Books on Writing

Seumur-umur kuliah di jurusan Bahasa Inggris UPI, gue ngga pernah suka dengan textbook yang muter-muter dalam mendefinisikan sesuatu. Untuk mendefinisikan nature of writing ability misalnya, Weigle (2002) harus muter-muter dulu ngomongin apa kata Grabe dan Kaplan (1996), Brown (1994), Grabowski (1996), Sperling (1996), dan kawan-kawan. Gue sering mikir “why don’t you just state the damn definition already?”. Hingga suatu saat gue ngerjain skripsi, dan menyadari untuk mendefinisikan writing, cara yang AFAIK academically acceptable itu:

  1. Writing itu apa sih?
  2. Kutip pendapat para ahli di bidang writing tentang definisi writing. ‘Kenapa ngga langsung aja ngedefinisiin pendapat lu tentang writing?‘ aja tanya lu? Glad you asked. Who the hell are you? What kind of expertise you have?
  3. Setelah pendapat para ahli lu jentrekeun, baru lu tarik kesimpulan lu tentang writing
  4. There you have it: definisi writing.

Hal lain yang gue sadari dalam mendefinisikan sesuatu, realitas itu melekat sama subjek pemerhatinya, terima kasih kepada referensi tentang case study yang membuat gue menyadari hal ini halah gaya banget ngga sih. Kalau bahasanya Prof. Sanusi sih:

Pada saat banyak orang seakan-akan menyanjung “keampuhan” metode kuantitatif, beliau selalu mengingatkan: hati-hati dengan model unilinier, karena kenyataannya dunia pendidikan tidak sesederhana itu.
(Supriadi, 2002 dalam Alwasilah, 2011)

We, human being, are small. Kita cuma bisa membuat satu potretan dalam satu waktu. Untuk memahami sesuatu, kita harus mengumpulkan hasil potretan banyak orang, lebih diutamakan ahli di bidang tersebut, untuk kita kumpulkan dan pahami lalu kita bandingkan dengan hasil potretan kita. Jadi ingat nasehatnya seorang dosen yang sederhana namun epic sekali. CMIIW, tapi seingat gue redaksinya seperti ini:

Matakna maca
(Emilia, 2011)

belajar hal baru dari skripsi