Generasi Penghafal

Written by Fikri Rasyid on October 7, 2010 filed under Pendidikan and tagged with , , , ,

Saya suka lucu dengan orang tua berkata “besok kan ujian, ayo menghapal!” sebagai instruksi belajar kepada anak-anaknya. Apakah mengafal = belajar?

Esensi belajar

Masyarakat modern pergi bersekolah dengan harapan setelah lulus nanti bisa “mendapatkan kehidupan yang lebih baik” atau dengan kata lain dapat kita sederhanakan menjadi “mendapatkan pekerjaan yang layak”. Dimana-mana, yang namanya “bekerja” itu memecahkan masalah. Masyarakat punya masalah bagaimana caranya agar anak-anak mereka pintar: dosen dan guru memecahkan masalah tersebut. Pemimpin perusahaan memiliki masalah tidak bisa mengerjakan semuanya sendirian: karyawan memecahkan masalah tersebut. Dan seterusnya dan seterusnya.

Jadi seharusnya, pendidikan didesain untuk menciptakan lulusan-lulusan pemecah masalah yang handal. Apa gunanya Sarjana S1 manajemen yang hafal seluruh buku teks namun tidak bisa memecahkan masalah seperti bagaimana caranya meningkatkan performa karyawan?

Menghafal, adalah masa lalu

Seriously, saya rasa ungkapan “besok kan ujian, ayo menghapal!” adalah masalah budaya. Di tahun 1950-an (tahun dimana orang tua masa kini bersekolah), tidak ada buku dan pena. Hanya ada batu tulis dan batu kerik dimana selesai pelajaran yang satu, murid-murid harus menghapus kembali apa yang mereka catat diatas batu tersebut untuk dapat mencatat isi pelajaran berikutnya. Beres pelajaran berikutnya? Hapus lagi catatannya, timpa dengan catatan kelas berikutnya. Murid terpaksa menghafal karena keterbatasan kondisi.

Hari ini? Selamat datang di era informasi. Siapa yang menguasai informasi, dialah juaranya. Masalahnya adalah kita kebanjiran informasi. Mampukah kita memiliah-milah mana informasi yang tepat dan dapat digunakan sebagai rujukan? Tahukah kita kemana kita harus mencari sumber informasi yang valid dan dapat digunakan sebagai rujukan? Tahukah kita bagaimana mengolah informasi tersebut menjadi keputusan yang tepat? Beranikah kita mengimplementasikan kesimpulan yang kita buat berdasarkan hasil olahan informasi tersebut?

Jadi kesimpulannya, adalah…

Jika tujuan dari ujian adalah mendapatkan skor yang sebaik-baiknya (yang mana pada dasarnya agak bertentangan dengan konsep evaluasi pembelajaran yang mana evaluasi diciptakan untuk mengetahui sudah sejauh mana pencapaian peserta didik – saya sederhanakan tujuan ujian untuk konteks tulisan ini saja) maka seharusnya kita meninggalkan anjuran “besok kan ujian, ayo menghapal!” dengan anjuran “besok kan ujian, ayo bagaimana caranya supaya kamu bisa dapat nilai yang baik dengan cara yang baik dan jujur?”.

Gerakkan manusia untuk bergerak mencari jawaban, bukan jejali mereka dengan instruksi.

P.S.

  • Jawaban “besok kan ujian, ayo bagaimana caranya supaya kamu bisa dapat nilai yang baik dengan cara yang baik dan jujur?” versi saya adalah “pahami konsepnya”, bukan “hafalkan bukunya”. Bagaimana dengan jawaban versi kamu? ;)
  • Tulisan ini terpikir oleh saya ketika menyimak penjelasan Prof. Dr. Nenden Lengkanawati M.Pd mengenai sejarah media pembelajaran di kelas Media Pembelajaran selasa lalu. Special thanks to her, then :)

About The Author

Fikri Rasyid - I speak HTML + CSS + jQuery, breath in world wide WordPress-land and currently pursuing my bachelor degree majoring English Education at Indonesia University of Education. Google my name for more information about me.

Subscribe Through Email - Powered by Feedburner

Ketikkan alamat email kamu dan tekan tombol subscribe. Kapanpun saya mempublikasikan tulisan disini, tulisan tersebut akan terkirim ke alamat email kamu. GRATIS!!

8 Responses for This Thought

  1. Muhammad Alif

    07 October 2010

    klw menurut saya.. ga papa nilai g penting tapi pastiin kamu belajar sungguh2 bukan buat nilai tapi buat belajar itu sendiri

    • Fikri Rasyid

      09 October 2010

      dalam semua hal juga harus sungguh2 dong :)

  2. fardan

    07 October 2010

    beneran tahun 1950 masih pake batu? di kabupaten mana tuh :p :p

    • Fikri Rasyid

      09 October 2010

      di bandung dan. di jakarta paling agak majuan dikit. tanya orang tua lu dah :)

  3. fajarfaqih

    08 October 2010

    Saya sangat setuju. Namun saya mempunyai tambahan. jangan sampai kita menganggap sepele kekuatan dari menghafal. Informasi berhubungan erat dengan media. Bagaimana jadinya jika seseorang berada di suatu tempat yang minim ‘media’ ?
    Ya, benar, nilai utamanya adalah KONSEP. Dari konsep itu bisa kita kembangkan materinya dengan informasi-informasi diluar perkuliahan.

    • Fikri Rasyid

      09 October 2010

      ada dua kemungkinan: adakan media yang dibutuhkan, atau masukkan medianya kedalam otak :p

  4. Abid Famasya

    24 October 2010

    jadi saya boleh dong ambil kesimpulan gini :
    “Efeknya kita belajar itu nggak sekarang. Besok kalo udah bener2 diterapkan di masyarakat. Sekarang ngerti aja, nilai urusan entar. ”

    :)

    *PS : saya juga punya loh, beberapa buku yg jadi background.*

    • Fikri Rasyid

      25 October 2010

      Bebas saja sih mengambil kesimpulannya. Tapi maksud saya, menghafal itu bukan belajar dan belajar itu bukan menghafal. It’s just sooo yasterday. Sekarang, IMHO, lebih baik meningkatkan skill problem solving deh ;)

      Mengenai efek belajar, kita ngga pernah tahu kapan kita akan membutuhkan apa yang pelajari saat ini (ini saya alami sendiri. Tahun 2007 – 2008 belajar web programming dan ternyata terpakai untuk nyari duit di 2009 – 2010). Bahasanya Steve Jobs sih, hidup itu seperti menghubungkan titik-titik, kita tidak bisa melihat titik-titik itu kedepan. Tapi saat kita melihat kebelakang, titik-titik itu akan membentuk sebuah garis yang sangat jelas :)

The comment is closed

Untuk mencegah spamming dan komentar yang tidak relevan, area komentar untuk tulisan yang dipublikasikan lebih dari 30 hari saya tutup. Jika ada yang ingin kamu sampaikan berkenaan dengan tulisan ini, silahkan sampaikan melalui twitter atau facebook.