Gue punya teori, atau lebih tepatnya spekulasi (yang gue akui tidak dan belum memiliki dasar yang ilmiah), mengenai berbagai perayaan yang hari ini kerap dirayakan secara besar-besaran:

Suatu “hari” akan diperingati secara masif jika bisa dijadikan marketing gimmick yang berujung kepada peningkatan revenue: Ujung-ujungnya konsumerisme. Kalau suatu peringatan ngga bisa dijadiin marketing gimmick, ngga akan diperingati dan di blow-up besar-besaran.

Coba ambil satu hari yang dirayakan besar-besaran, lalu pikirkan industri apa yang bisa mengambil keuntungan dari “mempromosikan” hari itu:

  1. Valentine: coklat, pada dasarnya semua industri yang punya hubungan dengan “kasih sayang” dan mau mem-pink-kan1 tampilannya
  2. Tahun baru: kembang api, turisme, dll
  3. Idul Fitri: konveksi, kue, semua industri yang mau meng-integrasikan “bermaaf-maafan” dalam promosinya, dll.

Kalau ngga menguntungkan dalam skala besar, biasanya promosinya ngga besar-besaran. Contoh Idul Adha: yang untung dari Idul Adha pengusaha ternak potong yang notabene (setau gue2 ) ngga ada pemain besar yang meraup untung besarnya. Selain faktor tradisi yang bermain, IMO faktor konsumerisme-kapitalistik3 ini juga mempengaruhi betapa ngga di-blow up-nya perayaan Idul Adha di media di beberapa kawasan seperti Indonesia.

Ini cuman teori-spekulasi gue aja sih. Kalo ada yang bisa melengkapi atau membantah, silahkan.

***

Fun question: berminat jadi bagian dan “diperbudak” konsumerisme tak bertepi? Ini ada lagu yang pas: Belanja Terus Sampai Mati oleh Efek Rumah Kaca.


  1. Ngga pake mambo, duh 

  2. CMIIW tho 

  3. I just made this term up now LOL