Gue pribadi (gue juga saat ini bisa dibilang pegawai outsourcing btw) ngerasa tuntutan “Hapuskan outsourcing” yang disuarakan pas demo buruh rabu kemarin itu mengawang-awang. Coba lu switch pikiran lu sebentar, berandai-andai dulu jadi pemilik perusahaan / manager terus lu dihadapi dengan opsi merekrut pegawai dan segala tek-tek bengeknya atau membayar jasa outsourcing yang lebih simple: lu pilih mana?

Itu masalahnya, outsourcing itu menguntungkan. IMO ngelawan fenomena outsourcing itu sama kaya ngelawan arus perubahan zaman. Ya memang zamannya sekarang begitu. Mau pake kaset sementara orang-orang udah pake musik digital?

IMO, daripada rusuh ngurusin regulasi yang dalam banyak konteks diluar kendali lu: mendingan sibuk ngurusin sesuatu yang jelas-jelas ada di jangkauan lu aja: diri lu sendiri. Nuntut ini itu ke pemerintah itu sama kaya anak kecil yang nuntut ini itu ke orang tua-nya. Bisa sih dikasih, tapi apa yang diminta itu tetap ada diluar kendali si anak kecil. Begitu sesuatu terjadi dengan si orang tua, mana mungkin tuntutan si anak terkabul.

Jadi alih-alih rusuh berharap ke pemerintahan yang udah memprihatinkan, mendingan fokus ke diri lu sendiri aja: lu end up jadi apa diri lu sekarang karena kemampuan lu ya memang baru segini. Upgrade diri lu: perluas koneksi, perbanyak portofolio yang impresif, sekolah lagi, melatih skill baru yang dihargai lebih oleh orang lain, whatever. Tiap orang beda-beda dan punya konteksnya masing-masing. Intinya satu: kalo lu punya kemampuan yang memang berharga dan bermanfaat untuk orang lain, alih-alih lu nuntut outsourcing dihapus lu bakalan pusing memilih karena orang-orang berebut ingin ngerekrut lu atau nawarin lu project. Jadi daripada sibuk menggantungkan harapan ke orang-orang yang udah jelas mengecewakan (baca:pemerintah) mendingan menggantungkan harapan ke orang yang bisa merubah situasi asal serius (baca:diri lu sendiri).

At least itu yang kepikiran oleh gue sih.