Tadi pagi gue baru nyadar kalo ada issue yang lagi rame di Twitter seputar aksi solidaritas dokter. Sebenernya gue gatel banget kepengen ikutan  #nyamber, cuman keingetan:

  1. Kalo gue belum tau duduk perkara dari dua belah pihak, jangan sotoy, keburu emosi, dan membentuk opini. Bisa aja gue salah.
  2. Jangan-jangan kalo gue ikutan #nyamber, malah jadi provokasi. Duh.
  3. Jangan nge-generalisasi. Kebanyakan tweet yang gue baca kok mengisyaratkan kalo satu profesi baik semua ato ngga satu profesi jelek semua. Ada kali dokter yang baik, ada juga yang ngasal. Jangan digeneralisir ah.

Anyway, kalo beropini mbok ya dikurangi kadar emosinya. Meskipun lu bener tapi cara ngomong lu kasar juga kan bisa merusak informasi yang lu coba sampaikan. Setelah gue baca sana sini untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi mengenai issue ini, gue nemu beberapa sudut pandang yang menarik dari para dokter dan masyarakat buka history chrome:

  1. TL @abqorian, warga negara Malaysia yang bersekolah kedokteran di Indonesia yang bercerita mengenai peningkatan sistem kesehatan di negaranya.
  2. TL @julianto_irawan yang bercerita mengenai mafia di dunia kedokteran
  3. TL @zenrs, yang mengalami sendiri “pengalaman pahit dengan dokter”
  4. TL @deborahdewi yang bercerita mengenai dokter baik yang menyelamatkan nyawa ibu-nya
  5. TL @tussieAyu yang menjelaskan hasil diskusi ketua IDI dan Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia

Itu yang bagusnya ada, yang jeleknya ada. Silahkan dibaca, dicerna, dan diambil kesimpulan sendiri.

***

Omong-omong, ngasih link TL itu kok rada ngga efisien ya. Kalo tweet-nya udah terlewat beberapa hari, lumayan cape nge-scroll-nya tuh. I think twitter should have their built-in storify, something like medium’s collection to collect tweets.