IMO, andaikan wakil rakyat dan DPRD itu merupakan kumpulan manusia paling cerdas cendikia, paling mementingkan kepentingan publik, paling bijaksana, dan paling segalanya dalam konteks yang positif1, gue pribadi lebih cenderung memilih Pilkada yang “diwakili” DPRD. Seharusnya lebih baik pilihan 30 orang cerdas cendikia daripada 3 juta orang yang parameter memilihnya bercampur baur dimana suara satu pemilih yang mempertimbangkan pilihannya dengan cermat sama nilainya dengan pilihan pemilih yang disogok dengan uang Rp 200 ribu 2.

Sayangnya, realitanya saat ini tidak sama dengan kondisi ideal yang gue sebutkan diatas: pemimpin yang kelihatan kerjanya seperti walikota Bandung saat ini3 terpilih melalui mekanisme pemilihan langsung.

Buat gue, issue yang lebih fundamental itu begini: gimana sih caranya agar orang-orang yang duduk di kursi DPR/DPRD itu orang-orang yang, seperti namanya, benar-benar orang terbaik yang mewakili kepentingan rakyat? Gue pribadi tidak merasa terwakili dengan mereka. Siapa yang gue pilih di pemilu DPR / DPRD lalu aja gue ngga inget4.


  1. Ya intinya kumpulan manusia terbaik dari suatu daerah ini lah. You got the point. 

  2. Devil advocate’s: sebenarnya akan beda kondisi idealnya jika seluruh rakyat di suatu kondisi memilih dengan cermat. But we all know it’s likely impossible to happen

  3. The soon-to-be legendary Ridwan Kamil, if he’s working well 

  4. Kalo ngga salah gue ngga milih malah di pemilu terakhir karena sedang macul di Jakarta