Posts tagged with Tempat :

Setelah 6 Hari di jambi

Written by Fikri Rasyid on July 22, 2008 filed under Bisnis, Personal, Review and tagged with ,

6 hari berada di jambi benar – benar memberi saya banyak pelajaran baru. Dan juga, ternyata di sini banyak hal menarik yang saya baru ketahui! silahkan disimak :

:)

Tempoyak

Tempoyak

bumbu khas jambi ini terbuat dari duren yang di hancurkan, lalu diasamkan. Saya sendiri tidak begitu menyukai duren, tetapi ketika tempoyak ini di masukkan ke dalam bumbu udang asam manis, wow! rasanya benar – benar menggigit. Rasa udang asam manisnya menjadi lebih asam dan wangi. :D

Kayu Hitam

Rumah Panggung

Jika anda berkunjung ke jambi, anda akan mendapati bahwa mayoritas bangunan disini berbentuk rumah panggung. Bagian depan rumahnya mungkin menempel ke atanah, namun bagian tengah dan belakan rumah mengambang diatas pasak. bahkan ketika saya menyisiri sungai batang hari menggunakan sampan, saya lihat departement store nya pun berdiri diatas pasak. amazing. Ternyata, kontur tanah di jambi ini bergelombang. jadi relatif sulit membuat rumah yang kesemua bagiannya menempel ke tanah, lebih efisien membuat rumah dengan model panggung begini. Jika anda perhatikan lagi, banyak rumah yang pasaknya menggunakan kayu. Pertama saya pikir kok kuat sekali, fondasi rumah menggunakan kayu. Ternyata kayu yang digunakan adalah kayu hitam. Sejenis kayu yang sekarang langka, yang mana kayu ini semakin tambah usia malah semakin kuat. Semakin terkena air, semakin kuat dia. Wow, saya belajar hal baru mengenai per-kayuan nih. :D

Angkot ala Pimp My Ride

Angkot Ala Pimp My Ride

Fenomena menarik ini terjadi juga di beberapa kota juga seperti cilegon dan padang. Para angkoters ( pemilik angkot – ngasal red :P ) memodifikasi angkotnya dengan pembelah angin dan sound system dengan bass super tebal serta lampu kelap kelip di dalamnya. Pokoknya setiap angkot lewat, anda akan mendengar dentuman suara bass deh. Dan yang menariknya, angkot – angkot yang tidak di modifikasi relatif tidak laku, dan dijuluki “sayur”. Wow, what a public transport! :D

i’m on jambi now!

Written by Fikri Rasyid on July 19, 2008 filed under Bisnis, K-Link, Personal and tagged with ,

Well, sudah tiga hari saya berada di jambi untuk alasan pengembangan jaringan. Dan hal yang sangat saya suka dari sebuah perjalanan adalah melihat belahan bumi yang lain. mengunjungi ciptaan Allah di tempat lain selalu memberikan sensasi tersendiri. Mem berikan kesempatan untuk saya belajar. mengenai perbedaan, mengenai keberagaman, mengenai keindahan alam dan takdir.

Dan ini adalah tiga hari yang patut diambil hikmahnya.

Hari pertama, saya belajar bahwa bandara internasional Soekarno hatta sepertinya perlu peningkatan pelayanan. Pengguna bandara yang diluar area boarding domestik pasti setuju dengan saya. Kurang rapih dan bersih. Semoga kedepannya Pihak angkasa pura bisa meningkatkan pelayanannya. begitu mendarat di bandara Jambi, saya juga belajar. Sepertinya bandara jambi akan lebih oke lagi jika ditingkatkan fasilitas dan performanya.

di bandara sultan Taha, Jambi

Hmm.. Kalau dari pesawat langsung terhubung ke bandara asik nih.

Hari kedua, saya belajar hal yang lebih penting lagi. Jika di bandung pemadaman listrik akibat dari krisis energi dan beban daya PLN yang tidak termanage tidak terlalu terasa, di jambi hal tersebut sangat terasa. Bahkan seringkali terjadi kejadian seperti ini : 6 jam listrik mati, setelah itu 3 jam listrik padam. 6 jam kemudian nyala lagi, 3 jam kemudian padam lagi. Phew. What a life

P0in tidak bagusnya disini adalah, tentu saja produktivitas masyarakat jambi sangat terganggu. Apalagi industri yang sangat berkaitan dengan sumberdaya listrik ini. Warnet, wartel, tentu saja omset dan penghasilan mereka menurun.

Namun perlu diingat juga, ditiap kemalangan terdapat hikmah berupa pelajaran berharga. Poin bagus dari fenomena ini adalah, masyarakat jadi lebih care terhadap waktu. Misalnya sudah diperhitungkan kalau pukul 9 hingga pukul 12 akan terjadi pemadaman, maka sebelum pukul 9 kegiatan terkait dengan sumberdaya listrik harus di fokuskan, seperti mencuci dan menyetrika misalnya. kegiatan yang tidak terlalu terkait dengan sumberdaya lisrik bisa dialokasikan pada waktu terjadi pemadaman. Hmmm.. belajar time management lah.

Di hari ketiga, saya berjalan – jalan di pasar tradisional dan rekreasi melintasi sungai batanghari. jika pengelolaan sungai lebih baik, mungkin sungai ini bisa menggerakkan roda perekonomian sekitar. belajar banyak hal lagi. Dan, sedikit mengabadikan momen di sebrang, daerah kota jambi yang lumayan tradisional :

di sebrang, rumah adat jambi

wohoo.. i’m on jambi!

Well, hingga selasa depan saya masih akan berada di jambi untuk mengembangkan dan membina jaringan.
masih ada 3 hari untuk belajar!

:)

what a nice life!

:)

Liburan ke Anyer dan Banten Lama

Written by Fikri Rasyid on July 10, 2008 filed under Analisa, Personal and tagged with ,

Saya menyukai suasana pantai. suara desiran ombaknya, hembusan angin tropisnya, garis horizon yang terbentang, lembut pasir yang terinjak, pohon kelapa yang melambai, semuanya. ini salah satu ciptan Allah yang paling saya sukai. Dan ahad lalu, kami sekeluarga memiliki kesempatan untuk berkunjung ke salah satu pantai di jung barat pulau jawa, anyer.

Fikri Was hereFikri on anyer

Dan hasil kunjungan kesana membuahkan pengalaman menarik yang bisa saya ambil hikmahnya. Pada ahad pagi, setelah jalan – jalan pagi menikmati siraman matahari pagi pantai anyer dan sarapan, kami sekeluarga memutuskan untuk rekreasi bermain banana boat. Dan ternyata pemandangan pantai anyer dari laut lepas merupakan jauh jauh lebih indah. wow. kerlipan cahaya matahari yang memantul di permukaan laut lepas is so so nice. Pada awalnya saya tidak berniat bermain air kala itu, namun karena sang banana boat dengan suksesnya menjatuhkan saya di pesisir pantai, mau tidak mau ya basah juga. :D

terlanjur dibasahkan oleh banana boat

terlanjur basah oleh banana boat

Nah, hal menarik di mulai disini. Karena sudah kepalang basah, akhirnya saya menikmati deburan ombak pagi itu. adik saya menyewa sebuah surfboard. menemaninya bermain surfboard. Satu hal yang saya kurang perhatikan waktu itu adalah, ombak pagi pantai anyer ternyata cukup kuat menarik adik saya yang mengambang menggunakan surfboard, hingga ketinggian di luar batas tingginya. Saya gapai surfboard adik saya, dan ternyata saya tertarik juga. Saya coba dayung ke pantai dan ternyata daya tarik ombak lebih kuat. saya coba jejakkan kaki ke tanah, dan ternyata kedalaman pantai sudah di jauh lebih tinggi dari saya. Di kejauhan ibu saya mulai berteriak panik. Namun Alhamdulillah, ada surfboard. saya terus berpegangan ke surfboard sambil mendayungkan kaki, sementara adik saya malah berpegangan pada saya yang notabene tidak bisa berenang. ahaha. Wow, rasa panik benar – benar saya rasakan waktu itu. Setelah sekitar beberapa menit dalam keadaan yang mengkhawatirkan, sedikit air asin yang terteguk dan rasa panik, syukurlah, Segala puji bagi Allah bahwa ada dua anak lokal berusia 10 tahun yang sedang bermain surfboard dan mengenal baik keadaan pantai dan juga seorang penduduk lokal penyedia jasa banana boat berhasil mencapai surfboard kami dan menarik kami ke pantai.

Phew. selamat dari kondisi itu benar – benar meckiptakan rasa syukur yang amat sangat. Dan kabar baiknya, saya mendapat pelajaran dari kejadian pagi itu.

  1. Jangan bermain – main dengan kekuatan alam yang tidak dikuasai
  2. Saya harus mahir berenang.

:)

Setelah kejadian menarik itu, hingga pukul 9 saya belajar bermain surfboard yang alhamdulillah saya jadi bisa cara bermainnnya.

jadi bisa mengalir bersama ombak dengan surfboard

penduduk gunung akhirnya bisa main surfboard juga . :P

Di perjalanan pulang, kami sempat mampir napak tilas peradaban ke banten lama. Tempat keraton kerajaan islam pernah berdiri, namun saat ini tempat itu digerogoti oleh penyakit sosial bernama malas dan mental peminta.

Saat pertama kami turun dari kendaraan, langsung diserbu oleh anak – anak penduduk sekitar yang meminta uang recehan dari para turis. seperti kondisi perempatan jalan di kota besar, namun lebih parah karena dalam jumlah yang besar dan diorganisir. Anak – anaknya minta – minta, beberapa penduduk desa menyediakan jasa penukaran uang receh untuk turis untuk memberi anak – anak yang meminta – minta tersebut. Gila. Hal pertama yang saya pikirkan adalah, siapa pemimpin daerah ini? tega sekali membiarkan rakyatnya dalam kondisi memprihatinkan seperti ini.

berfoto di banten lama
di banten lama

setelah itu kami masuk kedalam, melihat sebuah masjid di banten lama dan menarnya. menaiki tangga menara masijid yang hanya cukup di lalui oleh satu orang dewasa kurus, dan mengambil gambar. Sangat disayangkan lokasi bersejarah ini dikelola secara amburadul.

Semoga bermanfaat!