Alhamdulillah, dua pekan lalu anak pertama gue dan istri akhirnya terlahir ke dunia. Selama dua pekan terakhir, baru sekarang gue punya kesempatan1 untuk nulis beberapa hal yang gue pelajari seputar melahirkan – yang mana gue pikir akan bermanfaat untuk lu yang akan mengalami fase yang serupa.

The Hospital: RS Hermina Arcamanik

Salah satu hal vital yang gue dan istri lakukan dalam mempersiapkan kelahiran adalah memilih tempat melahirkan dan kontrol kehamilan.

Secara posisi sebenarnya rumah gue lebih dekat ke RS Santo Yusuf namun gue ngga nyaman dengan Rumah Sakit ini karena formatnya yang Rumah Sakit umum: tempatnya rame banget dan kerasa banget Rumah Sakitnya2.

Pilihan lain yang cukup dekat adalah klinik bersalin Mutiara Cikutra. Namun setelah coba kontrol sekali kesana, ternyata antriannya panjang sekali. Lalu jika ternyata terjadi hal-hal yang di luar kontrol dan dibutuhkan tindakan operasi, resikonya adalah dirujuk ke RS terdekat yang gue pikir cukup riskan.

Pilihan kita akhirnya jatuh ke RS Hermina Arcamanik yang letaknya hanya 10 – 20 menitan dari rumah gue. Karena positioning-nya sebagai RS bersalin ibu dan anak, orang yang datang ke RS ini tidak terlalu ramai dan biasanya kalau bukan ibu-ibu hamil, anak-anak, ya ibu melahirkan. Suasanya tidak terlalu seperti rumah sakit dan pelayanannya holistik3 + oke.

The Fund

Segera setelah menentukan tempat persalinan, sebagai calon bapak yang (insya Allah) baik, gue mencoba masuk ke tahap selanjutnya: menyiapkan dana persalinan dari jauh-jauh hari. Masih teringat nyokap gue pernah marah terhadap salah satu anak bimbingannya karena sudah tahu biaya persalinan mahal dan dia punya waktu 7 sampai 9 bulan untuk mengumpulkan dana, bukannya menabung dana malah sibuk mencari pinjaman di pekan-pekan terakhir.

Prinsip nyokap: kalau setelah kamu jungkir balik berusaha dan melakukan persiapan ternyata masih kurang4, baru boleh pinjam. Kalau selama 9 bulan kamu malas-malasan dan di menit terakhir baru sibuk pinjam sana-sini, itu salah kamu.

Jadi sejak gue dan istri kontrol di RS Hermina, gue mulai mengumpulkan informasi berapa kira-kira biaya persalinan dan mulai mengumpulkan dana. Yang membuat gue cukup terkejut, ternyata biaya persalinan itu lumayan juga. Per Januari 2015, kisaran dana-nya bisa dibaca disini.

Untungnya, Hermina ini punya program deposit biaya persalinan bernama “Depomil”. Kalau ngga salah singkatannya itu deposit po-nya gue lupa dan mil-nya yang pasti ada hubungannya dengan kehamilan 😅. Mekanismenya kurang lebih seperti lu nabung di ibu guru jaman SD: tiap gue kontrol sebulan sekali dan punya dana sejuta dua juta, gue langsung masukkan ke Depomil untuk persiapan persalinan.

Gue sempat berpikir kalau melahirkan di klinik persalinan dibantu dengan bidan, biayanya bisa setengah atau bahkan seperempat dari biaya bersalin di Hermina. Namun entah kenapa gue terus menerus berpikir “jika terjadi apa-apa, resikonya terlalu besar” (yang mana merupakan keputusan yang tepat, mempertimbangkan apa yang terjadi belakangan).

The Pregnancy

Sepengalaman gue dan istri, fase paling berat kehamilan itu berat di trisemester awal dan trisemester akhir.

Trisemester awal: mual dan muntah yang ngga bisa dicegah. Literally kapanpun dan dimanapun.

Trisemester akhir: untuk menopang dedek yang mulai membesar, badan istri juga mulai menyesuaikan. Jadilah berat badan bertambah, ukuran kaki membesar sampai semua sendal tidak ada yang muat dan harus beli lagi, badan cepat pegal, berdiri harus dibantu, jalan juga terkadang harus dibantu, mulai merasakan kontraksi, dan sebagainya. Very high alert phase.

The Birthing Process

Sore itu gue dan istri mau kontrol pekanan rutin dan tidak berpikir akan ada hal di luar dugaan yang terjadi. Namun saat diukur tekanan darahnya (berulang kali + tes lab), tekanan darahnya tinggi sekali: 150/100. Yang lucu adalah pekan lalu kita kontrol kehamilan dan tekanan darahnya rendah. Sepengetahuan gue juga istri tidak punya sejarah darah tinggi. Dan gue baru tahu sore itu kalau memiliki tekanan darah tinggi saat hamil itu resikonya luar biasa besar.

Dengan pertimbangan ukuran kehamilan yang sudah cukup, sore itu gue dan istri langsung rawat inap + observasi + induksi. Lucunya “tangan yang tidak terlihat” bermain disini: gue sign up Depomil untuk kelahiran normal dibantu dokter + ruangan kelas 1. Namun ruangan kelas 1 dan VIP penuh, jadi gue dititipkan di kelas 2 terlebih dahulu. Dengan berbagai pertimbangan dana yang tidak terduga, akhirnya gue putuskan untuk konsisten saja di kelas 2, tidak perlu dinaikkan ke kelas 1 jika nanti ada ruangan kosong.

Ternyata keputusan ini jadi keputusan dan kondisi vital yang menyelamatkan gue besoknya.

Setelah 12 jam observasi + 4 jam induksi menggunakan balon + 4 jam induksi menggunakan drip5, bukaannya belum cukup besar juga. Akhirnya air ketuban secara manual dipecahkan oleh dokter kandungan.

Air ketuban dipecahkan secara manual oleh dokter kandungan.

Gue baru tahu kalau air ketuban bisa dipecahkan secara manual oleh dokter. Di pikiran gue air ketuban itu akan selalu pecah secara otomatis lalu persalinan berjalan secara lancar dan seterusnya dan seterusnya. Betapa amatirnya gue sebagai calon bapak LOL.

Tiga jam setelah air ketuban dipecahkan, bukaan kembali dicek namun hasilnya mengkhawatirkan: bukaannya sudah besar, namun tetap tidak cukup untuk bayinya keluar. Dengan kondisi tekanan darah tinggi, resiko persalinan normal terlalu besar.

Akhirnya kita putuskan untuk melakukan caesar. For the record, gue, istri, dan dokter sangat menginginkan persalinan normal. Tapi dalam kondisi beresiko tinggi dan timing menjadi hal yang sangat krusial, yang paling penting bagaimana caranya istri dan bayi gue selamat.

Setelah menandatangani consent letter yang lumayan banyak dengan sangat cepat, akhirnya operasinya jalan juga. Ruangan operasi merupakan area steril dan tidak ada orang selain tim medis yang boleh masuk.

Gue menunggu di luar dengan sangat cemas.

Lima belas menit kemudian anak gue lahir. Gue dipanggil masuk ke area anak dan dipersilahkan meng-adzani anak gue.

Empat puluh menit lebih kemudian, akhirnya operasinya selesai. Alhamdulillah lancar tidak ada gangguan, kecuali saat mengeluarkan bayi gue yang ternyata memang besar 😂

Setelah persalinan, gue + nyokap + mertua bergantian menemani istri di selama tiga malam. Untungnya pelayanan RS Hermina ini oke sekali:

  1. First and the foremost, pro ASI.
  2. Makanan-nya terlihat oke, meskipun saat dimakan ya makanan rumah sakit 😅
  3. Susternya ramah dan setiap pergantian jaga, memperkenalkan diri terlebih dahulu.
  4. Setiap pukul lima bayi dijemput untuk dimandikan dan lalu dicek oleh dokter anak. Pukul delapan bayi sudah mandi dan diantar kembali ke tempat rawat inap.
  5. Sangat well-prepared mengenai segala macam hal mengenai fase pasca persalinan. Dari pakaian bayi, training pijat menyusui, training berjalan pasca caesar, dan segala macam pernak-perniknya. Sebelum bersalin gue dan istri menyiapkan satu tas besar mengenai hal-hal yang akan dibutuhkan dedek pasca melahirkan, dan isi tas besar itu hanya terpakai saat keluar dari rumah sakit. Kebutuhan saat di Rumah Sakit hampir semuanya tersedia.
  6. Tidak bau aroma sterilisasi atau obat khas rumah sakit. Ini pertama kalinya gue bulak-balik rawat inap di rumah sakit dan merasa homey/ tidak terganggu dengan “bau rumah sakit”.

The Name

Setelah pulang dari Rumah Sakit, mulailah kita mencari nama yang pas untuk dede. Sebenarnya gue dan istri sudah mencari dari berbulan-bulan yang lalu namun belum menemukan nama ketiga yang pas. Nama tengahnya pun masih ragu ini secara harafiah tepat atau tidak.

Beberapa faktor yang gue pertimbangkan untuk penamaan:

  1. Baik & bagus.
    Well karena nama adalah do’a, obviously. Gue pernah coba lakukan eksperimen mengenai nama dan kata beberapa tahun lalu.
  2. Unik.
    Setiap kali gue atau istri mengusulkan satu nama, gue teringat salah satu teman gue yang kelakuannya ya-gitu-deh dan asosiasi gue terhadap arti dari nama yang bagusnya jadi hilang. Lalu ada satu hal lagi: gue pernah membaca6 bahwa nama Rasulullah yakni “Muhammad” merupakan salah satu nama paling populer sekarang; namun di masa Rasulullah, nama “Muhammad” (yang artinya secara literal  adalah “Yang Terpuji”) merupakan nama yang asing di masa itu. Gue ingin nama anak gue memiliki arti yang bagus, tapi relatif asing/jarang digunakan, namun terdengar familiar untuk masa sekarang.
  3. Mudah dieja
    Saat ditanya oleh petugas apapun untuk memberikan nama, gue selalu menjawab “Fikri pake F, K, dan I” lalu berakhir dengan gue mengeja keseluruhan nama gue. Terlalu banyak Vikri, Fiqri, Fikry, dan variasi lainnya yang terjadi. Istri gue juga mengalami terlalu banyak salah eja dalam berbagai form registrasinya 😅
  4. Familiar tapi jarang digunakan
    Sweet spot untuk nama buat gue adalah kosakata bahasa Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa asing, atau bahasa asing yang sangat familiar di telinga Indonesia tapi jarang digunakan.

With these points in mind, I ask you to welcome me & my wife’s son:

Makna Zaki Rasyid

  1. Makna karena lulus empat poin diatas. Makna itu artinya literally makna. Sesuatu yang lu cari di setiap kejadian. Sesuatu yang lu coba pahami. Sesuatu yang lebih dalam dari yang lu lihat. Satu kata yang hampir selalu muncul di tiap kalimat dengan konotasi yang baik.
  2. Zaki menurut bokap gue artinya istimewa. To be honest, ini nama dari bokap. Gue dan istri punya beberapa alternatif untuk nama tengah, namun Zaki masih terdengar lebih baik. Hence Zaki it is.
  3. Rasyid karena gue Fikri Rasyid. Obviously.

Jadilah, Makna Zaki Rasyid.

11385180_835893226499071_1041448477_n

Selamat datang di Dunia, nak. Semoga papah dan bunda bisa jadi orang tua yang baik ya 🙂


  1. Bubar sudah niat ngeblog tiap hari. Jadi wacana beneran LOL 

  2. Tau kan bau rumah sakit yang khas banget depressing-nya? 

  3. Holistik maksudnya segala perintilan-perintilan persalinan dari popok, baju bayi, sampai vaksin dan imunisasi semua tersedia. Tinggal tanda tangan persetujuan dan bayar saja. 

  4. Which happened 😅  

  5. Entah benar atau salah gue dengernya. Yang pasti dimasukkan obat via infus 

  6. Yang gue lupa sumbernya, sadly