Setiap kali ngeliat orang yang terlalu sering nge-posting hal-hal personal dan emosional di media sosial (Apapun itu: Facebook, Twitter, BBM, atau Path), pertanyaan pertama kali terpikir oleh gue:

Apa yang menyebabkan orang ini sering-sering amat nge-posting di media sosial?

Hipotesis sementara gue saat ini: penyebabnya karena kurang perhatian di luar media sosial1. I think of this as the answer because I had been there: I was someone who post too much on social media.

Jika hipotesis gue diatas lu pikir kurang tepat, pertanyaan gue:

  1. Apakah lu mengidentifikasi diri lu sebagai orang yang terlalu sering nge-posting di media sosial?
  2. Jika iya, apa penyebabnya?

Anyway, “terlalu sering posting di media sosial” dan “kurang perhatian” itu sebenarnya netral dan belum tentu negatif. Contoh: lu punya skill woodworking tapi ngga ada yang menyadari tentang keahlian lu jadi lu nge-post banyak hal tentang woodworking. Beda dengan orang yang sering nge-post dan ngumpat setiap lima menit di Twitter.

Photo by Jason A. Howie


  1. Dikotomi dunia maya vs dunia nyata sounds incorrect, IMO. Hence the “di media sosial” dan “di luar media sosial” thing