Posts tagged with Toleransi :

Do you see what i see?

Written by Fikri Rasyid on November 8, 2010 filed under Culture and tagged with , ,

Pernah bertemu orang yang membuat kamu berfikir “Loh, kok dia mikirnya gitu sih?”

Sejak awal tahun ini, saya terbiasa menggunakan Ubuntu sebagai operating system netbook saya. Ternyata, sistem rendering font-nya ubuntu ini agak berbeda dengan windows. Sialnya, pernah ada satu kejadian dimana saya tak sengaja merusak system font-nya sehingga hingga hari ini pun tampilannya agak berbeda dengan tampilan font standar-nya.

Suatu ketika, saya merubah tampilan desain blog ini (menggunakan OS ubuntu) dan seorang teman saya mengirimkan komentar: “eh, bagian ini kaya-nya font-nya ngga usah dibuat bold deh“. Saya pikir dalam hati “ah, perasaan gue oke-oke aja tuh“. Beberapa minggu kemudian saat saya mengakses netbook saya menggunakan windows, ternyata area yang dibicarakan teman saya itu nampak terlalu tebal dan membuatnya tidak sedap dipandang.

Ah.

Objeknya, katakanlah, x.

  • Saya menggunakan OS ubuntu (yang agak bermasalah) untuk mengakses x, tampilannya standar.
  • Teman saya menggunakan OS lain (yang “standar”) untuk mengakses x, tampilannya tidak sedap dipandang.

Pertanyaannya: pernah kamu bertemu orang yang membuat kamu berfikir “Loh, kok dia mikirnya gitu sih?”

Tentang ibadah shaum dan penertiban pedagang makanan di siang hari

Written by Fikri Rasyid on September 5, 2008 filed under Analisa, Islam and tagged with ,

satu hal ini selalu mengusik saya di setiap bulan ramadhan, waktu dimana umat islam sedunia menjalankan ibadah shaum : Razia pedagang makanan di siang hari. Pedagang makanan di larang berdagangan makandi siang hari.

Saya sangat tidak setuju dengan hal ini. Okelah, mayoritas penduduk indonesia memang umat muslim. tapi bagai mana dengan yang non muslim? bagaimana dengan umat muslim yang tidak diwajibkan puasa? seperti wanita yang berhalangan, orang tua dan musafir? mereka akan kesulitan untuk mendapatkan konsumsi di siang hari.

“Tapi, ini merupakan tindakan untuk mengurangi godaan untuk umat muslim agar puasanya tidak batal.”

shaum, bagi saya merupakan tanggung jawab langsung seorang Hamba dengan Sang Maha Pencipta. Jika seseorang yang berpuasa tersebut memang serius shaumnya, apalah arti godaan makanan di depan mata. Namun jika seseorang memang tidak serius shaumnya, meskipun tidak ditemukannya makanan yang di jual oleh pedagang yang berjualan di siang hari, pasti di carinya kemanapun juga.

Saya teringat dengan apa yang dikatakan oleh Bapak Ary Ginanjar, sang founder ESQ modeling, tentang apa yang dikatakannya tentang islam dalam ESQ, yang koheren dengan topik ini :

“Bukan Al-Qur’an untuk islam,
bukan dunia untuk islam,
Tapi Al – Qur’an dan Islam untuk dunia.
Islam merindukan perdamaian dan kebahagiaan sejati,
bersama yang lain.”

Ary Ginanjar Agustian, dalam pengantarnya di buku kecerdasan Emosi dan spiritual.

Bukan masyarakat non-muslim yang harus kita tuntut untuk mengerti umat islam yang menjalankan ibadah shaum,
tapi umat muslim yang sedang saum lah yang bertoleransi kepada umat non-muslim, dan kita semua saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Bukan dunia untuk islam, tetapi islam untuk dunia, sebagai Rahmatan lil Alamin.
saya rasa itulah esensi islam.

Salam, :)