published me by [phil h]

published me by phil h

Baru saja membaca Perbincangan Bisnis Cetak Gratis Bersama Yogi Prasetya di NavinoT. Tulisan ini juga dalam rangka Kontes Berfikir Kritis, dan merupakan uneg-uneg saya mengenai topik bisnis cetak.

Sebelum memulai, perlu kita notice baik-baik bahwa ini pure opini. Saya masih belum menjadi seorang “pemain” di bisnis cetak. Tapi saya memiliki ketertarikan tersendiri terhadap di industri ini, terkait dengan hobi saya membaca dan cita-cita menjadi penulis ๐Ÿ™‚

Melihat perkembangan internet, juga seiring dengan semakin mudahnya mempublikasikan konten di internet (dengan biaya yang relatif lebih murah dengan distribusi yang lebih luas), semakin banyak dari kita yang menduga-duga nasib dari bisnis media cetak. Apakah bisnis media cetak akan mati, seiring dengan tumbuh berkembangnya teknologi dan internet?

Bukankah masa depan ada di era paperless? Bukankah para visioner meramalkan e-paper yang menggantikan kertas, e-book yang menggantikan buku, dll sebagainya?

Setiap orang memiliki jawabannya sendiri atas pertanyaan ini. Namun jika saya dialamatkan pertanyaan ini, saya akan menjawab sesuai dengan judul dari tulisan ini:

Prospek Bisnis Cetak? Untuk Beberapa Puluh Tahun Kedepan,Bisnis Cetak Nampaknya Akan Terus Berjalan.

Yap. Untuk beberapa puluh tahun kedepan, media cetak nampaknya akan tetap menjadi mainstream.

Pertimbangkan hal ini: Ketika radio ditemukan, percetakan terancam namun nyatanya keduanya beriringan hingga kini. Ketika televisi ditemukan, radio terancam namun kenyataannya keduanya tetap berjalan hingga kini. Ketika internet ditemukan, televisi terancam namun tetap berjalan hingga kini.

Hingga saat ini, bisnis percetakan, radio, televisi, internet yang katanya “kemunculannya akan meruntuhkan apa yang sudah ada” masih berjalan beriringan hingga saat ini.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa semakin hari, penambahan dan pengurangan jumlah di satu media dibandingkan media lain berubah. Namun setelah puluhan tahun eksis, mereka masih berjalan beriringan. Meskipun disisi lain, segala sesuatu yang berawal pasti berakhir. Demikanpun dengan media cetak.

Satu sisi yang saya tangkap menjadi alasan hal ini terjadi: Kelebihan yang dimiliki satu media dibandingkan media lainnya. Se-powerfull apapun media audio visual, radio tetap menjadi pilihan yang lebih menyenangkan dikala berkendara di dalam kota menggunakan mobil. Demikian pula media cetak: Se-real time dan up to date apapun internet, sensasi menilep halaman bacaan, men-corat-coretnya, dan membaca bacaan cetak dalam kondisi yang tidak bisa dilakukan dengan media elektronik akan menjadikan media cetak tetap bertahan.

So, meskipun media cetak pasti akan memiliki akhir suatu saat nanti, namun sepertinya belum dalam hitungan tahun. Dalam hitungan puluhan tahun atau ratusan tahun, mungkin. Ketika generasi yang tidak lagi membutuhkan “sensasi media cetak” mendominasi dunia.

Itu pendapat saya. Pendapat anda? ๐Ÿ˜‰