Posts tagged with Google :

Optimasi Internet Untuk Pengajar & Pelajar

Written by Fikri Rasyid on February 18, 2011 filed under internet, Pendidikan, Software, Tips and tagged with , , , , ,

Panggilan untuk semua mahasiswa, dosen, guru, pelajar SMP/SMA dan siapapun yang aktif di bidang pendidikan! Internet bukan sekedar media untuk berkicau di twitter, upload foto di facebook dan browsing-browsing ngga jelas untuk menghabiskan waktu menunggu kelas berikutnya. Berikut ini adalah beberapa lima tips praktis dari saya tentang bagaimana memanfaatkan internet untuk tujuan pendidikan.

1. Get an email. Get a Gmail.

Serius, tahun 2011 dan masih belum punya email? Segera buat akun email! Akun email itu seperti identitas de facto dalam ranah online, sangat berguna untuk -let’s say- kamu perlu mengirim pesan atau mengumpulkan tugas kepada dosen kamu. Ada banyak pihak yang menawarkan layanan email, tapi saya merekomendasikan untuk membuat akun email di Gmail milik Google. Alasannya:

  • Reliable. C’mon dude, it’s Google
  • Dapat diakses dari berbagai platform dengan optimal: Web, HTML Version for slow internet connection, BlackBerry App, Mobile Web version, you name it.
  • Akun gmail = Google account yang dapat digunakan untuk mengakses puluhan service Google lainnya.

Email making 101: Daripada menggunakan nama email yang aneh-aneh, gunakan nama anda saja. Simple, dan mudah dieja. Contoh: jika nama kamu Barney Stinson, saya menyarankan alamat email kamu: barneystinson@gmail.com

Buat akun gmail kamu disini.

2. Buat blog. Publikasikan catatan kamu

Adalah sangat ketinggalan zaman jika masih kamu berfikir bahwa blog hanyalah “sekedar” diary online tempat curhat ngga penting. Saran saya, buat blog lalu publikasikan catatan kuliah kamu disitu. Tujuannya? Agar apa yang kamu pelajari bisa jadi lebih bermanfaat. Mungkin ada teman sekelas yang tidak masuk yang membutuhkan catatan anda. Mungkin ada orang lain yang sebenarnya ingin masuk jurusan yang kamu masuki namun sekarang berkuliah di jurusan lain. Masih banyak lagi kemungkinan yang dapat terjadi. The point is, sharing your knowledge is a good thing. Lagipula, dengan memiliki niat untuk berbagi ke audience yang lebih luas, kamu akan lebih tergerak untuk memahami apa yang kamu pelajari di kelas.

Anyway, i’m practicing what i preach. Saya sudah membuat blog berisi catatan akademik saya di sini:

http://fikrirasyid.wordpress.com

Sudahkah kamu mempublikasikan catatan akademik kamu?

3. Buat akun di slideshare. Publikasikan Slide Presentasi Kamu

Ini penting sekali terutama untuk dosen / guru: Sederhananya, Slideshare adalah aplikasi web untuk berbagi slideshow. Pikirkan YouTube namun alih-alih berbagi video, kamu bisa berbagi slideshow. Upload slideshow, lalu nanti kamu bisa set untuk meng-embed slideshow-mu di blog-mu, atau mengatur agar semua orang bisa men-download slideshow yang kamu upload.

Saya suka nyengir sendiri kalau ada yang bilang “nanti saya email slide-nya ya” untuk slideshow-slideshow yang memang ingin disebarkan ke publik. Sekarang tahu alasannya apa kan? FYI, ini akun slideshare saya. Untuk membuat akun slideshare, klik tombol ini:

Buat akun slideshare disini.

FYI, tingkatkan skill presentasi kamu. Baca Presentonomics.

4. Miliki akun Dropbox

Dropbox adalah kombinasi desktop app dan web app yang memungkinkan kamu untuk syncing file-file di komputer satu dengan komputer mu yang lain melalui jaringan web. Pikirkan situasi ini:

Kamu sedang online di twitter / facebook lalu seorang teman bilang: “ntar filenya gue kirim lewat email ya”.

Gosh, that’s sooo yasterday. Yang membuatnya ketinggalan zaman adalah fakta bahwa kamu perlu buang-buang waktu untuk:

  1. membuka akun email kamu
  2. meng-attach file
  3. mengirim email
  4. kembali ke tab facebook untuk mengatakan pada teman kamu kalau filenya sudah kamu kirim
  5. teman kamu membuka alamat emailnya
  6. teman kamu membuka email dari kamu
  7. teman kamu men-download attachment
  8. teman kamu kembali ke tab facebook untuk bilang “thanks man, filenya udah gue terima

It’s a total waste of time. Coba kamu daftar & miliki akun dropbox (free up to 2 GB), lalu kamu download & install aplikasinya untuk Windows/Linux/Mac/iPhone kamu. Yang kamu lakukan:

  1. Copy file yang akan dikirim ke direktori dropbox/public
  2. Setelah filenya beres terupload ke server dropbox (begitu kamu paste filenya, dia akan otomatis di-upload) klik kanan, Dropbox > Copy public link
  3. Kembali ke tab facebook. Paste public link di wall yang kamu inginkan
  4. Teman kamu klik link yang kamu post, dan filenya langsung ter-download

A time-saver, huh? Kalau untuk mengirim file saja, kamu tidak perlu membuka akun email.

Daftar Dropbox, gratis hingga 2 GB storage disini.

5. Manfaatkan Google Docs

Kalau kamu sudah punya Google Account (atau akun gmail. Akun gmail = Google Account) kamu sudah bisa mengakses Google Docs. Pada dasarnya, Google Docs adalah office suite untuk document, spreadsheet, presentation, drawings & form (seperti Microsoft Word / PowerPoint / Excel) namun diakses melalui browser dan data-datanya dapat diedit secara kolaboratif dalam waktu bersamaan oleh beberapa orang.

Satu contoh kasus: beberapa hari yang lalu salah satu mata kuliah menugaskan saya untuk menyebarkan kuisioner ke teman-teman satu jurusan. Alih-alih membuat kuisioner secara konvensional, saya membuat form kuisioner via Form-nya Google Docs lalu menyebarkan link formnya untuk diisi kepada teman-teman satu jurusan via Facebook. Efisiensi penggunaan kertas, waktu dan tenaga.

Lihat contoh form yang saya buat disini

Daftar Google Account disini

Oke, untuk saat ini lima tips dulu. Ada tambahan, saran, komentar atau masukan?

The Google Generation

Written by Fikri Rasyid on July 11, 2010 filed under internet and tagged with , , , ,

trip to bali. goal taun 2009

sudah ingin ke Bali dari tahun 2009, ternyata di-pending satu tahun hingga tercapai. Well, setidaknya akhirnya tercapai :)

Jum’at tanggal 16 saya akan terbang ke Bali bersama seorang teman untuk mewakili Universitas Pendidikan Indonesia dalam speech competition yang diselenggarakan oleh PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) 2010 yang berlokasi di Universitas Mahasaraswati Bali. Untuk pembaca blog saya yang tinggal di Bali, mungkin kita bisa bertemu untuk ngobrol-ngobrol sambil melihat keeksotisan Bali. Kontak saja saya lewat form komentar / twitter :)

Sudah lama sekali saya berkeinginan untuk ke Bali tapi dengan usaha sendiri jadi kesempatan ini seperti dream comes true (again) ;) . Pemilihan wakil kemarin diselenggarakan dengan cara seleksi dan karena diselenggarakan untuk PIMNAS, jadilah saya membahas mengenai teknologi (lebih tepatnya Google – teknologi informasi) dan bagaimana kehidupan kita dipengaruhi olehnya. Eh ternyata Alhamdulillah lolos juga :p

Anyway, ini dia naskah speech yang saya gunakan saat seleksi kemarin. Kalau untuk lombanya sih beda lagi. Saya tulis sendiri. I hope it’d be useful for you. Di bawah teks aslinya turut saya sertakan terjemahannya, siapa tahu ada yang lebih suka menggunakan bahasa :)

Here it goes:

Read More

Ulasan Buku What Would Google Do

Written by Fikri Rasyid on July 4, 2010 filed under internet, Review and tagged with , , , , , ,

What Would Google Do - by Jeff Jarvis

Google is the true giant. Jika anda berkecimpung di dunia web, anda pasti akan langsung paham apa maksud saya. Google menggiring kita masuk ke era informasi dengan Google search-nya. Google dengan mau-tahu-sesuatu-googling-saja nya merubah pola pikir dan kebiasaan milyaran manusia kedalam mindset “Google pasti tahu apa yang aku cari”. Secara finansial, Google adalah perusahaan internet paling kaya. Mereka selamat dari dotcom crash yang meluluhlantakkan industri web di tahun 2000an. Alih-alih hancur, mereka menjadi semakin kuat. Selain Google Searchnya, sekarang mereka memiliki puluhan aplikasi web -dan terus bertambah- baik hasil inovasi engineer-engineer mereka maupun hasil akuisi mereka terhadap setiap “startup company dengan produk menjanjikan”.

Google merupakan “raja” informasi yang sesungguhnya. Bahkan kedigdayaan Microsoft di dunia desktop software pun tidak mampu membuat mereka sanggup menyaingi Google di bidang web dengan Bing-nya. Tidak heran, secara de facto Google dianggap “kiblat” bagi industri web. Setiap langkah mereka diawasi jutaan pemerhati dan penggiat web. Hal itulah yang membuat Jeff Jarvis, seorang jurnalis dan blogger senior, menulis buku yang sudah merebut perhatian saya sejak berbulan-bulan lalu: What Would Google Do? (Apa yang akan Google Lakukan?)

What this book is all about?

Di buku ini, Jeff mengulas tingkah polah Google dan mem-formulasikannya ke dalam suatu jalan pikiran dilengkapi dengan dialog nyata dengan para pelaku sejarah tersebut. A real kick ass book, a must read book. Apa tujuan Google menciptakan menciptakan begitu banyak aplikasi web yang sangat keren dan membuatnya dapat digunakan publik dengan gratis? Apa yang merubah landscape internet menjadi internet yang kita hidupi hari ini? Bagaimana Google menyikapi berbagai macam hal -yang membuatnya raksasa tunggal di dunia internet hari ini-?

Semua hal itu dibahas di What Would Google Do oleh Jeff Jarvis.

The keypoints

Ada banyak sekali poin menarik yang dibahas dalam buku ini. Terlalu banyak sehingga saya menyarankan anda membacanya langsung. Meskipun begitu, berikut ini beberapa keypoint yang sangat menarik perhatian saya:

Menciptakan produk saja tidak cukup, ciptakanlah platform

Platform yang memungkinkan agar pihak ketiga dapat berkreasi diatas produk anda dan membuat efek viral yang gila. Well, selain dilakukan Google dengan berbagai aplikasinya (let’s say Google Map – secara de facto menjadi default pengguna web untuk “peta dunia” dewasa ini karena dapat digunakan dan dikolaborasikan secara mudah), berbagai produk dari perusahaan teknologi terkemuka pun sudah melakukan hal ini – dan terbukti sukses. Lihatlah iPhone yang menjadi platform dari berbagai aplikasi yang didistribusikan AppStore-nya dan Facebook App yang mengizinkan pengembang pihak ketiga meciptakan social games dan berbagai aplikasi yang menjarah streamline facebook kita.

Tautan mengubah segalanya

Google tidak memproduksi informasi, ia mengorganisasikannya. Ia menghubungkan pencari jawaban kepada penyedia informasi. Tahukah anda bagaimana Google Search bekerja? Ia menyimpan sebuah copy dari semua halaman web yang ia mampu temukan, lalu me-ranking halaman-halaman tersebut berdasarkan algoritma PageRank-nya, yang salah satu variabelnya adalah hubungan antar tautan (link) dari satu website yang memiliki reputasi terhadap website lainnya. See? Siapa yang mengetahui anda menjadi jauh lebih bernilai daripada siapa yang anda ketahui dewasa ini.

The dead of mass media, The rise of mass of niches

Di episentrum ekonomi dunia, Amerika, media massa kini tengah mengalami masa-masa yang kritis. Berita perampingan struktur organisasi atau bahkan kebangkrutan mungkin sudah menjadi hal yang asing lagi. Generasi yang duduk manis menyaksikan televisi berjam-jam dan membiarkan dirinya dibombardir oleh informasi dan iklan sudah mulai uzur, dan generasi yang lebih proaktif -mencari alih-alih disodori, lebih mempercayai integritas independensi teman sebaya alih-alih rayuan gombal iklan- mulai muncul. Tautan menautkan mereka. Alih-alih menjadi satu “massa besar”, masyarakat -dengan bantuan internet- kini mulai menciptakan crowd mereka sendiri berdasarkan keyakinan, pandangan, atau kesamaan minat mereka. Massa menjadi lebih spesifik dan terpisah-pisah. Mass of niches instead of one big damned mass.

You have to be “searchable”

Sebagai implikasi dari tautan, semua hal yang penting harus searchable. Semua hal yang penting harus dapat dicari. Ingin mengetahui siapa gerangan pelamar kerja yang melamar ke perusahaan anda? Google saja namanya. Portofolio dan pola cerita kerja kerasnya yang muncul? Bagus. Kedunguan dan makian di social media yang mendominasi? Jangan buang waktu untuk menginterviewnya.

Transparansi

Era dimana segala sesuatunya harus dapat dicari bermakna sebaik apapun anda menyimpan kebobrokan, ujung-ujungnya pasti bocor ke publik juga. Produk yang jelek akan dihujat habis di internet melalui blog, tweets dan lainnya. Hal ini bermakna, anda harus menjadi autentik dan benar-benar bagus dalam artian sebenarnya – bukan sekedar bagus di iklan saja. Anda mungkin berujar “ah, itukan hanya blog dengan sejumlah kecil pembaca“. Tunggu dulu, di Internet, “efek bola salju” sudah bukan merupakan hal yang asing. Siapa yang menyangka remaja yang iseng-iseng memposting videonya bernyanyi di YouTube akan menjadi the next big thing (Justin Bieber)? Siapa yang menyangka keluhan Jeff Jarvis atas notebook Dell mampu menumbangkan pendapatan perusahaan tersebut yang menyebabkan revolusi manajemen di tubuh Dell yang kini lebih terbuka?

Berfikir terdistribusi, berfikir partisipasi, berfikir dengan cara open source

We are smarter than me. Google mendorong inovasi, yang mana kemungkinan gagalnya sama tingginya dengan kemungkinan berhasilnya. “Saya harap anda gagal lebih cepat agar anda belajar lebih cepat”, ujar CEO Google Eric Schmidt kepada karyawannya. Di banyak bidang di hari ini (kecuali bidang yang berkaitan dengan keselamatan jiwa tentunya), menunggu produk anda sempurna baru dirilis adalah blunder, jika tidak disebut tindakan bodoh. Buat inovasi, lempar ke publik (seperti Gmail dengan status beta-nya yang bertahun-tahun) dan biarkan Publik yang menguji produk anda. Dengarkan mereka, dan lakukan perbaikan secara bertahap atas saran dan masukan mereka.

Concluding thoughts

Wow, akan sangat sulit bagi saya untuk men-summary semua pandangan visioner Jeff Jarvis di What Would Google Do dalam sebuah blog post. Saran saya, segeralah ke toko buku terdekat dan beli buku ini (saya beli buku ini di Rumah Buku Bandung, sekitar 90ribuan waktu itu. Diskon, ;) ) lalu pahami bagaimana bentuk dunia di masa depan akan terbentuk. Pahami, lalu ambil tindakan. Sebelum anda terlambat.

Hope it helpful ;)

The Very First Google Event in Indonesia: Google Chrome Release Party

Written by Fikri Rasyid on June 28, 2010 filed under internet, Uncategorized and tagged with , , ,

Jakarta's Google Chrome Release Party

Jadi ceritanya, rabu tangal 16 kemarin saya mendapatkan e-mail ber subject “Undangan Peluncuran Produk Google” untuk selasa 22 Juni 2010. Holly smokes, is this for real? Awalnya saya agak ragu karena setahu saya tidak ada buzz mengenai “produk baru” Google. Anda tahulah, setiap kali Google merilis suatu produk, biasanya gaungnya akan menyebar ke sentaero web. Setelah Googling pun saya tidak mendapatkan informasi terkait apapun mengenai acara ini. Namun setelah saya melihat situs penyelenggara event dan melihat reputasinya (serta terpesona oleh logo Google, tentunya. Webworker mana yang tidak merasakan oh-my-goodness effect saat berhadapan dengan Google?), akhirnya saya melihat jadwal saya dan me-reply email untuk konfirmasi kehadiran saya.

Read More

Tandingan Penjual Voucher: Apakah Anda Sudah Lebih Baik Dari Penjual Voucher?

Written by Fikri Rasyid on April 24, 2009 filed under Analisa, internet, Review and tagged with , , ,

Mister Bacon Versus Monsieur Tofu by zoomar

Mister Bacon Versus Monsieur Tofu by zoomar

Hari keempat Kontes Berfikir Kritis NavinoT 2009. Dan ‘tantangan’ kali ini cukup unik: Mencari tandingan penjual voucher.

Yap, mencari tandingan penjual voucher.

Terdengar aneh? Haha, anda tidak sendiri. Jadi begini ceritanya, perhatikan ketika seseorang membeli voucher:  Datang, sebutkan barang yang diminta, bayar, beres. Betapa jelasnya. Tidak ada tawar menawar, tidak ada membandingkan spesifikasi produk. Nilai barang dan harga produk begitu jelas. Apa yang diberikan produsen dan dibayarkan konsumen begitu jelasnya.

Obviously clear.

Dan tantangan hari ini adalah membuat review produk, atau mungkin blog, yang dijual sehebat voucher: Kejelasannya yang membuat siapapun mengerti. Actually, membuat review relatif sederhana dan mudah. Yang agak menantang adalah mencari padanan yang seimbang untuk tukang voucher.

Awalnya, hanya BBM (Solar/Bensin/Pertamax) yang terpikir diotak saya. Bukankah komoditi tersebut sedemikian jelasnya sehingga apa yang kita tidak perlu bertanya-tanya mengenai apapun ketika membeli BBM?

Namun jika dipikir, agak janggal bila kontes yang diselenggarakan oleh Blog bertopik IT dan marketing berakhir dengan BBM sebagai padanan. Jadi saya sedikit memutar otak dan menemukan jawaban mengenai produk apakah yang sejelas atau bahkan lebih jelas dari voucher. Dan jawabannya ternyata familiar sekali:

Google Search.

Yep. menurut saya, google search adalah tandingan voucher ;) Bukankah begitu? Faktor kejelasan -kesederhanaan dan kemudahan- Google Search sangat memukau kita dan mayoritas pengguna internet di dunia. Sebelum adanya Google Search, mencari informasi di world wide web tidak pernah semudah mengetikkan kata kunci-tekan button search-dan voila!. Dengan segala ke-simple-an dan ke-to-the-point-an nya, Google Search menjadi salah satu produk terjelas -dan termenghasilkan- di ranah maya: Search Engine.

Dengan begitu, bukankah kejelasan Google Search menjadi tandingan sepadan untuk kejelasan penjual voucher?

How’s that sound?
;)

Karena saya banyak berbicara mengenai pengembangan diri dan kehidupan di blog ini, sebagai penutup mari kita sesuaikan konteksnya: Bagaimana dengan bisnis anda? Bagaimana dengan blog anda? Bagaimana dengan gaya komunikasi anda? Bagaimana dengan penampilan anda? Apakah ketika orang lain bertemu dengan anda, anda sudah sejelas penjual voucher dan Google Search dalam menyampaikan siapa anda, apa tujuan anda, apa yang dapat anda lakukan, apa yang anda inginkan dari mereka atau apapun itu kepada mereka?

Take a seat and let’s think back.

fikrirasyid.com dalam lebih dari 30 bahasa berbeda!

Written by Fikri Rasyid on September 29, 2008 filed under internet and tagged with ,

beberapa hari yang lalu, Google Translate menambah bahasa yang mereka support. beruntungnya, bahasa Indonesia termasuk dalam jajaran bahasa yang di support. hehe, untuk informasi lengkapnya, klik disini untuk lihat post tentang Google Translate oleh bloggingly.

Anyway, saya sudah memasang widget Google Translate di sidebar saya, sehingga anda bisa membaca fikrirasyid.com dalam 30 bahasa berbeda. silahkan di optimalkan :D

Enjoy! :D

Google sebagai translator

Written by Fikri Rasyid on May 29, 2008 filed under internet and tagged with ,

Well, melanjutkan postingan ini mengenai  free indonesian English translator, ternyata ada juga satu lagi translator mantap , dan saya jamin anda semua mengetahuinya. ya ya ya, berikan appaluse yang meriah untuk Om Google. Om – Om yang satu ini memang serba bisa :D . dari mencari halaman, mencari dokuman, melakukan operasi matematika, menjadi sumber penghasilan, menarik traffic, dan menterjemahkan bahasa.

Oke, ini mungkin bukan kabar baru, malah sudah tergolong basi . namun, saya percaya pasti ada saja rekan yang baru mengetahui hal ini sama seperti saya. hehe. :P

Oke, ini cara meminta bantuan Om Google untuk menterjemahkan kalimat yang kita inginkan.

ketik : “define: kata_kunci”

hasilnya memang tidak menterjemahkan dari kata bahasa inggris ke indonesia sih. namun Om google akan mencari definisi dari kata_kunci yang anda berikan. untuk lebih jelasnya, saya rasa pengalaman langsung akan lebih berkesan untuk anda. silahkan anda cobakan saja langsung.

selain mencari definisi dari kata_kunci yang anda inputkan, google juga bisa menterjemahkan paragraf atau bahkan halaman web langsung. namun sayangnya belum mensupport bahasa indonesia. Untuk mengakses fitur ini, anda bisa langsung berselancar ke http://translate.google.com

Oya, informasi tambahan untuk anda – anda yang masih newbie terhadap google, (seperti saya :P – red), saya menemukan satu blog menarik berbahasa pengantar bahasa indonesia yang semoga bisa memberi pencerahan untuk kita mengenai skill ber-google ria.

http://googlebasic.blogspot.com/

Well, have Fun with it! :)

Salam hangat,
Fikri