di ruang kelas

Sejak gue SMA sampai sekarang gue selalu bermimpi untuk bisa membangun sekolah gue sendiri. Alasannya: gue belum puas dengan skema sekolah yang ada. Nasihat orang-orang bijak itu kan jelas: kalau lu ngga nemu apa yang lu inginkan, yasudah buat saja sendiri solusi yang lu inginkan.

Biarpun masih dalam tahap ngayal babu, tapi sekecil-kecilnya manifestasi dengan cara nulisin khayalan itu masih lebih baik daripada diam di pikiran saja. Satu langkah lebih dekat kepada realita. Jadi gue mulai menulis apa aja sih yang dibutuhkan untuk ngebuat sekolah yang sangat awesome itu:

1. Passionate, Competent & Talented Teachers

Mau gedungnya bertingkat satu juta juga kalau gurunya capruk ya capruk. IMO sekolah itu 75%-nya mengenai SDM. Poin ini kalau di-elaborasikan mungkin bisa jadi satu tulisan sendiri, tapi guru yang ideal buat gue itu sederhananya: passionate, kompeten di bidangnya, bertalenta, peduli kepada murid serta memiliki keinginan kuat untuk membimbing si murid ke level selanjutnya dan inspiring.

2. Gaji yang tinggi untuk guru

Gue berpikir setidaknya ada di angka 5 – 10jt atau lebih. Sebenarnya bukan angkanya yang penting, tapi bagaimana caranya supaya guru-gurunya benar-benar fokus dengan murid (sehingga bisa memperhatikan lebih dari sekedar aspek kognitif) dan ngga sibuk nyari penghasilan tambahan di luar kelas. Project di luar sekolah ngga masalah untuk nambah portofolio & experience, tapi jangan sampai guru-guru bermasalah secara finansial agar pikirannya fokus ke anak didik.

Ini mungkin poin yang agak mengawang-awang, tapi pasti ada skema yang memungkinkan ini terjadi. Entah tuition yang selangit atau subsidi silang atau apalah gue juga belum tahu. Tapi seharusnya ada caranya.

3. Ngga ada ijazah-ijazahan, atau setidaknya ngga fokus pada ijazah

Gue selalu berpikir kalau ijazah-oriented ini ngerusak dalam skala besar. “Yang penting lulus“, “Santai aja ntar lulus juga dapet ijazah ini. Ijazahnya kan bisa dipake untuk ngelamar kerja, etc“. Begitu murid lulus, apa yang bisa murid tawarkan seharusnya skill dan portofolio si murid selama belajar di sekolah. Begitu murid lulus, dirinya, sikapnya, kemampuan dan portofolio-nya lah sebenar-benarnya ijazah atau hasil yang dia bawa keluar sekolah.

Note: Poin ini sepertinya ngga akan applicable untuk sekolah formal. Well, ngga sekolah formal juga ngga masalah sih buat gue. “Tempat kursus” semacam Starter League, App Academy atau Dev Bootcamp would do the work.

4. Project oriented

Apa yang dipelajari di sekolah bersinggungan langsung dengan apa yang dialami dengan realita di luar kehidupan sekolah. Gue selalu kagum dengan siswa-siswa SMA yang jadi panitia pensi: itu project nyata, menggunakan uang nyata, permasalahan yang nyata, tolak ukur yang nyata, tingkat stress yang nyata, dll. Gue pikir mereka belajar jauh lebih banyak dari apa yang diajarkan di ruang kelas.

5. ICT Oriented

Dan maksudnya ICT oriented ini bukan sekedar nunjukin materi pake powerpoint dan ngirimin materi lewat email ya, iItu mah biasa banget. Tapi benar-benar manfaatin ICT secara maksimal. Performa siswa yang ada log-nya dan accessible untuk guru, proses pembelajaran yang tersimpat log-nya secara digital, materi pembelajaran yang tersedia secara one to many, dll. Untuk mencapai hal ini, balik lagi ke item nomer satu: kalo SDM-nya ngga digitally-literate susah untuk mencapai ini.

6. Attitude Oriented

Murid dijejalin materi segudang juga kemungkinan informasi yang dia ingat untuk sisa hidupnya mungkin ngga akan lebih dari beberapa puluh persen. Pengetahuan datang dan pergi, yang selalu tinggal itu sikap. Attitude. Dengan sikap yang mental yang oke, orang bisa terus maju bahkan mencari jalannya sendiri. Lagipula hari gini banyak pengetahuan bisa googling aja kali, balik lagi ke poin nomer 5.

7. Public Relation yang awesome

Bagaimana caranya agar orang lain tahu apa saja yang dilakukan oleh sekolah, siapa saja muridnya dan apasaja talenta yang dimiliki muridnya. Apa yang murid tau itu satu hal, siapa saja yang tahu murid-murid bisa melakukan apa itu satu hal lain yang ngga kalah penting.

8. Spiritual & religius yang proporsional

Murid beragama islam diarahkan jadi muslim yang baik. Yang beragama kristen diarahkan jadi orang kristen yang baik. Begitupun dengan penganut agama hindu, buddha dan yang lain, diarahkan jadi penganut agama masing-masing yang baik. Kebutuhan untuk ibadah rutin masing-masing agama diakomodir dengan baik. Gue pikir lebih baik jika siswa melihat perbedaan dan menyadari kalau perbedaan itu ada daripada terbiasa dengan lingkungan yang homogen.

9. Penggunaan seragam seperlunya saja

Tidak perlu setiap saat menggunakan seragam. Satu atau dua hari dalam seminggu sudah cukup. Sisanya gunakan pakaian yang sesuai. Biarkan murid jadi dirinya sendiri baik di sekolah ataupun di luar sekolah. Perbedaan pasti ada. Kesenjangan pasti nampak. Justru jadi stimulus agar siswa menyadari kalau perbedaan dan kesenjangan itu ada. Bagaimana mereka mengatasi hal itu?

10. Kemampuan berbahasa, bahasa asing dan bahasa tulisan yang baik

Ini wajib. Kalau tidak bisa berkomunikasi dengan baik, sebaik apapun skill akan tidak maksimal jika tidak ada pihak lain yang menyadarinya atau tidak bisa digunakan dalam setting bekerja bekolaborasi dalam kelompok.

11. Mengembangkan kepemimpinan dan kemampuan bekerja dalam kelompok

Ini penting banget. Skill individual harus tinggi tapi tidak ada pekerjaan yang diselesaikan 100% sendiri. Kemampuan bekerja dalam tim atau bahkan memimpin tim itu wajib dimiliki.

***

Sejauh ini baru terpikir ini saja sih. Apalagi ya?