Posts tagged with Masa Depan :

Teamwork

Written by Fikri Rasyid on September 23, 2011 filed under Pengembangan Diri and tagged with , , ,

Starfishes

Pencapaian yang luar biasa tidak bisa dicapai seorang diri. Konsekuensinya, jika ingin mencapai hal-hal yang luar biasa, hanya ada dua pilihan yang tersisa:

  1. Menjadi pemimpin. Membangun tim berisi orang-orang penuh potensi yang akan berjuang bersama mencapai tujuan yang dituju.
  2. Karena tidak semua orang berbakat memimpin orang lain, opsi lainnya adalah bergabung dengan tim yang memiliki pemimpin, tujuan dan rekan-rekan yang pantas untuk diikuti.

Bagi saya, pilihan pertama dan pilihan kedua sama mulianya, selama yang dilakukan sama-sama memiliki efek baik kepada orang lain – hanya berbeda di kapasitas saja. Saya sedang berkaca, pilihan mana yang harus saya ambil?

Kamu mengambil pilihan yang mana?

Ide-ide Mengenai Pendidikan

Written by Fikri Rasyid on February 12, 2011 filed under ide, Pendidikan and tagged with , ,

Pendidikan yang ideal itu yang bagaimana sih? Belakangan pertanyaan sederhana ini kerap hinggap dikepala saya dan membuat saya memikirkan beberapa ide yang saya rasa akan sangat baik jika diimplementasikan:

Buat material pembelajaran sesederhana mungkin. Ini bukan masalah tingkat intelejensia namun masalah clarity dan efektifitas. Saya (dan saya yakin banyak teman-teman saya) sering kali menjadi tidak bersemangat membaca materi pembelajaran karena cara menyampaikannya ribet. Sudah pernah baca Getting Real-nya 37signals? Boy, cara mereka menyampaikan ide disana sangat-sangat efisien. Jadi ingat ini:

Be clear first and clever second. If you have to throw one of those out, throw out clever.

Jason Fried – 37Signals

Dua guru dalam satu kelas. Satu guru utama yang menyampaikan materi, dan satu guru bekerja sebagai wing man: berkeliling merapikan absen, membantu menertibkan siswa, menyiapkan peralatan, membantu murid yang kecepatan belajarnya agak lambat, dll. Biaya pelaksanaan pembelajaran mungkin akan lebih tinggi, tapi saya rasa efesiensi pembelajaran akan jadi lebih tinggi juga. Ohya, muridpun akan menjadi relatif tidak aneh-aneh karena kemampuan mengawas guru menjadi lebih luas.

Memanfaatkan media sosial untuk tujuan pendidikan. Fakta: murid zaman sekarang hidup pada zaman dimana online adalah suatu hal yang sangat lumrah. Jadi daripada dibatasi waktu online-nya, lebih baik siapkan konten-konten pembelajaran di media sosial dan arahkan aktifitas online mereka kesana. Instead of blaming or beating it, join and drive it.

Alokasikan lebih banyak sumber daya untuk mengembangkan softskill. Sudah sering sekali orang mengatakan bahwa softskill sangat berpengaruh di dunia kerja / professional. Herannya, saya tidak merasa ada satu mata pelajaran pun yang mengajarkan softskill-softskill yang penting secara menyeluruh. Contoh: jika kemampuan bernegosiasi itu sangat penting, mengapa tidak ada subjek “bagaimana cara bernegosiasi yang menguntungkan semua pihak“? Saya rasa subjek seperti ini akan sangat bermanfaat sekali.

Pendekatan berbasis proyek / portofolio. Satu hal yang saya pelajari dari pekerjaan freelance saya adalah klien / employer tidak melihat berapa besar IP saya: Mereka melihat portofolio saya dan apa saja yang sudah pernah saya selesaikan sejauh ini. Mereka membuat keputusan untuk mempekerjakan saya berdasarkan kemampuan -bukan gelar- yang saya miliki dan ekspektasi apa yang saya bisa selesaikan berdasarkan informasi yang mereka miliki dari proyek-proyek yang saya selesaikan.

Contohkan apa yang diajarkan. Menceramahi siswa tidak lagi efisien, terutama ketika mereka telah mencapai fase menjelang dewasa. Mereka tidak butuh ceramah yang bisa dilakukan siapapun. Yang mereka butuhkan adalah contoh dan role model untuk ditiru. Alih-alih menceramahi siswa tentang pentingnya kedisiplinan, tunjukan kedisiplinan guru dan institusi kepada mereka. Alih-alih memberitahu murid untuk memiliki etos belajar yang baik, tunjukan kerasnya etos belajar anda pada mereka. Alih-alih nasehat klise mengenai betapa murid harus menjadi pintar, tunjukan betapa pintarnya kamu dan apa saja keuntungannya menjadi orang pintar. Tindakan berbicara lebih lantang dan lebih efisien dari kata-kata.

Guru harus melek digital. C’mon, sekarang saja sudah tahun 2011.

Untuk sekarang, itu saja ide-ide dari saya. Dikemudian hari mungkin ada ide lagi yang muncul dan akan saya tambahkan disini. Sekarang giliran kamu: Apa yang kamu lihat sebagai masa depan pendidikan? Bagaimana wujud pendidikan yang ideal menurut kamu?

Mari berbagi ide. Hal ini akan menjadi sangat menarik sekali.

P.S: Silahkan mengkritisi ide-ide saya, diskusi yang konstruktif itu mengasyikkan :)

The beautiful background image titled “English class” is courtesy of Jesse Gardner on Flickr.

Masa Depan Antarmuka Komputer

Written by Fikri Rasyid on December 7, 2010 filed under Software and tagged with , , , , , ,

Ini menarik. Era personal computing diawali dari antarmuka*:

  1. Command line – yang masih kita temui di terminal / command prompt
  2. Graphical User Interface – yang ditemukan oleh XEROX, diimplementasikan oleh Apple dan “ditiru” oleh Microsoft.
  3. Touch interface – yang mulai booming semenjak Apple mempopulerkannya melalui antarmuka iPhone
  4. Apalagi selanjutnya?

Beberapa hari yang lalu saya menemukan video dari produk teranyar Microsoft: Kinect, controller terbaru untuk konsol XBOX 360:

Wow, keren sekali. Pada dasarnya Kinect men-scan gestur dan gerak tubuh dan suara, lalu mengolahnya menjadi perintah kepada komputer. Prinsipnya sih voice recognition dan movement-based control, suatu hal yang sudah lumrah dijumpai di ponsel pintar dan konsol modern seperti Nintendo Wii. Tapi bagaimanapun, melihat kombinasi keduanya sebagai satu fitur utama dalam suatu produk yang diproduksi massal dan terjual lebih dari 2,5juta item dalam 25 hari dari peluncurannya ini menakjubkan. Saya jadi berfikir, apakah masa depan antarmuka komputer akan jadi seperti ini?

Bayangkan mengakses google dengan mengatakan: open firefox, search “harry potter 7 movie review” lalu menggerakkan tangan diudara untuk memilih search result dan membukanya…

HECK, IT’D BE AWESOME.

Apa pendapatmu?

P.S.:

saya jadi teringat project sixtsense yang digagas oleh Pranav Mistry. Yang ini sebenarnya lebih edan lagi. Sudah lama ada sih, tapi saya baru “tergugah” ketika sudah menjadi produk massal seperti kinect :p

*antarmuka = user interface. Bagaimana manusia / pengguna berinteraksi dengan mesin / komputer / software.

Background image is courtesy of BadgerGravling.

Post-Internet Era

Written by Fikri Rasyid on October 27, 2010 filed under Culture, internet, Uncategorized and tagged with , , , , , ,

…How much of the really revolutionary things people are going to do in the next five years are done on the PCs or how much of it is really focused on the post-PC devices. And there’s a real temptation to focus it on the post-PC devices because it’s a clean slate and because they’re more focused devices and because, you know, they don’t have the legacy of these zillions of apps that have to run in zillions of markets…

- Steve Jobs

Saat ini dan di masa depan, ukuran komputer semakin menyusut dan komputer “ditanamkan” pada berbagai macam device untuk menyelesaikan satu masalah tertentu. Steve Jobs dalam wawancaranya bersama dengan Bill Gates di acara D5 All Things Digital mendefinisikan hal ini sebagai era Post-PC device: Era dimana komputer mulai dibenamkan di berbagai macam gadget untuk satu tujuan tertentu dan kita tidak lagi menyebutnya dengan istilah “PC” namun kita menyebutnya dengan istilah iPod untuk PC yang “ditananamkan” di pemutar musik, iPhone untuk PC yang “ditanamkan” di telpon genggam, dll (jika mengacu kepada produk-produk Apple).

Pertanyaannya: mengapa era post-PC penting? Karena itulah masa depan. PC memang dapat melakukan banyak hal, tapi bukan itu yang dibutuhkan masyarakat. Menurut Steve Jobs, masyarakat membutuhkan device yang dapat menyelesaikan satu masalah spesifik dengan baik, bukan pisau lipat yang serba ada.

Post-Internet Era

Selain era post-PC, ada satu post-something era yang saya rasa menarik untuk diperhatikan: Post-Internet Era.

Ada beberapa “titik-titik” poin yang membuat gagasan ini tercetus di kepala saya:

  • Gagasan mengenai Post-PC devices: satu gadget yang menyelesaikan satu fungsi spesifik tertentu dengan baik
  • Cukup banyak pengguna internet (terutama yang non-tech-savvy) yang berkata “saya tidak pernah mengakses internet, tapi saya punya facebook
  • Fakta bahwa PC mulai booming setelah era Graphical User Interface: UI (kemudahan penggunaan) merubah banyak hal
  • Salah satu poin yang disampaikan oleh @dWirianto di acara FOWAB #2: people are lazy. Facebook launcher di handphone2
    kelas mid-low yang notabene mempermudah satu langkah user sampai ke facebook itu sangat membantu facebook.
  • Banyaknya aplikasi yang dibuat untuk twitter (dari penggunaannya, bisa dibilang bahwa API Twitter merupakan salah satu contoh API tersukses yang pernah diluncurkan) diciptakan. Seriously, sebelum #newTwitter dirilis, berapa banyak sih dari kita yang mengakses twitter via web?
  • Kesuksesan App Store Apple yang mana banyak aplikasi iPhone yang dibuat untuk berinteraksi dengan web service tertentu. Hal ini pula diikuti dengan Android app market, BlackBerry AppWorld, dan app market smartphone lainnya. Hari gini, web service / web app besar mana sih yang tidak punya iPhone app / Android App / BlackBerry App?

Jika semua “titik-titik” ini digabungkan, maka “garis” yang terbentuk mengenai Post-Internet Era adalah:

  • Koneksi ke internet dan cloud database / cloud software yang mengorganisir data-data tersebut adalah sesuatu yang default / lumrah
  • Data di cloud tersebut dapat diakses via web / mobile interface
  • Namun karena alasan kemudahan / kompatibilitas dengan gadget / device, device-based app adalah suatu kewajiban.
  • Orang tidak akan lagi berfikir untuk “mengakses internet” ketika mencari data / informasi tertentu melainkan “mengakses (letakkan nama brand aplikasinya disini)”

IMHO, salah satu contoh aplikasi yang sangat menggambarkan gagasan Post-Internet Era dengan baik adalah dropbox: bekerja dengan jaringan internet sebagai platform-nya, memiliki cross-platform app (Windows / Mac / Linux desktop App, iPhone App, Android App) dan user tidak lagi “memikirkan internet” saat menggunakannya (setidaknya saya berfikir demikian). Contoh: “backup file dulu ah, masukkan ke dropbox“.

Oke, itu yang terfikirkan oleh saya sekarang. Bisa jadi banyak hal yang belum terlewat: ada yang mau menambahkan?

Tentang 16 Oktober 2009: It’s a Great 19 Years of Life

Written by Fikri Rasyid on October 16, 2009 filed under Personal and tagged with , ,

.

happy-birthday -actual

happier, wiser, smarter, greater, healthier, wealthier, older, and still better than ever. amen.

i’m officially 19.

Yap, masa aktif saya di dunia berkurang lagi satu tahun. Resmi sudah 19 tahun saya menjejakkan kaki di dunia. Membaca apa yang saya tulis di hari ketika saya beranjak ke usia 18 tahun membuat saya terus berfikir: apa lagi selanjutnya?

Read More

Prospek Bisnis Cetak? Untuk Beberapa Puluh Tahun Kedepan, Nampaknya Akan Terus Berjalan

Written by Fikri Rasyid on April 30, 2009 filed under Analisa, Bisnis, internet and tagged with , ,

published me by [phil h]

published me by phil h

Baru saja membaca Perbincangan Bisnis Cetak Gratis Bersama Yogi Prasetya di NavinoT. Tulisan ini juga dalam rangka Kontes Berfikir Kritis, dan merupakan uneg-uneg saya mengenai topik bisnis cetak.

Sebelum memulai, perlu kita notice baik-baik bahwa ini pure opini. Saya masih belum menjadi seorang “pemain” di bisnis cetak. Tapi saya memiliki ketertarikan tersendiri terhadap di industri ini, terkait dengan hobi saya membaca dan cita-cita menjadi penulis :)

Melihat perkembangan internet, juga seiring dengan semakin mudahnya mempublikasikan konten di internet (dengan biaya yang relatif lebih murah dengan distribusi yang lebih luas), semakin banyak dari kita yang menduga-duga nasib dari bisnis media cetak. Apakah bisnis media cetak akan mati, seiring dengan tumbuh berkembangnya teknologi dan internet?
Read More

Biarkan Hidup Mengalir Seperti Air? Hey, Pahami Dulu Kecenderungan Air

Written by Fikri Rasyid on April 14, 2009 filed under Analisa, Pengembangan Diri, Quote and tagged with , , , ,

Where peaceful waters flow… by Vol-au-Vent

Where peaceful waters flow… by Vol-au-Vent

Banyak diantara kita, terutama yang muda berkata dengan cerianya:

Tidak usah terlalu ambisius. Santai saja lah, let it flow. Biarkan saja mengalir seperti air!

Mungkin tujuan dari teman yang berkata seperti itu baik: Dia tidak mau melihat kita, kawannya, stress dan tertekan karena mengejar target, cita-cita dan impian kita.

Tapi masalahnya tepatkah jika kita membiarkan hidup kita mengalir, santai, seperti air? Hari ini saya menemukan satu kalimat yang menampar pernyataan tersebut:

..air memiliki kecenderungan untuk mengalir ke tempat-tempat yang rendah. ..

Mario Teguh
Becoming A Star, hal. 66

Jika kita membiarkan air mengalir, bukankah sifat alaminya mengalir ke tempat yang lebih rendah? Sekarang, jika kita membiarkan hidup kita mengalir saja tanpa tujuan, bukankah hidup kita akan terbawa ke kualitas kehidupan yang rendah?

Hey, masih ingin membiarkan hidup anda mengalir seperti air?

Menghindari stress di masa muda hanya akan memindahkan stress itu ke hari tuanya, saat dia sudah lemah, lambat, dan pelupa.

- Mario Teguh -
Halaman yang sama, buku yang sama

Kemampuan Yang Membedakan Si Berhasil dan Si Gagal

Written by Fikri Rasyid on January 11, 2009 filed under Analisa, Pengembangan Diri and tagged with ,

Success and Failures by Will Lion.

Success and Failures by Will Lion.

Mengapa ada orang yang berhasil dalam hidupnya, sedangkan ada orang yang tetap gagal dalam hidupnya? Padahal sumberdaya yang dimiliki sama. Apakah faktor finansial? banyak orang yang awalnya miskin namun akhirnya jadi miliarder. Kecerdasan? Banyak tuh orang yang tidak lulus sarjana namun sukses luar biasa. Kondisi fisik? Banyak juga orang yang sakit – sakitan, namun tetap menghasilkan sesuatu yang besar dalam hidupnya.

Lalu apa “kualitas” yang dimiliki si berhasil yang tidak dimiliki si gagal? Topik ini yang saya diskusikan dengan seorang yang sangat penting dalam hidup saya. Dan jawabannya, ternyata sederhana :

Kemampuan yang membedakan seseorang berhasil atau tidak adalah kemampuan “melihat” masa depan.

melihat-nya saya beri tanda kutip karena melihat disini lebih dari sekedar melihat, namun juga merasakan.

Satu hal yang sangat jelas membedakan orang yang berhasil dengan tidak, adalah orang yang berhasil terus berusaha sedangkan orang gagal menghentikan usahanya. Pertanyaannya adalah, mengapa orang yang berhasil sanggup bertahan dan melanjutkan usahanya padahal orang gagal menghentikan usahanya? Padahal dunia yang ditempati si berhasil dan si gagal kan sama? Dari mana si berhasil mendapatkan semangat untuk terus berusaha?

jawabannya adalah, karena si berhasil sudah “mengetahui” apa yang akan dia dapatkan jika dia terus melakukan satu hal, sedangkan si gagal tidak. Dari mana si berhasil “mengetahui”nya? Dia sanggup “melihat”nya. Dia mampu melihat masa depannya, dan meyakininya.

Pantaslah ada kalimat “visualisasi merupakan salah satu kemampuan terbesar manusia”.

Dan pantaslah Rhonda Bryne dalam The Secret menggambarkan betapa pentingnya visualisasi. Saya mulai mendapatkan gambaran lebih utuhnya sekarang.

Mengambil Keputusan : Pilih Yang Terpenting dari Hal – Hal Penting

Written by Fikri Rasyid on December 19, 2008 filed under Pengembangan Diri and tagged with , , ,

Satu hari, di satu seminar, saya pernah mendengar seseorang yang cukup sukses mengatakan sesuatu yang sangat bagus :

Satu kemampuan yang pasti dimiliki oleh orang – orang yang berhasil adalah kemampuan membuat keputusan. Ketika dia dihadapi pilihan – pilihan yang kesemuanya penting, dia mampu melihat yang terpenting dan mengambil keputusan untuk menyelamatkan yang terpenting, sesuatu yang memang benar – benar menjadi tujuan hidupnya, dan mengambil resiko atas hal – hal lain yang juga penting yang tidak dia pilih.

Kalau dipikir – pikir, benar juga apa yang dikatakannya. Orang biasa, masih terjebak diantara keputusan yang harus diambil antara pilihan hal penting dan hal tidak penting. Sedangkan orang – orang yang berhasil, selalu dihadapkan dengan pilihan – pilihan yang sulit. Memilih diantara semua hal penting.

Pesan moralnya? Jika anda sedang merasa lelah, karena energi anda selalu dikuras setiap harinya karena harus mengambil keputusan, diantara pilihan yang kesemuanya penting, dan seting kali anda harus mengorbankan perasaan anda karena tidak bisa mengambil hal – hal penting yang tidak terambil, bersyukurlah.

Bisa jadi anda sedang berada di jalur yang tepat untuk meraih keberhasilan.

Who knows? Semoga Allah memberkati kita semua

:)