Gue pikir hakikat ujian itu sederhana: lu dikasih ‘sesuatu’ yang awalnya sedikit lebih berat dari batas kemampuan lu sekarang. Lalu lu berusaha melewatinya. Kemungkinan besar, lu akan frustrasi dan stress karena ujian tersebut diluar kemampuan lu yang sekarang. Setelah sekian waktu berusaha, akan keluar hasilnya:

  1. Kalo lu berhasil melewati dan menuntaskan ujian tersebut, lu sudah jadi orang yang lebih baik, lebih wise dan lebih pintar dari sebelumnya.
  2. Kalau lu ngga berhasil, atau melaluinya dengan cara curang / mencontek, lu ngga ada bedanya dengan diri elu sebelum ujian. Stuck at the moment.

That’s how human being naturally learn, after all. Lu akan selalu ‘diberi’ sesuatu yang lebih sulit dari kondisi elu yang sekarang, entah elu siswa SMA, mahasiswa, sarjana, pekerja, pengusaha, konglomerat, CEO atau presiden sekalipun. Kapasitas orang bisa dilihat dari masalah yang sedang dia tangani, dan manusia akan selalu diberi masalah untuk ditangani.

Jadi berhenti bilang “coba kalo gue udah jadi X, pasti lebih enak…“. For the love of God, lu jadi X pun pasti bakal diberi masalah yang secara konstan naik levelnya. Liat tuh masalah yang ada sekarang, dan beresin. Nanti juga dikasih lagi. Wake up, dude. This is a wake up call.

***

Liat draft skripsi
Let’s get this thing done.