Beberapa hari lalu gue sedang ngebuka Facebook dan menemukan post ini di News Feed gue. Terlalu bagus untuk tidak di-share:

//

 

Bagian yang buat gue benar-benar emas itu:

Tapi sesungguhnya, perasaan diuji ketika situasi menjadi sulit dan rumit.

Semua orang bisa aja suka sama elu pas lu lagi jaya – jayanya. Pas lu lagi baik-baiknya. Pas lu lagi makmur-makmurnya. Pas lu lagi ganteng-gantengnya. But things happen and people will definitely change. Apakah perasaan lu akan tetap sama saat pasangan lu berubah? Ngga usah drastis-drastis kaya bangkrut atau dipecat deh. Let’s say hal yang sederhana aja dulu: ketika jarak jadi jauh, ketika frekuensi bertemu berkurang, ketika kesibukannya bertambah, ketika sifatnya ada yang berubah, ketika sulit baginya untuk jadi semanis dulu, dll.

Stefen Seigmaster dalam pamerannya The Happy Show at MOCA yang gue baca melalui Minimally Minimal menggambarkan hal ini dengan sangat brilian:

Passionate love is much stronger than companionate love, but it only lasts half a year and pasionate love does not normally turn into companionate love. When i was younger i thought true love is passionate love that never fades and i was wrong. In fact it is biologically impossible.

Stefan Seigmaster

Ketika beberapa hari yang lalu seorang teman cerita mengenai hubungannya yang terkendala hal yang cukup signifikan, I can’t help but said:

Cinta mah datang dan pergi. Setergila-gilanya lu sama dia dan dia sama lu, suatu saat bakal redup juga. Yang nyisa tinggal komitmen aja. Cukup ngga lu dengan komitmen itu?

Ya begitulah. Apakah ini benar-benar cinta, ataukah ‘sekedar’ cinta?

It’s the question for our own self to ask.

***

Disclaimer: not that i know everything about love like the dudes who throw a seminar about them, but this is the thing I learned along the way. Hope this thing is somehow useful for you.