Posts tagged with Indonesia :

Relevansi Kewarganegaraan

Written by Fikri Rasyid on February 3, 2011 filed under ide and tagged with , , , ,

Akhir-akhir ini sebuah pemikiran menyelinap masuk ke otak saya: Mengutip imagine-nya John Lennon, apa yang terjadi jika obsesi akan kepemilikan yang berlebihan dan batas kenegaraan tidak ada?

Coba pikirkan ini:

Katakanlah ada seseorang yang sangat rendah hati, tidak pamrih, tidak haus akan kekuasaan melainkan menggunakan kekuasaan tersebut untuk kebaikan orang banyak dan jelas-jelas jauh lebih baik dari semua “tokoh masyarakat” yang ada di Indonesia. Diperkirakan, orang tersebut akan membawa kemakmuran jika diberi kesempatan memimpin negara ini. Sayangnya, kewarganegaraan Indonesia merupakan syarat mutlak seseorang menjadi pemimpin dan orang tersebut bukan seorang WNI.

Kembali kepada gagasan awal di paragraf pertama, mari kita bayangkan bahwa “seseorang” ini tidak memiliki obsesi berlebihan atas kepemilikan dan keharusan bahwa negara tempat dia berasal harus lebih superior dari negara tempat dia -jika diperbolehkan- memimpin. Selama semuanya sejahtera dan berkecukupan, baginya itu sudah cukup.

Pertanyaannya: apa pendapatmu akan hal ini? Apakah fakta bahwa seseorang lahir di suatu tempat dari orang tua yang tidak seorangpun bisa memilih dari siapa dia akan lahir melebihi kompetensi seseorang dalam menyejahterakan masyarakat?

Silahkan berbagi pendapat kamu.

Andaikan kita bisa buktikan

Written by Fikri Rasyid on October 13, 2010 filed under ide and tagged with , , ,

Semalam, saya ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman hingga larut malam. Salah satu topik obrolan kita adalah betapa korupnya bangsa ini: dari gayus dan perpajakan, bea cukai, kualitas jalan yang jelek sehingga selalu rusak dan selalu ada orderan, dan lain-lain.

Saya jadi melamun. Bagaimana menyembuhkan “penyakit” ini dari masyarakat kita ya?

Kalau saya pikir-pikir, akar masalah dari korupsi bukan ada di hukum yang mudah diakali atau institusi hukum yang lemah. Korupsi lebih ke masalah budaya. Korupsi, dalam pandangan saya, setidaknya disebabkan oleh dua hal:

  1. Kecintaan berlebihan terhadap harta.
  2. Berfikir bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan harta adalah dengan cara yang tidak baik.

Untuk poin pertama: Harta itu bukan tujuan, melainkan dengan alat. Tidak ada yang salah dengan memiliki harta yang berlimpah. Kamu bisa menolong banyak orang kurang mampu (menyumbang sekolah, memberi beasiswa) jika kamu punya banyak harta. Yang jadi masalah adalah jika kita menjadikan uang sebagai tujuan: memper-Tuhan-kan uang. Berfikir kalau ada uang, segalanya jadi beres.

Untuk poin kedua, saya yakin tidak ada orang yang ingin menjadi bad guy dengan cara korupsi. Andaikan ada cara yang baik mendapatkan uang, mengapa harus menggunakan cara yang buruk? Sialnya, kebanyakan orang hampir tidak tahu caranya mendapatkan uang yang berkelimpahan / berkecukupan dengan cara yang baik.

Sekarang, coba pikir: andaikan semua orang tahu bahwa mereka bisa berkecukupan / berkelimpahan dengan cara yang baik dan tahu BAGAIMANA CARANYA mendapatkan penghasilan yang mencukupi segala kebutuhan mereka, serta memiliki tujuan yang jelas dalam hidup yang mana tujuan tersebut bukanlah “menumpuk uang sebanyak-banyaknya” melainkan hidup bahagia dan memberi manfaat untuk sesama, apakah budaya korupsi massal di negeri ini akan tetap ada?

Jika jawabannya “tidak”, ini bisa jadi hal yang cukup berharga untuk diperjuangkan.

Tentang Perbedaan & Keberagaman: Satu Hal Yang Mengindahkan Dunia

Written by Fikri Rasyid on August 24, 2009 filed under Analisa, Pengembangan Diri and tagged with , , , , , , , , , ,

Note: Post ini merupakan entri yang saya tulis untuk mengikuti Pesta Blogger Writing Contest 2009.

 Belfast-Differences from motorpsykhos

Belfast-Differences from motorpsykhos

Ada satu hal yang sangat mencolok dari Indonesia: Keberagaman. Bangsa ini dihuni oleh entah berapa ribu etnis suku bangsa, entah berapa belas ribu pulau, entah berapa ribu bahasa daerah, dan entah berapa milyar perbedaan.

Dari sudut pandang tertentu, orang berkata bahwa perbedaan ini sungguh menyulitkan: Ada banyak hal yang harus di pahami, ada begitu banyak perbedaan yang menuntut untuk dimengerti, ada begitu banyak tradisi yang memaksa untuk dipelajari, ada begitu banyak aturan yang harus disesuaikan, ada jutaan kepentingan yang harus diakomodir,  dan lain lain sebagainya.

Read More