Posts tagged with Novel :

3 Hal Yang Membuat The Lost Symbol Menarik

Written by Fikri Rasyid on January 29, 2010 filed under Review and tagged with , , , ,

The Lost Symbol

Setelah dua buku non fiksi Outliers dan Crowd – Marketing Becomes Horizontal, kali ini saya berkesempatan untuk membaca buku fiksi (yang katanya) paling fenomenal di awal tahun 2010: The Lost Symbol. Sebuah novel thriller berbasis fakta karangan Dan Brown, merangkap sekuel The Da Vinci Code yang dinanti-nanti. Awalnya saya agak skeptis dengan novel ini mengingat alur cerita yang cenderung sama antara The Da Vinci Code, Deception Point, Angels & Demons, Digital Fortress yaitu karakter antagonis yang diungkapkan diakhir cerita merupakan karakter protagonis yang sepanjang jalan cerita “terlihat baik”.

Read More

Album & Novel Review : Recto Verso oleh Dewi “Dee” Lestari

Written by Fikri Rasyid on January 8, 2009 filed under Review and tagged with , , , ,

Recto Verso, oleh Ninit di Flickr Account-nya

Recto Verso, oleh Ninit di Flickr Account-nya

Secara fisik, Recto Verso merupakan 11 Cerita Pendek dan 11 lagu. 11 cerita pendek yang terangkum dalam buku Recto Verso, dan 11 lagu yang tergabung ke dalam Album Recto Verso yang di jual terpisah. Namun jika digabungkan keduanya, Recto Verso merupakan “sebuah pengalaman baru dalam menikmati seni.”

Segitunya?

Ya. pertanyaannya adalah, mengapa segitunya?

Saya mengetahui Dewi “Dee” Lestari dari karya fenomenalnya : Supernova. Dan semenjak itu, saya mengagumi karya tulis salah satu anggota grup vokal ternama Rida Sita Dewi ini. Gaya menulisnya yang penuh dengan analogi dan pesan dan deskripsi situasi yang diletakan secara implisit dan cerdas memukau saya.

Dan di Recto Verso, Dee bahkan melakukan lebih dari itu.

Bayangkan satu lagu yang anda sangat sukai. Mengapa seseorang bisa menyukai satu lagu? Jika ditilik lebih dari sekedar rangkaian notasi lirik dan nada, saya kira karena lagu tersebut mewakili perasaannya akan sesuatu yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Pertanyaannya adalah, bagaimana jika seseorang tersebut tidak memiliki pengalaman yang “berkaitan” dengan lagu tersebut? Saya kira orang tersebut tidak akan sampai pada taraf “sangat suka”. Suka saja, mungkin.

Disinilah cerdasnya Recto Verso. Cerpennya yang disampaikan dengan gaya bahasa cerdas supernova khas Dee, memberikan “pengalaman” dan “perasaan” kepada pembaca.  Setelah itu, lagunya yang dibangun berdasarkan cerpen – cerpen Recto Verso membuat anda mendapatkan feel lagu – lagu tersebut karena anda merasakan “perasaan” dan “pengalaman” dari lagu tersebut via cerpennya.

Wow, brilliant :D

Jika ada yang patut disayangkan dari Recto Verso, hal tersebut adalah cerpennya yang – menurut saya- terlalu pendek (meski disisi lain membuat karya ini terasa “light” dan menyenangkan), Beberapa foto yang kurang ciamik, dan harganya yang lumayan mencengangkan. Apa lagi jika dibeli secara terpisah :P

Overall, karya ini menarik. Dan ciamik! :D

P.S.

Lagu favorit saya di album Recto Verso? Malaikat Juga Tahu, Aku Ada, Grow A Day Older, dan Cicak Di Dinding. Khusus yang terakhir, lagunya unik banget! :D

Apa yang saya pelajari dari novel Laskar Pelangi

Written by Fikri Rasyid on October 12, 2008 filed under Analisa, Review and tagged with , ,

Ok, kata terlambat sudah tidak cocok lagi disebutkan untuk saya yang baru membaca novel ini. SANGAT TERLAMBAT lebih cocok. Jadi teringat perkataan seseorang : “Hari gini baru baca laskar pelangi?” ahaha. :D

sudah sedari dua tahun lalu seorang teman merekomendasikan buku ini. Namun entah mengapa, saat itu sense membaca novel saya sedang kurang baik. Padahal saya merupakan tipikal orang yang menghabiskan Angels And Demons Dan Brown dalam satu hari saja : Gila baca tingkat tinggi. :P

Namun gegap gempita versi layar lebarnya mulai menggelitik saya. karena sistem nilai saya menganggap menyaksikan film adaptasi sebelum membaca novelnya kurang etis, akhirnya kata sangat terlambat tadi bukan masalah. saya lahap juga novel tersebut. Ya, memang sebuah karya tulis yang sangat menarik. 5 jam cukup untuk membaca keseluruhan novel tersebut. Dan diluar konten novelnya yang menarik, saya menemukan satu hal yang jauh – jauh lebih menarik lagi :

Style & Pattern Of Writing
.

Semenjak membaca Hypnotic Writing nya Joe Vitale, saya jadi sering mencoba membedah tulisan. dan kesimpulan saya, ( kalau ada yang berkecimpung dibidang kepenulisan tolong koreksi jika ada yang kurang tepat ), Gaya dan pola tulisan Novel Laskar Pelangi : deskriptif secara visual – teknikal -  emosional.

Deskriptif : gaya bahasa yang “memberikan penjelasan secara detil terhadap sesuatu objek”
Visual : Mendeskripsikan secara detil objek – objek yang tertangkap oleh panca indera bernama mata
Teknikal : Penggunaan istilah -istilah teknis, disertai penjelasan yang bersifat poetic
Emosional : penggambaran emosi yang dialami karakter secara tepat sehingga membuat pembaca mampu merasakan emosi yang tengah dialami karakter.

Saya pikir – pikir, gaya menulis ini memiliki kesamaan pola dengan gaya menulis yang juga digunakan pada novel – novel best seller kelas dunia seperti Harry Potter-nya J.K. Rowling, dan The Da Vinci Code-nya Dan Brown. Keduanya menggairahkan pembaca dengan interpretasi mata kedalam tulisan, istilah – istilah teknikal yang mempesona dan membuka wawasan, dan melibatkan emosi pembaca dengan baik.

Bagaimana menurut anda?