Gue pikir argumen “ngga apa-apa tatoan dan merokok asal kerjanya sebagai mentri benar” itu berat sebelah dan egois. Mereka itu mentri yang merupakan pemimpin dan kalau gue ngga salah mengingat, Pak Jokowi & JK sendiri yang bilang di debat calon presiden bahwa yang dibutuhkan Indonesia adalah pemimpin yang memimpin dengan teladan. Lu yang udah cukup umur dan bisa menghidupi diri lu sendiri bisa ngomong sesuka hati bahwa itu hak dan privasi Ibu mentri. Tapi yang bersangkutan itu teladan. Lu bayangin kalo beberapa anak SD1 di sentaero negeri, atau bahkan anak lu sendiri di usia SD suatu saat merokok dan tatoan karena teladan yang diberikan oleh mentri-nya seperti itu.

Btw, Ini yang gue kritisi argumen “ngga apa-apa..”-nya ya, bukan Bu Susi-nya. Jika memang Bu Susi merupakan figur yang tepat di posisi tersebut, itu hak prerogatif presiden. Tapi tidak menutup fakta bahwa yang dia lakukan itu teladan yang ngga baik sebagai pemimpin.

Regardless, mengenai argumen “mentri ngga lulus SMA”, opini gue:

Crazy amount of dedication, hard work, & taste triumph degree all the time

Garis bawahi crazy amount-nya. Jangan berlebihan juga lu bilang gelar ngga penting apalagi kalo usaha, dedikasi, dan insting / cita rasa lu ngga lebih besar dari orang yang punya gelar.


  1. Anak SD jaman sekarang kelakuannya ngga bisa diprediksi karena exposure informasi yang berlebihan