The Lost Symbol

Setelah dua buku non fiksi Outliers dan Crowd – Marketing Becomes Horizontal, kali ini saya berkesempatan untuk membaca buku fiksi (yang katanya) paling fenomenal di awal tahun 2010: The Lost Symbol. Sebuah novel thriller berbasis fakta karangan Dan Brown, merangkap sekuel The Da Vinci Code yang dinanti-nanti. Awalnya saya agak skeptis dengan novel ini mengingat alur cerita yang cenderung sama antara The Da Vinci Code, Deception Point, Angels & Demons, Digital Fortress yaitu karakter antagonis yang diungkapkan diakhir cerita merupakan karakter protagonis yang sepanjang jalan cerita “terlihat baik”.

Setelah membaca habis The Lost Symbol, skeptisme saya ternyata (cukup) tidak terbukti. Berikut ini 3 alasan mengapa The Lost Symbol menarik untuk dibaca:

Thriller ala Dan Brown

Perlu kita akui bahwa Dan Brown sangat cerdik dalam merangkai kata, menyelipkan fakta dan membuat pembaca penasaran. Saya sampai tidak bisa meninggalkan buku ini sampai habis karena terus tergerak untuk membuka halaman demi halaman ‘petualangan semalam Robert Langdon’ saking penasarannya. Dan Brown dengan jeli memotong adegan-adegan penting dan membawa kita dalam alur maju mundur yang sangat memikat.

Pattern cerita yang berbeda

Yap, sebelumnya saya merasa alur cerita Dan Brown begitu-begitu saja. Undangan tiba-tiba, dipaksa memecahkan kode, analisa simbol-simbol, flashback ke kelas harvard, dan karakter antagonis yang tiba-tiba muncul dari karakter yang sebelumnya saya kira protagonis. The Lost Symbol berbeda. Well, meskipun awal cerita dibuka dengan cara yang sama dengan novel-novel sebelumnya, pertukaran antagonis dan protagonis tersebut tidak terjadi dalam novel ini.

Maksud tersirat ala Dan Brown

Yang saya tangkap dari buku ini, Dan Brown dengan cerdas mencoba menyampaikan pesan ‘kembali kepada Tuhan’ melalui dialog-dialog cerdas melalui simbol-simbol yang diungkapkan Robert Langdon yang tidak percaya kepada eksistensi Tuhan. Fakta-fakta yang melatari plot The Lost Symbol bahkan membuat pesan yang tersirat ini menjadi lebih menarik.

******

Overall, The Lost Symbol is worth to read. Saya suka sekali cara Dan Brown menyelipkan ‘pesan’ melalui dialog-dialog berbasis fenomena ilmiah yang digunakan dalam buku ini. Saya jadi terbersit pikiran bahwa karya sastra merupakan medium yang sangat tepat untuk memahamkan pembaca atas satu konsep. Akuilah, karya tulis ilmiah membosankan. Jika skripsi ditulis dalam kemasan produk karya sastra mungkin akan sangat menarik ya? Konsep-konsep yang cenderung sulit dicerna menjadi lebih mudah dicerna melalui medium dialog antar tokoh. Karya yang akan memicu kreativitas otak kanan untuk membalut analisa otak kiri dengan estetika.

Oke, cukup bagi saya untuk bercerita. Sekarang giliran anda: ada yang sudah membaca The Lost Symbol? Apa pendapat anda?

P.S:

Ngomong-ngomong, jika ada paket perjalanan wisata mengunjungi situs-situs yang berada dalam cerita Dan Brown akan sangat menarik sekali ya? Bagaimana thelostsymbolindonesia? Mungkin ini akan menjadi ide bisnis yang menarik ๐Ÿ˜€