Gue selalu penasaran bagaimana orang jaman dulu hidup. Coba bayangkan:

  1. 50 tahun lalu tidak ada internet
  2. 150 tahunan lalu, sistem monarki absolut itu wajar
  3. Lebih dari 200 tahunan lalu, perbudakan masih sesuatu yang lumrah.
  4. Dan seterusnya.

Banyak hal yang kita anggap wajar, biasa saja, dan “hak dasar” hari ini merupakan sesuatu yang tidak ada dan tidak terbayangkan di masa lalu. Gue selalu berpikir: How did they live with that?

Anyway, karena keterbatasan referensi ilmiah yang gue miliki dan kenyataan bahwa gue belum pernah menemukan referensi ilmiah mengenai kehidupan di masa lalu yang menjelaskan dengan cara yang engaging mengenai bagaimana kehidupan di masa lalu, ujung-ujungnya gue lari ke fiksi yang bersetting di masa lalu. Film, manga, you name it. Meskipun bukan fakta, gue pikir untuk menjadikan fiksi mereka ‘hidup’, pengarang dari fiksi tersebut pasti melakukan riset mengenai setting dimana fiksi mereka akan diceritakan. Close enough. Berikut ini beberapa fiksi yang membuat gue berpikir “How the hell they live with that?”.

Kingdom of Heaven (Movie)

Kingdom of Heaven. Courtesy of TM and 2005 Twentieth Century Fox.

Kingdom of Heaven. Courtesy of TM and 2005 Twentieth Century Fox. Source.

Gue pernah belajar mengenai sejarah islam saat nyantri dulu dan nama Salahadin Al-Ayubi memang seingat gue disebut sebagai pahlawan penakluk Konstantinopel. Yang membuat gue kepikiran setelah menonton film ini:

  1. Perang salib itu politis, bukan perang antar agama. Ini sejalan dengan yang gue pelajari dulu sih.
  2. Luka menyebabkan infeksi. Infeksi bisa membunuh karena dulu ngga ada disinfektan. Hari ini kita menganggap disinfektan itu biasa-biasa aja dan infeksi bukan hal besar.
  3. Perjalanan dari satu titik ke titik lain itu bisa makan waktu sangat lama. Belum lagi kemungkinan diserang di tengah perjalanan oleh rampok atau pasukan teritori asing.
  4. Kota harus punya benteng agar kalau diserang bisa bertahan. Hari gini kota mana ya yang punya benteng?
  5. Orang bisa sangat loyal terhadap lord-nya. Menjadi anak seorang lord berarti siap-siap menerima intensif seorang lord dan kewajiban seorang lord. Logikanya: Kalo lord-nya pendidik yang baik, anak si lord akan sebaik bapaknya. Kalau lord-nya bukan pendidik yang baik meskipun seorang lord yang baik, well the people is soon-to-be doomed.
  6. Yang ribut Ratu dan Raja, yang mati rakyatnya. What the hell, sekarang juga masih gitu kok. Labelnya aja bukan Ratu dan Raja.

Game of Thrones (TV Series)

Still of Sean Bean in Game of Thrones

Still of Sean Bean in Game of Thrones. Courtesy of HBO. Source.

Meskipun setting-nya fantasy-medieval, tapi serial ini membuat gue sedikit banyak kebayang parahnya kehidupan medieval. Kalo di Kingdom of Heaven gue lebih tertarik kepada sifat knightly tokoh-tokoh sentralnya, di Game of Thrones ini karakternya lebih banyak jadi perhatian gue ngga terlalu terpusat di karakternya. Beberapa hal yang gue simpulkan dari menonton serial ini:

  1. Masih sama: yang ribut Ratu dan Raja, yang mati rakyatnya. Cuman skalanya lebih parah aja. Rebutan kekuasaan. The throne is my birthright! Die for me, people! Die! Dafuq.
  2. Kesetiaan terhadap House / Clan. Everything for the house. Buat gue ini terdengar seperti versi mini dari nasionalisme, cuman dibatasi ikatan darah keluarga sementara konsep nasionalisme lebih abstrak aja.
  3. Orang jaman dulu jarang mandi kayanya ya. Mandi gimana, baju & armor-nya aja heboh gitu.
  4. Menikah itu untuk mempertahankan posisi strategis, bukan karena cinta-cintaan ala Hollywood / Bollywood.
  5. Life expactancy orang jaman dulu pendek kayanya.
  6. Orang bisa bertahan hidup karena kehormatan. Hari gini orang bertahan karena harta, kehormatan mah entah kemana.
  7. Kalo lu lahir sebagai anak seorang lord, congratulation! Kalo dalam kondisi perang, sial juga sih karena lu akan diburu. Tapi kalo dalam kondisi damai, selamat! Lu ngga kerja juga hidup lu terjamin! Kalo lu lahir sebagai anak kelas pekerja, buruan punya keahlian!
  8. Anak di luar nikah dimana-mana. Bayangin lu berangkat perang gara-gara lord lu ribut dengan lord lainnya. Ngga mungkin makan waktu sebentar karena jalannya aja pake kuda / marching, pasti berbulan-bulan atau malah bertahun-tahun. Berbulan-bulan ngga ketemu pasangan, senggol kiri-kanan. Not to mention belum ada KB jaman dulu. Ngga kebayang kacaunya, bisa-bisa orang ngga sengaja incest. Even for non-believer, I think that is freakin gross.

Vinland Saga (Manga)

Vinland Saga

Vinland Saga

Manga yang bersetting tentang kehidupan perompak Viking ini memberikan insight yang lebih parah daripada Kingdom of Heaven atau Game of Thrones.

  1. Membunuh orang itu… lumrah. Sesama perompak ribut, bunuh-bunuhan. Berantem di jalan, keluar pedang, ada yang mati. Perang, ngebunuh lawan.
  2. Keselamatan itu langka. Bayangin tinggal di desa yang damai di tepi laut. Tiba-tiba bajak laut datang, membunuh laki-laki yang ngelawan, memperkosa wanita yang ada, dan merampok harta dan bahan makanan yang tersisa. That is insane.
  3. Wealth and Glory. Raja-raja sialan itu ujung-ujungnya perang dan melibatkan nyawa pasukannya gara-gara dua hal ini.
  4. Life expactancy itu pendek banget. Udah orang-orang sering perang, pengobatan belum semaju hari ini pula.
  5. Kalo lu laki-laki, lu harus punya keahlian berpedang / perang. End of story. Lu ngga bakal tahu kapan perompak datang dan membuat kekacauan di desa lu. Lu ngga bakal tahu kapan lu dipanggil kerajaan untuk jadi tentara.

Gue ngga tahu gimana melanjutkan dan menutup gagasan yang meloncat-loncat di pikiran gue mengenai topik ini. Yang terlintas di pikiran gue cuman satu: Kalo lu ngerasa beban hidup lu berat banget, coba sekali-sekali bayangin kehidupan orang-orang di zaman dulu ini kaya gimana. Those people experienced one hell of a world, no?