Posts tagged with Liqo :

Keutamaan Waktu Subuh

Written by Fikri Rasyid on August 24, 2010 filed under Islam and tagged with , , , , ,

Baru selang tiga hari saya sudah liqo lagi. Dan kali ini rocking sekali karena diadakannya setelah shalat subuh. Haha, untung diselenggarakannya di masjid dekat rumah saya :p Kesannya satu: belajar “bersama” atau berdiskusi setelah shalat subuh itu enak sekali. Awalnya memang mengantuk, tapi kalau “waktu kritis”nya sudah lewat, jadi segar :)

Topik liqo hari ini mengenai shalat subuh. Seingat saya pernah dibahas dan saya tulis di blog ini, tapi sekedar mengingatkan akan saya tulis lagi sekarang. Seperti biasa saya juga livetweet dari akun twitter saya menggunakan hashtag #liqo. Well, saya rasa ada baiknya juga anda follow saya di twitter ;)

Tentang ujian

Pada dasarnya, hidup adalah ujian. Setiap episode kehidupan, baik senang ataupun susah adalah ujian. Parameter ujian itu, hanya dua: mendekatkan / menjauhkan diri dari Allah.

Tentang shalat subuh

Shalat juga merupakan ujian. Berdasarkan hadis, shalat yang paling berat adalah shalat isya dan subuh. Bahkan berdasarkan beberapa hadis, bahkan Rasul menggunakan kehadiran sahabat dalam shalat subuh berjamaah di masjid sebagai indikator keimanan dan menentukan apakah seorang sahabat munafik atau tidak karena shalat subuh merupakan shalat yang paling berat bagi seorang munafik.

Anyway, untuk poin-poin mengenai hadis ini, ada yang tahu teks hadisnya? Untuk cross-check saja :)

Ohya, saya juga jadi belajar hal baru: batas waktu shalat isya itu hingga tengah malam, bukan waktu subuh.

Ada beberapa pendapat yang mengutarakan bahwa umat islam baru “berbahaya” jika jama’ah shalat subuh sudah sebanyak jama’at shalat jum’at. Sebelum titik itu tercapai, umat islam tidak ada apa-apanya.

Tentang umat islam

Beberapa prediksi misionaris eropa: tanpa peperangan pun, umat islam akan mendominasi dunia karena rasio kelahiran. Rasio kelahiran di negara-negara maju hari ini menurun dengan sangat drastis sementara rasio kelahiran umat islam cenderung stabil atau bahkan naik. Tutor saya sempat bercerita kalau Rasul menyunahkan untuk memiliki banyak anak, tapi saya belum pernah dengar hadisnya. Ada yang tahu?

Yap, itu dia poin-poin yang didiskusikan pada Liqo hari ini. Tidak semua saya tulis karena obrolannya agak melebar ke berbagai diskusi seperti emas, ekonomi syariah, dan lain-lain. Mungkin akan saya bahas di tulisan lain. Untuk mengetahui lebih detail bisa follow saya di @fikrirasyid :D

Yak, belajar hal baru sepagi ini. Apa yang sudah anda pelajari hari ini?

P.S.

Agak sulit memang kalau mau maju sendiri. Lebih mudah kalau punya mentor n lingkaran sosial yang memiliki minat yang sama.

Meminta Pertolongan Allah

Written by Fikri Rasyid on August 21, 2010 filed under Islam and tagged with , ,

Saya baru selesai Liqo, dan topik bahasannya cukup menarik: bagaimana meminta pertolongan Allah. Selama liqo tadi saya livetweet melalui akun saya di @fikrirasyid dengan hashtag #liqo jadi anda bisa lihat apa yang dibahas melalui akun twitter saya. Tapi untuk jaga-jaga misalkan anda tidak follow saya, berikut ini poin2 yang tadi dibahas:

Banyak orang yang tidak bahagia karena kebahagiannya digantungkan pada dunia

So damn true. Kalau IPK tinggi baru bahagia, kalau notebook keren baru bahagia, kalau dipuji baru bahagia. Bagaimana jika kita di damparkan ke kondisi yang tidak memungkinkan untuk mendapat itu semua? Tidak bahagia. Padahal, yang dicari adalah “perasaan” karena mencapai / memiliki hal tersebut, bukan barangnya.

Perasaannya, bukan materinya.

Salah satu ciri-ciri orang soleh adalah, ketika mendapat masalah atau tidak, emosinya tetap stabil. Netral.

Karena dia meyakini bahwa apa yang tengah dijalaninya merupakan seizin Allah. Hidup adalah ujian.

Ada tiga cara untuk mendapatkan pertolongan Allah:

1. Penuhi hak-hak Allah.

Hak-hak Allah, seminimalnya adalah ibadah wajib. Lebih bagus jika ditambah amalan sunnah.

2. Jaga syukur dan sabarnya

Kita adalah apa yang kita fokuskan. Kalau kita fokus pada masalah, ya masalah itu lah hidup kita. Padahal, jika dihitung2, kita lebih banyak memiliki nikmat daripada masalahnya.

3. Bantu makhluk Allah lain yang membutuhkan pertolongan

Kita bantu orang lain, biar Allah yang bantu kita. Seringkali kejadian saat kita tengah kesulitan finansial, malah datang orang yang kesulitan keuangan juga. Itu, menurut tutor saya, bisa jadi jalan bantuan dan jawaban dari do’a-do’a kita.

Faktanya, orang yang menyantuni anak yatim hidupnya lebih sejahtera.

So true. Sejahtera itu tidak hanya materi ya, bisa juga ilmu dan kepuasan batin.

Waw, saya belajar hal-hal baru hari ini. Bagaimana dengan kamu?

3 Langkah Cara Menilai Orang Dengan Baik (Jangan Yakin dengan Penilaian Kita Kepada Seseorang Sebelum Melakukan 3 Hal Ini)

Written by Fikri Rasyid on June 24, 2009 filed under Islam, Pengembangan Diri, Tips and tagged with , , , ,

Don’t judge a book by its cover

Lady justice by FrogMiller

Lady justice by FrogMiller

Satu pepatah klise diatas menasihatkan kita untuk tidak menilai sesuatu berdasarkan seseorang berdasarkan penampilannya. Dinilai berdasarkan penampilan itu memang menyebalkan. Sangat. Namun jika kita memposisikan diri sebagai penilai, bukan sebagai yang dinilai, kita akan menemukan bahwa bagaimanapun memang ada saat dimana kita harus menilai seseorang demi kebaikan keputusan yang kita ambil. Jika saat tersebut datang pada kita, bagaimanakah cara menilai seseorang dengan objektif?

Masih oleh-oleh dari diskusi liqo. Saat liqo kemarin pembimbing saya memberikan tips cara menilai seseorang. Seingatnya, beliau mendapat cara ini dari hadist Rasul namun terlupa hadis yang mana. Jika ada rekan-rekan yang tahu dari mana asal muasal tips ini, tolong sampaikan melalui kolom komentar y :)

3 Langkah Cara Menilai Orang Dengan Baik(Jangan Yakin dengan Penilaian Kita Kepada Seseorang Sebelum Melakukan 3 Hal Ini):

  1. Menginap di rumahnya
  2. Melakukan Perjalanan dengannya
  3. Bermuamalah (Melakukan transaksi keuangan) dengannya

Mengapa tiga hal tersebut menjadi patokan? Karena ketika melakukan tiga hal tersebut, sifat asli seseorang muncul. Karakter asli seseorang akan terlihat ketika melakukan tiga aktifitas diatas. Ketika karakter asli, bukan karakter yang ditutup tutupi muncul, kita bisa memberikan penilaian secara objektif.

Pendapat anda? ;)

P.S.

sekedar tambahan, penilaian yang kita berikan 5 tahun lalu dengan kondisi seseorang sekarang bisa saja berbeda. Segala hal, termasuk seseorang, berubah. Hanya perubahanlah yang tetap tidak berubah. ;)

Salah Satu Penyebab Gagalnya Pernikahan (dan berbagai relationship lain): Niatnya Ingin Bahagia

Written by Fikri Rasyid on June 23, 2009 filed under Islam, Pengembangan Diri and tagged with , , ,

Resepsi Pernikahan Desy & Tomy by d!to

Resepsi Pernikahan Desy & Tomy by d!to

Semalam tadi, saya dan mengikuti pengajian liqo. Dan seperti liqo – liqo sebelumnya, terkadang pembahasan kami melebar kesana kemari sesuai dengan topik bahasan yang tengah di bahas. Dan entah bagaimana, permbimbing kami menyinggung mengenai topik pernikahan dan perceraian para selebritis.

“Kalau kita lihat di televisi banyak artis yang bercerai, dalam pandangan saya penyebabnya sederhana” Ujar pembimbing kami.

Saya dan teman-teman terdiam khusyu. Well, entah mengapa semua orang jadi khusyu kalau seseorang bercerita mengenai rumah tangga y? haha :P

“Niatnya salah sih..” Ujar Pembimbing kami.

“Mereka umumnya menikah karena niatnya ingin bahagia. Menikah untuk mencapai kebahagiaan. Ketika kita melakukan sesuatu dengan niat mencapai kebahagiaan, kita menciptakan standar..”

“saya akan bahagia kalau …”

“saya akan bahagia jika pasangan saya …”

“dan banyak standar lainnya. Ketika kita menemukan bahwa pasangan kita tidak seideal yang kita kira dan tidak memenuhi standar kebahagiaan kita, kita kecewa. Dan dari situlah keretakan terjadi..”

“Maka dari itu, niatkan menikah untuk beribadah. Sehingga jika pasangan kita tidak seperti yang kita harapkan, setiap sabar yang kita keluarkan untuk hal itu dinilai ibadah… Jika pasangan kita seperti apa yang kita harapkan, setiap rasa syukur yang terucap juga dinilai ibadah…”

“..Bukan lakukan agar saya bahagia, tapi lakukan dengan bahagia…”

Dan diskusi pun terus berlanjut.

P.S.

Bagaimana pendapat anda? ;)