Posts categorized into Uncategorized :

Mylo Xyloto

Written by Fikri Rasyid on March 25, 2012 filed under Uncategorized and tagged with , ,

Coldplay - Mylo Xyloto

Salah satu CD yang saya beli bulan ini: album terbaru Coldplay, Mylo Xyloto (IDR 85,000 di Duta Suara Music, Paris van Java, music store favorit saya di Bandung). Saya suka Coldplay karena musiknya yang simple tapi indah + dalam dan keberaniannya membuat satu tema pada albumnya yang membuat nuansa di album tersebut benar-benar berbeda namun masih terasa ke-Coldplay-an nya. Well, alasan yang terakhir itu baru terasa oleh saya sejak mereka merilis Viva la Vida or Death and All His Friends yang sangat radikal tapi awesome sih.

Read More

The Rise of Snap Taking

Written by Fikri Rasyid on March 9, 2012 filed under Uncategorized and tagged with , , ,

20120309-195221.jpg

Saya sudah jarang sekali melakukan note taking. Jika ada informasi yang harus saya ingat (yang berada di dokumen tertulis / tercetak), saya lebih pilih mengambil gambarnya menggunakan kamera smartphone. Point, Click, Done. Kalau butuh, tinggal buka handphone. Even better: gunakan Evernote sehingga gambar atas dokumen tersebut tersinkronisasi ke device saya yang lain.

Read More

Dulu, Sekarang dan Mungkin Seterusnya

Written by Fikri Rasyid on July 13, 2011 filed under Pendidikan, Pengembangan Diri, Uncategorized and tagged with , ,

Sebelas tahun lalu, saya masuk pesantren di suatu tempat di Indramayu. Tempatnya luar biasa gersang dan panas. Saking gersangnya waktu itu, rasanya tiap saat ingin mandi terus. Teman-teman seangkatan saya datang dari berbagai penjuru tanah air yang bahasanya tidak saya mengerti. Tubuh mereka besar-besar. Ketika itu saya masih berumur sepuluh tahun, kecil, bertinggi 140 cm, ditinggal sendiri diantara dua ribuan lebih teman-teman seangkatan. It was pretty scary back then.

Tiga tahun pertama, entah berapa ratus kali saya terserang homesick. Tiga tahun setelahnya, i found my besties. Keseharian saya terasa lebih menyenangkan. Rutinitas tidak lagi terlalu ‘membunuh’ saya. Jauh dari orang tua selama lima bulan tidak lagi menjadi masalah. Life’s good.

****

Tiga tahun yang lalu, saya masuk ke jurusan yang tidak terlalu saya inginkan. Arahan orang tua saja sih. Satu semester pertama, saya tidak disukai oleh seisi kelas. Kebiasaan dan keseleboran di tempat sebelumnya mungkin tidak terlalu cocok dengan situasi pergaulan di Bandung.

Dua tahun terakhir, i found my besties. Pergi ke kampus terasa jadi lebih ringan. Tidak terlalu bersemangat mengikuti perkuliahan pun setidaknya bisa ketemu teman-teman, begitu pikir saya. Life’s better ever since.

****

Kemarin, program KKN selama 40 hari kedepan dimulai. Berbekal pengalaman yang lalu-lalu, saya kalem-kalem saja. Setelah satu malam berinteraksi, saya mulai merasa sangat nyaman dengan teman-teman disini. Life’s great here.

Tim KKN UPI Sukagalih 2011. Tidak semuanya ada di foto ini, tapi cukup merepresentasikan keseluruhan populasi lah.

Life’s great there.

Bertahan. Sabar. Fokus ke hal-hal yang menyenangkan. Tidak ada kondisi ideal. Syukuri dan manfaatkan sebaik-baiknya apa yang ada.

Life’s great. Enjoy the moment, be grateful and have some fun.

Begini-Begini Melulu

Written by Fikri Rasyid on December 14, 2010 filed under Uncategorized and tagged with ,

Perasaan kok hidup gue begini-begini melulu ya? Jawabannya, bisa jadi:

  • Yang kamu lakukan itu-itu saja, tidak ada yang baru.
  • Yang kamu tau itu-itu saja, tidak berkembang.
  • Teman kamu itu-itu saja, tidak bertambah.
  • Yang kamu lihat atau kunjungi itu-itu saja.

Saya sering merasa “begini-begini saja” akhir-akhir ini. Saatnya melakukan hal-hal baru yang belum pernah saya lakukan, berteman dengan lebih banyak orang lagi, membaca lebih banyak hal dan berkunjung ke tempat-tempat yang belum saya datangi.

Bagaimana dengan kamu?

Post-Internet Era

Written by Fikri Rasyid on October 27, 2010 filed under Culture, internet, Uncategorized and tagged with , , , , , ,

…How much of the really revolutionary things people are going to do in the next five years are done on the PCs or how much of it is really focused on the post-PC devices. And there’s a real temptation to focus it on the post-PC devices because it’s a clean slate and because they’re more focused devices and because, you know, they don’t have the legacy of these zillions of apps that have to run in zillions of markets…

- Steve Jobs

Saat ini dan di masa depan, ukuran komputer semakin menyusut dan komputer “ditanamkan” pada berbagai macam device untuk menyelesaikan satu masalah tertentu. Steve Jobs dalam wawancaranya bersama dengan Bill Gates di acara D5 All Things Digital mendefinisikan hal ini sebagai era Post-PC device: Era dimana komputer mulai dibenamkan di berbagai macam gadget untuk satu tujuan tertentu dan kita tidak lagi menyebutnya dengan istilah “PC” namun kita menyebutnya dengan istilah iPod untuk PC yang “ditananamkan” di pemutar musik, iPhone untuk PC yang “ditanamkan” di telpon genggam, dll (jika mengacu kepada produk-produk Apple).

Pertanyaannya: mengapa era post-PC penting? Karena itulah masa depan. PC memang dapat melakukan banyak hal, tapi bukan itu yang dibutuhkan masyarakat. Menurut Steve Jobs, masyarakat membutuhkan device yang dapat menyelesaikan satu masalah spesifik dengan baik, bukan pisau lipat yang serba ada.

Post-Internet Era

Selain era post-PC, ada satu post-something era yang saya rasa menarik untuk diperhatikan: Post-Internet Era.

Ada beberapa “titik-titik” poin yang membuat gagasan ini tercetus di kepala saya:

  • Gagasan mengenai Post-PC devices: satu gadget yang menyelesaikan satu fungsi spesifik tertentu dengan baik
  • Cukup banyak pengguna internet (terutama yang non-tech-savvy) yang berkata “saya tidak pernah mengakses internet, tapi saya punya facebook
  • Fakta bahwa PC mulai booming setelah era Graphical User Interface: UI (kemudahan penggunaan) merubah banyak hal
  • Salah satu poin yang disampaikan oleh @dWirianto di acara FOWAB #2: people are lazy. Facebook launcher di handphone2
    kelas mid-low yang notabene mempermudah satu langkah user sampai ke facebook itu sangat membantu facebook.
  • Banyaknya aplikasi yang dibuat untuk twitter (dari penggunaannya, bisa dibilang bahwa API Twitter merupakan salah satu contoh API tersukses yang pernah diluncurkan) diciptakan. Seriously, sebelum #newTwitter dirilis, berapa banyak sih dari kita yang mengakses twitter via web?
  • Kesuksesan App Store Apple yang mana banyak aplikasi iPhone yang dibuat untuk berinteraksi dengan web service tertentu. Hal ini pula diikuti dengan Android app market, BlackBerry AppWorld, dan app market smartphone lainnya. Hari gini, web service / web app besar mana sih yang tidak punya iPhone app / Android App / BlackBerry App?

Jika semua “titik-titik” ini digabungkan, maka “garis” yang terbentuk mengenai Post-Internet Era adalah:

  • Koneksi ke internet dan cloud database / cloud software yang mengorganisir data-data tersebut adalah sesuatu yang default / lumrah
  • Data di cloud tersebut dapat diakses via web / mobile interface
  • Namun karena alasan kemudahan / kompatibilitas dengan gadget / device, device-based app adalah suatu kewajiban.
  • Orang tidak akan lagi berfikir untuk “mengakses internet” ketika mencari data / informasi tertentu melainkan “mengakses (letakkan nama brand aplikasinya disini)”

IMHO, salah satu contoh aplikasi yang sangat menggambarkan gagasan Post-Internet Era dengan baik adalah dropbox: bekerja dengan jaringan internet sebagai platform-nya, memiliki cross-platform app (Windows / Mac / Linux desktop App, iPhone App, Android App) dan user tidak lagi “memikirkan internet” saat menggunakannya (setidaknya saya berfikir demikian). Contoh: “backup file dulu ah, masukkan ke dropbox“.

Oke, itu yang terfikirkan oleh saya sekarang. Bisa jadi banyak hal yang belum terlewat: ada yang mau menambahkan?

Masyarakat Komunal Yang Egois

Written by Fikri Rasyid on August 19, 2010 filed under Uncategorized and tagged with , , , ,

Masyarakat Indonesia itu masyarakat komunal. Apa-apa inginnya ramai-ramai. Apa-apa inginnya bersama-sama. Susah bersama. Senang bersama. Sampai korupsi pun bersama.

Anehnya, seperti yang didiskusikan oleh @revolutia di twitter, penyakit mental utama masyarakat kita itu malah egoisme.

Tidak percaya? Lihat lah pengendara motor yang menggunakan badan jalan yang bukan haknya atau malah trotoar. Lihat lah pengemudi angkot yang seenaknya berhenti dan menyebabkan kemacetan. Lihatlah pengguna fasilitas publik yang seenaknya merusak properti publik. Lihatlah pejabat publik yang mengkorupsi dana negara. Lihatlah mahasiswa mampu yang mengambil jatah beasiswa mahasiswa miskin. “Yang penting urusan gue beres”, ujar kita.

Fenomena ini, bagi saya, mengindikasikan dua hal: ada yang salah dengan masyarakat kita dan sistem pendidikan kita gagal menanggulanginya. Sistem pendidikan kita terlalu sibuk mengurusi teori dan angka. Mental dibiarkan porak poranda.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana cara kita mengatasinya?

The Very First Google Event in Indonesia: Google Chrome Release Party

Written by Fikri Rasyid on June 28, 2010 filed under internet, Uncategorized and tagged with , , ,

Jakarta's Google Chrome Release Party

Jadi ceritanya, rabu tangal 16 kemarin saya mendapatkan e-mail ber subject “Undangan Peluncuran Produk Google” untuk selasa 22 Juni 2010. Holly smokes, is this for real? Awalnya saya agak ragu karena setahu saya tidak ada buzz mengenai “produk baru” Google. Anda tahulah, setiap kali Google merilis suatu produk, biasanya gaungnya akan menyebar ke sentaero web. Setelah Googling pun saya tidak mendapatkan informasi terkait apapun mengenai acara ini. Namun setelah saya melihat situs penyelenggara event dan melihat reputasinya (serta terpesona oleh logo Google, tentunya. Webworker mana yang tidak merasakan oh-my-goodness effect saat berhadapan dengan Google?), akhirnya saya melihat jadwal saya dan me-reply email untuk konfirmasi kehadiran saya.

Read More

Pencekalan Macam Apa Ini?

Written by Fikri Rasyid on June 16, 2010 filed under Uncategorized and tagged with , , , , , , ,

Pencekalan Macam Apa Ini?

Saya terbelalak membaca salah satu artikel Pikiran Rakyat yang saya baca kemarin pagi (terbit Selasa tanggal 15 Juni 2010): Wali Kota Cekal Ariel Tampil di Bandung.

WTF?

Saya lebih terbelalak lagi ketika membaca paragraf ketiga dari artikel tersebut:

Dada mengatakan, pencekalan itu disebabkan Ariel sebagai figur publik asal Bandung dinilai telah mencemarkan Kota Bandung yang sudah mendeklarasikan diri sebagai kota agamis. “Sebelum persoalannya selesai, jangan berkegiatan di Kota Bandung,” katanya.

Pemimpin macam apa yang rakyat Bandung pilih untuk memimpin kota Bandung ini?

Let me tell you something: saya bukan penggemar Ariel, atau Luna Maya, atau Cut Tari dan saya sama perdulinya dengan anda atas moral kota Bandung, namun saya menghargai hak mereka sebagai warga negara. Dihakimi sepihak sebelum keputusan bersalah atau tidak bersalah dari pengadilan keluar? Hey, dimana asas praduga tidak bersalah?

Beberapa dari anda mungkin berujar “ah, artis-artis itu harus diberi pelajaran karena mencontohkan moral yang buruk kepada generasi muda negara ini“.

Pikir lagi: Bagaimana jika hal yang sama terjadi kepada anda? Bagaimana jika anak atau orang tua anda dilarang mencari nafkah di kota tempat anda tinggal padahal belum terbukti bersalah? Bagaimana jika hal serupa terjadi kepada anda atau orang yang kasihi?

Kota agamis macam apa yang berlaku semena-mena dan tidak adil seperti ini? Kota agamis macam apa yang membiarkan rakyatnya terkena banjir setiap tahun dan membiarkan jalanan rusak parah seperti ini? Agama mana yang mengajarkan mengadili secara sepihak? Kota agamis macam apa yang membiarkan anak-anak jalanan? Lima dari tujuh hari saya berangkat Cikutra – Ledeng dan menjumpai gelandangan dan anak-anak jalanan yang sama di perempatan lampu lalu lintas yang sama. Kota agamis macam apa itu?

Hey, kalau kamu mengenal Dada Rosada, tunjukan tulisan saya ini kepadanya.

P.S.

Saya berpendapat yang harusnya dicekal itu bukan Ariel. Tapi acara-acara gosip bodoh yang memutar video itu berulang-ulang di waktu prime time dan menciptakan bola salju keingintahuan. Cekal stasiun TV, pembawa berita dan produsernya sekalian kalau anda memang perduli terhadap keagamisan kota ini, tuan walikota. That’s what WE actually HAVE TO do.

Artikel yang saya baca di media cetak ini dapat anda baca juga di website pikiran rakyat (tapi tidak selengkap versi cetaknya):  Pemkot Bandung Cekal Ariel Peterpan.

MLM, dan salah satu kunci kekayaan spektakuler ( 1 )

Written by Fikri Rasyid on July 16, 2008 filed under Bisnis, K-Link, Uncategorized and tagged with ,

Dari berbagai sumber yang saya baca, dari berbagai kunci kekayaan spektakuler, ada dua kunci kekayaan spektakuler :

  1. Nilai tambah yang luar biasa
  2. Faktor kali yang jumlahnya banyak luar biasa

untuk poin nomer pertama, adalah syarat mutlak bahwa nilai tambah yang diberikan harus luar biasa dahsyat, baru anda bisa kaya spektakuler dari poin nomer satu ini.

Contoh nyata nya adalah trio Steve Chen, Chad Hurley, dan Jawed Karim yang membangun Youtube. dari sebuah ide main main, hingga akhirnya menggurita dan menjadi situs video terlaris di bumi, hingga akhirnya pada Oktober 2006 , Google yang menyadari potensi YouTube membeli situs ini dengan nilai US$ 1,65 Miliar. Sekitar IDR 16,500,000,000,000.- . 16 triliun rupiah.

Berapa item yang dijual Trio Steve Chen, Chad Hurley, dan Jawed Karim? hanya satu item. YouTube . namun karena nilai tambahnya yang luar biasa, nilainya jadi US$ 1,65 Milliar.

Untuk poin kedua, syarat mutlaknya bukan nilai tambah yang luar biasa. Tapi hal yang biasa, namun dipakai oleh jumlah orang yang luar biasa banyak.

contoh nyatanya adalah Indomie. Indomie hanyalah sebuah mie instant. Harganya pun tidak mahal – mahal amat. hanya berkisar di angka seribu rupiah saja. Tapi bayangkan jumlah penduduk indonesia yang mengkonsumsi indomie? dari informasi yang saya dapat di id.wikipedia, konsumsi mi instant perkapita Indonesia adalah 55 bungkus pertahun. kalikan dengan harga indomie asumsi Rp 1000.-/bungkus, kalikan dengan jumlah penduduk indonesia pertahun. kalikan dengan asumsi indomie mendapat bagian pasar 50% saja dari pasar mi instant di indonesia, maka asumsi omset Indomie pertahun adalah =

55 X Rp 1,000 X 200,000,000 X 50% = Rp 5,500,000,000,000.-/tahun, atau

Rp 5,5 Triliun per tahun

asumsikan bahwa pemegang saham indomie mendapat 1 % dari omset indomie, pemegang saham indomie mendapatkan 5,5 Miliar / tahun dari Indomie saja. Meski saya yakin bahwa hitungannya lebih dari ini.

Kita bisa pelajari dari dua kunci ini, bahwa ada dua plihan jika ingin kaya :

  1. Jual sesuatu yang luar biasa ,
  2. atau jual sesuatu yang biasa dalam jumlah yang luar biasa

Maka pantaslah Indomie berjaya. Indomie tidak menjual mi instant yang luar biasa. Mereka menjual mi instant biasa, namun dalam jumlah yang luar biasa.

Bagaimana caranya menjual sesuatu yang biasa dalam jumlah yang luar biasa?

Jumlah cabang / saluran distribusi yang banyak.

Indomie dijual di hampir semua warung, hampir semua minimarket, dan hampir semua supermarket dan hypermarket di Indonesia. Dan semuanya terbentuk dalam pola struktur distribusi seperti ini :

bagan jalur distribusi

——–bersambung———