Cita-cita nyokap gue yang seorang dosen senior di salah satu perguruan tinggi negeri (udah 23 tahun ngajar) dan pembicara produk nasional sekaligus leader / distributor di salah satu perusahaan multi-level marketing yang sudah established di Indonesia selama 10 tahun lebih itu sederhana:

Mamah mah sebenarnya kepengen jadi Ibu Rumah tangga, A.

Begitu ucap nyokap gue suatu waktu.

Yang menyebabkan impian itu belum tercapai sebenarnya klise: tuntutan ekonomi. Nyokap pernah membuka angka yang buat gue masih lumayan fantastis. Sebuah keluarga kelas menengah dengan anak tiga dan fokus ke pendidikan anak butuh dana operasional sekitar 10 juta per bulan. Plus plos lah.

Dengan kebutuhan dana sebesar itu, mau tidak mau nyokap harus ikutan memenuhi kebutuhan rumah, terutama setelah krisis moneter di tahun 1998. Kembali lagi ke awal tulisan ini, ada satu kejadian yang sangat monohok buat nyokap yang mengakibatkan beliau sebenarnya sangat ingin jadi ibu rumah tangga.

Waktu itu pasca krisis moneter, tahun 1999 – 2000an. Bokap dan nyokap seingat gue sedang berusaha keras merintis bisnis sendiri (gue lupa, budidaya jangkrik untuk pakan ikan hias apa jamur tiram waktu itu), disamping keduanya juga merupakan dosen di sebuah PTN. Karena kesibukannya, adek gue jadi lebih banyak diasuh oleh pembantu rumah tangga yang oleh kami dipanggil “bibi“. Oleh adik gue, “bibi” ini dipanggil “ibu” karena intensitas pengasuhannya sedang nyokap dipanggil “mamah” oleh kita semua.

Suatu ketika, pulang aktivitas sehari-hari, nyokap mengantar pulang bibi karena bibi tidak tinggal di rumah melainkan pulang-pergi. Lalu adik gue mulai menangis.

“Pengen sama ibu”, begitu tangisnya.

Padahal saat itu, adik gue masih balita ini sedang bersama nyokap yang baru saja mengantar bibi pulang. IMO, mustahil untuk seorang ibu untuk tidak sakit hati mengalami kejadian itu. Kalau saja tidak karena kondisi ekonomi. Semua yang nyokap lakukan adalah demi anak-anak, memastikan ketiga-tiganya agar dapat hidup dengan layak dan mendapatkan pendidikan yang baik. Apa yang adik gue lakukan sewaktu itu gue pikir merupakan suatu hal yang naluriah, karena intensitas waktu yang dihabiskan dengan pengasuhnya. Tapi bisa ngga lu bayangkan perasaan seorang ibu, mendengar kalimat itu dari anaknya?

Kalau saja bukan karena kondisi ekonomi.

Don’t get me wrong. Gue ngga menganggap Ibu yang bekerja itu salah. Nyokap gue sendiri juga bekerja agar anak-anaknya bisa melewati tiap fase hidupnya yang mana membutuhkan biaya dengan selamat. Idealnya memang seorang ibu menjadi full-time mom yang terus hadir untuk anak. Tapi apa yang bisa kita katakan? Kondisi hidup kan tidak selamanya ideal, lagi-lagi kebutuhan yang bersifat ekonomis yang berbicara.

Beruntunglah kalian yang hidup di kondisi yang ideal. πŸ™‚

Buat yang tidak hidup di kondisi yang ideal? Sebenarnya tidak perlu takut juga sih, biasanya ada pelajaran lebih yang bisa diambil dari kondisi itu. Sepengalaman gue, karakter anak itu “nempel” dengan orang yang paling sering berada di sekitarnya. Pengalaman hidup nyokap yang sangat beragam (karena harus menghadapi kondisi yang tidak ideal) membuat gue belajar banyak dari beliau langsung. Dan banyak sekali hal yang gue pelajari dari nyokap yang bermanfaat sampai saat ini.

Jadi terlepas dari kondisi ideal atau ngga, faktanya anak itu bakalan belajar banyak dari ibu. Jadi kalo lu cewe dan entah lu cukup beruntung jadi full-time mom, terpaksa oleh kondisi untuk ikut berjuang menafkahi keluarga, atau untuk alasan aktualisasi diri tetap berkeinginan untuk ikut bekerja, lu harus sadari kalo anak itu belajar banyak dari Ibu. Seorang ibu harus berusaha untuk pintar karena nasib satu generasi setelah kita ada di pengawasan mereka (sekolah formal tidak selalu betul dan hampir pasti tidak mencukupi SEMUA kebutuhan pendidikan anak). Pendidikan dan pengetahuannya harus tinggi, terlepas dari apa yang dia pelajari didapat dari pendidikan formal atau tidak.

Orang yang bilang “untuk apa perempuan sekolah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya mengurus keluarga” itu… gue ngga ngerti cara berpikir mereka gimana dan apa yang mereka pikirkan.

Nasib satu generasi di bawah ada di tangan perempuan. Spesifiknya, perempuan yang juga seorang ibu.

Beruntunglah mereka yang bisa jadi full-time mom. Tidak mengalami tuntutan kondisi yang mengharuskan mereka untuk bekerja dan mampu mengalahkan ego-nya untuk karena mementingkan masa depan anak-anaknya1.

Tapi terlepas dari itu, semua perempuan yang jadi ibu itu mulia. Full-time mom ataupun tidak.

Semua ibu itu mulia.

Gue akan ulangi sekali lagi, menghindari ada kata-kata gue yang dipelintir atau ada yang tidak menangkap pesan gue seutuhnya:

Semua ibu itu mulia.

Tidak semua orang hidup dalam kondisi yang sama, jadi kita semua tidak bisa pukul rata juga. Alasan orang kan berbeda-beda dan banyak sekali alasan yang tidak terlihat oleh mata. Hati-hati dalam menyimpulkan dan berucap itu perlu buat semua orang2. πŸ™‚

P.S.

I love, and always love you, Mom.

Catatan Kaki

  1. Pas nulis ini gue kepikiran Ibu Ainun istrinya B.J. Habibie. Dokter anak terkemuka, memutuskan untuk jadi ibu rumah tangga untuk mendukung pertumbuhan anaknya. Kurang berat apa coba itu keputusan. Ohya, gue tau kejadian ini juga dari film-nya jadi bisa aja apa yang gue tahu ini bias. CMIIW.
  2. Gue kepikiran nulis ini juga karena semalam lumayan heboh masalah kultwitnya @felixsiauw di Twitter. In a way, niat dia baik (dakwah, dan dakwah itu tidak mudah) tapi cara penyampaiannya sepertinya ngga berkenan buat banyak orang. What can I say, ngga ada orang yang sempurna. Anyway, kalau tulisan gue ini menyinggung beberapa orang, gue minta maaf. Silahkan berikan saran dan masukan.