Masyarakat Komunal Yang Egois
Masyarakat Indonesia itu masyarakat komunal. Apa-apa inginnya ramai-ramai. Apa-apa inginnya bersama-sama. Susah bersama. Senang bersama. Sampai korupsi pun bersama.
Anehnya, seperti yang didiskusikan oleh @revolutia di twitter, penyakit mental utama masyarakat kita itu malah egoisme.
Tidak percaya? Lihat lah pengendara motor yang menggunakan badan jalan yang bukan haknya atau malah trotoar. Lihat lah pengemudi angkot yang seenaknya berhenti dan menyebabkan kemacetan. Lihatlah pengguna fasilitas publik yang seenaknya merusak properti publik. Lihatlah pejabat publik yang mengkorupsi dana negara. Lihatlah mahasiswa mampu yang mengambil jatah beasiswa mahasiswa miskin. “Yang penting urusan gue beres”, ujar kita.
Fenomena ini, bagi saya, mengindikasikan dua hal: ada yang salah dengan masyarakat kita dan sistem pendidikan kita gagal menanggulanginya. Sistem pendidikan kita terlalu sibuk mengurusi teori dan angka. Mental dibiarkan porak poranda.
Sekarang pertanyaannya, bagaimana cara kita mengatasinya?

Eki
20 August 2010
Kita – dan banyak orang lain di luar sana – mempunyai perasaan yang sama tentang hal-hal ini. Kita semua gundah.
Malaysia juga masyarakat komunal. Singapura juga. Komunitas-komunitas Asia umumnya juga komunal. Tapi tidak semua komunitas yang komunal mempunyai penyakit-penyakit seperti ini. Barangkali ini ada hubungannya dengan ketiadaan hukum di negeri ini. Hukum telah dibunuh oleh para pengampunya sendiri.
Pendidikan tidak salah juga. Pada masyarakat yang kacau, pendidikan pun akan kacau karena pendidikan hanya salah satu fungsi dalam masyarakat. Dia bukan menara gading yang steril dari nilai-nilai di dalam masyarakatnya. Dia bisa memengaruhi, tapi juga sangat dipengaruhi oleh masyarakatnya.
I like your blog’s new design.
Fikri Rasyid
20 August 2010
Yap, ini paradoks sekali sebenarnya, masyarakatnya komunal tapi individunya egois.
Pendidikan sudah barang tentu refleksi dari masyarakat karena penyelenggaranya sendiri merupakan bagian dari masyarakat. Bagaimanapun, saya meyakini peran pendidikan sebagai “kiblat” dan “alat” perkembangan masyarakat sehingga idealnya, pendidikan itu “harus” menjadi menara gading dengan sesedikit mungkin keretakan.
Kita tidak mungkin menjadi sempurna tapi melakukan yang terbaik adalah hal yg sudah seharusnya kita usahakan.
Thank you sir. Still have to fix the bugs here and there. I’m planning to release it for public for free. :)
micelia
20 August 2010
yup, cenderung hedon, gimana enak bwt msg2 pribadi.
tp sgl nya jg berawal dr keresahan2 kita yg ga nyaman bwt itu, maka hrs lebih peka lagi dan menularkan kepekaan kita dg yg lain.kyknya ni dah mrpkn cara bwt menularkannya.
ps: lbh suka design yg lama, ada quote -nya :)
Fikri Rasyid
21 August 2010
Berbagi keresahan. Itu yang saya lakukan.
Berikutnya, berbagi solusi :)
Hho, bagian quote itu ada daya tariknya sendiri ya? Nanti akan saya buat juga disini :)
rara
20 August 2010
ass, mas, bisa gak tampilin artikel tentang pendidikan berbahasa inggris ??
Fikri Rasyid
21 August 2010
Wah, belum ada mood dan ide untuk menulis ttg itu sih. Tapi suatu saat akan saya tulis :)
Kojack
21 August 2010
sumpah lo kritis banget bro.
gw juga sempat menyinggung beberapa hal tentang tingkah polah pengguna jalan di negara kita dibandingkan dengan amerika. Gw juga menyoroti sistem beasiswa indonesia yang tidak membedakan antara “scholarship” dan financial aid.
mampir ke blog saya bro,
Happy Blogging bro!
Fikri Rasyid
21 August 2010
Ya, kalau di bandingkan dengan US sih pasti berbeda secara akar budayanya juga jauh berbeda :)
Coky
23 August 2010
Benarkah masyarakat Indonesia saat ini sejatinya seperti itu? Sepertinya penyakit tersebut hanya terjadi di perkotaan saja. Terutama Jakarta. Bukankah Indonesia tidak hanya Jakarta atau kota-kota besar saja?
Fikri Rasyid
24 August 2010
Indonesia bukan hanya kota-kota besar, tapi kecenderungannya meniru kota besar. Saya katakan kecenderungan karena yang kecenderungannya berbeda ya kalau dicari selalu ada. Tapi sepemahaman saya, ini berlaku global kok. Correct me if i’m wrong :)
Coky
25 August 2010
Yang ditiru dari kota-kota besar hanyalah sebatas gaya hidup seperti fashion, gadget atau cara bicara. Sedangkan egoisme jarang terjadi di pelosok-pelosok karena mereka berasal dari daerah yang sama,sesuku dan masih punya relasi kekerabatan yang dekat. Mereka saling bergantung dan membutuhkan satu sama lainnya.
Mengapa ini terjadi di kota-kota besar? Karena di kota besar sudah bercampur baur individu dari berbagai daerah dan background. Sehingga otomatis masing-masing akan menciptakan kelompok-kelompok dengan alasan yang berbeda-beda. Lalu terjadilah egoisme secara berkelompok.
Fikri Rasyid
26 August 2010
saya berbeda pendapat dengan anda, tapi saya menghargai pendapat anda :)
Saya rasa yang ditiru tidak sekedar fashion, gadget atau cara bicara. Televisi telah mempropagandakan pola pikir ibukota ke pelosok negeri. Well, belum semua pelosok daerah terkontaminasi sih, tapi jika tidak dirubah, cepat atau lambat penjuru tanah air akan begitu juga. CMIIW :)
danu.widhyatmoko
09 September 2010
mas fikri,
tegakkan hukum aja mas… sesederhana itu kok. “sesederhana itu”?!
Fikri Rasyid
11 September 2010
Saya kurang setuju Pak. “Tegakkan hukum” itu sudah tepat sekali, tapi kurang “Contohkan penegakkan hukum” tersebut. We live by example, aren’t we? :D
danu.widhyatmoko
12 September 2010
Loh dengan siapapun menegakkan hukum, dengan sendirinya tercipta contoh-contoh “penegakkan hukum” itu dong mas =) …
hmm ini kok jadinya bermain bolak-balik kata-kata gini ya hehehe
Fikri Rasyid
14 September 2010
Haha, kalau kondisinya “semua” orang saya kira baru lengkap konsepnya, akan jadi butterfly effect dong ya :D
IMO, agar kondisi “semua orang” menegakkan hukum itu, perlu dimulai dari sosok-sosok bermental baja yang berani mencontohkan penegakkan hukum di tengah masyarakat yang acuh. :D
Wandy
14 September 2010
Hallo, mas fikri saya penggemar baru blog anda.
Salam kenal!!!
Fikri Rasyid
16 September 2010
Salam kenal juga :)