Banyak dari kita yang lebih fokus kepada harga alih-alih manfaat / nilai tambah (Saya juga kadang-kadang seperti ini sih, jadi ini sebagai self-note & pengingat juga). Contoh: sejak saya menggunakan MacBook Pro, entah sudah berapa banyak komentar seperti “Wah, laptop mahaaal, keren!” atau “Iya asik sih, tapi mahal euy” yang saya dengar. Ya, memang harga MacBook Pro sedikit diatas harga kebanyakan laptop, meskipun jika dibandingkan dengan laptop dengan spesifikasi sejenis sebenarnya harganya tidak akan terlalu jauh-jauh amat. Tapi coba pikirkan nilai tambah yang sebenarnya:

  1. Tidak ada / jarang sekali ada virus yang menyerang OS X (OS-nya MacBook Pro)
  2. Jarang sekali crash. Hell yeah, siapa yang tidak muak dengan notification popup “this application is not responding?
  3. Daya tahan baterai sampai enam jam.
  4. Kualitas layar lebih tajam, membuat mata tidak cepat letih jika berada di depan notebook berlama-lama (saya jika sudah di depan notebook bisa 4 – 6 jam-an)
  5. Kualitas dan User Interface aplikasi yang jauh lebih “menyegarkan”, well-designed dan intuitif dibanding OS lain.
  6. Respons yang cepat dan responsive
  7. Booting time OS yang cepat. Mode sleep yang sangat oke. Kalau device tidak digunakan untuk durasi pendek, katakan 1 – 2 jam, tidak perlu shut down melainkan tutup saja layarnya sehingga masuk ke mode sleep. Kalau hendak digunakan tinggal buka layarnya. Fitur ini entah sudah menyelamatkan berapa banyak waktu saya.
  8. Aplikasi-aplikasi yang bekerja dengan sangat terintegrasi satu sama lain. Contoh: iMovie (aplikasi video editing) dapat mengakses library iPhoto (photo manager) dan sebaliknya. Membuat waktu yang digunakan menjadi lebih efisien.

Sekarang pikir lagi: harga IDR 11.6jt (Januari 2011) yang saya keluarkan untuk device ini memang cukup pain in the ass. Mengumpulkan dana sebegitu untuk saya juga bukan perkara mudah: mengerjakan kerjaan freelance, penambahan jam kerja, penyunatan “dana lain-lain” yang saya lakukan sampai memakan waktu berbulan-bulan dll. Tapi coba pikirkan nilai atau “value” yang saya selamatkan:

  1. Entah berapa jam / menit waktu yang terbuang dari OS / Aplikasi yang crash, memindai virus, respons aplikasi yang nge-lag dan booting time software saat dinyalakan karena jika di-sleep suka ngaco saat di-wake up seperti yang terjadi di OS / notebook lain.
  2. Stamina yang lebih terjaga karena kenyamanan dan tidak cepat capek saat berada di depan notebook.
  3. Karya-karya kreatif yang dapat diciptakan dengan bantuan software / aplikasi yang tersedia

Konversikan peluang, waktu dan stamina yang dapat diselamatkan ke produktifitas. Jika dengan mengeluarkan biaya IDR 11.6 jt saya bisa mendapatkan lebih banyak peluang untuk menghasilkan karya yang nilainya jauh diatas IDR 11.6jt itu, damn i’ll do it. Damn I’ll find a way for it. Ibu saya sering bilang:

Hidup mah sederhana saja, tapi untuk produktifitas jangan takut mengeluarkan uang.

Saya tidak terlalu perduli dengan converse belel yang sudah saya gunakan selama bertahun-tahun, atau outfit itu-itu saja yang membuat saya terlihat begitu-begitu saja. Saya juga tidak terlalu perduli dengan hangout di cafe-cafe “gaul” atau nonton film-film terbaru di bioskop. Tapi menggunakan device / OS yang menghabiskan waktu dan produktifitas?

Damn i care, it’s torturing me.

Lihat harga yang sebenarnya, bukan sekedar harga yang tertera di price tag. Kalau cukup berharga, kenapa tidak kamu perjuangkan?

P.S.

  • Terpikir untuk menulis ini setelah melihat orang terdekat saya harus disusahkan dengan this-application-is-not-responding-nya OS jendela. Berkali-kali.
  • Jika ada metafora / ungkapan yang terkesan arogan pada tulisan ini, saya mohon maaf. Saya hanya selalu berusaha untuk menyajikan argumen sejelas mungkin.
  • Niat saya menggunakan MacBook sebagai contoh malah jadi terkesan promosi. I know, maafkan penyakit pengguna mac ini -__-
  • Kalau kamu punya pendapat berbeda, silahkan sampaikan di kolom komentar secara santun. Mari berdiskusi. πŸ™‚