Posts tagged with Gaya Hidup :

Anak Muda Yang Keren

Written by Fikri Rasyid on April 11, 2011 filed under Pengembangan Diri, Personal and tagged with , , ,

Ada joke yang akhir-akhir ini saya dengar. Katanya, anak gaul jaman sekarang itu BBB: Berbehel, pake BlackBerry, dan B satu lagi entah saya lupa, haha. Intinya adalah, ada kecenderungan kalau kamu memiliki atau melakukan sesuatu, maka kamu itu keren. Stereotipnya:

  • “Kalo elu pake BlackBerry, elu keren.”
  • “Kalo elu ngerokok, elu keren.”
  • “Kalo elu punya pacar, elu keren.”
  • “Kalo elu pake mp3 player / handphone / laptop bermerek Apple, elu keren.”
  • “Kalo elu nongkrong di cafe mahal, elu keren.”

Dan banyak lagi “kalo elu bla-bla-bla, elu keren” lainnya. Pada dasarnya kamu bebas memiliki definisi sendiri tentang keren sih, it is your life anyway. Bagaimanapun, saya juga ingin berbagi apa yang saya anggap keren. This is my life anyway:

  1. Anak muda yang keren itu punya passion. Hidupnya ada tujuan, bukannya sekedar ke kampus – kuliah – pulang – karokean – tumblr-an – cepat-cepat lulus – biar bisa cepet dapet kerja doang.
  2. Anak muda yang keren itu punya dan mengekspresikan pendapatnya sendiri. Kalau dipikir jelek ya bilang jelek. Kalo bagus ya bilang bagus. Ngga takut berpendapat, dan ngga takut berbeda pendapat.
  3. Anak muda yang keren itu mandiri secara finansial. Udah gede masa ngga malu minta uang melulu sama orang tua.
  4. Anak muda yang keren itu banyak membaca. Karena kalau ngga banyak baca, sudah hampir pasti isi otaknya kosong. Ngomong-ngomong, banyak membaca disini bisa diganti juga dengan “memasukkan informasi ke dalam kepala”. Hal ini bisa berbentuk pengalaman, audio, visual, dll.
  5. Anak muda yang keren itu yang berkarya. Kalau hobinya musik ya buat musik yang keren. Kalau hobinya nulis ya buat tulisan yang keren. Kalau hobinya ngeblog ya ngeblog yang keren. Kalau hobinya menari tradisional ya menari yang keren. Kalau hobinya film, ya buat film yang keren. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Ada banyak hal lain yang (bagi saya) membuat seseorang menjadi sangat keren. Bagaimanapun, di tulisan ini saya hanya akan batasi hingga lima poin ini dulu saja: lima hal yang meskipun saat ini belum bisa dicapai secara sempurna oleh saya, tapi saya selalu mencoba mencapainya.

Buat kamu, anak muda yang keren itu yang seperti apa?

Gaya hidup minimalis

Written by Fikri Rasyid on September 25, 2010 filed under Kehidupan, Pengembangan Diri and tagged with , ,

Gaya hidup minimalis, sederhananya adalah meninggalkan semua yang “kurang penting”, meminimalkan “kebutuhan semu”, dan segala hal yang kita anggap perlu padahal sejatinya tidak. Saya tidak tahu apakah ada definisi pasti dari gaya hidup minimalis, namun saya pertama kali “bertemu” dengan konsep ini dari sebuah blog tentang minimalisme bernama mnmlist yang sangat mengagumkan dari Leo Babauta dan dia menuliskan gagasan mengenai gaya hidup minimalis dengan cara yang sangat-sangat membuat saya terkesima:

Stop buying unnecessary things.
Toss half your stuff, learn contentedness.
Reduce half again.
List 4 essential things in your life,
stop doing non-essential things.
Do these essentials first each day, clear distractions
focus on each moment.
Let go of attachment to doing, having more.
Fall in love with less.

Dalam kebanyakan kasus, hal yang rumit (complexity) itu menyebalkan – bahkan kerap memicu permasalahan yang tidak perlu. Dan dalam hampir semua kasus, yang membuat sesuatu rumit itu ya kita sendiri: kita merumitkan sesuatu yang sederhana.

Pertanyaannya, mengapa kita tidak membiarkan sesuatu yang sederhana itu tetap sederhana?

Dengan tidak mengadakan sesuatu yang sebenarnya memang tidak perlu diadakan.

Less, is less.

P.S.

baca juga tentang hal-hal yang sering ditanyakan seputar gaya hidup minimalis. It’s inspiring.

Membaca E-Book. Di Desktop atau di Print?

Written by Fikri Rasyid on December 1, 2008 filed under Analisa, Personal and tagged with ,

Akhir – akhir ini, saya mendapatkan banyak sekali e-book yang amat – sangat keren. Rata – rata 100 halaman lebih. Masalahnya adalah, saya masih merasa tidak nyaman membaca e-book via layar PC. lelah. Saya rasa radiasi layar dan Posisi duduk ikut mempengaruhi hal ini.

Akhirnya, saya mencoba mem-print dua e-book. Blog Profits Blueprint ( 69 halaman ) dan The Art & Science of CSS ( 200 halaman ). Wow, saya exciting sekali ketika keduaratus halaman buku tersebut selesai di print.

Tapi seketika, satu pikiran berkelebat di benak saya.

Saya adalah tipikal laki – laki yang ‘gatal’ jika melihat kertas polos. Namun saya selalu merasa bersalah ketika membuang – buang kertas. Membayangkan pohon – pohon ditebangi? Oh no. saya pecinta pohon. Saya amat menikmati hijaunya pepohonan yang ditimpa cahaya ramah matahari di pagi hari, dan selalu merutuki setiap pepohonan yang di tebang.

Terlebih lagi, saya percaya dengan faktor kali. Menghemat kertas mungkin hanya perkara kecil, tapi jika 6 milyar penduduk bumi concern dengan perkara kecil seperti “menghemat kertas” ini, dahsyat sekali membayangkan betapa banyak pohon yang di selamatkan.

Jadi, pilih mana?

baca e-book via screen PC? = Merusak Tubuh.
baca e-book hasil print? = Merusak Bumi.

Pilihan yang sulit. :(

Bagaimana menurut anda?

Silahkan sumbangkan pendapat anda, dengan semangat 2.0 :D

P.S. :

Pada akhirnya, saya menetapkan standar ganda : Baca di desktop e-book yang masih bisa saya baca via desktop (cukup pendek), dan Print e-book yang benar – benar saya butuhkan, dengan pertimbangan, jika e-book tersebut memang benar – benar baik, akan ada orang lain yang bisa mendapatkan manfaat dengan membacanya juga. Mengapa tidak beri versi digitalnya saja? Pengalaman yang lalu – lalu sih, e-book yang simply copy and paste, tidak terbaca :P