Beberapa waktu yang lalu, obrolan dengan beberapa teman membuat gue menyadari satu hal yang buat gue sangat vital:

Guru pada jenjang SMA memiliki kesempatan membuat dampak yang sangat signifikan terhadap anak didiknya.

Seberapa signifikan? Sesignifikan mau jadi apa si anak didik.

Studi kasusnya gue pribadi aja deh: sejak kecil, gue selalu kepengen jadi professor. Di otak gue, professor itu orang yang membuat robot dan gadget-gadget canggih, macem professor Agasa-nya Conan. Jadi bukan professor yang sifatnya gelar akademis pasca program doktoral itu ya, ini professor “versi gue” aja dulu.

Sialnya begini: ketika gue ada pada jenjang setaraf SMA, gue mendapat guru fisika yang cara menerangkannya sangat ngga cocok dengan cara belajar gue. Hasilnya, gue berpikir kalau physics sucks. Gue banting cita-cita dari professor yang membuat megazord teknologi-teknologi keren menjadi graphic designer. Sayangnya gue ngga lulus DKV FSRD ITB sehingga gue mengambil course web programming dan melanjutkan kuliah di Pendidikan Bahasa Inggris. Hari ini, gue seorang S.Pd. yang berkarir di bidang front end dan WordPress theme development.

Lumayan jauh dari cita-cita awal, kan?

Gue pribadi bisa bilang kalau gue mungkin lack of passion di bidang engineering / teknologi sehingga dulu gue ngga ngulik fisika secara otodidak. Namun, gue masih berpikir andaikata dulu guru fisika gue membuat gue sangat tertarik dengan fisika, gue ngga akan beranggapan bahwa physics sucks yang mana hari ini mungkin gue akan mendalami hal yang benar-benar berbeda.

Pesan yang mau gue sampaikan: andaikata lu seorang guru yang memiliki anak didik pada jenjang atau usia SMA, lu harus sadari kalo lu bisa memberi dampak yang sangat signifikan pada anak didik lu.

Well, sebenarnya guru pada jenjang apapun juga memiliki peluang untuk memberi dampak yang sangat signifikan pada anak didiknya sih. Gue hanya mendapati bahwa biasanya, jenjang SMA merupakan jenjang dimana seseorang membuat keputusan yang akan memberikan dampak signifikan pada masa depannya. Biasanya aja, bukan mutlak.

Omong-omong, punya pengalaman serupa?