Saya Bukan Orang Tua Saya
Pretty much all i want to say this morning.
Note: Bukan berarti saya gimanaa begitu sama orang tua yah. I just wanna be my own self.
Counting UFOs & signal them with my lighter
Pretty much all i want to say this morning.
Note: Bukan berarti saya gimanaa begitu sama orang tua yah. I just wanna be my own self.

Ada dua hal yang muncul di kepala saya saat menyengajakan diri ‘jalan-jalan’ ke beberapa blog lokal bergenre personal blog:
Simplicity is the ultimate sophistication
-Leonardo da Vinci

Jika semuanya berjalan lancar, tahun ini merupakan tahun terakhir saya menempuh pendidikan sarjana. Beres semester ini, tinggal PLP dan merampungkan skripsi, lalu bertogalah saya.
*amin*
Seperti yang sudah saya duga, ibu yang notabene seorang dosen sudah mulai bertanya: “mau lanjut S2 apa, A?”

Manusia bisa dibagi kedalam empat tipe:
Kamu yang memiliki visi, mampu ‘melihat masa depan‘ dan memiliki keahlian spesifik untuk mencapainya. Jika kamu termasuk ke dalam jenis ini, mulailah mengejar apa yang kamu lihat. Di satu titik kamu akan menyadari bahwa segalanya tidak bisa dicapai sendirian lalu mulai membangun tim yang solid untuk mencapai apa yang dijadikan tujuan.
Kamu memiliki visi dan mampu ‘melihat apa yang menjadi tujuan kamu‘ namun tidak memiliki keahlian spesifik untuk mencapainya. Jadilah orang yang pantas untuk diikuti, mulailah mencari manusia tipe 3 yang berbakat dan bentuklah tim yang hebat.
Kamu yang memiliki keahlian spesifik, namun tidak tahu pasti kemana harus melangkah. Segeralah cari manusia tipe 1 atau 2 yang pantas untuk diikuti. Mengabdi kepada pemimpin yang pantas.
Segera berlatih untuk memiliki keahlian spesifik yang dibutuhkan orang lain untuk memecahkan masalah mereka. Belum terbayang apa-apa? Segera cari. Jangan main melulu.
****
Tidak ada yang saklek dengan pembagian ini. Seseorang bisa saja berubah dari tipe empat ke tipe satu, lalu berubah menjadi tipe tiga. Semuanya sama-sama mulia, tidak ada yang lebih hina. Yang menentukan impact hasil pekerjaannya saja.
Sejauh ini, saya baru teruji sebagai tipe tiga. Kalau kamu?

Pencapaian yang luar biasa tidak bisa dicapai seorang diri. Konsekuensinya, jika ingin mencapai hal-hal yang luar biasa, hanya ada dua pilihan yang tersisa:
Bagi saya, pilihan pertama dan pilihan kedua sama mulianya, selama yang dilakukan sama-sama memiliki efek baik kepada orang lain – hanya berbeda di kapasitas saja. Saya sedang berkaca, pilihan mana yang harus saya ambil?
Kamu mengambil pilihan yang mana?

Mana yang kemungkinan terlambatnya lebih besar: Masuk kuliah pukul 7 atau masuk kuliah pukul 8.40?
Bagi saya, jawabannya lebih besar kemungkinan terlambat untuk masuk kuliah pukul 8.40. Target / to-do item yang membuat saya berpikir ‘ah-santai-saja’ dan memungkinkan saya untuk berleha-leha lebih besar kemungkinannya untuk tidak tercapai tepat waktu.
Kalau kamu?

Suatu hari di lokasi kkn, seorang teman bertanya: “Fik, lu jadi orang kok bisa kepedean begitu sih?”
Jawab saya:
Kalo elu aja ngga yakin sama diri elu, siapa lagi yang mau yakin sama elu?
Iya, toh?

Saya pernah baca entah dimana, ada dua momen penting dalam hidup manusia:
Saya pikir, seharusnya ada yang ketiga:
Ketika ia berhenti mengkhawatirkan dirinya sendiri dan berfokus untuk kebaikan orang lain.
Rasanya seperti terbebas dari beban yang tidak bisa kamu lihat.

Ada satu hal yang jelas-jelas saya sadari saat mengendarai mobil:
I can’t see everything with my own eyes.
At first, it scares the crap out of me.
Saya tidak bisa melihat secara persis jarak dari bemper depan ke mobil depan saat jalanan padat. Saya tidak bisa melihat secara persis jarak dari bemper belakang ke objek asing di belakang mobil. Saya tidak bisa melihat sisi kiri dan kanan mobil pada saat bersamaan.
Bagaimana kalau menyerempet? Bagaimana kalau nyenggol mobil orang? Bagaimana kalau bagaimana kalau bagaimana kalau dan entah ada bagaimana kalau lain.
Solusinya: lihat yang kamu bisa lihat, sisanya rasakan saja.
Feel it.
Saya pikir itu juga yang terjadi dalam hidup. Kamu seringkali tidak bisa sekaligus melihat dengan mata kepala kamu sendiri ‘gambar’ keseluruhannya.
Kamu tidak bisa.
Yang kamu bisa hanya lihat yang bisa kamu lihat, rasakan, buat keputusan berdasarkan apa yang kamu mampu pikirkan, pertimbangkan dan rasakan. Sisanya ambil tindakan sesegera dan sebaik mungkin. Kalau kamu melamun dan grogi yang ada malah mencelakakan diri kamu dan orang-orang sekeliling kamu.
Hold the freakin’ wheel, hit the gas and drive.
GO KIDDO, GO. DRIVE IT.
Would you choose water over wine
Hold the wheel and drive
- Incubus

Sebelas tahun lalu, saya masuk pesantren di suatu tempat di Indramayu. Tempatnya luar biasa gersang dan panas. Saking gersangnya waktu itu, rasanya tiap saat ingin mandi terus. Teman-teman seangkatan saya datang dari berbagai penjuru tanah air yang bahasanya tidak saya mengerti. Tubuh mereka besar-besar. Ketika itu saya masih berumur sepuluh tahun, kecil, bertinggi 140 cm, ditinggal sendiri diantara dua ribuan lebih teman-teman seangkatan. It was pretty scary back then.
Tiga tahun pertama, entah berapa ratus kali saya terserang homesick. Tiga tahun setelahnya, i found my besties. Keseharian saya terasa lebih menyenangkan. Rutinitas tidak lagi terlalu ‘membunuh’ saya. Jauh dari orang tua selama lima bulan tidak lagi menjadi masalah. Life’s good.
****
Tiga tahun yang lalu, saya masuk ke jurusan yang tidak terlalu saya inginkan. Arahan orang tua saja sih. Satu semester pertama, saya tidak disukai oleh seisi kelas. Kebiasaan dan keseleboran di tempat sebelumnya mungkin tidak terlalu cocok dengan situasi pergaulan di Bandung.
Dua tahun terakhir, i found my besties. Pergi ke kampus terasa jadi lebih ringan. Tidak terlalu bersemangat mengikuti perkuliahan pun setidaknya bisa ketemu teman-teman, begitu pikir saya. Life’s better ever since.

****
Kemarin, program KKN selama 40 hari kedepan dimulai. Berbekal pengalaman yang lalu-lalu, saya kalem-kalem saja. Setelah satu malam berinteraksi, saya mulai merasa sangat nyaman dengan teman-teman disini. Life’s great here.

Tim KKN UPI Sukagalih 2011. Tidak semuanya ada di foto ini, tapi cukup merepresentasikan keseluruhan populasi lah.
Life’s great there.
Bertahan. Sabar. Fokus ke hal-hal yang menyenangkan. Tidak ada kondisi ideal. Syukuri dan manfaatkan sebaik-baiknya apa yang ada.
Life’s great. Enjoy the moment, be grateful and have some fun.