Posts tagged with Apple :

Ulasan OS X Lion

Written by Fikri Rasyid on November 26, 2011 filed under Review and tagged with , , , , ,

Mac OS X Lion 10.7

Awal bulan lalu, akhirnya saya memutuskan untuk meng-upgrade sistem operasi MacBook saya ke OSX Lion. Hal ini mungkin basbang sekali untuk sebagian orang karena sudah beberapa bulan silam Apple merilis varian terbaru dari sistem operasi untuk Macintosh-nya. Bagaimanapun, saya memiliki alasan saya sendiri untuk ‘menunda’ dan tidak menjadi early adopter untuk hal ini :p

Setelah dua pekan lebih menggunakannya, berikut ini beberapa fitur dan hal yang cukup menarik perhatian saya:

Read More

Apel di Samudra Biru

Written by Fikri Rasyid on October 14, 2011 filed under Entrepreneurship and tagged with ,

The Apple Way

Command line? Gunakan graphical user interface. Serta merta semua PC menggunakan GUI.

Susah mencari musik digital legal? iTunes + iPod, music on your fingertips.

Masih membanding-bandingkan harga dan hardware? Kamu tidak perlu memikirkan itu, yang kamu pikirkan adalah menyelesaikan pekerjaan kamu, getting your stuff done. We’re building an insanely great machine for it, you don’t need to mind other thing. Trust us.

Read More

Selamat Jalan, Steve Jobs

Written by Fikri Rasyid on October 6, 2011 filed under Kehidupan, Quote and tagged with , ,

Hari ini Steve Jobs wafat. Para raksasa di industri teknologi ikut berkabung bersama dengan jutaan orang yang terinspirasi dan terbantu oleh gagasan, karya dan sepak terjangnya.

Wired in Remembering Steve Jobs

No one wants to die. Even people who want to go to heaven don’t want to die to get there. And yet death is the destination we all share. No one has ever escaped it. And that is as it should be, because Death is very likely the single best invention of Life. It is Life’s change agent. It clears out the old to make way for the new. Right now the new is you, but someday not too long from now, you will gradually become the old and be cleared away. Sorry to be so dramatic, but it is quite true.

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.

Steve Jobs on Stanford Commancement Speech, 2005

Steve Jobs meninggal setelah tujuh tahun menderita kanker pankreas yang umumnya penderita penyakit tersebut hanya akan bertahan selama beberapa bulan. Selama waktu tersebut, ia memimpin tim yang menciptakan groundbreaking product yang menggeser landscape industri teknologi. iPhone, iPad, AppStore, you name it.

Ketika kamu berpulang, karya apa yang akan kamu tinggalkan? It’s our turn now.

Last Night on Earth

Written by Fikri Rasyid on September 17, 2011 filed under Quote and tagged with , , , ,

Walt Mossberg and Steve Jobs

Pengagum Steve Jobs? Sudah membaca tulisan sangat lengkap mengenai Steve Jobs dari Gizmodo berjudul The Life of Steve Jobs? Saya sudah baca artikel ini dari beberapa minggu yang lalu, namun baru sempat mengutipnya di blog ini sekarang. Ada satu fase kehidupan Steve yang ditulis pada artikel tersebut yang sangat menarik untuk saya:

1990

About this time, Jobs meets Laurene Powell, when he speaks at a class at Stanford business school. They exchange numbers. Jobs had a business dinner that night. ”I was in the parking lot, with the key in the car, and I thought to myself, If this is my last night on earth, would I rather spend it at a business meeting or with this woman? I ran across the parking lot, asked her if she’d have dinner with me. She said yes, we walked into town and we’ve been together ever since.”

Salah satu alasan saya mengagumi Steve Jobs adalah karena kemampuannya mengidentifikasi sesuatu yang penting dan tidak penting (penting dan tidak penting bagi setiap orang berbeda, CMIIW). Defining what’s essential. Pantas saja produk-produk-nya Apple bisa seindah ini :)

Being the richest man in the cemetery doesn’t matter to me … Going to bed at night saying we’ve done something wonderful… that’s what matters to me.” [Steve Jobs - The Wall Street Journal, May 25, 1993]

Welcoming The iPad 2

Written by Fikri Rasyid on September 2, 2011 filed under Produk and tagged with , ,

The MacBook Pro & iPad 2. Adik kakak dari oom setip.

I’m a lucky guy. Akhir ramadhan lalu satu lagi keluarga buah-buahan yang direncanakan baru bisa terbeli akhir tahun ini berhasil dijemput pulang dari EMAX BIP untuk membantu saya melakukan hal-hal keren yang saya hendak lakukan. Selamat datang, iPad 2. Selamat juga kepada MacBook Pro yang sudah saya eksploitasi habis-habisan dengan sedikit sekali jeda sejak januari lalu: akhirnya kamu beradik juga. Ini artinya beban yang saya biasa tumpahkan ke kamu sedikit banyak terbagi ke adik kamu :D

Kenapa Tablet?

Karena dalam konteks tertentu, MacBook Pro terlalu berat untuk dibawa-bawa dan kurang praktis untuk diakses. Bagaimana dengan Galaxy Mini? Seiring dengan waktu, saya belajar satu hal tentang smartphone:

Se-smart apapun label sebuah mobile phone, kalau batrenya habis jadi dumb juga.

Minus terbesar sebuah smartphone yang selalu connected ke jaringan internet adalah daya tahan baterai. Baterai Galaxy Mini dengan cara penggunaan saya hanya bertahan sekitar 6 – 10 jam. Lepas enam jam, panggilan / sms penting tidak bisa masuk kecuali saya bawa charger dan menemukan power outlet yang mana agak kurang praktis rasanya.

Saya pikir adalah sebuah ide bagus bagi saya untuk memisahkan fungsi ponsel dan fungsi device untuk browsing. Disini iPad merupakan jawaban untuk kebutuhan ini. Dilain pihak, browsing dan mengetik menggunakan layar kecil handphone itu kurang nyaman juga sih.

Kenapa iPad 2?

Kenapa bukan android based tablet?

Karena bagi saya, iPad memiliki aplikasi dan user experience yang lebih baik daripada android based device. Ekosistem aplikasi dan mekanisme pembelian aplikasi legalnya pun lebih mudah: saya sudah punya Apple ID yang sering saya gunakan untuk membeli Mac Apps. Saya tidak terlalu perduli mengenai open / closed environment yang akhir-akhir ini cukup menjadi drama di linimasa twitter selama performa-nya oke. Jika closed environment terbukti bekerja lebih baik, apa salahnya? CMIIW, tapi saya pribadi merasa environment android terlalu ‘hacker minded‘ (tidak sesederhana iOS – saya malas ngulik sih :p) dan terlalu fragmented.  :(

Untuk Apa iPad 2?

Setiap orang memiliki kebutuhan berbeda. Dalam kasus saya, yang ada di benak saya ketika memutuskan untuk menenggelamkan dana hasil kerjaan freelance ke device baru ini adalah:

  • Mobile browsing
  • Email-ing
  • Note taking / light computing
  • Tweeting & gaming (saya membaca tulisannya Seth Godin mengenai two-device solution karena menurunnya fokus saya beberapa waktu lalu dan penasaran untuk mencoba memisahkan device untuk bekerja dan device untuk rekreasi. It’s about mind shifting. Jadi sekarang Mac is all about working, finishing and organizing stuffs while the iPad can be used for fun stuffs)
  • Reading. Bisa sih membaca di Mac, tapi ya harus sambil duduk. Bisa sambil bermanuver gogoleran kesana kemarin tapi rasanya aneh.
  • Music producing. Sudah download dan mulai ngulik GarageBand for iPad. Untuk musician-wannabe seperti saya, IT’S UBER AWESOME. \m/
  • Dan berbagai kebutuhan mobile computing lain. Lebih ke content consumption dan hiburan sih saya rasa. Anyway, iPad ini juga saya gunakan untuk membiasakan diri dengan platform iOS. Intuisi saya berkata ada banyak opportunity di platform ini. I better get used to it.

Price I Have To Pay

Saya punya satu aturan yang bekerja dengan cukup baik ketika kali menginginkan sesuatu: saya harus tahu dengan jelas mengenai apa yang saya inginkan, terlebih lagi biaya yang harus disiapkan. Beberapa dari kamu mungkin sama seperti saya beberapa bulan kebelakang, ngebet sekali dengan iDevice ini.Saya berbagi informasi ini dengan niatan semoga berguna untuk kamu sebagaimana informasi ini berguna untuk saya. Here’s the info:

IPad 2 16 GB 3G di EMAX BIP

IDR 5.9jt-an. Pembelian dengan menggunakan credit card kena charge 3%. Anyway, EMAX BIP ini Apple reseller paling lengkap, terjangkau dan memuaskan pelayanannya di Bandung. Di Zoom / eStore harganya agak naik.

IPad 2 Cover entah apa mereknya ini saya sudah lupa

iPad cover

IDR 325,000 beli di Dukomsel. Smart cover keluaran Apple ini keren sekali, namun entah mengapa saya merasa kurang nyaman meninggalkan bagian belakang iPad tanpa perlindungan. Third party cover lain yang dijual di EMAX harganya cukup tinggi sekali untuk sebuah cover, antara 500rb – 800rb -___- . Jadi ketika saya mampir ke Dukomsel untuk membeli Micro-simcard dan menemukan cover yang cukup oke, saya beli saja.

Micro-simcard XL

IDR 50,000 di Dukomsel, Sebenarnya Micro-simcardnya habis, tapi untungnya sang mbak-mbak bilang jika mereka punya alat pemotong simcard normal. Yasudah tak beli saja. Untuk koneksi saya percayakan kepada paket langganan data XL 1 GB (setelah direkomendasikan oleh teman-teman di Twitter) untuk iPad seharaga IDR 100ribu sebulan yang sejauh ini performanya cukup oke. Harga sejumlah itu kurang lebih sama dengan paket data telkomflash yang saya gunakan untuk Galaxy Mini yang mana Sekarang saya bisa mematikan paket data tersebut. Sekarang baterai handphone jadi kuat: dua hari untuk sekali charge :D

Kesimpulan Sementara

Saya baru menggunakan iPad 2 ini selama beberapa hari namun experience-nya menyenangkan sekali. Ulasan pemakaian dan apps yang sudah saya unduh akan saya bahas di tulisan yang berbeda. :)

Anyhow, ingat aturan pertama dalam membeli barang / gadget:

HARUS BALIK MODAL. Jika keluar uang sekian juta untuk gadget A, gadget A tersebut harus bisa membantu menghasilkan minimal sejumlah sekian juta yang dikeluarkan. Idealnya bisa membantu menghasilkan lebih dari sejumlah itu sih.

Itu dulu, keep on dreaming and working fellas! :D

P.S. Here’s The Important Stuff:

gambar iPad di pojokan kamar

Gambar iPad yang saya tempel di dekat meja kerja saya. Setiap ingin sesuatu, saya sering letakkan gambarnya di tempat yang mudah terlihat. Alhamdulillah biasanya kesampaian, meskipun waktu tercapainya hanya Tuhan yang tahu pasti.

People Who Inspire You #1

Written by Fikri Rasyid on May 24, 2011 filed under Pengembangan Diri and tagged with , , , , , , , , ,

Jadi ceritanya saya membaca tulisan teman saya @aditryan tentang orang-orang yang menginspirasinya dan rasanya bagus juga kalau saya membuat daftar yang sama. Semua orang mempengaruhi dan dipengaruhi, siapa tahu mengetahui orang yang gagasannya mempengaruhi dan menginspirasi saya ada manfaatnya buat kamu.

1. Matt Mullenweg

Matt Mullenweg

Di tahun 2003 (usia 19 tahun) dia mulai mengembangkan WordPress, content management system / blogging software berlisensi GPL dan berkode terbuka, dari proyek b2/cafelog yang dihentikan pengembangannya. Delapan tahun kemudian, WordPress digunakan oleh 12% website yang ada di muka bumi, memudahkan jutaan orang dalam mempublikasikan ide di penjuru world wide web dan menjadi landasan dari berbagai produk dan layanan komersial yang menghidupi entah berapa puluh ribu keluarga. Di tahun 2005 mendirikan Automattic, perusahaan yang membidani WordPress.com, akismet, dan berbagai layanan lainnya. Muda, idealis dan secara signifikan memberi berkontribusi nyata untuk kemaslahatan masyarakat dunia melalui apa yang bisa dia lakukan.

Usage is like oxygen for ideas.
-1.0 is the Loneliest Number, November 2010

2. Mark Zuckerberg

Mark Zuckerberg

picture by cellanr

Pendiri Facebook: tidak perduli apa yang tidak penting, melakukan apa yang dia anggap penting dan fokus. Percaya bahwa apa yang dia lakukan bisa merevolusi tatanan sosial dan cara orang berinteraksi. Minimalis. Cepat. Secara kontinyu mengarahkan hasil karyanya ke dalam bentuk yang lebih baik. Sadar kalau fitur / layout Facebook secara berkala berubah / bertambah? Yap, Facebook merupakan salah satu raksasa web yang paling progresif dan cepat. Zuckerberg is the CEO.

The thing that we are trying to do at facebook, is just help people connect and communicate more efficiently.

3. Steve Jobs

Steve Jobs

picture by Ben Stanfield

Salah satu CEO paling legendaris di muka bumi: dia mendirikan Apple bersama Steve Wozniak di tahun 1970an, dipecat dari perusahaan yang didirikannya sendiri di tahun 1984 karena bersengketa dan berbeda pendapat dengan investor, dan satu dekade kemudian kembali memimpin Apple serta menyelamatkannya dari jurang kebangkrutan dan menjadikannya perusahaan paling profitable dalam dekade ini: Merevolusi dunia komputer dengan Macintosh, merevolusi industri musik dengan iPod dan iTunes, merevolusi dunia telepon genggam dengan iPhone dan merevolusi dunia post-PC device / tablet PC dengan iPad. Buat sebagian orang, Steve Jobs merupakan diktator egomaniak yang menginginkan kontrol atas segala hal yang diproduksinya. Buat saya, Steve Jobs merupakan jenius yang membuktikan bahwa satu orang dengan visi yang jelas dan karakter yang kuat bisa “menggeser” dunia.

We’re gambling on our vision, and we would rather do that than make “me too” products. Let some other companies do that. For us, it’s always the next dream.
- Interview about the release of the Macintosh (24 January 1984) – (online video)

I was worth about over a million dollars when I was twenty-three and over ten million dollars when I was twenty-four, and over a hundred million dollars when I was twenty-five and it wasn’t that important because I never did it for the money.
- Interview in the PBS documentary Triumph of the Nerds: The Rise of Accidental Empires (1996)

We used to dream about this stuff. Now we get to build it. It’s pretty great.
- Keynote address at the w:Worldwide Developers Conference (June 2004)

***

Itu tiga dulu. Nanti saya tambah lagi :)

Anyway, siapa orang yang menginspirasi kamu?

Harga Yang Sebenarnya

Written by Fikri Rasyid on April 24, 2011 filed under Culture, Pengembangan Diri and tagged with , , , , , , ,

Banyak dari kita yang lebih fokus kepada harga alih-alih manfaat / nilai tambah (Saya juga kadang-kadang seperti ini sih, jadi ini sebagai self-note & pengingat juga). Contoh: sejak saya menggunakan MacBook Pro, entah sudah berapa banyak komentar seperti “Wah, laptop mahaaal, keren!” atau “Iya asik sih, tapi mahal euy” yang saya dengar. Ya, memang harga MacBook Pro sedikit diatas harga kebanyakan laptop, meskipun jika dibandingkan dengan laptop dengan spesifikasi sejenis sebenarnya harganya tidak akan terlalu jauh-jauh amat. Tapi coba pikirkan nilai tambah yang sebenarnya:

  1. Tidak ada / jarang sekali ada virus yang menyerang OS X (OS-nya MacBook Pro)
  2. Jarang sekali crash. Hell yeah, siapa yang tidak muak dengan notification popup “this application is not responding?
  3. Daya tahan baterai sampai enam jam.
  4. Kualitas layar lebih tajam, membuat mata tidak cepat letih jika berada di depan notebook berlama-lama (saya jika sudah di depan notebook bisa 4 – 6 jam-an)
  5. Kualitas dan User Interface aplikasi yang jauh lebih “menyegarkan”, well-designed dan intuitif dibanding OS lain.
  6. Respons yang cepat dan responsive
  7. Booting time OS yang cepat. Mode sleep yang sangat oke. Kalau device tidak digunakan untuk durasi pendek, katakan 1 – 2 jam, tidak perlu shut down melainkan tutup saja layarnya sehingga masuk ke mode sleep. Kalau hendak digunakan tinggal buka layarnya. Fitur ini entah sudah menyelamatkan berapa banyak waktu saya.
  8. Aplikasi-aplikasi yang bekerja dengan sangat terintegrasi satu sama lain. Contoh: iMovie (aplikasi video editing) dapat mengakses library iPhoto (photo manager) dan sebaliknya. Membuat waktu yang digunakan menjadi lebih efisien.

Sekarang pikir lagi: harga IDR 11.6jt (Januari 2011) yang saya keluarkan untuk device ini memang cukup pain in the ass. Mengumpulkan dana sebegitu untuk saya juga bukan perkara mudah: mengerjakan kerjaan freelance, penambahan jam kerja, penyunatan “dana lain-lain” yang saya lakukan sampai memakan waktu berbulan-bulan dll. Tapi coba pikirkan nilai atau “value” yang saya selamatkan:

  1. Entah berapa jam / menit waktu yang terbuang dari OS / Aplikasi yang crash, memindai virus, respons aplikasi yang nge-lag dan booting time software saat dinyalakan karena jika di-sleep suka ngaco saat di-wake up seperti yang terjadi di OS / notebook lain.
  2. Stamina yang lebih terjaga karena kenyamanan dan tidak cepat capek saat berada di depan notebook.
  3. Karya-karya kreatif yang dapat diciptakan dengan bantuan software / aplikasi yang tersedia

Konversikan peluang, waktu dan stamina yang dapat diselamatkan ke produktifitas. Jika dengan mengeluarkan biaya IDR 11.6 jt saya bisa mendapatkan lebih banyak peluang untuk menghasilkan karya yang nilainya jauh diatas IDR 11.6jt itu, damn i’ll do it. Damn I’ll find a way for it. Ibu saya sering bilang:

Hidup mah sederhana saja, tapi untuk produktifitas jangan takut mengeluarkan uang.

Saya tidak terlalu perduli dengan converse belel yang sudah saya gunakan selama bertahun-tahun, atau outfit itu-itu saja yang membuat saya terlihat begitu-begitu saja. Saya juga tidak terlalu perduli dengan hangout di cafe-cafe “gaul” atau nonton film-film terbaru di bioskop. Tapi menggunakan device / OS yang menghabiskan waktu dan produktifitas?

Damn i care, it’s torturing me.

Lihat harga yang sebenarnya, bukan sekedar harga yang tertera di price tag. Kalau cukup berharga, kenapa tidak kamu perjuangkan?

P.S.

  • Terpikir untuk menulis ini setelah melihat orang terdekat saya harus disusahkan dengan this-application-is-not-responding-nya OS jendela. Berkali-kali.
  • Jika ada metafora / ungkapan yang terkesan arogan pada tulisan ini, saya mohon maaf. Saya hanya selalu berusaha untuk menyajikan argumen sejelas mungkin.
  • Niat saya menggunakan MacBook sebagai contoh malah jadi terkesan promosi. I know, maafkan penyakit pengguna mac ini -__-
  • Kalau kamu punya pendapat berbeda, silahkan sampaikan di kolom komentar secara santun. Mari berdiskusi. :)

The Apple Effect

Written by Fikri Rasyid on January 31, 2011 filed under Bisnis, Entrepreneurship, Pengembangan Diri and tagged with , , ,

If you are awesome enough, you don’t need to chase the money. Instead, the money will chase you. Stop focusing yourself on chasing money and focusing yourself on being awesome instead.

Me

Hari sabtu minggu kemarin saya mengikuti acara WordCampID (acara kumpul-kumpul penggemar dan pengembang WordPress Indonesia) yang diselenggarakan di hotel Bumi Sangkuriang. Selain WordPress yang menjadi topik bahasan di stage dan di acara networking, ada satu hal lain yang terasa sekali disana: MacBook bertebaran di meja-meja.

Ini di satu meja saja ada 4 macbook white. Kalikan 20-an meja.

Sore hari ketika acara selesai, Bei, seorang teman bertanya kepada saya:

Ki, memang enaknya pake Mac apa sih?

Saya agak bingung menjelaskannya. Ada banyak sekali hal yang membuat saya menyukai Mac. “Pokoknya enak banget deh“. Teman-teman semeja yang juga penggunakan Mac (@bepitulaz, Syarif Yunus & Fajar) mengiyakan kalimat saya. “Susah mau ceritanya, tapi pokoknya enak BANGET deh“.

Selama lima belas menit kemudian, saya dan tiga kawan tadi sibuk bercerita -menjurus ke arah meyakinkan bak sales, sih- bagaimana enaknya menggunakan Mac pada Bei.

Ditengah-tengah obrolan kita itu, saya jadi teringat seorang klien yang dulu juga dengan semangatnya bercerita kepada saya betapa enaknya dan apa saja keuntungan menggunakan Mac (saat waktu itu saya belum menggunakan Mac). Heck, saya jadi menyadari, apa semua pengguna Mac (yang mana kebanyakan terpuaskan) pada akhirnya berubah menjadi evangelist Mac seperti saya, tiga teman saya dan klien saya lakukan? Ketika seorang pelanggan sangat terpuaskan terhadap suatu produk, secara otomatis mereka menceritakan pengalaman menyenangkan -menjurus meyakinkan- temannya atas kekerenan suatu produk. Gila-nya, pelanggan tidak dibayar untuk menceritakan produk tersebut. Mereka melakukannya dengan suka rela, bahkan dengan suka hati, dengan semangat 45.

If you are awesome enough, you don’t need to chase the money. Instead, the money will chase you. Stop focusing yourself on chasing money and focusing yourself on being awesome instead.

Me

Seminggu Bersama Macbook Pro

Written by Fikri Rasyid on January 15, 2011 filed under Produk and tagged with , , , ,

Sudah seminggu saya menggunakan MacBook Pro. Damn it feels awesome. Mungkin euforia saya juga sih ya, sudah dua tahun lebih saya menginginkan benda ini: mulai dari menggambarnya secara sadar / tidak sadar di catatan-catatan kuliah, menempelkan gambarnya di tempat-tempat yang mudah terlihat, menjadikannya resolusi 2010 yang mana tidak tercapai, hingga menjadikannya resolusi 2011 yang tercapai di tanggal tiga januari 2011 dengan cara yang tidak terlalu diduga. Epic.

Anyway, menggunakan Mac ini asyik sekali. Pengalaman menggunakan sistem operasi Windows XP, Windows 7, Windows 7 Starter, Ubuntu 10.04 dan Ubuntu 10.10 membuat saya memiliki kekaguman tersendiri dengan notebook & sistem operasi ini:

Windows populer dan kompatibel dengan banyak device. Tapi kerentanan terhadap virus membuat saya antipati dengan OS ini. Untuk mengamankan data dari virus, user harus menginstall berbagai macam security tools yang ujung-ujungnya merepotkan: Performa PC melambat, fokus malah jadi ke mengurusi PC daripada produktifitas.

Ubuntu (linux based OS) aman dari virus namun masih terhalang masalah kompatibilitas. Contoh: driver printer, ketersediaan font & aplikasi, dll. Yang paling terasa adalah ketika membuka file .doc / .docx yang formattingnya kompleks dengan office suite Open Office. Wah, kacau deh. Saya selalu menyarankan orang menggunakan Ubuntu, namun jika tidak punya koneksi internet yang cukup kencang sebaiknya pikir-pikir lagi. Belum lagi interface yang meskipun lebih cutting edge daripada Windows namun sedikit tampak kurang well-designed pada detail.

OS X (Macintosh) memiliki keunggulan dan menutupi kekurangan dari keduanya: (relatif) aman dari serangan virus dan kompatibilitasnya tinggi. Jika ditilik dari sudut pandang saya sebagai front-end web-developer yang bekerja dengan tampilan website (mengharuskan saya memastikan tampilan situs yang saya kerjakan baik di berbagai major browsers dan berbagai sistem operasi) dan mahasiswa yang banyak berurusan dengan data & formatting-nya, ini sangat menguntungkan.

BTW, diluar poin-poin diatas, Mac masih memiliki banyak sekali keunggulan yang membuatnya sangat menyenangkan saya:

  • User interface yang indah dan konsisten. Membuat saya mudah dan betah mengoperasikan berbagai aplikasi. Belum lagi sistem manajemen antar window-nya membuat bekerja dengan beberapa window sekaligus menjadi lebih efisien.
  • Hardware yang solid. Setiap hal yang ada di Mac ini rasanya dibuat dengan perhatian yang sangat besar terhadap setiap detailnya.
  • User interaction yang intuitif. Terima kasih kepada touchpad dan multi touch gesture-nya, saya jarang sekali menggunakan mouse sekarang. Saking enaknya, menggunakan touchpad notebook lain jadi terasa aneh.
  • Power management yang oke. Baterai tahan lebih dari 6 jam + sleep mode yang efisien. Tutup screen, mac langsung sleep. Buka screen langsung aktif dalam waktu kurang dari dua detik.
  • Built-in dictionary! OMG, sebagai mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris, fitur ini keren dan berguna sekali.
  • Kompatibilitas dan support terhadap berbagai device yang sangat keren. Saat saya ngeprint salah satu tugas kuliah saya beberapa hari yang lalu, tidak perlu install driver dan tinggal koneksikan printer lalu tekan command + P. Awesome. P.S: ini saya lakukan dengan keadaan terhubung dengan internet.
  • Ini mungkin hanya perasaan saya saja, tapi mengakses wifi di kampus dengan Macbook Pro terasa lebih mudah daripada dengan Inspiron Mini saya.
  • Aplikasi-aplikasi yang sangat keren dan intuitif. Beberapa diantaranya bahkan sudah di-bundle dengan Mac. Dengan iPhoto, iCal, iTunes, Ommwriter, dll. Satu catatan tambahan: aplikasi yang diciptakan untuk Mac terasa berbeda dengan aplikasi yang dibuat untuk OS lain. Fungsionalitas dan estetikanya terjaga sekali.

Saya bisa terus melanjutkan kekaguman saya terhadap Mac hingga tulisan ini menjadi terlalu melelahkan untuk dibaca, namun intinya adalah damn i love this notebook. Memang ada juga kurang oke-nya sih, seperti masih perlu membeli VGA connector untuk menyambungkan Mac ke projector, membuat saya enggan untuk menggunakan produk yang tidak legal (kalau yang ini sih sebenarnya bagus. haha), perlu membiasakan diri dengan cara pengoperasiannya (command alih-alih control – membuat saya agak kikuk jika harus menggunakan PC), dan lain-lain. Tapi dengan berbagai kelebihannya, kekurangan tadi jadi tertutupi. :)

Ohya, yang sangat penting dari Mac ini sebenarnya bukan pada Mac-nya, tapi pada saya-nya. Lebih dari satu tahun saya menginginkan device ini. Mendapatkannya dari hasil usaha saya dan bantuan orang-orang yang saya percayai (bukan dibeliin orang tua seperti anak muda pada umumnya) membuat saya semakin percaya kalau saya cukup berusaha, yakin dan dapat dipercaya, saya bisa mendapatkan apa yang saya mau dengan seizin Yang Kuasa.

Berkeinginan, yakin, berdo’a, berusaha, berusaha, berusaha, lalu pasrah kepada Yang Maha Menentukan.

Kadang-kadang kita berdo’a ingin sesuatu tahun ini tapi dikabulkannya tahun depan.

Kadang-kadang do’a itu dikabulkan dengan cara yang tidak kita duga dan prediksikan sebelumnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kamu dan semoga yang berkeinginan untuk memiliki Mac sesegera mungkin tercapai keinginannya untuk segera memiliki Mac. We’ll be brother-in-mac. :p

Amin.

Selamat berkeinginan dan berusaha ;)

Mengawali Tahun 2011

Written by Fikri Rasyid on January 8, 2011 filed under Personal and tagged with , , , , ,

Tidak terasa, sekarang sudah tahun 2011 saja. Beberapa orang memilih tidak membuat resolusi atau cita-cita atau apapun lah itu namanya, tapi saya pribadi lebih pilih membuat banyak cita-cita. Lima dari sepuluh cita-cita tercapai jauh lebih baik daripada tidak mencapai apapun.

Saya sudah membuat sejenis resolusi di awal tahun baru hijriah kemarin di tumblr saya, tapi apa salahnya melakukan pembaruan untuk versi masehi-nya? So, here we go. Ini dia hal-hal yang saya ingin capai tahun ini:

  • MacBook Pro
  • iPhone 4
  • Karimun Jawa Trip
  • Being Cyclist
  • Nulis lagu, rekaman, nge-gig
  • Realizing what my passion is
  • Menerbitkan buku
  • Ngeblog dalam bahasa inggris
  • Being minimalist
  • Monthly income di angka antara 5 – 10jt. Yang namanya cita-cita itu lebih baik jika spesifik.
  • Mengajar. Entah mengajar CSS, theme development, atau Bahasa Inggris.
  • Mengurangi penggunaan produk bajakan.
  • Project PMW berjalan lancar dan dana PMW bisa beres dikembalikan di akhir tahun 2011
  • Membuat video podcast
  • Berteman dengan banyak orang hebat yang bisa meningkatkan kapasitas kepribadian saya
  • Produce more, consume less
  • Berpergian dengan teman-teman terdekat
  • Secara konstan keluar dari zona nyaman dan memulai hal-hal baru yang diluar kebiasaan
  • Menghilangkan kebiasaan lima-menit-lagi-ah.
  • Menjadi lebih teratur

Pada dasarnya masih banyak yang saya ingin lakukan, tapi yang teringat baru itu. Nanti akan saya update lagi. Ohya, beberapa pekan yang lalu saya menemukan webapp 43things, webapp listing target yang ingin dicapai dalam hidup. Saya me-listing apa-apa saja yang saya ingin capai disana: http://www.43things.com/person/fikrirasyid :)

***

Saya jadi ingat, dulu mentor saya pernah menganjurkan saya untuk membuat semacam celengan yang dinamakan “kotak impian“. Bentuknya persis celengan namun yang dimasukkan bukan uang melainkan kertas-kertas kecil yang berisi apa yang kamu ingin capai. Nanti selang beberapa tahun, buka kotaknya dan lihat apa saja yang sudah tercapai.

Kebiasaan itu berlangsung beberapa saat tapi sekarang tidak lagi. Saya lebih cenderung meletakkan gambar / menulis / menggambar hal-hal yang saya inginkan agar visualisasinya lebih jelas. Hasilnya?

Yep, the MacBook Pro. Salah satu resolusi saya di tahun 2011 tercapai, di hari ke-3. Thank God :)

Sekarang saya bisa dengan bahagia mencoret salah satu “resolusi” saya ;)

  • MacBook Pro

Oke, itu cerita saya tentang tahun 2011 dan beberapa target saya untuk tahun ini. Apa target kamu untuk tahun 2011? Ditunggu di kolom komentar ya :)

Man, alone, has the power to transform his thoughts into physical reality; man, alone, can dream and make his dreams come true.

Napoleon Hill

Background image titled Happy New Year… is courtesy of Biscarotte