Ada beberapa perbedaan menarik yang gue mulai rasakan setelah dua puluh delapan hari menikah: apa yang dibeli ketika belanja dan cashflow gue.

Belanja

Saat gue hidup ngekos di Jakarta tahun lalu, ngga pernah sekalipun gue masak di kosan. Pertimbangan gue sederhana: I’m suck at cooking jadi lebih baik gue beli makanan jadi lalu gue pake waktu masak dan cuci piring untuk kerja / crafting portofolios. Sekarang udah nikah ngga bisa begitu lagi. Kalau dihitung-hitung secara akumulatif, beli makanan jadi itu relatif mahal.

Lagipula masakan istri gue enak. So why don’t we cook our own food?

Jadi yang dulu tiap ke supermaket / minimarket cuman beli cemilan, sekarang tiap belanja selalu ada kebutuhan dapur: minyak, bumbu dapur, sayur, daging, manisan, buah-buahan, etc.

This is a kind of fun, actually. 😀

Pengeluaran

Income gue sebagai laki-laki single bisa dikategorikan Alhamdulillah-lebih-dari-cukup banget. Begitu nikah, mata gue dibukakan dengan kenyataan bahwa biaya yang lu butuhkan untuk hidup mandiri itu lumayan besar:

  1. Biaya tempat tinggal. Coba riset biaya kontrak rumah satu tahun di domisili lu itu berapa.
  2. Biaya makan.
  3. Biaya tempat tinggal.
  4. Biaya pendidikan. Istri gue sedang melanjutkan studi S2. That’s quite a tuition.
  5. Biaya rekreasi.
  6. Biaya kendaraan.
  7. Biaya mudik. Sekarang mudik ke Cirebon (tempat mertua) dan Cijulang – Pangandaran (tempat keluarga bapak).
  8. Biaya pakaian.
  9. Dan banyak lagi.

Dulu sekali makan di cafe habis sekitar 100ribuan terasa biasa aja, sekarang 100ribuan itu bisa buat belanja bahan makanan beberapa hari, jadi males juga jalan-jalan kalau ngga penting-penting amat.

middle-age-dude-detected :))

Hal ini tentunya bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Lu bisa menganggap kalau pernikahan itu costly dan memberatkan. Namun, gue lebih menganggap ini sebagai wake-up call. Income gue cukup stabil selama dua tahun belakangan sehingga gue merasa cukup dan santai-santai aja. Sekarang gue sadar kalau gue terlalu lama terlena di zona nyaman dengan skill yang gue pikir cukup berkembang tapi ngga terlalu signifikan, dengan income yang cukup berkembang tapi ngga terlalu signifikan juga.

Ini mengingatkan gue akan nasehat nyokap gue saat gue masih kuliah namun udah mulai berpenghasilan long time ago:

Biaya hidup layak (tapi tidak berlebihan) Keluarga kelas menengah dengan tiga orang anak (dengan jarak umur antar anak sekitar 5 tahun) yang sekolahnya sampai S1, itu bisa sekitar 10jt-an tiap bulannya.

Makanya kamu dari sekarang belajar cari uang yang bener, jangan banyak teuing main.

Beberapa tahun lagi, gue pikir angkanya udah ngga akan sama lagi. Inflasi, kondisi ekonomi, kondisi politik, you name it.