Posts tagged with Renungan :

Memberi Dan Meminta

Written by Fikri Rasyid on October 18, 2011 filed under Personal and tagged with , , , ,

smiling hand

Katanya, memberi itu lebih baik daripada meminta.

Tapi ketika ada teman yang sedang berulang tahun atau ketiban rezeki dalam bentuk apapun, kok reaksi pertama kebanyakan dari kita cenderung seperti ini ya:

“wah, kapan makan-makannya?”

“traktiran dooong, mana traktiraaaannya?”

“Ditunggu traktirannya yaaa”

“PJ mana PJ”

Aneh ya?

Katanya, memberi itu lebih baik dari meminta.

Apa kita tanpa sadar memang masih “bermental” peminta-minta?

P.S.: Sepengetahuan saya, sesuatu yang didapat dari “ME-minta” dan “DI-beri” itu berbeda. Meminta pada manusia (tidak baik) dan kepada Yang Kuasa (sangat baik) pun berbeda.

21 Tahun

Written by Fikri Rasyid on October 16, 2011 filed under Personal and tagged with ,

Bill Gates

Pada tahun 1975, di usianya yang ke 20, Bill Gates mulai menulis BASIC dan keluar dari Harvard. Satu tahun kemudian Microsoft telah menjadi perusahaan yang terdaftar.

Read More

Seperti Lelucon Saja

Written by Fikri Rasyid on August 7, 2011 filed under Personal and tagged with , ,

Suatu pagi di Ujung Genteng

Kalau kamu melihat ke sudut yang lebih luas,

kepada orang tua yang kehilangan anaknya,

pasien yang menderita penyakit menahun dan tidak ditemukan obatnya,

orang yang berjuang setengah mati untuk sepiring nasi yang halal,

anak kecil yang tidak memiliki kesempatan untuk tumbuh dengan baik,

gerilyawan yang mengorbankan harta nyawa segala yang dimiliki untuk kemerdekaannya,

dan banyak lagi masalah keras lainnya,

kesulitan yang sering kita alami dan keluhkan itu,

terasa seperti lelucon saja.

Dua Pilihan

Written by Fikri Rasyid on July 30, 2011 filed under Kehidupan and tagged with

Pada dasarnya kamu, saya dan setiap dari kita memiliki dua pilihan:

  1. Mempengaruhi
  2. Dipengaruhi

Umumnya, tanpa sadar kebanyakan dari kita memilih yang kedua. Kamu pilih yang mana?

Hold The Wheel And Drive

Written by Fikri Rasyid on July 23, 2011 filed under Kehidupan, Pengembangan Diri and tagged with , , ,

Ada satu hal yang jelas-jelas saya sadari saat mengendarai mobil:

I can’t see everything with my own eyes.

At first, it scares the crap out of me.

Saya tidak bisa melihat secara persis jarak dari bemper depan ke mobil depan saat jalanan padat. Saya tidak bisa melihat secara persis jarak dari bemper belakang ke objek asing di belakang mobil. Saya tidak bisa melihat sisi kiri dan kanan mobil pada saat bersamaan.

Bagaimana kalau menyerempet? Bagaimana kalau nyenggol mobil orang? Bagaimana kalau bagaimana kalau bagaimana kalau dan entah ada bagaimana kalau lain.

Solusinya: lihat yang kamu bisa lihat, sisanya rasakan saja.

Feel it.

Saya pikir itu juga yang terjadi dalam hidup. Kamu seringkali tidak bisa sekaligus melihat dengan mata kepala kamu sendiri ‘gambar’ keseluruhannya.

Kamu tidak bisa.

Yang kamu bisa hanya lihat yang bisa kamu lihat, rasakan, buat keputusan berdasarkan apa yang kamu mampu pikirkan, pertimbangkan dan rasakan. Sisanya ambil tindakan sesegera dan sebaik mungkin. Kalau kamu melamun dan grogi yang ada malah mencelakakan diri kamu dan orang-orang sekeliling kamu.

Hold the freakin’ wheel, hit the gas and drive.

GO KIDDO, GO. DRIVE IT.

Would you choose water over wine

Hold the wheel and drive

- Incubus

Tidak Terasa

Written by Fikri Rasyid on May 14, 2011 filed under Personal and tagged with ,

Rasanya baru kemarin saya ngobrol-ngobrol dengan teman sekelas di perjalanan pulang menuju asrama. Topik pembicaraannya: apa yang akan kita lakukan saat kita kuliah nanti.

Sekarang tahu-tahu sudah kuliah semester enam saja. Teman saya malah sudah ada yang sarjana.

Rasanya baru kemarin saya ngebecandain teman kampus dengan bilang “liat aja ntar pas gue di-interview di radio!” (saya bercanda seperti itu karena teman saya ini penyiar).

Tahu-tahu kemarin saya diundang untuk di program pro 2 RRI sebagai narasumber.

Rasanya baru kemarin saya menerima job untuk membuat WordPress theme. Saya ingat: waktu itu tahun 2009, menggunakan laptop ibu saya.

Tahu-tahu sekarang klien yang sama sudah memberi project lagi untuk yang ketiga kalinya. Hampir setiap tahun beliau me-redesain situsnya.

Time flies. Hidup itu tidak terasa ya*? Cepat sekali, serasa mempermainkan kita yang tidak berusaha memaknainya.

Being the richest man in the cemetery doesn’t matter to me … Going to bed at night saying we’ve done something wonderful… that’s what matters to me.

Steve Jobs on the success of Bill Gates and Microsoft, as quoted in The Wall Street Journal (Summer 1993)

Menurut kamu?

*Seriously, coba ingat kembali apa yang terjadi 1 – 5 tahun lalu. Apa kamu ingat secara persis apa yang kamu rasakan saat itu?

The State of Turning Twenty

Written by Fikri Rasyid on October 17, 2010 filed under Personal and tagged with ,

Today (i’m writing this on October 16th actually), i’m officially 20 years old. Well, secara administratif saya merubah tahun kelahiran saya karena saya terlalu cepat masuk sekolah sih. Kamu boleh tertawa atau bahkan tidak percaya ;)

Kalau kita berasumsi bahwa usia rata-rata manusia modern adalah 60 tahun (Rasul kalau tidak salah berusia 63 – CMIIW) dan saya akan hidup minimal sampai usia tersebut, maka secara matematis saya sudah menghabiskan sepertiga dari “jatah” hidup saya.

Wow, what a life.

What i have done

Karena memasuki usia 20 tahun ini bisa dibilang “menginjak” fase kedua dari tiga fase hidup (0 – 20, 20 – 40, 40 – 60), saya jadi ingin merenungkan secara lebih detail apa saja yang sudah saya lakukan selama ini:

  • Enam tahun pendidikan dasar
  • Enam tahun pendidikan menengah + hidup ber-asrama + culture shock + belajar bahwa sambal itu nikmat dan dapat makan itu merupakan anugerah + persahabatan & kedekatan dengan teman-teman berlatar belakang berbeda dan aneh-aneh yang tidak terkira harganya
  • Delapan bulan course web development yang ternyata sangat-sangat bermanfaat sekarang untuk WordPress theme development
  • Satu tahun setengah petualangan membangun jaringan di bisnis MLM. Dari direndahkan, diolok-olok, belajar mengelola manusia, kemampuan public speaking, pengembangan diri, merubah cara pandang, sampai perjalanan ke jambi dan kuala lumpur. Salah satu fase pembelajaran paling berharga dalam hidup saya.
  • Dua tahun perkuliahan di Jurusan Bahasa Inggris. Saya tidak pintar-pintar amat secara akademis, tapi banyak inspirasi yang saya dapat disana. Tidak lupa teman-teman, dan empat orang teman sepergerombolan yang meskipun centil dan kalau mengerjakan tugas selalu berakhir dengan ngobrol ngga jelas tapi sangat saya sayang.
  • Satu tahun lebih karir freelance web development / WordPress theme development. Jutaan terima kasih untuk klien yang sudah percaya kepada saya dan komunitas WordPress serta Matt Mullenweg atas software open source yang luar biasa ini. Y’all are my hero, man.
  • Wanita-wanita yang… *uhuk uhuk* oke belum saatnya dibahas disini :p

Ribuan manusia yang saya temui, jutaan informasi yang saya konsumsi, dan semua kesempatan yang tereksekusi dan terlewatkan. Semua hal yang saya alami dan temui namun tidak bisa saya sebutkan satu persatu disini.

Serta sembilan belas tahun penuh cinta dari ayah, ibu dan keluarga.

Juga kamu, pembaca blog ini yang saat ini sedang membaca tulisan saya. Kamu, ya, kamu.

It was the best life i ever had. Thanks. I’m looking forward for another best years we will face together. :)

Where am i right now?

Duduk di depan meja kerja kamar. Semester 5 pendidikan sarjana. Mengerjakan migrasi thumbnail dari custom field ke WordPress featured image di sebuah situs dengan 1400 post lebih milik klien dari semalam. Tubuh yang doyan minum kafein instan tapi kekurangan olahraga. Penghasilan yang masih naik turun, seiring dengan jumlah project web yang datang.

Penuh keresahan dan kegelisahan. Ide-ide yang belum terealisasi. Janji-janji yang belum terpenuhi. Cita-cita yang belum tercapai. Rasanya masih ada puzzle yang belum lengkap. Saya tahu ada yang harus dibenahi, tapi apa?

Saya terus melakukan apa yang intuisi saya bilang harus saya kerjakan.

Where will i go?

Setiap hari, saya selalu bertanya “saya ini siapa?”, “tujuan hidup saya ini apa?” dan “apa yang benar-benar ingin saya kerjakan dalam hidup?”. Something you’ll precisely feel when you know that you have to pursue your passion. Saya punya banyaaaaak sekali hal yang saya ingin capai. Saya tahu, sedikit kontradiktif dengan gaya hidup minimalis yang saya coba aplikasikan. Tapi bagaimanapun, that’s what i want, i admit it.

Orang bilang “hey, ini hari ulang tahun lu, make a wish!”. Kalau saya sih tidak butuh hari ulang tahun untuk make a wish, setiap hari juga saya buat keinginan baru. Saya tahu agar cita-cita semakin nyata, ada baiknya jika dituliskan. Lebih efisien lagi kalau membuat public commitment, jadi lebih terdorong untuk maju karena orang-orang tahu. So here we go, ini yang jadi target saya untuk beberapa tahun kedepan:

Minimalism

Saya mencari kedamaian, dan rasanya kedamaian itu makin sulit didapatkan karena setiap hari media dan masyarakat mempola pikiran kita untuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Minimalism, yang saya pelajari dari mnmlist.com, rasanya memberikan jawaban dari apa yang saya cari: tinggalkan yang tidak penting, fokus kepada yang hal-hal yang benar-benar essensial saja.

Anyway, keinginan pertama ini agak sedikit kontradiktif dengan keinginan-keinginan selanjutnya, i know. Keep on reading. Saya belum berhasil “merumuskannya” dengan sempurna jadi yang saya sampaikan disini baru sebatas yang dapat saya kemukakan sekarang. Release early, release often. I’m doin it on the web app way :p

Migrasi ke Apple

Which means MacBook Pro & iPhone 4. Well, this is my geeky wish. Saya orang yang berkecimpung di bidang web dan tahu betapa OS sedikit banyak mempengaruhi cara berfikir seseorang meskipun tidak absolut juga sih. Windows user sibuk menjaga agar PC-nya tidak kemasukan virus dan berbagai kerumitan lainnya – berlindung dibalik “standar yang semua orang gunakan”. Linux -yang sekarang sedang saya gunakan- membuat penggunanya senang ngoprek dan bereksperimen meskipun kadang bermasalah dengan kompatibilitas. Mac – well, rasanya karena terbiasa dimanjakan interface dan user experience yang stunning, pekerja-pekerja web yang menggunakan mac (sebatas yang saya kenal sih) jadi punya standar tinggi dalam hal-hal yang dikerjakan. Secara tidak langsung, hasil kerja mereka jadi “lebih” dari average person.

Kalau mau hidup berkualitas, saya yakin saya harus jadi orang yang punya standar. Syukuri yang ada, tapi mengusahakan yang terbaik.

Financially independent

Saya ingin jadi orang kaya (secara menyeluruh tentunya: teman, hubungan, pengetahuan, harta, pengalaman. tapi untuk konteks keinginan yang ini saya kerucutkan ke kaya secara finansial) karena orang yang berkelimpahan secara material punya keleluasaan tersendiri dalam melakukan hal-hal baik. Contoh: lihat guru-guru muda berbakat tapi program mereka terbentur masalah dana? Danai saja program-program mereka, punya duit ini. Masalah paling klise yang kita temui hampir dimana-mana ini masalah dana, kan? Cita-cita besar saya adalah USD 50,000 / bulan, saya rasa cukup untuk gaya hidup yang berkualitas dan mendanai bakat-bakat terbaik yang bisa saya temukan (investasi jangka panjang: ke manusianya). Berbicara target jangka pendek, tujuan saya adalah IDR 10 juta perbulan ketika gelar sarjana (sekitar 2 – 3 tahun lagi). Jadi begitu diwisuda, hap! Saya sudah mapan untuk ukuran laki-laki single.

Let me be frank: Penghasilan saya dari freelance saja sih antara IDR 1,5 – 2,5 juta perbulan, tergantung saya lagi terima banyak job apa tidak. Masih saya batasi karena harus menjaga waktu dengan kuliah juga. Sekarang bisa dibilang baru 10% dari target penghasilan saat wisuda dan 0.002 % dari target utama. Saya tahu banyak orang menganggap membahas angka penghasilan itu tabu, tapi saya ingin merubah hal itu: rasanya sulit mencapai sesuatu yang dibicarakan saja susah.

Sekarang kalau ditanya bagaimana caranya mencapai target finansial saya, saya akan bilang kalau saya belum tahu caranya (kalau tahu caranya sih ya sudah tercapai kali ya targetnya :p), tapi akan saya cari. Kita bisa melakukan apapun asal tahu caranya.

Memperluas pergaulan

Seriously, kalau mau jadi pemusik, bergaulah dengan pemusik. Kalau mau jadi desainer, bergaulah dengan desainer. Begitupun kalau kamu mau jadi orang kaya, pendidik professional, pengusaha, pekerja IT, gubernur, dll. Bagaimana mau berkembang kalau lingkungan pergaulannya mentok di teman-teman yang itu – itu terus? I’m starting to hang out with various people now :)

Cycling

Kemarin saya mencoba sepeda teman saya dan i feel soooooo humanized. Capek sih, tapi rasanya lebih manusiawi saja untuk badan saya yang kurang olahraga ini. Kadang-kadang saya merasa kalau hidup ini rasanya flat karena kita bergerak terlalu cepat. Teknologi membuat kita kurang perduli dengan sekitar kita. Paradoks perkembangan, hal-hal yang mudah kita dapatkan, jadi kurang kita perhatikan. Saya berencana bersepeda untuk bagian-bagian yang saya rasa saya bisa menggunakan sepeda daripada kendaraan bermotor. Mengurangi pembakaran bahan bakar, support greener earth, dan olahraga yang sangat terjangkau untuk saya yang suka beralasan untuk tidak olahraga. Let’s see what happen then :D

From freelancer to entrepreneur

Saya pernah baca bahwa hanya ada sehebat apapun kamu, kamu harus mulai talent scouting karena kamu tidak akan bisa mengerjakannya sendiri. Yap, sehebat-hebatnya keahlian kita, kita terbatas oleh ketersediaan waktu. Itulah mengapa saya yakin kalau suatu saat fase freelancing ini akan saya akhiri, beralih ke fase business owner. Taking risk. Sebenarnya sudah saya mulai dengan 4 orang teman saya, mengandalkan dana program wirausaha mahasiswa (memanfaatkan status sebagai mahasiswa sekali, hihi) – semoga jebol dananya. Untuk freelance web development, saya rasa masih akan saya kerjakan sampai tengah tahun depan atau akhir tahun depan untuk menimba pengalaman dan membangun jejaring profesional. Lumayan kan, mahasiswa muda tapi klien-klien-nya salah satu web designer muda dan berbakat Indonesia, jurusan DKV salah satu universitas swasta ternama di ibukota, asosiasi Desain Grafis Indonesia, perusahaan yang bergerak di publishing dengan produk majalah lokal keren dan masih banyak lainnya. Belum lagi sudah janjian untuk mengerjakan beberapa project keren untuk klien besar. Wow, i feel sooo exciting :D

Pendidikan

Tidak muluk-muluk, tapi saya tidak suka hasil rata-rata. Semoga dalam 2 sampai 3 tahun kedepan saya bisa lulus pendidikan sarjana saya dengan IPK diatas 3.5. Saya bukan tipe academic people sih, tapi rasanya saya ingin lanjut sampai Ph.D. Kadang-kadang suka heran kenapa orang akademis sering kali kurang berjaya di kehidupan praktis dan orang praktis sering meninggalkan kehidupan akademis. You’ll never really know until you’ve experienced it.

Kehidupan kreatif

Saya ingin bermain musik, menulis lagu, dan merekamnya. Saya ingin membuat aplikasi web yang menyelesaikan masalah banyak orang. Saya ingin travelling keliling indonesia (Karimun Jawa, Raja Ampat, Lombok, Sulawesi, Aceh – khusus yang pertama rencananya liburan semester ini sih, ada yang mau bergabung?) dan dunia. Saya ingin mencapai target finansial saya sebelum usia 30 tahun. Saya ingin memulai perusahaan saya. Saya ingin membuat video podcast. Saya ingin membuat sistem pendidikan yang lebih efisien dan efektif, saya ingin membuat yayasan untuk anak-anak muda berbakat, saya ingin menulis buku, saya ingin belajar lebih banyak bahasa asing, dan banyak lagi.

Beberapa orang dari kamu mungkin menganggap saya ini kebanyakan maunya. But that’s the way i am. Ibu saya bilang,

Lebih baik banyak maunya daripada ngga punya keinginan sama sekali. Tuh, kamu jadi bergerak kan?

Hope, is what makes us alive. Keep on hoping, wishing, dreaming, and everything.

See you on the other side, then :)

Tentang Perubahan: Nothing Last Forever

Written by Fikri Rasyid on August 15, 2009 filed under Analisa, Pengembangan Diri and tagged with , , , , ,

nothing-lasts-forever-final from long_phung_phi_tuong

nothing-lasts-forever-final from long_phung_phi_tuong

It’s been a while since i wrote the last post. Ada banyak hal yang terjadi: recording salah satu lagu yang saya tulis, trip ke Malaysia, dll. FYI, untuk tahu lagu yang saya tulis kemarin, anda bisa download disini: Cliche (Promosi mode:on) :P

Pagi ini saya mulai dengan satu pikiran sederhana yang terus berpendar sedari kemarin: tentang keterbatasan dan perubahan. Tentang bagaimana segala sesuatu yang ada di dunia terus berubah, dan memiliki keterbatasan waktu.

Read More

Tentang Hal-Hal yang Tidak Sekolah Ajarkan Pada Muridnya

Written by Fikri Rasyid on August 4, 2009 filed under Analisa, Pendidikan and tagged with , , , ,

Pernahkah anda menghitung berapa banyak waktu yang manusia modern habiskan untuk sekolah? Dengan mengambil asumsi umum standard pendidikan hingga sarjana dengan estimasi lulus dalam empat tahun, maka:
Taman Kanak-Kanak: 2 Tahun
Sekolah Dasar: 6 Tahun
Sekolah Menengah Pertama: 3 Tahun
Sekolah Menengah Atas: 3 Tahun
Perguruan Tinggi: 4 Tahun
TK + SD + SMP + SMA + PT = 18 Tahun
So, what’s the matter?
Pertanyaan pentingnya adalah, berapa banyak dari yang kita pelajari selama 18 tahun tersebut yang kita aplikasikan dalam hidup kita?
Agak aneh juga membayangkan bagaimana 18 tahun dalam kehidupan kita, kita di jejali berbagai pengetahuan dan teori yang “akan berguna di masa hadapan” tanpa diajari hal-hal yang “sangat berguna dan penting di masa kini dan di masa hadapan”.
Coba perhatikan:
Kita diajari berbagai teori ekonomi dan usaha di bangku sekolah menengah tapi tidak sedikitpun diajari cara mengelola keuangan pribadi, cara mengalokasikan dana yang dimiliki, cara mencari dana atas ide usaha yang kita miliki, dll.
Kita diajari biologi namun tidak diajari bagaimana mengaplikasikan pengetahuan tersebut: Bagaimana pola makanan yang baik, bagaimana tidur yang baik, dll.
Kita diajari sikap-sikap terpuji di Pendidikan Kewarganegaraan tetapi tidak diajari bagaimana caranya me-manage konflik, berurusan dengan pemerintah, dll.
Sederhananya, saya merasa pendidikan kita kurang aplikatif ya. Banyak pertanyaan-pertanyaan sederhana dalam hidup yang bahkan tidak dijelaskan sama sekali dalam sistem pendidikan yang menghabiskan entah berapa milyaran rupiah tersebut. Pertanyaan sederhana yang saya yakin hadir di setiap kehidupan:
Bagaimana caranya menjadi kaya
Bagaimana caranya mengelola keuangan
Bagaimana caranya memiliki rumah sendiri
Bagaimana caranya mencintai
Bagaimana caranya membangun hubungan baik dengan orang lain
Bagaimana caranya membuat orang lain sependapat dengan kita
Bagaimana caranya memiliki hidup yang bahagia
Bagaimana caranya mewujudkan impian menjadi kenyataan
Bagaimana pola makanan yang teratur agar terhindar dari penyakit degeneratif
Bagaimana caranya memperbesar lingkaran perkawanan
Bagaimana caranya membuka usaha sendiri
Bagaimana caranya berkenalan
Bagaimana cara belajar yang efektif
dan ribuan “bagaimana caranya” yang lain. NOTE: Silahkan sampaikan “bagaimana caranya” yang ingin anda ketahui jawabannya versi anda di kolom komentar)
Got what i mean?
Rasanya banyak sekali pertanyaan sangat esensial malah terpaksa kita temukan sendiri dengan Trial and Error. Saya membayangkan betapa segalanya akan lebih efisien jika sistem pendidikan menjawab pertanyaan-pertanyaan esensial tersebut, dan betapa lompatan besar peradaban bisa tercipta karena berbagai hal yang bersifat fundamen tersampaikan secara lebih efektif alih-alih membiarkan generasi muda melakukan proses trial n error untuk sesuatu yang sebenarnya bisa tidak di trial n error-kan.
Bagaimana pendapat anda?
P.S.
Hmm.. Saya harap saya bisa menciptakan sistem yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.
VIA Information PC for education by viagallery.com

VIA Information PC for education by viagallery.com

Pernahkah anda menghitung berapa banyak waktu yang manusia modern habiskan untuk sekolah? Dengan mengambil asumsi umum standard pendidikan hingga sarjana, maka:

  • Taman Kanak-Kanak: 2 Tahun
  • Sekolah Dasar: 6 Tahun
  • Sekolah Menengah Pertama: 3 Tahun
  • Sekolah Menengah Atas: 3 Tahun
  • Perguruan Tinggi: 4 Tahun

TK + SD + SMP + SMA + PT = 18 Tahun

Kita menghabiskan 18 tahun untuk pendidikan formal.


So, what’s the matter?

Pertanyaan pentingnya adalah: berapa banyak dari yang kita pelajari selama 18 tahun tersebut yang kita aplikasikan dalam hidup kita?

Agak aneh juga membayangkan bagaimana 18 tahun dalam kehidupan kita, kita di jejali berbagai pengetahuan dan teori yang “akan berguna di masa hadapan” tanpa diajari hal-hal yang “sangat berguna dan penting di masa kini dan di masa hadapan”.

Read More