Berbekal kenyataan bahwa mayoritas media massa (terutama TV) dimiliki oleh figur yang punya kepentingan politis, aktif berpolitik di bawah bendera partai tertentu, dan beberapa kejadian dimana berita di media tertentu yang jelas-jelas A dipelintir jadi B, gue pribadi kalau baca atau nonton berita terutama berita politik merasa kalau berita tersebut memiliki peluang yang besar untuk jadi bias.
Jadi kalo ada berita tentang politik yang datang dari suatu media massa, gue malah selalu kepikiran: bagaimana kalau yang benar itu malah sebaliknya dan berita yang ada sekarang itu pelintiran supaya mendukung kepentingan si pemilik media massa?
Gue pikir hal ini sangat mungkin untuk terjadi.
Lalu, terlepas dari faktor bias buah intervensi si pemilik media massa, gue pribadi cenderung menghindari “kemutlakan” seperti bilang “AH NGGA MUNGKIN, PASTI GINI GINI GINI!” dalam hal-hal yang sifatnya bukan prinsip atau akidah.
Gue cenderung berpikir kalau mustahil gue tahu segalanya. Kemampuan gue memahami sesuatu terbatas oleh kemampuan gue mengindrai hal-hal yang ada. Oleh karena itu, gue cenderung mencoba membuka pintu “kemungkinan”. Saat ini keliatannya X, semua orang berpendapat X, tapi bentar dulu, somehow bisa aja yang sebenernya terjadi itu Z.
Namanya juga manusia. Sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya manusia, pengetahuan dan kemampuan dia terbatas. Terikat faktor emosional pula. Manusia yang baik aja bisa jadi salah, apalagi manusia yang ngga belum baik.
Berlandaskan pemikiran diatas, dalam konteks sehari-hari seorang manusia 20 tahunan yang lumayan melek media sosial, gue jadi suka bertanya-tanya dalam hati mengenai perilaku pengguna twitter yang dengan gampangnya nyinyir berbekal RT-an judul artikel yang entah dibaca isinya apa ngga itu:
Apakah lu dengan mudahnya percaya 100% dengan news outlet / media massa?
Itu baru yang nyinyir berbekal judul artikel media massa, belum yang heboh bermodal share-an foto atau artikel di Facebook yang entah darimana datangnya, entah bagaimana validitasnya, dan entah yang heboh ini kepikiran untuk ngecek validitasnya dulu atau tidak.

Oh iya, perlu diingat juga: Semua yang gue tulis diatas bisa aja salah.
Wallahualam.
Telat setengah bulan buat sekedar ngeposting lagu-lagu apa aja yang nemenin gue selama April kemarin (padahal tinggal paste embed code doang dari Deezer, kebayang ribetnya mulai ngekos, berubah rutinitas, dan ada kerjaan yang harus diberesin), akhirnya gue ada kesempatan juga buat ngepost di sini. So here we go, songs of April 2013:
Pada dasarnya April kemaren ada dua album dari artis yang gue suka yang baru banget dirilis dan kerennya langsung nongol di library Deezer: Paramore’s self titled album dan Save Rock and Roll-nya Fall Out Boy.
Di self titled album-nya Paramore, mereka jadi lebih “colorful” dan kurang “dark“, mungkin karena formasi baru minus si Farro Brothers ya. Beberapa lagunya memang jadi aneh, tapi track2 kaya Daydreaming, Ain’t it Fun, Still Into You, Now, Anklebiters, dan Proof asik-asik banget meskipun ngga sedalem track-track mereka di Brand New Eyes. Favorit gue sih Proof. Catchy abis.
Di Save Rock and Roll, Fall Out Boy yang mana Patrick Stump secara ajaib jadi kurus ini datang dengan formula yang sama. Lirik yang Pete banget dan melodi Stump yang kayanya hanya dia yang bisa nyanyiin lagu-lagunya dengan bener. Banyak banget track mereka yang gue suka: The Pheonix, My Songs Know What You Did in The Dark (Light Em Up), Alone Together, Young Volcanoes, Rat a Tat, dan Save Rock and Roll. Well lebih dari 50% dari isi albumnya asik. Catchy dengan lirik yang seperti udah gue bilang, Fall Out Boy banget (panjang dan aneh tapi catchy). :D
Without further ado (regardless four paragraphs above), silahkan menikmati:
Gue selalu penasaran bagaimana orang jaman dulu hidup. Coba bayangkan:
Banyak hal yang kita anggap wajar, biasa saja, dan “hak dasar” hari ini merupakan sesuatu yang tidak ada dan tidak terbayangkan di masa lalu. Gue selalu berpikir: How did they live with that?
Anyway, karena keterbatasan referensi ilmiah yang gue miliki dan kenyataan bahwa gue belum pernah menemukan referensi ilmiah mengenai kehidupan di masa lalu yang menjelaskan dengan cara yang engaging mengenai bagaimana kehidupan di masa lalu, ujung-ujungnya gue lari ke fiksi yang bersetting di masa lalu. Film, manga, you name it. Meskipun bukan fakta, gue pikir untuk menjadikan fiksi mereka ‘hidup’, pengarang dari fiksi tersebut pasti melakukan riset mengenai setting dimana fiksi mereka akan diceritakan. Close enough. Berikut ini beberapa fiksi yang membuat gue berpikir “How the hell they live with that?”.

Kingdom of Heaven. Courtesy of TM and 2005 Twentieth Century Fox. Source.
Gue pernah belajar mengenai sejarah islam saat nyantri dulu dan nama Salahadin Al-Ayubi memang seingat gue disebut sebagai pahlawan penakluk Konstantinopel. Yang membuat gue kepikiran setelah menonton film ini:

Still of Sean Bean in Game of Thrones. Courtesy of HBO. Source.
Meskipun setting-nya fantasy-medieval, tapi serial ini membuat gue sedikit banyak kebayang parahnya kehidupan medieval. Kalo di Kingdom of Heaven gue lebih tertarik kepada sifat knightly tokoh-tokoh sentralnya, di Game of Thrones ini karakternya lebih banyak jadi perhatian gue ngga terlalu terpusat di karakternya. Beberapa hal yang gue simpulkan dari menonton serial ini:

Vinland Saga
Manga yang bersetting tentang kehidupan perompak Viking ini memberikan insight yang lebih parah daripada Kingdom of Heaven atau Game of Thrones.
Gue ngga tahu gimana melanjutkan dan menutup gagasan yang meloncat-loncat di pikiran gue mengenai topik ini. Yang terlintas di pikiran gue cuman satu: Kalo lu ngerasa beban hidup lu berat banget, coba sekali-sekali bayangin kehidupan orang-orang di zaman dulu ini kaya gimana. Those people experienced one hell of a world, no?

iMac Kantor VS MacBook Perjuangan
Untuk keperluan front end dan WordPress theme development, aplikasi apa saja yang perlu diinstall di iMac kantor? Berikut daftar yang gue coba himpun sejauh ini:
Ada tambahan?

Tiga hal yang gue simpulkan dari kejadian-kejadian belakangan ini:
Atau sederhananya, lakukan triangulasi: melakukan cek silang dari berbagai jenis atau sumber data untuk memastikan validitas data atau informasi (Gillham, 2000:13; Bassey, 1999:76). Kenapa gue menyimpulkan tiga poin ini? Sederhananya, karena kemampuan manusia dalam memahami sesuatu itu terbatas, seterbatas apa yang dia ketahui.
Ilustrasinya: Orang buta yang bilang kalau gajah itu seperti ular karena yang dia tahu dari gajah itu belalainya doang.
Besok-besok, kalau ada situasi yang cukup ‘genting’, tahan sebentar dan ingat hal ini:
Informasi yang lu terima itu bisa aja ngga utuh. Yang menyampaikan informasi itu bisa saja orang yang lu percaya tapi bisa aja (lagi) yang bersangkutan cuman ngelihat dua sisi dari kejadian yang sebenarnya bisa dilihat dari empat sisi berbeda. Yang bersangkutan bukan bohong, tapi mungkin karena situasi, keterlibatan emosi, atau hal lainnya, yang bersangkutan ketahui jadi parsial atau tidak utuh.
Untuk satu kejadian yang misalnya punya empat sisi, jika lu punya dua sumber data dimana sumber pertama tahu dua sisi dan sumber kedua tahu dua sisi lainnya, pemahaman lu akan jadi lebih menyeluruh. Kalau variabel sisi-nya lebih banyak, cari lebih banyak sumber data.
Lu bertanggung jawab atas diri lu dan opini lu sendiri. Mengutip King Baldwin IV di film Kingdom of Heaven:
A king may move a man, a father may claim a son, but that man can also move himself, and only then does that man truly begin his own game. Remember that howsoever you are played or by whom, your soul is in your keeping alone, even though those who presume to play you be kings or men of power. When you stand before God, you cannot say, “But I was told by others to do thus,” or that virtue was not convenient at the time. This will not suffice. Remember that.
Please, jangan ikut-ikutan jadi American Idiot.
Don’t want to be an American idiot.
One nation controlled by the media.
Information age of hysteria.
It’s calling out to idiot America.Green Day – American Idiot
Apapun isyu-nya, skala personal, lokal, nasional, atau bahkan internasional, selalu coba untuk “form your own opinion“. Sekalipun salah, setidaknya lu sudah mencoba dan memutuskan untuk tidak jadi domba yang disetir-setir perhatiannya untuk memenuhi kepentingan sejumlah kecil orang yang serakah.
Rabu kemarin, fase pendidikan sarjana gue akhirnya selesai juga. Empat setengah tahun di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris berlalu juga. FYI, gue sebenarnya ngga ingin masuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI. Sejak tingkat terakhir SMA / MA, gue selalu ingin masuk jurusan DKV ITB. Namun apa daya, ternyata nyokap ngga setuju. Pinternya nyokap, beliau ngga serta merta ngelarang. She let me tried. Gue dibiayain untuk les di villa merah, gue dibiarin untuk ujian, dll. Tapi mungkin karena ngga ada restu, pas ujian ya gagal juga :))
Setelah gue nyoba dan gagal ujian, nyokap selalu bilang ke gue:
“Masuk bahasa inggris UPI a buat S1-nya, kesananya terserah. Insya Allah sukses geura. Sok kesananya mah terserah Aa.”
Untuk setaun gue ngeyel dan malah ngambil program setara D1 untuk web development. Sampe ada yang bilang “itu si Fikri kenapa ngga dikuliahin? Ngga ada uang apa gimana?“. That was freakin hurt. Mendekati hari terakhir penutupan pendaftaran UM UPI 2008, akhirnya gue ngalah juga.
“Yaudah deh, that sounds fun. Gue pengen belajar tentang pendidikan juga sih”.
Berbekal restu nyokap, secara lancar (banget) gue ujian UM dan masuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI. Sebagai perbandingan, seseorang yang gue tau mencoba selama dua tahun untuk masuk jurusan serupa lewat berbagai jalur (PMDK, UM, SNMPTN) dan gagal. Gue masuk dengan lancarnya.
And that’s how it was started.
Fast forward empat setengah tahun kemudian, gue akhirnya S.Pd. juga. Gue ngga pinter-pinter amat, di himpunan ngga aktif dan di kampus juga ngga rajin-rajin amat karena gue memilih untuk freelancing supaya gue bisa mandiri secara finansial sesegera mungkin. Menariknya, hasil studi gue ternyata ngga jelek-jelek amat. IPK gue tembus 3.59 dan semalem gue dapet SMS dari staff fakultas kalo gue ternyata termasuk tiga besar lulusan terbaik untuk prodi gue yang wisuda April ini.
“Masuk bahasa inggris UPI a buat S1-nya, kesananya terserah. Insya Allah sukses geura”
Kalimat itu sering terngiang-ngiang lagi di kepala gue belakangan ini. Nyokap ngerestuin jalur yang gue ambil dan sepertinya Tuhan mengizinkan semesta untuk berkonspirasi ngebantu gue menghasilkan semua yang gue capai, regardless sepas-pasan apapun gue.
Nyokap ingin dan merestui gue ngambil pendidikan Bahasa Inggris UPI, gue jalani dan ternyata fun & awesome banget, dan gue lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. It feels like it couldn’t be better than this.
Hence, those are why I dedicate this S.Pd. degree to my Mom. Thanks for the approval Mom, you know how much I love you.
Kembali ke realita, kamis kemarin gue baru tanda tangan kontrak untuk satu tahun kedepan di divisi digital media salah satu universitas swasta di jakarta. Mulai mei gue akan berpartisipasi menuh-menuhin jakarta selama setidaknya setahun mendatang. Nyokap udah ngerestuin.
Well, sampai jumpa di fase berikutnya.
Protect the helpless
and maybe one day,
when i am helpless
you will come and protect me
King Baldwin of Jarusalem in Kingdom of Heaven (1:04:51)
***
This is just one of many mindblowing dialogues this movie has.
Yep, Born and Raised-nya John Mayer ini asik banget. Favorit gue: Shadow Days.
I’m a good man with a good heart
Had a tough time, got a rough start
But I finally learned to let it go