Saya menyukai suasana pantai. suara desiran ombaknya, hembusan angin tropisnya, garis horizon yang terbentang, lembut pasir yang terinjak, pohon kelapa yang melambai, semuanya. ini salah satu ciptan Allah yang paling saya sukai. Dan ahad lalu, kami sekeluarga memiliki kesempatan untuk berkunjung ke salah satu pantai di jung barat pulau jawa, anyer.

Fikri Was hereFikri on anyer

Dan hasil kunjungan kesana membuahkan pengalaman menarik yang bisa saya ambil hikmahnya. Pada ahad pagi, setelah jalan – jalan pagi menikmati siraman matahari pagi pantai anyer dan sarapan, kami sekeluarga memutuskan untuk rekreasi bermain banana boat. Dan ternyata pemandangan pantai anyer dari laut lepas merupakan jauh jauh lebih indah. wow. kerlipan cahaya matahari yang memantul di permukaan laut lepas is so so nice. Pada awalnya saya tidak berniat bermain air kala itu, namun karena sang banana boat dengan suksesnya menjatuhkan saya di pesisir pantai, mau tidak mau ya basah juga. πŸ˜€

terlanjur dibasahkan oleh banana boat

terlanjur basah oleh banana boat

Nah, hal menarik di mulai disini. Karena sudah kepalang basah, akhirnya saya menikmati deburan ombak pagi itu. adik saya menyewa sebuah surfboard. menemaninya bermain surfboard. Satu hal yang saya kurang perhatikan waktu itu adalah, ombak pagi pantai anyer ternyata cukup kuat menarik adik saya yang mengambang menggunakan surfboard, hingga ketinggian di luar batas tingginya. Saya gapai surfboard adik saya, dan ternyata saya tertarik juga. Saya coba dayung ke pantai dan ternyata daya tarik ombak lebih kuat. saya coba jejakkan kaki ke tanah, dan ternyata kedalaman pantai sudah di jauh lebih tinggi dari saya. Di kejauhan ibu saya mulai berteriak panik. Namun Alhamdulillah, ada surfboard. saya terus berpegangan ke surfboard sambil mendayungkan kaki, sementara adik saya malah berpegangan pada saya yang notabene tidak bisa berenang. ahaha. Wow, rasa panik benar – benar saya rasakan waktu itu. Setelah sekitar beberapa menit dalam keadaan yang mengkhawatirkan, sedikit air asin yang terteguk dan rasa panik, syukurlah, Segala puji bagi Allah bahwa ada dua anak lokal berusia 10 tahun yang sedang bermain surfboard dan mengenal baik keadaan pantai dan juga seorang penduduk lokal penyedia jasa banana boat berhasil mencapai surfboard kami dan menarik kami ke pantai.

Phew. selamat dari kondisi itu benar – benar meckiptakan rasa syukur yang amat sangat. Dan kabar baiknya, saya mendapat pelajaran dari kejadian pagi itu.

  1. Jangan bermain – main dengan kekuatan alam yang tidak dikuasai
  2. Saya harus mahir berenang.

πŸ™‚

Setelah kejadian menarik itu, hingga pukul 9 saya belajar bermain surfboard yang alhamdulillah saya jadi bisa cara bermainnnya.

jadi bisa mengalir bersama ombak dengan surfboard

penduduk gunung akhirnya bisa main surfboard juga . πŸ˜›

Di perjalanan pulang, kami sempat mampir napak tilas peradaban ke banten lama. Tempat keraton kerajaan islam pernah berdiri, namun saat ini tempat itu digerogoti oleh penyakit sosial bernama malas dan mental peminta.

Saat pertama kami turun dari kendaraan, langsung diserbu oleh anak – anak penduduk sekitar yang meminta uang recehan dari para turis. seperti kondisi perempatan jalan di kota besar, namun lebih parah karena dalam jumlah yang besar dan diorganisir. Anak – anaknya minta – minta, beberapa penduduk desa menyediakan jasa penukaran uang receh untuk turis untuk memberi anak – anak yang meminta – minta tersebut. Gila. Hal pertama yang saya pikirkan adalah, siapa pemimpin daerah ini? tega sekali membiarkan rakyatnya dalam kondisi memprihatinkan seperti ini.

berfoto di banten lama
di banten lama

setelah itu kami masuk kedalam, melihat sebuah masjid di banten lama dan menarnya. menaiki tangga menara masijid yang hanya cukup di lalui oleh satu orang dewasa kurus, dan mengambil gambar. Sangat disayangkan lokasi bersejarah ini dikelola secara amburadul.

Semoga bermanfaat!