Posts tagged with Perbedaan :

Do you see what i see?

Written by Fikri Rasyid on November 8, 2010 filed under Culture and tagged with , ,

Pernah bertemu orang yang membuat kamu berfikir “Loh, kok dia mikirnya gitu sih?”

Sejak awal tahun ini, saya terbiasa menggunakan Ubuntu sebagai operating system netbook saya. Ternyata, sistem rendering font-nya ubuntu ini agak berbeda dengan windows. Sialnya, pernah ada satu kejadian dimana saya tak sengaja merusak system font-nya sehingga hingga hari ini pun tampilannya agak berbeda dengan tampilan font standar-nya.

Suatu ketika, saya merubah tampilan desain blog ini (menggunakan OS ubuntu) dan seorang teman saya mengirimkan komentar: “eh, bagian ini kaya-nya font-nya ngga usah dibuat bold deh“. Saya pikir dalam hati “ah, perasaan gue oke-oke aja tuh“. Beberapa minggu kemudian saat saya mengakses netbook saya menggunakan windows, ternyata area yang dibicarakan teman saya itu nampak terlalu tebal dan membuatnya tidak sedap dipandang.

Ah.

Objeknya, katakanlah, x.

  • Saya menggunakan OS ubuntu (yang agak bermasalah) untuk mengakses x, tampilannya standar.
  • Teman saya menggunakan OS lain (yang “standar”) untuk mengakses x, tampilannya tidak sedap dipandang.

Pertanyaannya: pernah kamu bertemu orang yang membuat kamu berfikir “Loh, kok dia mikirnya gitu sih?”

Menolak Penyeragaman di Sekolah

Written by Fikri Rasyid on August 30, 2010 filed under Pendidikan and tagged with , , , , ,

Saya tidak pernah suka fakta bahwa siswa sekolah harus menggunakan seragam, apalagi kalau alasannya “demi menghilangkan kesenjangan sosial“. Menghilangkan kesenjangan sosial apanya? Keberagaman itu sendiri merupakan default setting kehidupan. Sekalipun pakaiannya disamaratakan (yang saya pikir sosialis sekali), kesenjangan itu tetap akan terlihat: dari sepatu yang dikenakan, dari handphone yang dijinjing, dari lingkaran pertemanan yang dijalin, dari wangi parfum yang dikenakan, dari grup-grup yang dibentuk orang tua murid, dan lain-lain.

Mengapa mereka tidak kita pahamkan?

Niat awal “meminimalisir” kesenjangan memang mulia: agar siswa dapat berbaur dan tidak minder. Namun melihat faktanya, yang terjadi akan tetap sama: yang kaya bergaul dengan yang kaya, sementara yang miskin tetap bergaul dengan yang miskin. Yang populer dengan yang populer, sementara yang tersisihkan bergerombol dengan yang tersisihkan.

Saya meyakini bahwa perbedaan diciptakan Tuhan untuk tujuan yang Mulia. Bukankah kita diciptakan berbangsa-bangsa agar saling mengenal? Mengapa tidak kita biarkan pikiran siswa bebas dengan membiarkan mereka mengekspresikan dirinya melalui pakaian yang dikenakan kesekolah (dengan batasan norma tertentu tentunya – sebelum anda membahas masalah etika berpakaian)? The way they dress is a statement. Biarkan mereka tampil berbeda dan biarkan mereka pahami bahwa di dunia nyata, kita harus belajar menerima perbedaan. Anda lihat ormas-ormas penuh kekerasan yang berusaha “menyeragamkan” Indonesia melalui aksinya? Bukankah yang besar diawali dari yang kecil?

Efek penyeragaman intelejensia

Izinkan saya bercerita satu pengalaman kecil saya. Saya hidup di sekolah yang mendefinisikan dirinya sebagai pesantren selama 6 tahun. Disana, kelas lelaki dan perempuan dipisah: kelas A dan B. A untuk laki-laki dan B untuk perempuan. Kelas kemudian dipisah lagi berdasarkan intelejensia: laki-laki dengan rata-rata nilai 9 keatas masuk ke kelas BA. Laki-laki dengan nilai rata-rata nilai 8 keatas kelas CA. Demikian seterusnya hingga FA (hingga SMA kelas 2 sebelum akhirnya di juruskan IPA BA 1, IPS BA 1 dan seterusnya. FYI, intelejensia saya mentok di IPA BA 4 lol).

Niat pembagian kelas ini mulia: agar murid dapat dididik sesuai kemampuan belajarnya. Terlepas dari niat “mulia” tersebut, tahukah anda apa yang terjadi?

Murid-murid kelas FA, dilatar belakangi kesamaan kurangnya motivasi belajar cenderung menjadi “lebih liar” karena mereka mendapatkan “teman sepemahaman”. Nongkrong-nongkrong dan kabur dari ruang kelas sudah bukan hal yang asing lagi. Malah lebih parah karena persentase perkelasnya jadi banyak. Murid BA pun sama saja: karena mendapatkan teman-teman yang “cenderung pintar”, tukar-menukar intelejensia saat ujian (baca: MENCONTEK) dan kemalasan belajar menjadi hal yang sangat lumrah. Pengecualian terhadap hipotesa ini selalu ada, tapi ini fenomena global yang berlaku. Saya tidak berniat membuat kesimpulan dari pengalaman ini, anda dapat menyimpulkannya sendiri.

It’s just an example

Jadi, apa maksud saya menceritakan hal ini? Untuk memberitahu anda bahwa “penyeragaman” bukanlah selalu hal yang baik. Untuk beberapa hal, penyeragaman mungkin bagus: dokumentasi kode, standar operasi kerja, dll. Tapi untuk hal-hal seperti penyeragaman pakaian di sekolah, saya rasa hal tersebut bukan hal yang baik mengingat sekolah adalah tempat penanaman nilai.

Untuk jadi yang terbaik, belajarlah dari yang terbaik. Google adalah perusahaan internet terbesar di era internet sekarang ini dan saya suka sekali salah satu filosofi (dan penjelasan-nya) mereka:

You can be serious without a suit

anda bisa serius tanpa mengenakan jas.

Our founders built Google around the idea that work should be challenging, and the challenge should be fun

Pendiri kami membangun Google dari ide bahwa bekerja harus menantang, dan tantangan seharusnya menyenangkan.

Saya mengakui fakta bahwa untuk hal-hal seperti ini, saya lebih liberal dan individualis, bertentangan memang dengan budaya komunal masyarakat kita. Lalu apa masalahnya? Pada hakikatnya, kita semua memang sendiri. Tidak mungkin teman, keluarga dan sahabat kita selalu ada SETIAP SAAT. Untuk anda yang meyakini pun, di kehidupan setelah inipun kita akan dibangkitkan sendiri-sendiri. Oleh karena itu, mengapa kita tidak berusaha menjadi diri sendiri dan membantu orang lain “menemukan” dirinya sendiri?

Salah satu penyakit kronis hampir seluruh masyarakat di dunia adalah membiarkan orang lain menentukan apa yang menjadi nilai-nilai penting dalam hidup. Televisi mendefinisikan bahagia sebagai hedonisme. Masyarakat menentukan bahwa “mendapatkan kehidupan” adalah dengan mendapatkan kerja yang baik dan hidup “mapan” dari pekerjaan itu. Dan masih banyak lagi contoh yang bisa saya kutip disini.

Saya memilih untuk mengatakan “cukup” untuk semua hal itu. Bagaimana dengan anda?

P.S.

Untuk acara-acara insidental seperti inisiasi / orientasi dan acara-acara yang melibatkan pihak luar, seragam mungkin diperlukan untuk membangun “perasaan kekeluargaan atau memiliki” dan identitas; Tapi tidak untuk pemakaian sehari-hari. Biarkan siswa menjadi dirinya sendiri.

Perbedaan Yang Tidak Perlu

Written by Fikri Rasyid on June 12, 2010 filed under Analisa, Pengembangan Diri and tagged with , , ,

Saat saya menulis ini, saya sedang tidur-tiduran di sofa rumah orang tua saya, menikmati waktu senggang malam minggu sembari menyaksikan pertandingan Piala Dunia 2010 antara Argentina vs Nigeria sembari mengetik post ini melalui aplikasi WordPress for BlackBerry yang tengah saya jajal.

Saya melihat televisi: di Piala Dunia, orang dari berbagai suku bangsa berkumpul jadi satu.

Hitam, putih, afro, hispanik, latin, anglo saxon..

Lebih menarik lagi negara yang multi etnis, yang dalam satu timnya ada orang-orang “pribumi” dan “keturunan” seperti prancis dll.

Look at them.

Keren sekali ya?

Tidak melihat perbedaan fisik: selama kamu pemain terbaik di negara tersebut, kamu berharga.

Manusia, dilihat dari apa yang bisa dilakukannya: yang berarti apa hasil usaha dan jerih payahnya melatih diri. Bukan perbedaab yang tidak perlu.

Saya berandai-andai: andaikan dalam kehidupan sehari-hari kita melihat orang lain tidak berdasarkan perbedaan yang tidak perlu seperti faktor fisik, kemampuan finansial, status sosial dan lain-lain melainkan berdasarkan apa yang mereka mampu lakukan dan mereka telah lakukan,

Keren sekali ya?

Hari ini kondisi sosial kita mungkin belum seperti itu, tapi suatu saat nanti, siapa yang tahu?

Tentang Perbedaan & Keberagaman: Satu Hal Yang Mengindahkan Dunia

Written by Fikri Rasyid on August 24, 2009 filed under Analisa, Pengembangan Diri and tagged with , , , , , , , , , ,

Note: Post ini merupakan entri yang saya tulis untuk mengikuti Pesta Blogger Writing Contest 2009.

 Belfast-Differences from motorpsykhos

Belfast-Differences from motorpsykhos

Ada satu hal yang sangat mencolok dari Indonesia: Keberagaman. Bangsa ini dihuni oleh entah berapa ribu etnis suku bangsa, entah berapa belas ribu pulau, entah berapa ribu bahasa daerah, dan entah berapa milyar perbedaan.

Dari sudut pandang tertentu, orang berkata bahwa perbedaan ini sungguh menyulitkan: Ada banyak hal yang harus di pahami, ada begitu banyak perbedaan yang menuntut untuk dimengerti, ada begitu banyak tradisi yang memaksa untuk dipelajari, ada begitu banyak aturan yang harus disesuaikan, ada jutaan kepentingan yang harus diakomodir,  dan lain lain sebagainya.

Read More

Ketidakadilan Terjadi Karena Ada Alasannya

Written by Fikri Rasyid on July 15, 2009 filed under Analisa, Pengembangan Diri and tagged with , , , , ,

Life is so unfair sometimes (63/365) by labspics

Life is so unfair sometimes (63/365) by labspics

Entah mengapa, saya jadi teringat dialog retoris ini:

“Ah, dunia memang tidak adil!” ujar seseorang.

“Memangnya siapa yang bilang dunia adil?” balas seseorang yang lain.

“Yang Maha Adil itu yang menciptakan dunia, bukan dunia-nya” lanjutnya.

Berkaitan dengan dialog teratas, saya teringat ucapan dosen pembimbing akademik saya ketika sedang melakukan bimbingan akademik kemarin. Kata beliau:

Read More