Novel terbarunya Adhitia Mulya1 ini jadi buku pertama dalam satu tahun terakhir yang sukses gue baca sampai tamat dalam satu hari saking rame-nya. Novel komedinya Adhitia Mulya memang rame-rame sih, tapi buat gue novel yang ini ada di level yang berbeda karena kondisi penulis yang semakin berumur dan bijak2 dan kondisi gue yang sudah masuk ke fase yang berikutnya3. Jadi nyambung banget apa yang ditulis dengan apa yang sedang gue alami.

FYI (ini agak spoiler jadi kalau ngga mau spoiler lanjut baca posting ini setelah baca bukunya aja), inti cerita dari Sabtu Bersama Bapak ini sederhana banget sebenernya: seorang ayah yang hanya punya waktu satu tahun tersisa karena kanker yang membuat rangkuman video berisi pesan untuk anak-anaknya untuk diputar saat anak-anak ini mencapai fase atau usia tertentu. That’s it. Simple tapi brilian.

Saking briliannya, gue sendiri jadi kepikiran untuk membuat hal serupa sampai gue inget kalo sebenarnya gue udah punya “kumpulan pesan” kalau nanti gue diamanahi anak: bukan video4, tapi tulisan-tulisan di blog ini. Gue udah nulis blog dari 20085, tinggal gimana caranya:

  1. Gue bisa nulis terus hal-hal yang bermanfaat untuk mereka.
  2. Tulisan-tulisan ini bisa sampai ke mereka, regardless what would happen next.

Terdengar seperti alasan yang logis untuk terus nge-blog, kan? Jika dikelola dengan baik, blog lu bisa jadi bagian dari legacy buat keturunan lu kelak. Bayangin elu ngebaca tulisan bokap atau kakek lu. That would be freakin awesome6.

 


  1. Penulis Jomblo, Gege Mengejar Cinta dan Travellers’ Tale, yang mana semuanya keren banget 

  2. Bapak dari dua anak 

  3. Recently married. Next logical step would be having child, isn’t it? 

  4. Meskipun gue tetap kepikiran untuk bikin kumpulan video, btw 

  5. Udah 6 tahun berarti. WOW. 

  6. Assuming your father or grandfather wrote their blog awesomely