What Would Google Do - by Jeff Jarvis

Google is the true giant. Jika anda berkecimpung di dunia web, anda pasti akan langsung paham apa maksud saya. Google menggiring kita masuk ke era informasi dengan Google search-nya. Google dengan mau-tahu-sesuatu-googling-saja nya merubah pola pikir dan kebiasaan milyaran manusia kedalam mindset “Google pasti tahu apa yang aku cari”. Secara finansial, Google adalah perusahaan internet paling kaya. Mereka selamat dari dotcom crash yang meluluhlantakkan industri web di tahun 2000an. Alih-alih hancur, mereka menjadi semakin kuat. Selain Google Searchnya, sekarang mereka memiliki puluhan aplikasi web -dan terus bertambah- baik hasil inovasi engineer-engineer mereka maupun hasil akuisi mereka terhadap setiap “startup company dengan produk menjanjikan”.

Google merupakan “raja” informasi yang sesungguhnya. Bahkan kedigdayaan Microsoft di dunia desktop software pun tidak mampu membuat mereka sanggup menyaingi Google di bidang web dengan Bing-nya. Tidak heran, secara de facto Google dianggap “kiblat” bagi industri web. Setiap langkah mereka diawasi jutaan pemerhati dan penggiat web. Hal itulah yang membuat Jeff Jarvis, seorang jurnalis dan blogger senior, menulis buku yang sudah merebut perhatian saya sejak berbulan-bulan lalu: What Would Google Do? (Apa yang akan Google Lakukan?)

What this book is all about?

Di buku ini, Jeff mengulas tingkah polah Google dan mem-formulasikannya ke dalam suatu jalan pikiran dilengkapi dengan dialog nyata dengan para pelaku sejarah tersebut. A real kick ass book, a must read book. Apa tujuan Google menciptakan menciptakan begitu banyak aplikasi web yang sangat keren dan membuatnya dapat digunakan publik dengan gratis? Apa yang merubah landscape internet menjadi internet yang kita hidupi hari ini? Bagaimana Google menyikapi berbagai macam hal -yang membuatnya raksasa tunggal di dunia internet hari ini-?

Semua hal itu dibahas di What Would Google Do oleh Jeff Jarvis.

The keypoints

Ada banyak sekali poin menarik yang dibahas dalam buku ini. Terlalu banyak sehingga saya menyarankan anda membacanya langsung. Meskipun begitu, berikut ini beberapa keypoint yang sangat menarik perhatian saya:

Menciptakan produk saja tidak cukup, ciptakanlah platform

Platform yang memungkinkan agar pihak ketiga dapat berkreasi diatas produk anda dan membuat efek viral yang gila. Well, selain dilakukan Google dengan berbagai aplikasinya (let’s say Google Map – secara de facto menjadi default pengguna web untuk “peta dunia” dewasa ini karena dapat digunakan dan dikolaborasikan secara mudah), berbagai produk dari perusahaan teknologi terkemuka pun sudah melakukan hal ini – dan terbukti sukses. Lihatlah iPhone yang menjadi platform dari berbagai aplikasi yang didistribusikan AppStore-nya dan Facebook App yang mengizinkan pengembang pihak ketiga meciptakan social games dan berbagai aplikasi yang menjarah streamline facebook kita.

Tautan mengubah segalanya

Google tidak memproduksi informasi, ia mengorganisasikannya. Ia menghubungkan pencari jawaban kepada penyedia informasi. Tahukah anda bagaimana Google Search bekerja? Ia menyimpan sebuah copy dari semua halaman web yang ia mampu temukan, lalu me-ranking halaman-halaman tersebut berdasarkan algoritma PageRank-nya, yang salah satu variabelnya adalah hubungan antar tautan (link) dari satu website yang memiliki reputasi terhadap website lainnya. See? Siapa yang mengetahui anda menjadi jauh lebih bernilai daripada siapa yang anda ketahui dewasa ini.

The dead of mass media, The rise of mass of niches

Di episentrum ekonomi dunia, Amerika, media massa kini tengah mengalami masa-masa yang kritis. Berita perampingan struktur organisasi atau bahkan kebangkrutan mungkin sudah menjadi hal yang asing lagi. Generasi yang duduk manis menyaksikan televisi berjam-jam dan membiarkan dirinya dibombardir oleh informasi dan iklan sudah mulai uzur, dan generasi yang lebih proaktif -mencari alih-alih disodori, lebih mempercayai integritas independensi teman sebaya alih-alih rayuan gombal iklan- mulai muncul. Tautan menautkan mereka. Alih-alih menjadi satu “massa besar”, masyarakat -dengan bantuan internet- kini mulai menciptakan crowd mereka sendiri berdasarkan keyakinan, pandangan, atau kesamaan minat mereka. Massa menjadi lebih spesifik dan terpisah-pisah. Mass of niches instead of one big damned mass.

You have to be “searchable”

Sebagai implikasi dari tautan, semua hal yang penting harus searchable. Semua hal yang penting harus dapat dicari. Ingin mengetahui siapa gerangan pelamar kerja yang melamar ke perusahaan anda? Google saja namanya. Portofolio dan pola cerita kerja kerasnya yang muncul? Bagus. Kedunguan dan makian di social media yang mendominasi? Jangan buang waktu untuk menginterviewnya.

Transparansi

Era dimana segala sesuatunya harus dapat dicari bermakna sebaik apapun anda menyimpan kebobrokan, ujung-ujungnya pasti bocor ke publik juga. Produk yang jelek akan dihujat habis di internet melalui blog, tweets dan lainnya. Hal ini bermakna, anda harus menjadi autentik dan benar-benar bagus dalam artian sebenarnya – bukan sekedar bagus di iklan saja. Anda mungkin berujar “ah, itukan hanya blog dengan sejumlah kecil pembaca“. Tunggu dulu, di Internet, “efek bola salju” sudah bukan merupakan hal yang asing. Siapa yang menyangka remaja yang iseng-iseng memposting videonya bernyanyi di YouTube akan menjadi the next big thing (Justin Bieber)? Siapa yang menyangka keluhan Jeff Jarvis atas notebook Dell mampu menumbangkan pendapatan perusahaan tersebut yang menyebabkan revolusi manajemen di tubuh Dell yang kini lebih terbuka?

Berfikir terdistribusi, berfikir partisipasi, berfikir dengan cara open source

We are smarter than me. Google mendorong inovasi, yang mana kemungkinan gagalnya sama tingginya dengan kemungkinan berhasilnya. “Saya harap anda gagal lebih cepat agar anda belajar lebih cepat”, ujar CEO Google Eric Schmidt kepada karyawannya. Di banyak bidang di hari ini (kecuali bidang yang berkaitan dengan keselamatan jiwa tentunya), menunggu produk anda sempurna baru dirilis adalah blunder, jika tidak disebut tindakan bodoh. Buat inovasi, lempar ke publik (seperti Gmail dengan status beta-nya yang bertahun-tahun) dan biarkan Publik yang menguji produk anda. Dengarkan mereka, dan lakukan perbaikan secara bertahap atas saran dan masukan mereka.

Concluding thoughts

Wow, akan sangat sulit bagi saya untuk men-summary semua pandangan visioner Jeff Jarvis di What Would Google Do dalam sebuah blog post. Saran saya, segeralah ke toko buku terdekat dan beli buku ini (saya beli buku ini di Rumah Buku Bandung, sekitar 90ribuan waktu itu. Diskon, 😉 ) lalu pahami bagaimana bentuk dunia di masa depan akan terbentuk. Pahami, lalu ambil tindakan. Sebelum anda terlambat.

Hope it helpful 😉