Posts tagged with Pendidikan :

Prinsip Belajar Bahasa

Written by Fikri Rasyid on April 22, 2012 filed under Pendidikan and tagged with , , ,

Prof Didi Suherdi di Loka Karya PLP Jum'at Lalu

Berikut ini adalah prinsip dasar belajar bahasa menurut Prof. Dr. Didi Suherdi, M. Ed. (salah satu dosen favorit saya di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris karena kemampuannya membuat konsep yang ngejelimet menjadi lebih mudah untuk dipahami) yang disampaikan dalam Loka Karya PLP jum’at kemarin: IMAN. *jeng jeng*.

Lengkapnya, IMAN adalah:

Read More

Preaching

Written by Fikri Rasyid on November 12, 2011 filed under Culture, Pendidikan, Thought and tagged with , , ,

When I Was A Young Boy - Preaching

Dulu sekali, zaman masih di pesantren LOL

Saya tidak suka khotbah. Preaching. Ketika saya menghadiri suatu kelas atau acara yang metode-nya khutbah, kecuali si pemateri mampu menyampaikan isi khutbahnya dengan cara yang sangat menggugah, saya akan kesulitan mengarahkan diri saya untuk memperhatikan. Lebih parah lagi ketika khotbah atau preaching ini dilakukan untuk tujuan mengingatkan atau melarang-larang. Meh.

Beda halnya jika saya dicontohkan. Diperlihatkan. Diceritakan. Diberitahu dengan tindakan bahwa begini loh, yang membuat kamu bahagia itu. Begini loh, berdasarkan pengalaman yang sudah saya alami, caranya yang lebih efisien. Diajak berbicara. Berdiskusi. Tidak dipandang sebagai objek yang kerjaannya yang penting nurut saja, manut. Dipandang sebagai manusia seutuhnya. Dipahami. Diajak berbicara. Diberi kesempatan.

Jangan berharap dengan mengkhutbahi seseorang, seseorang tersebut akan langsung mengerti. Tidak ada sesuatu yang instan langsung jadi. Mie instan saja perlu diseduh beberapa menit untuk bisa disantap.

Yang Dipelajari di Sekolah

Written by Fikri Rasyid on October 30, 2011 filed under Pendidikan and tagged with , ,

di ruang kelas

Entah berapa jam waktu pendidikan formal yang kita habiskan untuk mempelajari hal-hal ini:

  • Matematika
  • Bahasa Indonesia
  • PPKN
  • Bahasa Inggris
  • Fisika
  • Kimia
  • Biologi
  • Ekonomi
  • Sejarah
  • dan lain-lain

Sementara itu, masih misteri bagi saya mengapa pendidikan formal tidak didesain untuk mendidik pelajar untuk menguasai hal-hal yang mendasar seperti ini:

  • Bagaimana caranya agar mandiri secara finansial sesegera mungkin
  • Bagaimana caranya untuk mencapai cita-cita
  • Bagaimana caranya untuk menguasai suatu bidang keahlian
  • Memecahkan masalah
  • Berdagang
  • Negosiasi dan presentasi dan meyakinkan orang lain
  • Leadership: Memimpin tim / bisnis
  • Menciptakan produk yang menyelesaikan masalah
  • Manajemen diri dan manajemen emosi
  • Menciptakan inovasi
  • Manajemen keuangan pribadi
  • Survival skills
  • dan lain-lain

Kenapa ya?

Pabrik Manusia

Written by Fikri Rasyid on filed under Pendidikan and tagged with , ,

Sir Ken Robinson on Changing Education Paradigm

Saya setuju bahwa pendidikan itu penting. Namun entah mengapa, alih-alih memanusiakan manusia (seperti yang saya pelajari di mata kuliah Landasan Pendidikan), saya lebih merasa sistem pendidikan yang ada sekarang lebih persis seperti ‘pabrik pengolah tenaga kerja‘: kamu masuk ke dalam pabrik sebagai ‘manusia belum terdidik‘ dengan harapan keluar (lulus) dari pabrik sebagai ‘manusia terdidik bergelar sarjana yang bisa memasuki suatu entitas ekonomi sebagai sumber daya dari entitas ekonomi tersebut dengan timbal balik gaji dan insentif yang memadai‘.

Masuk bahan mentah, keluar barang siap pakai. Masuk manusia mentah, keluar manusia siap pakai.

Terlebih lagi, video RSA (dinarasikan oleh Sir Ken Robinson) yang bercerita bahwa sistem pendidikan saat ini didesain untuk memenuhi permintaan tenaga kerja di revolusi industri makin memperkuat perasaan aneh saya terhadap pendidikan:

Menurut kamu?

#indonesiaJujur & Washback Effect

Written by Fikri Rasyid on June 11, 2011 filed under Pendidikan and tagged with , , , , ,

Examination Agreement

Note: It feels like a shit de javu. Rasanya baru kemarin-kemarin ini topik mengenai washback effect dibahas di kelas Teaching English to Young Learner, eh sekarang muncul kasusnya.

***

Lynne Cameron dalam bukunya yang berjudul Teaching Language to Young Learners menekankan bahwa asesmen seharusnya mendukung proses belajar dan pembelajaran (2001: 219). Asesmen seharusnya berfungsi sebagai tahapan untuk menguji hasil proses belajar dan pembelajaran. Ketika asesmen sudah bergeser fungsi dari tahapan untuk menguji hasil proses belajar dan pembelajaran, muncullah washback effect. Washback effect (Cameron, 2001: 216) adalah istilah yang digunakan Cameron untuk mewakili kondisi dimana asesmen sudah salah disalah posisikan sebagai tujuan dan bukan lagi tahapan untuk menguji hasil proses belajar dan pembelajaran.

Ketika asesmen dijadikan tujuan, tujuan proses belajar dan pembelajaran yang seharusnya ditujukan untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan siswa malah bergeser menjadi “pokoknya lulus ujian“. Ujian, menurut Cameron, hanyalah salah satu perangkat asesmen. Evaluasi > Asesmen > Ujian. Evaluation > Assessment > Testing (Cameron, 2001: 220).

IMO, berikut ini merupakan contoh-contoh nyata dari washback effect / menjadikan “lulus ujian” sebagai tujuan:

  1. Contoh kecil: proses pembelajaran diarahkan menjadi “agar kamu lulus ujian UNAS“. “Who gives a shit about contextual knowledge of English grammar? Yang penting kamu semua lulus UN, kepala sekolah senang, dan saya tidak dipecat.
  2. Contoh besar: orang tua siswa, karena berorientasi anak-anak kesayangannya harus lulus UN, memasukkan putra-putrinya ke bimbel “dijamin lulus ujian atau uang kembali“. Mereka yang jeli akan peluang ini jadi makmur.
  3. Contoh spektakuler: Seorang ibu diusir dari desanya karena protes sekolah melegalkan tindakan tidak jujur: “pokoknya murid-murid lulus dan nama baik sekolah terjaga“, begitu mungkin pikir pihak sekolah. Berita ini agak tidak masuk akal saya, kok ada ya masyarakat separah ini? Sebaiknya anda langsung baca saja disini saja: Ny Siami, Si Jujur yang Malah Ajur.

Washback effect ternyata bisa separah ini. Apakah pihak-pihak yang menggolkan UNAS pernah memikirkan hal ini sebelumnya ya?

Apa pendapat kamu?

P.S.:

  • Saya menyadari kalau referensi saya ditulisan ini hanya buku-nya Cameron. Jadi agak dangkal memang, tapi yang saya tahu sekarang ya baru itu, so be it. Kalau ada teman-teman yang mau menambahkan atau mengoreksi, monggo.
  • Kalau kamu penduli dengan isu ini, baca juga gerakan #IndonesiaJujur yang digagas oleh Bincang Edukasi. A must read & participate kalau kamu masih punya hati. Kalau tidak punya hati ya tidak usah dibaca.
  • Hampir semua poin mengenai #IndonesiaJujur sudah disampaikan oleh teman-teman blogger lain di tulisan ini. Saya menambahkan yang belum saja.
  • Ohya, pandangan saya mengenai mencontek: Sejak kuliah saya sudah berhenti mencontek. Dipikir-pikir, daripada nyontek terus hasil kuliah saya jadi tidak valid karena UAS merupakan faktor yang mempengaruhi IPK, mendingan saya usaha sendiri dan kalo tidak bisa ya ngarang aja sekalian. Setidaknya itu isi ujian 100% hasil kepintaran / kebodohan saya. Kalau IPK saya tidak valid hasil kerja saya, saya tidak bisa bilang ke ayah / ibu saya yang membiayai saya kuliah “Nih pap, mam, IPK Aa semester ini. Ngga percuma capek-capek bayarin Aa kuliah“.

***

Reference:

Cameron, L. (2001). Teaching Languages to Young Learners. Cambridge: Cambridge University Press.

***

Udah dulu yak, saya kembali lagi mengerjakan tugas yang dikumpulkan senin ini. Ciao!

Ide-ide Mengenai Pendidikan

Written by Fikri Rasyid on February 12, 2011 filed under ide, Pendidikan and tagged with , ,

Pendidikan yang ideal itu yang bagaimana sih? Belakangan pertanyaan sederhana ini kerap hinggap dikepala saya dan membuat saya memikirkan beberapa ide yang saya rasa akan sangat baik jika diimplementasikan:

Buat material pembelajaran sesederhana mungkin. Ini bukan masalah tingkat intelejensia namun masalah clarity dan efektifitas. Saya (dan saya yakin banyak teman-teman saya) sering kali menjadi tidak bersemangat membaca materi pembelajaran karena cara menyampaikannya ribet. Sudah pernah baca Getting Real-nya 37signals? Boy, cara mereka menyampaikan ide disana sangat-sangat efisien. Jadi ingat ini:

Be clear first and clever second. If you have to throw one of those out, throw out clever.

Jason Fried – 37Signals

Dua guru dalam satu kelas. Satu guru utama yang menyampaikan materi, dan satu guru bekerja sebagai wing man: berkeliling merapikan absen, membantu menertibkan siswa, menyiapkan peralatan, membantu murid yang kecepatan belajarnya agak lambat, dll. Biaya pelaksanaan pembelajaran mungkin akan lebih tinggi, tapi saya rasa efesiensi pembelajaran akan jadi lebih tinggi juga. Ohya, muridpun akan menjadi relatif tidak aneh-aneh karena kemampuan mengawas guru menjadi lebih luas.

Memanfaatkan media sosial untuk tujuan pendidikan. Fakta: murid zaman sekarang hidup pada zaman dimana online adalah suatu hal yang sangat lumrah. Jadi daripada dibatasi waktu online-nya, lebih baik siapkan konten-konten pembelajaran di media sosial dan arahkan aktifitas online mereka kesana. Instead of blaming or beating it, join and drive it.

Alokasikan lebih banyak sumber daya untuk mengembangkan softskill. Sudah sering sekali orang mengatakan bahwa softskill sangat berpengaruh di dunia kerja / professional. Herannya, saya tidak merasa ada satu mata pelajaran pun yang mengajarkan softskill-softskill yang penting secara menyeluruh. Contoh: jika kemampuan bernegosiasi itu sangat penting, mengapa tidak ada subjek “bagaimana cara bernegosiasi yang menguntungkan semua pihak“? Saya rasa subjek seperti ini akan sangat bermanfaat sekali.

Pendekatan berbasis proyek / portofolio. Satu hal yang saya pelajari dari pekerjaan freelance saya adalah klien / employer tidak melihat berapa besar IP saya: Mereka melihat portofolio saya dan apa saja yang sudah pernah saya selesaikan sejauh ini. Mereka membuat keputusan untuk mempekerjakan saya berdasarkan kemampuan -bukan gelar- yang saya miliki dan ekspektasi apa yang saya bisa selesaikan berdasarkan informasi yang mereka miliki dari proyek-proyek yang saya selesaikan.

Contohkan apa yang diajarkan. Menceramahi siswa tidak lagi efisien, terutama ketika mereka telah mencapai fase menjelang dewasa. Mereka tidak butuh ceramah yang bisa dilakukan siapapun. Yang mereka butuhkan adalah contoh dan role model untuk ditiru. Alih-alih menceramahi siswa tentang pentingnya kedisiplinan, tunjukan kedisiplinan guru dan institusi kepada mereka. Alih-alih memberitahu murid untuk memiliki etos belajar yang baik, tunjukan kerasnya etos belajar anda pada mereka. Alih-alih nasehat klise mengenai betapa murid harus menjadi pintar, tunjukan betapa pintarnya kamu dan apa saja keuntungannya menjadi orang pintar. Tindakan berbicara lebih lantang dan lebih efisien dari kata-kata.

Guru harus melek digital. C’mon, sekarang saja sudah tahun 2011.

Untuk sekarang, itu saja ide-ide dari saya. Dikemudian hari mungkin ada ide lagi yang muncul dan akan saya tambahkan disini. Sekarang giliran kamu: Apa yang kamu lihat sebagai masa depan pendidikan? Bagaimana wujud pendidikan yang ideal menurut kamu?

Mari berbagi ide. Hal ini akan menjadi sangat menarik sekali.

P.S: Silahkan mengkritisi ide-ide saya, diskusi yang konstruktif itu mengasyikkan :)

The beautiful background image titled “English class” is courtesy of Jesse Gardner on Flickr.

Pintar itu apa?

Written by Fikri Rasyid on December 25, 2010 filed under Pendidikan and tagged with , ,

Pintar” itu sebenarnya apa / yang bagaimana sih?

  • Apakah lulus SPMB dan masuk perguruan tinggi negeri dengan passing grade super tinggi = pintar?
  • Apakah mampu menjawab semua pertanyaan di kelas atau di kertas ujian = pintar?
  • Apakah ranking 1 dan lebih unggul daripada teman-teman sekelas / tempat kerja = pintar?

Belakangan ini saya menyadari bahwa masyarakat dan sistem sosial kita cenderung memberikan label pintar kepada orang yang kemampuan kognitifnya kuat. Sistem pendidikan yang ada sekarang pun cenderung “lebih menghargai” atau “lebih mengakomodir” kemampuan kognitif dibanding kemampuan lainnya. Coba hitung, lebih banyak jam pelajaran matematika / IPA / IPS atau jam pelajaran agama / seni / olah raga? Kemampuan sosial / antar-personal / kepemimpinan, yang notabene memegang peranan krusial dalam keberhasilan seseorang, bahkan bisa dibilang tidak ada mata pelajarannya sama sekali.

Hal ini membuat saya berpikir, definisi “pintar” itu sendiri apa sih?

Menurutmu?

Background image, titled “Smart Things” is courtesy of Paul Downey. Taken from flickr.

Kekerasan Dalam Pendidikan

Written by Fikri Rasyid on December 5, 2010 filed under Pendidikan and tagged with , , , ,

It’s stupid. Ada pendapat seorang teman dikelas tadi yang sangat menarik mengenai topik diskusi ini:

Saya percaya tidak ada hal baik yang berawal dari kekerasan. Disiplin yang berawal dari kekerasan bukanlah disiplin, melainkan ketakutan. Ketika pihak yang mengendalikan ketakutan sudah tidak ada, hilanglah disiplin itu.

So true. Memang ada pandangan kalau peserta didik yang “kurang dikerasi”, maka mereka akan menjadi manja dan tidak tahan banting. Namun jika kita lihat orang-orang yang sangat berhasil, pada umumnya keberhasilan mereka berasal dari kecintaan mereka terhadap sesuatu dan bukannya disiplin yang berawal dari ketakutan. Karena kecintaannya, mereka melakukan sesuatu. Karena melakukan sesuatu mereka menemui tantangan dan dari memecahkan tantangan-tantangan itulah mereka menjadi tahan banting dan kuat.

Menyikapi topik kekerasan dalam pendidikan yang dilakukan untuk menumbuhkan kedisiplinan, it’s an old-school waaay. Cara seperti itu, sependapat saya, sudah ketinggalan zaman. Please deh, ini sudah tahun 2010. Masih ada cara lain yang lebih elegan dalam menumbuhkan kedisiplinan: memberikan tanggung jawab. Saya percaya yang seharusnya dilakukan oleh guru untuk menumbuhkan kedisiplinan bukan dengan melakukan kekerasan, namun dengan menumbuhkan kecintaan siswa terhadap hal-hal yang dianggap perlu sehingga dari kecintaan itu muncul rasa tanggung jawab dan disiplin.

Pertanyaannya, bagaimana cara menumbuhkan kecintaan siswa?

Background image titled “Fight Club” is made by Polina Sergeeva who makes it available to use under creative common license. Thanks to her. Creative common is awesome. :)

Sekolah Masa Depan

Written by Fikri Rasyid on November 28, 2010 filed under Pendidikan and tagged with , , , ,

Jika suatu saat saya membuat sekolah atau lembaga pendidikan, ada empat hal yang saya ingin jadikan prinsip sekolah tersebut:

Portfolio-based

Daripada mengejar nilai, lebih baik murid diarahkan dan dibudayakan untuk membuat portofolio. Jika kelas menulis maka portofolionya berupa tulisan, kelas software development maka portofolionya berupa software. Buat portofolionya dapat diakses oleh publik dan biarkan publik menilai peserta didik berdasarkan apa yang telah mereka lakukan. Saya rasa begitulah “dunia nyata” bekerja.

Clearness

Be clear first and clever second. If you have to throw one of those out, throw out clever.

Jason Fried

Kemampuan komunikasi secara jelas serta kelihaian mengetahui apa yang penting (what’s important is to know what’s important) di era banjir informasi seperti sekarang adalah suatu keharusan, baik untuk dikuasai murid atau dalam pengemasan pendidikan kepada murid.

Walk the talk

Jangan cuma ngomong doang. Baik yang belajar maupun yang mengajar harus melakukan apa yang mereka bicarakan. Be the change you want.

Be yourself

Keberagaman adalah default kehidupan. Tinggalkan penyeragaman. Biarkan murid berbeda-beda agar mereka saling mengenal dan memahami satu sama lain.

Untuk saat ini baru itu saja yan terpikirkan. Ada masukan?