Coba Pahami

Jangan menghakimi, kamu belum tentu merasakan apa yang orang lain rasakan: apa yang dia alami sebelumnya sehingga ia menggambil satu tindakan atau keputusan.
Counting UFOs & signal them with my lighter

Jangan menghakimi, kamu belum tentu merasakan apa yang orang lain rasakan: apa yang dia alami sebelumnya sehingga ia menggambil satu tindakan atau keputusan.

Salah satu pikiran ternaif yang pernah saya miliki adalah “harus bisa melakukan segala sesuatu seorang diri“.
Naif sekali.
Sehebat apapun, manusia punya batasan. Batasan-batasan itu bisa berupa waktu, kemampuan, daya tahan, perasaan, dan lain-lain. Sehebat apapun, kamu butuh manusia lain: untuk rekan percakapan, untuk membantu membukakan jalan, untuk bekerja sama menyelesaikan permasalahan, untuk mempercepat proses yang sedang dijalankan, untuk memberikan dukungan, untuk mengurangi beban yang dirasakan, untuk dijadikan tujuan, untuk memaknai kehidupan, dan lain-lain.
Kamu butuh manusia lain.
Kita saling membutuhkan satu sama lain.
Beberapa hari yang lalu, selintas ide masuk ke pikiran saya dan langsung saya tweet:
#investasi paling menguntungkan: investasi di otak,hati & hubungan baik. #fb
Ketika berbicara investasi, kebanyakan dari kita berpikir mengenai uang, dan kemana uang tersebut harus dikeluarkan untuk menghasilkan uang yang lebih banyak. Investasi apa yang paling menguntungkan ? Beberapa akan menjawab investasi pada property, beberapa yang lain akan menjawab investasikan di emas, dan beberapa lain akan menjawab investasikan di bisnis yang prospektif.
Masalahnya adalah, tidak (atau belum) semua dari kita (termasuk saya) memiliki sumber daya yang cukup untuk berinvestasi di property, emas, atau bisnis yang prospektif. Lalu kemana kita harus berinvestasi?
Entah mengapa akhir-akhir ini ada saja teman saya yang bermasalah dalam relationship. Beberapa dapat menanganinya dengan apik, namun ada juga yang kondisinya sampai mengkhawatirkan.
Saya juga dalam kehidupan saya sempat lah mengalami kejadian seperti itu. Dan mengalami memang memberikan perspektif berbeda dibandingkan mengamati dari jauh. Bermasalah dengan hubungan itu berat. Hanya saja, setiap orang memiliki definisi yang berbeda mengenai “berat”.
Kemarin saya mendapatkan cerita pendek yang cukup menginspirasi terkait dengan hal ini. Semoga menginspirasi:
*********
Alkisah, terdapatlah satu desa dimana disana di larang keras menjual buah-buahan. Cukup aneh memang. Lebih anehnya lagi adalah konsekuensi dari siapapun yang melangggarnya. Setiap orang yang melanggar aturan ini, yakni berjualan buah, akan mendapatkan konsekuesi yang sangat menyakitkan:
Semalam tadi, saya dan mengikuti pengajian liqo. Dan seperti liqo – liqo sebelumnya, terkadang pembahasan kami melebar kesana kemari sesuai dengan topik bahasan yang tengah di bahas. Dan entah bagaimana, permbimbing kami menyinggung mengenai topik pernikahan dan perceraian para selebritis.
“Kalau kita lihat di televisi banyak artis yang bercerai, dalam pandangan saya penyebabnya sederhana” Ujar pembimbing kami.
Saya dan teman-teman terdiam khusyu. Well, entah mengapa semua orang jadi khusyu kalau seseorang bercerita mengenai rumah tangga y? haha
“Niatnya salah sih..” Ujar Pembimbing kami.
“Mereka umumnya menikah karena niatnya ingin bahagia. Menikah untuk mencapai kebahagiaan. Ketika kita melakukan sesuatu dengan niat mencapai kebahagiaan, kita menciptakan standar..”
“saya akan bahagia kalau …”
“saya akan bahagia jika pasangan saya …”
“dan banyak standar lainnya. Ketika kita menemukan bahwa pasangan kita tidak seideal yang kita kira dan tidak memenuhi standar kebahagiaan kita, kita kecewa. Dan dari situlah keretakan terjadi..”
“Maka dari itu, niatkan menikah untuk beribadah. Sehingga jika pasangan kita tidak seperti yang kita harapkan, setiap sabar yang kita keluarkan untuk hal itu dinilai ibadah… Jika pasangan kita seperti apa yang kita harapkan, setiap rasa syukur yang terucap juga dinilai ibadah…”
“..Bukan lakukan agar saya bahagia, tapi lakukan dengan bahagia…”
Dan diskusi pun terus berlanjut.
Bagaimana pendapat anda?
Di satu pagi yang indah, saya log in ke account facebook saya dan mendapati seorang kawan mengisi statusnya dengan pertanyaan simple dan sederhana:
buat para cewe(cowo juga boleh kalo mw)…cowo kaya gmana siy yang kalian mw?
Hahaha, Ini pertanyaan sakral untuk setiap laki-laki, terutama laki-laki yang kehilangan kata-kata setiap kali wanita pujaan hatinya lewat di depan matanya atau laki-laki yang tengah desperate karena masalah asmara
:
Laki-laki seperti apa sih yang wanita mau?
Saya senang mengamati dan mencari pola. Pattern. Every single thing happens in pattern. Jika kita memahami polanya, kita bisa menyesuaikan tindakan untuk hasil yang lebih baik, termasuk urusan ketertarikan lawan jenis. Dan jawaban saya atas pertanyaan diatas berdasarkan hasil pengamatan dan analisa sementara saya sederhana:
Wanita menyukai laki-laki yang memberinya perasaan aman, nyaman, dan bahagia.
Coba anda penuhi ketiga kebutuhan dasar diatas:
Hari Selasa: Hari ini, saya kembali belajar banyak tentang kehidupan.
To live is to give. To love is to give. To be rich is to give. To care is to give. To forgive is to give. i learn something new again, Let’s live to give.
Lima kalimat diatas adalah kalimat yang mengisi ruang facebook status saya dini hari tadi. To live is to give. Semua yang indah dimulai dari memberi, bukan meminta.
Sejak beberapa hari yang lalu (hingga hari ini), hubungan baik saya dengan seseorang sedang diuji. Cukup merubah banyak hal. Dari kedekatan dan keakraban yang menyenangkan, kini muncul sekat tidak terlihat yang membuat berbagai macam hal menjadi tidak nyaman.
Saya tidak bisa mengendalikan berbagai faktor yang terjadi diluar diri saya. Namun berbicara belajar bertanggung jawab atas kehidupan, saya membiasakan diri fokus pada apa yang berada dalam kendali saya. Dan hal yang berada dalam kendali saya adalah sikap saya. Sikap saya yang diawali dengan to give, karena masih kurangnya pengendalian diri berubah menjadi to ask.
Saya memulai hubungan baik dengan sikap to give, dengan niat memberikan apa yang saya bisa untuk membuatnya lebih bahagia, malah berkembang menjadi sikap to ask, memintanya untuk memenuhi standar ego saya.
Dan akibatnya cukup fatal.
Dia menjauh, saya merasa dihindari. Jika anda pernah merasakan keakraban dengan seseorang dan lalu keakraban tersebut mendadak hilang karena kesalahan yang anda buat, pasti anda tahu maksud saya.
Sekarang, segalanya telah terjadi. Yang sudah terjadi, terjadilah. Saya tengah diajari untuk ikhlas dan merelakan sesuatu. Everything that has a start, also has an end. But hopefully, there will be a better start in the future
Pertanyaan emasnya adalah: Sekarang apa yang harus saya lakukan untuk membuat kondisinya menjadi lebih baik?
Entah apakah ada jawaban yang lebih baik, tapi saya rasa solusi saya kembali ke apa yang saya sebutkan di awal:
To live is to give. To love is to give. To be rich is to give. To care is to give. To forgive is to give. i learn something new again, Let’s live to give.
Saatnya mengaplikasikan kembali “To Give”. Tidak perlu mengkhawatirkan perubahan sikapnya, hal tersebut beradi di luar kendali saya. Yang perlu saya lakukan hanya berfokus kepada apa yang dapat saya lakukan untuk membuat semuanya menjadi lebih baik.
Saatnya mengaplikasikan to give dengan tulus ikhlas. to give what? apapun. Mungkin perhatian, mungkin dukungan, mungkin sesuatu yang belum perlu dia ketahui, mungkin apapun. Mungkin saat ini dia belum menghendaki keberadaan saya, namun biarkan saya selalu memberikan do’a saya untuk kebaikannya.
Saya berharap suatu saat semuanya akan menjadi lebih baik dari sekarang, dengan izin Dia Yang Maha Me-mutar-balik-kan perasaan.
When You Start To Give , You Start To Receive.
Please, never ask again. Just give it, without judgemental expectations, anonimously if at all possible, jouyously – with a smile.
Joe Vitale
Sometimes, the sweetest things they burn before they shine. Semoga ini merupakan awal dari sesuatu yang lebih baik lagi di kemudian hari.
Hari ini, saya belajar banyak dari kehidupan.
Apakah anda belajar juga?
Di kemudian hari, saya akan mengabarkan kepada anda apa yang terjadi dari aplikasi “To Give” ini
Hari ini saya belajar banyak tentang kehidupan.
Saya belajar tentang bagaimana menjadi terbuka kepada orang lain memberikan kedamaian. Tentang keterbukaan yang baik melegakan hati. Tentang kenyataan bahwa hal apapun yang terjadi pada diri kita, kita memiliki hak sepenuhnya untuk memberikan makna kepadanya. Tentang bagaimana do’a benar-benar bekerja. Tentang keajaiban sedekah. Tentang betapa kita harus berhati-hati dalam berkata-kata dan mencetuskan keinginan. Tentang merasakan apa yang orang-orang terdahulu katakan: “Apabila pasir digenggam terlalu keras, dia akan melepaskan dari melalui rongga-rongga jemari mu. Genggamlah ia dengan genggaman yang cukup dan baik.”.
Tentang satu hal sederhana: MASALAH, terkadang memang menjatuhkan kita. Namun sering kali, masalah malah meninggikan posisi kita, jika disikapi dengan tepat. Masalah membuat kita dewasa, membuat kita menjadi lebih baik lagi. Terkadang malah masalah yang menyadarkan kita untuk bersegera menjadi lebih baik.
Read More
Jika kita sadari, kaidah yang kita gunakan dari semua tindakan kita lakukan dalam hidup adalah kaidah manfaat.
Manusia -Saya, anda dan semua orang lain yang hidup di dunia- hanya melakukan dan memutuskan sesuatu yang bermanfaat baginya.
Perbedaannya, hanyalah definisi ‘manfaat’ yang berbeda bagi setiap orang.
Seorang atasan memutuskan mempekerjakan seseorang karena dia pikir orang tersebut bermanfaat baginya. Manfaat yang didapatnya: Pekerjaan yang terselesaikan tanpa dia harus menggunakan waktunya, yang mana pekerjaan yang terselesaikan tersebut akan mendatangkan lebih banyak uang dari pada uang yang dia keluarkan untuk membayar karyawan yang dia pekerjakan.
Seorang calon karyawan melamar kerja di satu perusahaan karena dia berfikir hal tersebut akan memberi manfaat baginya. Manfaat yang didapatnya: Mendapatkan penghasilan.
Analisa semua kegiatan anda. Anda akan menemukan bahwa alasan kita melakukan sesuatu karena kita yakin kita merasa mendapatkan manfaat dari hal tersebut:
Sesuai dengan topik kontes berfikir kritis NavinoT 2009, topik kali ini adalah melihat lebih seksama ke sekitar kita, mengenai apa yang bisa kita buat lebih baik lagi. Dan pada entri kali ini, saya ingin membahasnya dari perspektif personal dalam lingkup hubungan antar manusia, berdasarkan apa yang saya alami: Pentingnya perhatian.
Saya baru saja membaca buku People Skills For Life: Easy Peasey karangan Allan & Barbara Pease. Disana dicantumkan dengan jelas salah satu sifat dasar manusia yang bahkan lebih penting dari makan, minum dan cinta:
Pentingnya merasa diri dipentingkan.
Satu kebutuhan untuk di “recognize” atau “dianggap ada“. Satu kebutuhan yang dipenuhi oleh hal bernama perhatian.
Perhatian adalah satu hal yang sering kali tanpa kita sadari menentukan jalan hidup kita: Seorang remaja hidupnya hancur karena obat-obatan yang akar permasalahannya sederhana: Kurangnya perhatian orang tua kepada sang anak. Sementara seseorang menjadi gemilang di satu bidang karena dia mendapatkan perhatian orang lain disitu: satu hal yang tidak didapatkannya di bidang yang lain.
Seorang pelajar bersemangat untuk belajar karena gurunya memberinya perhatian yang menyemangatkannya, sementara murid lain bersikap masa bodoh karena gurunya tidak memperhatikan apa yang dilakukannya.
Bukankah kita tidak perduli tentang betapa hebatnya seseorang, hingga kita mengetahui betapa perdulinya dia kepada kita?
Jangan meremehkan perhatian.
Berapa banyak anak yang menjadi tidak hormat kepada orang tuanya karena yang memberinya perhatian dimasa tumbuhnya adalah pembantu?
Berapa banyak hubungan yang hancur karena merasa tidak diperhatikan oleh partnernya?
Berapa banyak konsumen yang memutuskan deal dengan anda karena mereka merasa terperhatikan?
Berikan mereka perhatian.
Jika seseorang berlaku tidak sesuai dengan apa yang kita kehendaki, mungkin kita kurang memberikan perhatian kita padanya?
Jika orang-orang terdekat kita belum berkelakuan seperti yang kita inginkan, mungkin kebutuhan akan perhatian ini yang belum kita penuhi.
Coba lihat orang-orang terdekat kita. Sudahkah kita memberikan perhatian terbaik kita untuk mereka? Jika kita dibandingkan dengan apa yang kita inginkan dari/untuk mereka, pantaskah mereka mendapatkan kualitas perhatian yang sekarang kita berikan?
Well, tidak ada kata terlambat untuk perubahan, ‘kan?