Tentang Pilkada Langsung / Tak Langsung

by | Sep 26, 2014 | Essays | 6 comments

IMO, andaikan wakil rakyat dan DPRD itu merupakan kumpulan manusia paling cerdas cendikia, paling mementingkan kepentingan publik, paling bijaksana, dan paling segalanya dalam konteks yang positif1, gue pribadi lebih cenderung memilih Pilkada yang “diwakili” DPRD. Seharusnya lebih baik pilihan 30 orang cerdas cendikia daripada 3 juta orang yang parameter memilihnya bercampur baur dimana suara satu pemilih yang mempertimbangkan pilihannya dengan cermat sama nilainya dengan pilihan pemilih yang disogok dengan uang Rp 200 ribu 2.

Sayangnya, realitanya saat ini tidak sama dengan kondisi ideal yang gue sebutkan diatas: pemimpin yang kelihatan kerjanya seperti walikota Bandung saat ini3 terpilih melalui mekanisme pemilihan langsung.

Buat gue, issue yang lebih fundamental itu begini: gimana sih caranya agar orang-orang yang duduk di kursi DPR/DPRD itu orang-orang yang, seperti namanya, benar-benar orang terbaik yang mewakili kepentingan rakyat? Gue pribadi tidak merasa terwakili dengan mereka. Siapa yang gue pilih di pemilu DPR / DPRD lalu aja gue ngga inget4.


  1. Ya intinya kumpulan manusia terbaik dari suatu daerah ini lah. You got the point. 

  2. Devil advocate’s: sebenarnya akan beda kondisi idealnya jika seluruh rakyat di suatu kondisi memilih dengan cermat. But we all know it’s likely impossible to happen

  3. The soon-to-be legendary Ridwan Kamil, if he’s working well 

  4. Kalo ngga salah gue ngga milih malah di pemilu terakhir karena sedang macul di Jakarta 

6 Comments

  1. Rahmadi

    Kalo gw sih pro banget sama pilkada langsung karena gw rasa unsur demokrasinya lebih kerasa…
    Tapi setelah gw liat berita kalo gubernur riau ditangkep kpk yang notabene nya hasil dari produk pemilu langsung, gw jadi sedikit kecewa juga sama pemilu langsung.. Tapi ya semuanya ada plus minusnya lah, IMO 🙂

    • Fikri Rasyid

      unsur demokrasinya lebih kerasa

      Kalau gue penasarannya begini: berdasarkan data, mana sih yang lebih efisien? Kita semua tau ada Jokowi – Ahok dan RK yang merupakan contoh hasil pilkada langsung yang kerjanya sangat terasa lebih peduli dengan rakyat. Ada ngga data yang menunjukkan head – to – head performa seluruh pemimpin eksekutif berdasarkan pilkada langsung dan pilkada via DPRD?

  2. Kapkap

    Gw lupa pernah baca dimana, tapi ada yang bilang kalo demokrasi itu sebenernya sistem negara yang utopia, alias mengawang-ngawang/too good to be true. Demokrasi baru bisa berjalan di negara yang kaya dan penduduknya pinter semua.

    Yang… Mungkin kalo Indonesia belum memenuhi kriteria yang terakhir.

    So I understand your concern. “Apa jaminannya bahwa pilkada langsung akan jauh lebih baik? Lah liat aja rakyatnya belum semuanya terdidik.” Tapi ya… Kalo dipilihnya dari partai-partai yang isinya korup, sama aja dengan ngebikin lingkaran setan.

    Kalo pilkada langsung, minimal saat ini, rakyat bisa memilih figur-figur yang memang beneran deket dan amanah dengan mereka. Misalnya, Ridwan Kamil atau Ahok. Dari situ mereka bisa membangun pasukan yang memang orang-orangnya bersih dan amanah, dan partai — kalo emang cukup bijaksana — akan mengikuti pola mereka yang bersih. Dari situ bisa bikin perwakilan rakyat yang bersih. Dan saat itu, mungkin ya Fik, kita bisa melakukan pilkada melalui DPRD.

    Tapi saat ini emang ada harga yang harus dibayar. Berantem bahkan di antara rakyat sendiri masih ada, dan mungkin memang harus ada — karena merupakan salah satu proses pendewasaan demokrasi.

    #edisikapkapbijak

    • Fikri Rasyid

      Kalo dipilihnya dari partai-partai yang isinya korup..

      Akhir-akhir ini semakin banyak premis yang terdengar seperti enggan dengan partai politik mbak. Yang membuat heran: bukannya Demokrasi dan partai politik itu udah satu paket yang tidak bisa dipisahkan ya? AFAIK, bukankah memilih sistem demokrasi berarti mengharuskan adanya partai politik? CMIIW tho.

      Kalo pilkada langsung, minimal saat ini, rakyat bisa memilih figur-figur yang memang beneran deket dan amanah dengan mereka. Misalnya, Ridwan Kamil atau Ahok.

      Anyway, ada satu hal lagi yang kepikiran mbak: saya sih suka dengan RK dan Ahok. Tapi yang jadi penasaran, ada ngga data-nya performa seluruh pemimpin hasil pilkada langsung dan hasil pilkada via DPRD? Ini bukan dalam kapasitas saya pro pemilu langsung atau via DPRD, tapi kalau ada datanya kan lebih jelas jawabannya ya 😀

      • @Kapkap

        Demokrasi sama parpol emang sepaket. Minimal perwakilan rakyat/parlemen. Kalo ga ada perwakilan rakyat, apa ya… Monarki? (Bukan anak FISIP XD)

        Tapi mungkin yang bikin premis parpol jadi negatif karena selama ini diliatnya di mata publik kalo parpol ini kok ya begajulan mulu kerjanya. Bikin serasa dikhianati.

        Dan media berperan besar sekali di sini. Media di Indonesia juga dimiliki tokoh politik, sehingga netralitasnya memang dipertanyakan.

        Contoh, PKS deh. Kalo liat di media, weleh, PKS itu diumpatinnya macem-macem. Tapi berapa banyak yang tau kalo ACT (Aksi Cepat Tanggap) itu milik PKS? Dan ACT itu bagus sekali kerjanya. Membantu korban bencana yang bahkan ga diliput media. Bisa blusukan kaya gitu karena PKS kader-kadernya kuat di daerah. Banyak sekolah di daerah yang basisnya PKS, tapi orang-orangnya jauh dari kesan buruk yang selama ini diliat. Banyak yang selo malah. Yang menyakitkan memang ngeliat bawahannya masih ada yang bener, petingginya malah ada yang kena kasus. Tapi ya gitu lah media bergerak. Yang penting dapet berita.

        Soal data hasil kerja, mungkin belum ada ya… Kalopun ada, biasanya belum dibandingkan skala besar. Saat ini yang jadi penilaian adalah “yang penting rakyat liat bapak/ibu kerja beneran.” Indonesia udah berkali-kali dibentur kanan kiri dengan isu sosial politik, dan rasanya itu bikin kita bangsa yang pragmatis. Yang penting kerja dululah, urusan proses, pengamatan, ataupun penilaian, ntar aja. Gitu kali ya Fik 😀

        • Fikri Rasyid

          Media mau ngga mau harus ngeberitain “apa yang laku” alih-alih “apa yang penting” ya. Serba salah juga :

          Saya kenal beberapa kader PKS yang baik banget. Kadang suka sedih juga kalo PKS di-bully habis-habisan karena ulah elit-nya padahal di gras root banyak yang ngasih kontribusi positif ya 😐

          “yang penting rakyat liat bapak/ibu kerja beneran.”

          Ini setuju sih, tapi sebagai akademisi (aish gaya LOL) kan harus berpendapat berdasarkan data ya. Kadang-kadang suka gerah liat orang berpendapat sangat one-sided tapi kalo dipikir2 itu pure opini tanpa ada datanya.