Kemarin pas ngejemur-jemur pakaian di rumah gue keingetan salah satu momen paling wow dari lebaran kali ini: gue baru tau kalo sepupu gue nge-homeschooling-in anaknya. Alasannya? Anaknya berkebutuhan spesial: belajarnya cepet, pede banget, tapi cepat bosannya (attention span-nya pendek. lebih dari setengah jam, pembelajaran jadi tidak efektif). Jadi kalau di kelas, dia paling cepat selesai dan begitu selesai lanjut ngegangguin teman-temannya. Tiba-tiba gue kepikiran:

Sepertinya model ruang kelas tidak didesain untuk menampung “anak yang spesial” ya?

Dengan pertimbangan diatas, sepupu gue meng-homeschooling-kan anaknya. keputusan yang sangat berani mengingat menyelenggarakan pendidikan untuk anak itu ngga mudah dan gue sangat salut sekali kepada mereka. Gue pribadi jadi kepikiran beberapa pertanyaan: referensi mereka dalam menyelenggarakan homeschooling dari mana saja ya? Materi pembelajarannya dapat dari mana saja ya? Kembali ke momen ngejemur-jemur pakaian, gue jadi teringat hingar bingar beberapa tech startup yang (katanya) mau merevolusi edukasi belakangan ini. Sepengetahuan gue, kebanyakan tech startup ini menyasar institusi pendidikan atau si anak langsung sebagai target marketnya. Mendadak gue jadi kepikiran:

Kenapa gue belum nemu tech startup atau institusi apapun itu yang tujuannya mencerdaskan orang tua siswa untuk kemudian mencerdaskan anaknya ya?

Alasannya sederhana: Bukannya pendidikan pertama anak itu ada di orang tua? Secanggih apapun sekolah, tetap saja karakter anak itu ditempa oleh orang tua. Orang tua yang cerdas, melek finansial, melek intelektual, melek spiritual, melek pedagogis, seharusnya akan mendidik anaknya dengan baik. Premisnya:

Smart parents, logically, will make a smarter generation.

What do you think?

P.S.:

Tulisan ini pun sebenarnya hypothetical banget karena gue pribadi belum jadi orang tua.