Posts categorized into Pendidikan :

Tentang Pendidikan dan Web: Pengoptimalan Web Untuk Memajukan Pendidikan

Written by Fikri Rasyid on December 11, 2009 filed under ide, internet, Pendidikan and tagged with , , , , ,

onelaptopperchild-actual

Ada dua hal yang memiliki tempat khusus di alam pemikiran saya: pendidikan dan web.

Apa pentingnya pendidikan?

Mengapa saya senang memikirkan pendidikan secara khusus? Karena sejak usia sepuluh tahun saya semenjak saya memasuki sekolah menengah, saya sudah dijejali dengan ide betapa pentingnya pendidikan oleh sekolah menengah saya yang berslogankan “pusat pendidikan dan pengembangan budaya perdamaian“. Terlebih lagi, kedua orang tua saya merupakan dosen di institusi yang menghasilkan pendidik se-indonesia dan saya pun mengambil jurusan pendidikan (tepatnya, pendidikan Bahasa Inggris). Well, lengkaplah sudah.
Read More

Tentang Hal-Hal yang Tidak Sekolah Ajarkan Pada Muridnya

Written by Fikri Rasyid on August 4, 2009 filed under Analisa, Pendidikan and tagged with , , , ,

Pernahkah anda menghitung berapa banyak waktu yang manusia modern habiskan untuk sekolah? Dengan mengambil asumsi umum standard pendidikan hingga sarjana dengan estimasi lulus dalam empat tahun, maka:
Taman Kanak-Kanak: 2 Tahun
Sekolah Dasar: 6 Tahun
Sekolah Menengah Pertama: 3 Tahun
Sekolah Menengah Atas: 3 Tahun
Perguruan Tinggi: 4 Tahun
TK + SD + SMP + SMA + PT = 18 Tahun
So, what’s the matter?
Pertanyaan pentingnya adalah, berapa banyak dari yang kita pelajari selama 18 tahun tersebut yang kita aplikasikan dalam hidup kita?
Agak aneh juga membayangkan bagaimana 18 tahun dalam kehidupan kita, kita di jejali berbagai pengetahuan dan teori yang “akan berguna di masa hadapan” tanpa diajari hal-hal yang “sangat berguna dan penting di masa kini dan di masa hadapan”.
Coba perhatikan:
Kita diajari berbagai teori ekonomi dan usaha di bangku sekolah menengah tapi tidak sedikitpun diajari cara mengelola keuangan pribadi, cara mengalokasikan dana yang dimiliki, cara mencari dana atas ide usaha yang kita miliki, dll.
Kita diajari biologi namun tidak diajari bagaimana mengaplikasikan pengetahuan tersebut: Bagaimana pola makanan yang baik, bagaimana tidur yang baik, dll.
Kita diajari sikap-sikap terpuji di Pendidikan Kewarganegaraan tetapi tidak diajari bagaimana caranya me-manage konflik, berurusan dengan pemerintah, dll.
Sederhananya, saya merasa pendidikan kita kurang aplikatif ya. Banyak pertanyaan-pertanyaan sederhana dalam hidup yang bahkan tidak dijelaskan sama sekali dalam sistem pendidikan yang menghabiskan entah berapa milyaran rupiah tersebut. Pertanyaan sederhana yang saya yakin hadir di setiap kehidupan:
Bagaimana caranya menjadi kaya
Bagaimana caranya mengelola keuangan
Bagaimana caranya memiliki rumah sendiri
Bagaimana caranya mencintai
Bagaimana caranya membangun hubungan baik dengan orang lain
Bagaimana caranya membuat orang lain sependapat dengan kita
Bagaimana caranya memiliki hidup yang bahagia
Bagaimana caranya mewujudkan impian menjadi kenyataan
Bagaimana pola makanan yang teratur agar terhindar dari penyakit degeneratif
Bagaimana caranya memperbesar lingkaran perkawanan
Bagaimana caranya membuka usaha sendiri
Bagaimana caranya berkenalan
Bagaimana cara belajar yang efektif
dan ribuan “bagaimana caranya” yang lain. NOTE: Silahkan sampaikan “bagaimana caranya” yang ingin anda ketahui jawabannya versi anda di kolom komentar)
Got what i mean?
Rasanya banyak sekali pertanyaan sangat esensial malah terpaksa kita temukan sendiri dengan Trial and Error. Saya membayangkan betapa segalanya akan lebih efisien jika sistem pendidikan menjawab pertanyaan-pertanyaan esensial tersebut, dan betapa lompatan besar peradaban bisa tercipta karena berbagai hal yang bersifat fundamen tersampaikan secara lebih efektif alih-alih membiarkan generasi muda melakukan proses trial n error untuk sesuatu yang sebenarnya bisa tidak di trial n error-kan.
Bagaimana pendapat anda?
P.S.
Hmm.. Saya harap saya bisa menciptakan sistem yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini.
VIA Information PC for education by viagallery.com

VIA Information PC for education by viagallery.com

Pernahkah anda menghitung berapa banyak waktu yang manusia modern habiskan untuk sekolah? Dengan mengambil asumsi umum standard pendidikan hingga sarjana, maka:

  • Taman Kanak-Kanak: 2 Tahun
  • Sekolah Dasar: 6 Tahun
  • Sekolah Menengah Pertama: 3 Tahun
  • Sekolah Menengah Atas: 3 Tahun
  • Perguruan Tinggi: 4 Tahun

TK + SD + SMP + SMA + PT = 18 Tahun

Kita menghabiskan 18 tahun untuk pendidikan formal.


So, what’s the matter?

Pertanyaan pentingnya adalah: berapa banyak dari yang kita pelajari selama 18 tahun tersebut yang kita aplikasikan dalam hidup kita?

Agak aneh juga membayangkan bagaimana 18 tahun dalam kehidupan kita, kita di jejali berbagai pengetahuan dan teori yang “akan berguna di masa hadapan” tanpa diajari hal-hal yang “sangat berguna dan penting di masa kini dan di masa hadapan”.

Read More

Tips Belajar Bahasa Inggris Dengan Cepat dan Nikmat Bagian 1

Written by Fikri Rasyid on December 7, 2008 filed under Pendidikan, Tips and tagged with

Speak English?

Speak English?

Saya mahasiswa pendidikan bahasa inggris salah satu universitas negeri di Bandung, dan saya sering bingung jika ditanya orang mengenai bagaimana caranya saya belajar bahasa Inggris dulu. Dan saya yakin, jika anda tanyakan pertanyaan ini kepada orang yang cukup mahir berbahasa inggris, mereka akan bingung juga. Bahasa merupakan urusan kebiasaan. It’s all about habit. Entah bagaimana awalnya, tapi rasanya tiba – tiba bisa saja. Ketika SD dulu, saya termasuk yang crap di pelajaran bahasa inggris. SMP, entah mengapa tiba – tiba rasanya mengerti begitu saja bahasa inggris.

Agak membingungkan, tapi setelah saya runut jejak peristiwanya, saya menemukan satu saja kebiasaan yang saya yakini ini yang membuat kemampuan bahasa inggris saya menjadi lebih baik. Cara yang saya rasa cukup cepat, nikmat, dan efisien :

Dengarkan lagu dengan lirik berbahasa Inggris, dan pahami apa yang disampaikan lagu tersebut.

Yeah, as simple as that. Kebiasan saya dulu, zamannya walkman buatan sony masih merajalela, adalah mendengarkan kaset musisi barat. Yang saya lakukan adalah mencari lagu yang saya sukai. Ketika sudah saya temukan, saya cari liriknya. Ambil buku corat -coret, saya tulis liriknya. Menemukan kata – kata yang belum dimengerti? Segera buka kamus. Sederhana.

Pertamanya masih westlife. cover song dari zaman 80an. Kalimatnya masih mudah dicerna, sesuai dengan tata bahasa dan pendek – pendek. Tapi lama kelamaan, selera berubah. Zamannya hip metal berjaya, kombinasi dentuman rock dengan rhyme hip hop. Pilihan saya ketika itu, Linkin Park album Hybrid Theory.

Dan album ini memberikan pelajaran yang cukup berarti. Liriknya lumayan panjang, dan dipenuhi dengan ungkapan yang belum saya kenali ketika itu. Saya belajar banyak hal sekaligus : Vocabulary, Pronounciation ( Yep, rap = berbicara cepat + rhyme ), dan emosi. Kata – kata ini cocok untuk mengekspresikan perasaan ini, kata – kata itu cocok untuk mengekspresikan perasaan itu. dst, dst.

Sejak itu, selera musik saya berkembang. Semakin banyak musik dan liriknya saya lahap, semakin saya belajar. Hasilnya? Alhamdulillah. Skill Vocabulary + Interpreting + Pronouciation. :)

Sedang belajar bahasa Inggris? Anda bisa lakukan apa yang saya sudah lakukan. Setidaknya tips ini bekerja untuk saya, mengapa tidak bekerja untuk anda? ;)

“Dig” dalam Narasi Impresionistis dan keheningan malam

Written by Fikri Rasyid on November 11, 2008 filed under Pendidikan, Personal, Review and tagged with ,

Ketika itu malam. keheningan mulai larut, dan pancaran layar beresolusi 1024 X 768 piksel mulai melelahkan mata saya. Ingin rasanya menekan ikon start di sudut kiri bawah desktop, menekan ikon turn off your computer dan segera merapat dalam dekapan selimut yang hangat. Tapi itu bukan pilihan yang tepat. Masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan malam ini.

Saya butuh penyegaran, batin saya. Harus ada sesuatu yang turut meramaikan keheningan malam ini.

Segera saya buka aplikasi windows explorer, dan sebuah direktori dengan ukuran file sebesar 5.53 Gigabyte berisi file dengan ekstensi .mp3 menjadi destinasi saya. Saya pilih sebuah sub direktori bernama “incubus“, dan sebuah file bernama 03 Dig.mp3 segera saya putar dengan aplikasi GomPlayer, software media player favorit saya.

Satu lagu dari Incubus berjudul Dig dari album terbarunya, Light Grenade mulai mengalun dari speaker PC saya. Memecah keheningan malam.

Sederhana, dalam, dan mengesankan. Ini lagu halus dengan tempo yang pelan. Untuk band alternative seperti incubus, dimana mereka tidak terkekang oleh aturan notasi genre apa yang akan mereka mainkan namun lebih sering mengkombinasikan musik dengan distorsi dalam komposisinya, lagu ini sangat berbedabeda.

Benar – benar berbeda.

Cukup berbeda untuk membuat saya mengalihkan perhatian sejenak dari apa yang semestinya saya kerjakan, dan membuat suasana malam yang hening menjadi lebih impresif.

Lagu ini memiliki semua elemen yang harus dimiliki oleh lagu berkategori “keren” menurut saya : Dibawakan oleh musisi yang tepat, Emosi lagu yang tepat, komposisi yang mengalir, dan satu hal yang sangat penting : Lirik yang ambigu dan dalam. Bagian lirik yang sangat mengena menurut saya :

We all have a weakness
But some of ours are easier to identify.
Look me in the eye

Satu bait tentang “Kita semua orang memiliki kelemahan, dan kamu tahu itu”

We all have a sickness
That cleverly attaches and multiplies
No matter how hard we try.

Bait yang lain mengenai “Kita semua memiliki kelemahan, dan selalu bertambah, entah bagaimana caranya”

If I turn into another
Dig me up from under what is covering
The better part of me
Sing this song
Remind me that we’ll always have each other
When everything else is gone.

Satu reffrain yang indah mengenai “Tolong ingatkan saya bahwa kita saling memiliki ketika yang lain tidak perduli lagi, dan pahami pahamkan saya bahwa saya memiliki satu bagian yang lebih baik ketika saya berubah “

Waw. Satu syair yang indah.

Dan cukup indah untuk menemani saya dan komputer pribadi saya malam itu.

Sejenak saya terdiam memperhatikan alunan lagu ini, lalu ikut melantunkannya pada beberapa bagian yang sangat berkesan. Ketika GomPlayer saya selesai memutar lagu ini dan mulai memainkannya kembali, saya kembali pada posisi duduk yang nyaman untuk mengetik. Tangan saya kembali menjamah tombol – tombol keyboard. Otak saya mengrimkan sinyal kepada otot jari saya untuk bergerak. Memberikan perintah ke proscessor komputer untuk menampilkan karakter huruf yang dimasukkan melalui keyboard.

Saya kembali melanjutkan pekerjaan saya.

Mengapresiasi Karya Seni Bernama Pembacaan Puisi

Written by Fikri Rasyid on November 4, 2008 filed under Pendidikan, Personal and tagged with ,

Hari itu siang. kombinasi terik – berawan menghiasi langit sebagaimana hari – hari pancaroba pada umumnya. Sengatan matahari, hembusan angin siang, tetes keringat yang mengucur sebagai upaya sekresi sistem pengeluaran manusia adalah tiga hal yang dapat kuingat kala itu.

Kulkangkahkan kakiku menuju university centre kampus yang baru saja selesai di bangun. Khusus hari ini, mata kuliah Bahasa Indonesia yang kuikuti tidak diadakan di kelas seperti biasa. Entah apa yang ada dalam benak dosen ku kala itu. Penyegaran? Pergantian suasana? Lari dari ruang 8 X 10 M yang setiap hari ditemuinya? entahlah. Apapun alasannya, yang ada di kepalaku hanya instruksi kaku seperti yang dikatakan seorang kapten pada anak buahnya di tengah latihan militer : Segera tuju university centre! Tidak perlu menghabiskan protein untuk membuat neuron otak bekerja mencari alasan mengapa aku melangkahkan kakiku. Segera tuju university centre! titik.

Sesampainya di university centre, duduk sekitar 10 menit di lobby bangunan yang baru berdiri dan belum rampung selesai itu, lalu aku dan rekan – rekan se-mata kuliah bahasa indonesia digiring ( penghalusan? dari diarahkan. atau sebaliknya? ) menuju areal parkir Gedung University Centre. Hmm, ternyata alasan mengapa kelas kami tidak dilakukan dalam ruang 8 X 10 M seperti biasa adalah Dosen kami, mengundang seorang rekannya yang seorang sastrawan yang tengah mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif untuk menunjukan secara langsung, secara live, secara tatap mata, dan secara – secara lain yang tepat untuk mendeskripsikan ” melihat langsung dengan mata kepala sendiri” proses penyajian suatu karya seni bernama Pembacaan Puisi.

Lima menit setelah dosenku memberikan pengarahan mengenai apa-mengapa-dimana dan pertanyaan kasual bergaya 5W + 1 H jurnalistik mengenai “mengapa hari itu kami tidak kuliah dalam ruang kelas, mengapa kami berkumpul disini, siapa yang saya undang untuk kalian hari ini dan apa yang akan orang yang saya undah lakukan”, Sastrawan rekan dosenku tersebut, pria dengan panggilan Kang Ayi, lelaki tinggi dengan rambut menjulur panjang dengan celana jeans, mengingatkanku dengan vokalis slank pada era awal band tersebut memulai karirnya, ( minus tato di dada dan high saat manggung tentunya ) mulai berdiri, memperkenalkan dirinya, dan memberikan sebuah introduksi mengenai pembacaan puisi. Suatu jenis kegiatan seni yang mungkin kalah populer di kalangan anak muda generasi sekarang jika di bandingkan dengan hmmm… ambil satu contoh : ngeband.

Selesai introduksi, akhirnya pertunjukan utamanya dimulai : Pembacaan Puisi. Bukan pembacaan puisi kelas pemula dimana sang pembaca puisi berdiri gemetaran meremas secarik kertas dengan ekspresi tanggung dan membacakan puisi sekeras – kerasnya. Bukan. Yang satu ini pembacaan puisi yang telah dihafal di luar kepala oleh Kang Ayi, disertai aksi teatrikal dimana Kang Ayi menggunakan seluruh elemen tubuhnya yang bisa digunakan, untuk menjelaskan secara visual keadaan dari puisi tersebut. Satu teknik yang “di adaptasi dari teater”, akunya.

OK, sejenak aku terkesima. Untuk seseorang yang pengetahuan seninya berputar – putar diantara musik alternative, komposisi tidak umum incubus, Manga karangan beberapa mangaka, buku – buku pengembangan diri dan pokok bahasan yang jarang dibaca oleh rekan – rekan segenerasi dan postingan di blog, karya seni bernama pembacaan puisi ini ok juga. Ok jika dilakukan dengan melibatkan emosi, seperti yang dilakukan kang Ayi.

Seperti Brandon Boyd yang tengah menyanyikan Pantomime di Red Rocks venue : Impresif

Pesan moral dari post ini : Pembacaan Puisi merupakan sesuatu yang keren, jika dilakukan dengan tepat : Melibatkan perasaan.

Bagaimana menurut anda?

( Assigment untuk mata kuliah Bahasa Indonesia. Minimal 500 kata, maka keluar sisi lain saya : hiperbolis dan mengasosiasikan sesuatu kemana – mana. Well, bagaimana Pak Andika? )