Kita Baru Memahami Besar Kecilnya Sesuatu Kalau Ada Pembandingnya

Written by Fikri Rasyid on July 27, 2009 filed under Analisa, Pengembangan Diri and tagged with , , , , ,

comparation of my tiny dolls by Lindy Meow

comparation of my tiny dolls by Lindy Meow

Entah mengapa akhir-akhir ini ada saja teman saya yang bermasalah dalam relationship. Beberapa dapat menanganinya dengan apik, namun ada juga yang kondisinya sampai mengkhawatirkan.

Saya juga dalam kehidupan saya sempat lah mengalami kejadian seperti itu. Dan mengalami memang memberikan perspektif berbeda dibandingkan mengamati dari jauh. Bermasalah dengan hubungan itu berat. Hanya saja, setiap orang memiliki definisi yang berbeda mengenai “berat”.

Kemarin saya mendapatkan cerita pendek yang cukup menginspirasi terkait dengan hal ini. Semoga menginspirasi:

*********

Alkisah, terdapatlah satu desa dimana disana di larang keras menjual buah-buahan. Cukup aneh memang. Lebih anehnya lagi adalah konsekuensi dari siapapun yang melangggarnya. Setiap orang yang melanggar aturan ini, yakni berjualan buah, akan mendapatkan konsekuesi yang sangat menyakitkan:

buah dagangannya akan dimasukkan ke *maaf* anusnya.

Suatu hari, ada seorang pedagang salak yang keukeuh ingin menjual salak-nya di desa tersebut. Maka berjualan lah ia. Sialnya, tidak lama kemudian diapun tertangkap. Sang penjual salak pun digiring ke alun-alun dan akan segera dieksekusi: Buah salak dagangannya akan segera dimasukkan ke anusnya.

Ketika dia semakin dekat ke alun-alun untuk dieksekusi, ketakutannya semakin menjadi. Tubuhnya gemetar, dan keringat dingin bercucuran dari tubuhnya. Terbayang olehnya rasa perih dan sakit dari buah salak yang bersisik, kasar dan sedikit berduri yang akan dimasukan ke anusnya.

GLEK.

Namun anehnya, tidak lama kemudian si penjual salak mendadak tertawa terbahak-bahak. Orang-orang pun heran dengan tingkahnya. Ini mau dieksekusi kok malah tertawa. Setelah ditelisik, ternyata di kejauhan dia melihat temannya sang penjual durian yang tadi sama-sama keukeuh ingin berjualan di desa tersebut tertangkap dan tengah digiring ke alun-alun untuk dieksekusi sama seperti dia.

*********

Got the idea? ;)

Ketika kita melihat penderitaan diri kita sendiri, kita merasa bahwa diri kita adalah manusia paling malang sedunia. Namun ketika kita membandingkan kesulitan yang kita alami dengan kesulitan jutaan orang lain di dunia, kita akan paham siapa yang sebenarnya lebih menderita dan mengapa kita patut berkata bahwa “yang saya alami ini bukan apa-apa, saya harus kuat”.

Well, semoga tulisan ini menginspirasi senin pagi anda :)

Best Regards,

Fikri Rasyid

About The Author

Fikri Rasyid - I speak HTML + CSS + jQuery, breath in world wide WordPress-land and currently pursuing my bachelor degree majoring English Education at Indonesia University of Education. Google my name for more information about me.

Subscribe Through Email - Powered by Feedburner

Ketikkan alamat email kamu dan tekan tombol subscribe. Kapanpun saya mempublikasikan tulisan disini, tulisan tersebut akan terkirim ke alamat email kamu. GRATIS!!

4 Responses for This Thought

  1. oma

    27 July 2009

    gw ngakak baca cerita lw (lmao)

    kadang manusia merasa sulit untuk menggerakkan lehernya, baik itu keatas ataupun kebawah
    tapi tetep aje kan ya pegel rasanya kalo kepalanya ga digerak-gerakin, emang ada yang tahan gitu?
    hehe

  2. Fikri Rasyid

    04 August 2009

    @oma

    haha, ya begitulah :D
    gue pernah baca di satu buku, dia bilang eksistensi manusia itu ada karena adanya gerakan. Ketika dia berhenti bergerak, hilanglah eksistensinya.

    DI pikir2 benar juga sih. Kalau jantung kita berhenti bergerak kita game over kan?

  3. A.F. Fauza

    15 October 2010

    Haha. Boleh juga tuh ceritanya.

    Inspiring.

    Btw, Mas. Saya ni English Student juga loh. Tapi lebih cenderung ke linguistiknya. Akhir2 ini saya lagi ngerjain proyek tentang American Accent. Kalo sampeyan kecenderungannya ke mana?

    • Fikri Rasyid

      17 October 2010

      oh, ngambilnya linguistik? Saya sih pendidikannya :)

The comment is closed

Untuk mencegah spamming dan komentar yang tidak relevan, area komentar untuk tulisan yang dipublikasikan lebih dari 30 hari saya tutup. Jika ada yang ingin kamu sampaikan berkenaan dengan tulisan ini, silahkan sampaikan melalui twitter atau facebook.