Kosan D'Balcony Belum Diisi
Life

Nyari Kosan di Sekitar BINUS Syahdan

Mengantisipasi perpindahan status dari freelancer kontrakan jadi karyawan full-time BINUS di divisi Digital-Media Development pada awal Mei 2013 kemarin, gue sudah mulai nyari kosan di sekitar BINUS Syahdan sejak April 2013 silam. Di sela-sela waktu meeting mingguan di bulan April, gue mencoba jalan kiri-kanan ngeliat-liat kosan. Ada beberapa hal (yang gue temukan) yang gue pikir akan berguna untuk siapapun yang di masa depan berniat untuk nyari kosan di sekitaran BINUS Syahdan. Maka dari itu, gue nulis post ini.

Budget

Pertanyaan dasar banget. Berdasarkan lumayan banyak kosan yang sempat gue datangi, IMO sementara ini kosan sekitaran BINUS Syahdan bisa dibagi ke dalam tiga kategori:

  1. Di bawah 1jt-an
    Kamar mandi luar, non-AC
  2. 1jt – 2jtan
    Kamar mandi dalam, AC, Laundry, Internet
  3. Di atas 2jtan
    Semua yang dimiliki kosan yang diantara 1jt – 2jt an, plus lokasi yang amat sangat deket dengan kampus ATAU kamar yang relatif lega

Fasilitas

Setiap orang punya kebutuhan berbeda-beda, tapi gue pribadi memiliki kebutuhan-kebutuhan ini:

  1. Laundry
    Jika ada waktu luang, gue pikir lebih efisien untuk dipakai ngulik, istirahat, atau nyari tambahan project.
  2. AC
    Gue dari Bandung. Meskipun pernah di Indramayu selama 6 tahun, panasnya Jakarta ini ampun-ampunan deh.
  3. Internet
    Kalo ada kebutuhan untuk mengerjakan sesuatu di luar kantor, masa harus nyari free wi-fi dulu supaya bisa internetan? Internet mah wajib ada.
  4. Kamar mandi dalem
    IMO lebih tenang pake kamar mandi dalem sih. Gue kalo boker suka terlalu selo :))
  5. Jendela
    Once in a while, gue butuh matiin AC dan membiarkan udara bersirkulasi secara alami. Selain itu, sinar matahari perlu masuk juga tiap pagi.
  6. Ada tempat untuk parkir mobil
    Gue ngga bawa mobil, cuman kalo ada keluarga dateng bisa dalam rangka nengok atau nginep bawa mobil dan susah parkir (atau bisa parkir tapi ngga aman), it’ll be frustrating.

FYI, poin satu sampai empat itu gampang banget dicari. Poin keenam biasanya bisa didapat KALAU punya budget yang lebih. Yang susah itu poin ke lima: di sekitaran BINUS ini banyak banget kosan. BANYAK BANGET. Yang susah itu mencari kamar kosan yang ada jendelanya. Sepengamatan gue, kebanyakan kosan di sekitar BINUS Syahdan yang modelnya model gedung (satu gedung terdiri dari beberapa lantai yang satu lantainya bisa sepuluhan kamar lebih) dan sangat/terlalu mengandalkan AC. Banyak banget kamar yang ngga punya jendela yang mana buat gue mengagetkan banget. Sekalinya ada kamar yang punya jendela, jendelanya ngga bisa dibuka :| Kalo lu beruntung, lu bisa dapet kamar kosan yang ada jendelanya dan bisa dibuka.

Browsing (Internet FTW)

Setelah berkali-kali jalan dan ngecek langsung, gue masih belum nemu tempat yang sreg banget dengan kebutuhan gue. Akhirnya gue baru keinget, kenapa ngga googling aja *facepalm.jpg*. Setelah gue coba browsing-browsing, ternyata ngga terlalu banyak website yang bisa dijadikan referensi untuk kosan di sekitar BINUS. Buat gue, hal ini memunculkan pertanyaan juga: apakah ngga banyak orang yang nyari informasi mengenai kosan di sekitar BINUS melalui internet sehingga ngga banyak informasi yang searchable tentang topik ini?

Balik lagi ke topik nyari kosan, setelah googling-googling, gue nemu informasi mengenai beberapa kosan dari kostjakarta.com. Begitu ada waktu luang sehari, gue coba mendatangi dan mengecek kosan-kosan tersebut.

Memilih D’Balcony

Setelah keliling-keliling nyari kosan yang mana melelahkan banget ini, gue akhirnya memutuskan untuk ngekos di D’Balcony. Alasannya:

  1. SETIAP KAMAR ADA JENDELA-NYA DAN BISA DIBUKA. Banyak pula kamar yang punya balkon kecil dan harga sewa-nya cuman selisih 100rb. Ini deal-breaker banget: jendela buat gue vital banget dan ngga banyak kosan sekitar BINUS Syahdan yang model begini.
  2. Luas kamar sekitar 3 X 4 meter termasuk kamar mandi. Ngga gede-gede banget sih, tapi cukup lah.
  3. Sudah termasuk AC.
  4. Sudah termasuk kamar mandi dalam, sudah termasuk kasur, meja, kursi dan lemari.
  5. Kamar mandi dalamnya lumayan lega. Menggunakan toilet duduk dan shower.
  6. Ada tempat parkir. Kalo lu bawa mobil, ada biaya tambahan sih. Ini bermakna: tempat parkirnya udah reserved. Berita baiknya, tempat parkir itu bisa dipake kalo beberapa jam doang mah. Kalo mau parkir semaleman karena nginep, bisa ikut di apartemen D’loft yang mana semacem parent company-nya D’Balcony.
  7. Satpam dan pengelola kosannya enak.
  8. Setiap hari, free laundry empat potong pakaian.
  9. Sudah termasuk listrik 100 Kwh. Selanjutnya, biaya sendiri.
  10. Di setiap lantai ada tempat cuci piring. Di lantai dua ada kompor.
  11. Kamarnya lumayan kedap suara. Kalo kamar sebelah nyetel musik kenceng-kenceng atau alarm handphone-nya nyala di dini hari, ngga bakal ngeganggu banget. Well pengecualian kalo ngedengerin musiknya pake sub-woofer dan bass-nya berdentum. Bakalan kerasa kalo gitu sih -_-” *udah kejadian*
  12. Pintu dan pager dikunci secara otomatis. Bukanya pake kartu gitu: deketin kartu ke receiver, lalu automatically unlocked.
  13. Ada satpam, dan di lorong kosan ada CCTV.
  14. Letaknya di jalan U, cuman dua belokan dari BINUS Syahdan. Ngga lebih dari 500 meter dari tempat kerja XD
  15. Sebulan cuma 1,5jt doang. Untuk pertama masuk, depositnya senilai biaya kosan dan bisa cair setelah tiga bulan.

Dibandingkan dengan opsi fasilitas/budget kosan lain di sekitar BINUS, ini kombinasi paling oke yang bisa gue temukan. Atau lu tau ada lagi yang lebih oke?

Berikut ini beberapa foto D’Balcony yang gue ambil via iPhone:

Beberapa alternatif

Dalam pencarian gue, gue menemukan beberapa alternatif yang sebenernya cukup oke cuman secara budget / lokasi / fasilitas gue pikir ngga seoke D’Balcony:

  1. Grand Residence Kemanggisan: 1,9jt perbulan – secara fasilitas, semua yang dimiliki D’Balcony dia punya dan dengan kualitas yang lebih oke – cenderung mewah malah. Minusnya: lokasinya lumayan jauh dari Syahdan, biaya kosan belum termasuk listrik (100rb per 100 Kwh, sekitar 100rb per minggu lah), maksimal teman / keluarga menginap 4 kali dalam sebulan – selebihnya charge 100 ribu per malam. IMO, masalah jatah nginep ini buat gue lumayan annoying, berasa bukan tempat tinggal sendiri aja :))
  2. Kosan samping BINUS Anggrek banget: 2.5jt perbulan. Lokasi oke banget, ada parkir, kamar mandi dalem, kamar luas banget. Minusnya: kemahalan buat budget gue. Alokasi gue 1 – 2jt aja buat tempat tinggal :))

PENTING: harga dari kosan-kosan yang gue sebutkan diatas bisa aja berubah. Kalo lu ngegunain informasi yang gue sebutkan ini sebagai referensi, CEK LAGI.

Thoughts?

Well itu aja sih yang terpikir saat ini. Ada yang mau nambahin? :)

Standard
Instalasi Arsitektur di BINUS Syahdan. Sampe sekarang entah apa ini artinya
Life, Politics

Kemungkinan Salah

Ini cuman gue doang, atau lu juga merasakan hal yang sama?

Gue, most of the times.

Berbekal kenyataan bahwa mayoritas media massa (terutama TV) dimiliki oleh figur yang punya kepentingan politis, aktif berpolitik di bawah bendera partai tertentu, dan beberapa kejadian dimana berita di media tertentu yang jelas-jelas A dipelintir jadi B, gue pribadi kalau baca atau nonton berita terutama berita politik merasa kalau berita tersebut memiliki peluang yang besar untuk jadi bias.

Jadi kalo ada berita tentang politik yang datang dari suatu media massa, gue malah selalu kepikiran: bagaimana kalau yang benar itu malah sebaliknya dan berita yang ada sekarang itu pelintiran supaya mendukung kepentingan si pemilik media massa?

Gue pikir hal ini sangat mungkin untuk terjadi.

Lalu, terlepas dari faktor bias buah intervensi si pemilik media massa, gue pribadi cenderung menghindari “kemutlakan” seperti bilang “AH NGGA MUNGKIN, PASTI GINI GINI GINI!” dalam hal-hal yang sifatnya bukan prinsip atau akidah.

Gue cenderung berpikir kalau mustahil gue tahu segalanya. Kemampuan gue memahami sesuatu terbatas oleh kemampuan gue mengindrai hal-hal yang ada. Oleh karena itu, gue cenderung mencoba membuka pintu “kemungkinan”. Saat ini keliatannya X, semua orang berpendapat X, tapi bentar dulu, somehow bisa aja yang sebenernya terjadi itu Z.

Namanya juga manusia. Sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya manusia, pengetahuan dan kemampuan dia terbatas. Terikat faktor emosional pula. Manusia yang baik aja bisa jadi salah, apalagi manusia yang ngga belum baik.

Berlandaskan pemikiran diatas, dalam konteks sehari-hari seorang manusia 20 tahunan yang lumayan melek media sosial, gue jadi suka bertanya-tanya dalam hati mengenai perilaku pengguna twitter yang dengan gampangnya nyinyir berbekal RT-an judul artikel yang entah dibaca isinya apa ngga itu:

Apakah lu dengan mudahnya percaya 100% dengan news outlet / media massa?

Itu baru yang nyinyir berbekal judul artikel media massa, belum yang heboh bermodal share-an foto atau artikel di Facebook yang entah darimana datangnya, entah bagaimana validitasnya, dan entah yang heboh ini kepikiran untuk ngecek validitasnya dulu atau tidak.

dude-seriously

Oh iya, perlu diingat juga: Semua yang gue tulis diatas bisa aja salah.

Wallahualam.

Standard
Life

Kehidupan Di Masa Lalu

Gue selalu penasaran bagaimana orang jaman dulu hidup. Coba bayangkan:

  1. 50 tahun lalu tidak ada internet
  2. 150 tahunan lalu, sistem monarki absolut itu wajar
  3. Lebih dari 200 tahunan lalu, perbudakan masih sesuatu yang lumrah.
  4. Dan seterusnya.

Banyak hal yang kita anggap wajar, biasa saja, dan “hak dasar” hari ini merupakan sesuatu yang tidak ada dan tidak terbayangkan di masa lalu. Gue selalu berpikir: How did they live with that?

Anyway, karena keterbatasan referensi ilmiah yang gue miliki dan kenyataan bahwa gue belum pernah menemukan referensi ilmiah mengenai kehidupan di masa lalu yang menjelaskan dengan cara yang engaging mengenai bagaimana kehidupan di masa lalu, ujung-ujungnya gue lari ke fiksi yang bersetting di masa lalu. Film, manga, you name it. Meskipun bukan fakta, gue pikir untuk menjadikan fiksi mereka ‘hidup’, pengarang dari fiksi tersebut pasti melakukan riset mengenai setting dimana fiksi mereka akan diceritakan. Close enough. Berikut ini beberapa fiksi yang membuat gue berpikir “How the hell they live with that?”.

Kingdom of Heaven (Movie)

Kingdom of Heaven. Courtesy of TM and 2005 Twentieth Century Fox.

Kingdom of Heaven. Courtesy of TM and 2005 Twentieth Century Fox. Source.

Gue pernah belajar mengenai sejarah islam saat nyantri dulu dan nama Salahadin Al-Ayubi memang seingat gue disebut sebagai pahlawan penakluk Konstantinopel. Yang membuat gue kepikiran setelah menonton film ini:

  1. Perang salib itu politis, bukan perang antar agama. Ini sejalan dengan yang gue pelajari dulu sih.
  2. Luka menyebabkan infeksi. Infeksi bisa membunuh karena dulu ngga ada disinfektan. Hari ini kita menganggap disinfektan itu biasa-biasa aja dan infeksi bukan hal besar.
  3. Perjalanan dari satu titik ke titik lain itu bisa makan waktu sangat lama. Belum lagi kemungkinan diserang di tengah perjalanan oleh rampok atau pasukan teritori asing.
  4. Kota harus punya benteng agar kalau diserang bisa bertahan. Hari gini kota mana ya yang punya benteng?
  5. Orang bisa sangat loyal terhadap lord-nya. Menjadi anak seorang lord berarti siap-siap menerima intensif seorang lord dan kewajiban seorang lord. Logikanya: Kalo lord-nya pendidik yang baik, anak si lord akan sebaik bapaknya. Kalau lord-nya bukan pendidik yang baik meskipun seorang lord yang baik, well the people is soon-to-be doomed.
  6. Yang ribut Ratu dan Raja, yang mati rakyatnya. What the hell, sekarang juga masih gitu kok. Labelnya aja bukan Ratu dan Raja.

Game of Thrones (TV Series)

Still of Sean Bean in Game of Thrones

Still of Sean Bean in Game of Thrones. Courtesy of HBO. Source.

Meskipun setting-nya fantasy-medieval, tapi serial ini membuat gue sedikit banyak kebayang parahnya kehidupan medieval. Kalo di Kingdom of Heaven gue lebih tertarik kepada sifat knightly tokoh-tokoh sentralnya, di Game of Thrones ini karakternya lebih banyak jadi perhatian gue ngga terlalu terpusat di karakternya. Beberapa hal yang gue simpulkan dari menonton serial ini:

  1. Masih sama: yang ribut Ratu dan Raja, yang mati rakyatnya. Cuman skalanya lebih parah aja. Rebutan kekuasaan. The throne is my birthright! Die for me, people! Die! Dafuq.
  2. Kesetiaan terhadap House / Clan. Everything for the house. Buat gue ini terdengar seperti versi mini dari nasionalisme, cuman dibatasi ikatan darah keluarga sementara konsep nasionalisme lebih abstrak aja.
  3. Orang jaman dulu jarang mandi kayanya ya. Mandi gimana, baju & armor-nya aja heboh gitu.
  4. Menikah itu untuk mempertahankan posisi strategis, bukan karena cinta-cintaan ala Hollywood / Bollywood.
  5. Life expactancy orang jaman dulu pendek kayanya.
  6. Orang bisa bertahan hidup karena kehormatan. Hari gini orang bertahan karena harta, kehormatan mah entah kemana.
  7. Kalo lu lahir sebagai anak seorang lord, congratulation! Kalo dalam kondisi perang, sial juga sih karena lu akan diburu. Tapi kalo dalam kondisi damai, selamat! Lu ngga kerja juga hidup lu terjamin! Kalo lu lahir sebagai anak kelas pekerja, buruan punya keahlian!
  8. Anak di luar nikah dimana-mana. Bayangin lu berangkat perang gara-gara lord lu ribut dengan lord lainnya. Ngga mungkin makan waktu sebentar karena jalannya aja pake kuda / marching, pasti berbulan-bulan atau malah bertahun-tahun. Berbulan-bulan ngga ketemu pasangan, senggol kiri-kanan. Not to mention belum ada KB jaman dulu. Ngga kebayang kacaunya, bisa-bisa orang ngga sengaja incest. Even for non-believer, I think that is freakin gross.

Vinland Saga (Manga)

Vinland Saga

Vinland Saga

Manga yang bersetting tentang kehidupan perompak Viking ini memberikan insight yang lebih parah daripada Kingdom of Heaven atau Game of Thrones.

  1. Membunuh orang itu… lumrah. Sesama perompak ribut, bunuh-bunuhan. Berantem di jalan, keluar pedang, ada yang mati. Perang, ngebunuh lawan.
  2. Keselamatan itu langka. Bayangin tinggal di desa yang damai di tepi laut. Tiba-tiba bajak laut datang, membunuh laki-laki yang ngelawan, memperkosa wanita yang ada, dan merampok harta dan bahan makanan yang tersisa. That is insane.
  3. Wealth and Glory. Raja-raja sialan itu ujung-ujungnya perang dan melibatkan nyawa pasukannya gara-gara dua hal ini.
  4. Life expactancy itu pendek banget. Udah orang-orang sering perang, pengobatan belum semaju hari ini pula.
  5. Kalo lu laki-laki, lu harus punya keahlian berpedang / perang. End of story. Lu ngga bakal tahu kapan perompak datang dan membuat kekacauan di desa lu. Lu ngga bakal tahu kapan lu dipanggil kerajaan untuk jadi tentara.

Gue ngga tahu gimana melanjutkan dan menutup gagasan yang meloncat-loncat di pikiran gue mengenai topik ini. Yang terlintas di pikiran gue cuman satu: Kalo lu ngerasa beban hidup lu berat banget, coba sekali-sekali bayangin kehidupan orang-orang di zaman dulu ini kaya gimana. Those people experienced one hell of a world, no?

Standard
Education, Life

Triangulasi

Data Analysis

Tiga hal yang gue simpulkan dari kejadian-kejadian belakangan ini:

  1. Jangan percaya mentah-mentah
  2. Cek dari sumber lain
  3. Simpulkan sendiri opini lu

Atau sederhananya, lakukan triangulasi: melakukan cek silang dari berbagai jenis atau sumber data untuk memastikan validitas data atau informasi (Gillham, 2000:13; Bassey, 1999:76). Kenapa gue menyimpulkan tiga poin ini? Sederhananya, karena kemampuan manusia dalam memahami sesuatu itu terbatas, seterbatas apa yang dia ketahui.

Ilustrasinya: Orang buta yang bilang kalau gajah itu seperti ular karena yang dia tahu dari gajah itu belalainya doang.

Besok-besok, kalau ada situasi yang cukup ‘genting’, tahan sebentar dan ingat hal ini:

Jangan percaya mentah-mentah

Informasi yang lu terima itu bisa aja ngga utuh. Yang menyampaikan informasi itu bisa saja orang yang lu percaya tapi bisa aja (lagi) yang bersangkutan cuman ngelihat dua sisi dari kejadian yang sebenarnya bisa dilihat dari empat sisi berbeda. Yang bersangkutan bukan bohong, tapi mungkin karena situasi, keterlibatan emosi, atau hal lainnya, yang bersangkutan ketahui jadi parsial atau tidak utuh.

Cek dari sumber lain

Untuk satu kejadian yang misalnya punya empat sisi, jika lu punya dua sumber data dimana sumber pertama tahu dua sisi dan sumber kedua tahu dua sisi lainnya, pemahaman lu akan jadi lebih menyeluruh. Kalau variabel sisi-nya lebih banyak, cari lebih banyak sumber data.

Simpulkan sendiri opini lu

Lu bertanggung jawab atas diri lu dan opini lu sendiri. Mengutip King Baldwin IV di film Kingdom of Heaven:

A king may move a man, a father may claim a son, but that man can also move himself, and only then does that man truly begin his own game. Remember that howsoever you are played or by whom, your soul is in your keeping alone, even though those who presume to play you be kings or men of power. When you stand before God, you cannot say, “But I was told by others to do thus,” or that virtue was not convenient at the time. This will not suffice. Remember that.

Please, jangan ikut-ikutan jadi American Idiot.

Don’t want to be an American idiot.
One nation controlled by the media.
Information age of hysteria.
It’s calling out to idiot America.

Green Day – American Idiot

Apapun isyu-nya, skala personal, lokal, nasional, atau bahkan internasional, selalu coba untuk “form your own opinion“. Sekalipun salah, setidaknya lu sudah mencoba dan memutuskan untuk tidak jadi domba yang disetir-setir perhatiannya untuk memenuhi kepentingan sejumlah kecil orang yang serakah.

Referensi

  1. Gillham, B. (2000). Case Study Research Methods. New York: Continuum.
  2. Bassey, M. (1999). Case Study Research in Educational Settings. Philadelphia: Open University Press.
Standard
Thousands of new scholar. Hopefully - wide
Life

Sarjana Pendidikan

Rabu kemarin, fase pendidikan sarjana gue akhirnya selesai juga. Empat setengah tahun di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris berlalu juga. FYI, gue sebenarnya ngga ingin masuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI. Sejak tingkat terakhir SMA / MA, gue selalu ingin masuk jurusan DKV ITB. Namun apa daya, ternyata nyokap ngga setuju. Pinternya nyokap, beliau ngga serta merta ngelarang. She let me tried. Gue dibiayain untuk les di villa merah, gue dibiarin untuk ujian, dll. Tapi mungkin karena ngga ada restu, pas ujian ya gagal juga :))

Setelah gue nyoba dan gagal ujian, nyokap selalu bilang ke gue:

“Masuk bahasa inggris UPI a buat S1-nya, kesananya terserah. Insya Allah sukses geura. Sok kesananya mah terserah Aa.”

Untuk setaun gue ngeyel dan malah ngambil program setara D1 untuk web development. Sampe ada yang bilang “itu si Fikri kenapa ngga dikuliahin? Ngga ada uang apa gimana?“. That was freakin hurt. Mendekati hari terakhir penutupan pendaftaran UM UPI 2008, akhirnya gue ngalah juga.

“Yaudah deh, that sounds fun. Gue pengen belajar tentang pendidikan juga sih”.

Berbekal restu nyokap, secara lancar (banget) gue ujian UM dan masuk jurusan Pendidikan Bahasa Inggris UPI. Sebagai perbandingan, seseorang yang gue tau mencoba selama dua tahun untuk masuk jurusan serupa lewat berbagai jalur (PMDK, UM, SNMPTN) dan gagal. Gue masuk dengan lancarnya.

And that’s how it was started.

Fast forward empat setengah tahun kemudian, gue akhirnya S.Pd. juga. Gue ngga pinter-pinter amat, di himpunan ngga aktif dan di kampus juga ngga rajin-rajin amat karena gue memilih untuk freelancing supaya gue bisa mandiri secara finansial sesegera mungkin. Menariknya, hasil studi gue ternyata ngga jelek-jelek amat. IPK gue tembus 3.59 dan semalem gue dapet SMS dari staff fakultas kalo gue ternyata termasuk tiga besar lulusan terbaik untuk prodi gue yang wisuda April ini.

“Masuk bahasa inggris UPI a buat S1-nya, kesananya terserah. Insya Allah sukses geura”

Kalimat itu sering terngiang-ngiang lagi di kepala gue belakangan ini. Nyokap ngerestuin jalur yang gue ambil dan sepertinya Tuhan mengizinkan semesta untuk berkonspirasi ngebantu gue menghasilkan semua yang gue capai, regardless sepas-pasan apapun gue.

Nyokap ingin dan merestui gue ngambil pendidikan Bahasa Inggris UPI, gue jalani dan ternyata fun & awesome banget, dan gue lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. It feels like it couldn’t be better than this.

Hence, those are why I dedicate this S.Pd. degree to my Mom. Thanks for the approval Mom, you know how much I love you.

Kembali ke realita, kamis kemarin gue baru tanda tangan kontrak untuk satu tahun kedepan di divisi digital media salah satu universitas swasta di jakarta. Mulai mei gue akan berpartisipasi menuh-menuhin jakarta selama setidaknya setahun mendatang. Nyokap udah ngerestuin.

Well, sampai jumpa di fase berikutnya.

Standard
Life

Seputar Perjalanan Bandung – Jogja 2013

Berapa jam lagi sampai ke Bandung

Sejak jum’at kemarin, gue dan sekeluarga (minus teteh karena ada keperluan) berangkat ke Jogja untuk menghadiri acara pernikahannya sepupu gue. Ini kedua kalinya gue ke Jogja (yang pertama transit dari Bali mau pulang ke Bandung) dan pertama kalinya ke Jogja bawa mobil sendiri. Ada beberapa hal yang pengen gue share seputar perjalanan ini, siapa tahu berguna buat elu-elu yang mau nyetir ke Jogja juga.

  • FYI, gue pake jalur selatan. Jalanan dari Bandung ke Banjar (kawasan terujung Jawa Barat) bagus dan jarang ada kerusakan jalan yang parah banget. Begitu masuk ke Jawa Tengah hingga kurang lebih satu setengah jam perjalanan, jalanannya relatively fucked up. Kayanya tiap seratus meter ada aja jalan yang bolong. Yang sebarisan rusak parah aja ada. Jalan bolong-bolong sih sebenernya ngga masalah kalo lu bawa mobil dengan kecepatan 50 km/jam kebawah. Tapi kalau lu nyetir agak cepet dan nyalip-nyalip, kondisi jalan kaya begini jadi bahaya karena bisa aja mobil yang lu salip oleng ke kiri atau ke kanan untuk ngehindari jalan bolong. Kalo lu nyalip terus ketemu jalan yang rusaknya lumayan parah juga lu bakal oleng juga.

    Anyway, reaksi pertama gue saat ngeliat jalan parah begini: “ini gubernur Jawa Tengah kerjaannya ngapain aja jalan antar provinsinya buruk rupa begini?”. Gubernur Jawa Barat jadi ngga parah-parah banget di mata gue sekarang :))

  • It’s a freakin long road. Keluarga gue biasa mudik ke Cijulang, Pangandaran. Gue pikir ke Jogja itu palingan sama kaya ke Cijulang ditambah dua – tiga jam lah. Ternyata ngga dong. Ke Jogja itu sama kaya ke kota Banjar terus ditambah 200 km lagi LOLYang jadi masalah disini perjalanan panjang ini ngebosenin. Kalau perjalaan panjang dan dikiri-kanan ada hal-hal menarik seperti cemilan yang bisa disinggahin kan asik ya, lah ini plain aja gitu. -_-”
  • Jarak Bandung – Jogja, bensin yang dibutuhin sekitar 200ribuan lah (note: pake Livina X-Gear). Untuk perbandingannya, setau gue kereta bisnis atau eksekutif itu diatas 200ribu per orang.
  • Apple Maps works like a charm. Diluar skandal banyak orang yang nyasar karena menggunakan Apple Maps, kemarin gue sekeluarga mengandalkan Apple Maps untuk nyari jalan dan sejauh ini lancar-lancar aja. Bokap gue sampe becanda “berasa ada malaikat nunjukin jalan ya” :))) None of us knows the route to Jogja at all. 
  • Di daerah sekitar Jogja, banyak mobil yang nyalip lewat kiri (jalur motor) -_-”
  • Tempat peristirahatan favorit keluarga gue: SPBU Cisaga sekitar Banjar. Ada saung, tempat makan dengan harga yang sangat murah dan enak, WC yang bersih, mushalla yang nyaman, ATM, minimarket, dan ngga ketinggalan.. SPBU. :))
  • Gue berangkat dari Bandung jam 06.00 pagi dan tiba di daerah jogja sekitar pukul 08.00 malam. Gue istirahatnya lumayan lama sih, sekitar satu setengah jam-an. Pulangnya gue berangkat dari Malioboro sekitar pukul 13.30 dan sampai di bandung jam 07.00 pagi. Malemnya sempat istirahat lagi di Cisaga sekitar dua jam-an untuk tidur dulu biar seger.

Itu aja sih. Ada yang mau nambahin? :D

Standard
Life

Dihadapkan Kepada Kematian

Setiap hari, manusia sibuk menguntungkan dirinya setinggi-tingginya. Namun ketika dihadapkan dengan kematian, akan jelas apa yang penting, sangat penting, dan ternyata tidak sepenting itu baginya. Prioritas. Most human sucks at making real priorities.

Pantaslah jika orang-orang besar yang pernah hidup selalu bilang mengingat kematian adalah sesuatu yang dilakukan oleh orang yang benar-benar pandai dan beruntung.

Standard
File-File Skripsi
Education, Life

Balada Skripsi & Sidang Skripsi

File-File Skripsi

Setelah sebulan jungkir balik, harap-harap cemas dan berdo’a dengan sangat spesifik, gue akhirnya bisa bilang “Alhamdulillah, tanggung jawab gue sebagai sarjana S1 tinggal urusan administrasi, antologi, dan wisuda“.

Artinya, ternyata kekejar juga sidang bulan Februari kemarin :’)

This is surprising thing. Jangankan buat orang lain, gue pribadi kaget juga karena ternyata bisa kekejar juga sidang bulan Februari ini. Di UPI, wisuda hanya diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun: April, Agustus, dan Desember (CMIIW). Kalo ingin ngejar wisuda April, ujian sidang paling telat itu bulan Februari kemarin. Kalo gue kelewatan kesempatan ujian sidang bulan Februari kemarin, gue baru bisa wisuda Agustus.

For the record, gue telat banget memutuskan untuk total mau ngeberesin skripsi ini. Seinget gue yang didukung catatan-catatan jurnal gue, gue baru mulai ‘serius lagi’ ngerjain skripsi di bulan November 2012 kemarin. Januari 2013 gue udah mulai ningkatin kecepatan gue meskipun kerjaan DMD lagi rumit-rumitnya. Bulan Februari 2013 gue memutuskan untuk off dulu dari kantor sebulan untuk fokus ngeberesin skripsi ini.

Ada banyak hal yang gue pelajari dari pengalaman ngeberesin skripsi dan ngejar sidang:

#1
First draft of everything is a shit. Gue pernah pelajari ini dulu, tapi dari skripsi ini kerasa banget kalo dari revisi ke revisi perbaikan tulisan itu signifikan adanya. Poinnya: semakin sering direvisi, semakin cepet beres skripsi lu. Masalahnya, gimana caranya mengusahakan waktu bimbingan dan revisi itu.

#2
Skripsi lu perlu di proofread oleh beberapa orang yang jelas-jelas lebih pintar dari elu. Ini penting: cari beberapa temen yang menurut lu lebih pintar dari lu, lalu buat gimana caranya supaya mereka mau baca dan nge-proofread skripsi lu. Tanpa bantuan temen-temen yang mau nge-proofread skripsi gue, mustahil gue bisa ngeberesin skripsi gue.

#3
Kalo lu mau skripsi lu cepet beres, lu harus fokus. Berbulan-bulan gue ngerjain skripsi sambil kerja dan progress-nya lumayan lambat. Kalo lu udah kerja, coba ambil cuti sebulan: lu ngga punya alasan lagi buat bikin progress lambat, lu punya waktu lebih banyak untuk fokus, dan tekanan buat cepet beres makin tinggi karena semakin lama lu ngeberesin skripsi, semakin rugi elu secara finansial. Kalo lu coba runut-runut, salah satu motivator paling kuat itu alasan finansial sik :))

#4
Tips untuk bimbingan: tiap kali dateng bimbingan, buat progress yang sangat signifikan dan jelasin apa aja progress yang lu udah buat. Kasih tau lu udah ada di titik mana dari progress pengerjaan skripsi lu, apa yang akan lu kerjakan setelah ini, dan apa target lu. Gue cenderung percaya kepada openness. Saat lu buat orang lain tau apa yang jadi tujuan lu, ‘bantuan’ relatif lebih mudah datang.

#5
Social pressure works. Kalo lu ngga bergaul sama temen-temen yang sama-sama sedang ngejar sidang, susah juga untuk memacu diri lu untuk cepat beres. Ketemu dengan temen-temen yang sedang ngejar sidang, ngobrol-ngobrol progress lu udah sampe mana, dan kalo ada masalah coba tanya ke mereka.

#6
Berdo’a dengan sangat spesifik. Seperti yang udah gue bilang, gue menyadari kalo gue telat start. Lebih parah lagi, gue ini ngga pinter-pinter amat di bidang akademik. Temen gue yang nge-proofread aja sampe prihatin dengan gue. Terlalu banyak hal yang di luar kontrol gue dan gue menyadari kalo ngga mungkin gue untuk menyelesaikannya sendiri. Jadi, gue menyiasatinya dengan berdo’a dengan sangat spesifik. Believe it or not, gue berdo’a dengan sangat spesifik sampai tiap kalo gue berdo’a, gue selalu sebutkan apa yang gue minta, hari apa, siapa saja yang terlibat, dan apa aja hasil yang gue harapkan. Gue lakukan ini berulang-ulang hampir setiap selesai shalat. Entah lu orangnya religius atau ngga religius, tapi gue lakukan ini and it worked. Tiap kali gue ditanya kapan gue kira-kira bisa sidang, gue selalu jawab kalo kemungkinan gue bisa sidang Februari cuman 10%. I really meant it. Gue secara ajaib dapet izin untuk ikut sidang di hari terakhir pengumpulan syarat sidang jam 1 siang. Buru-buru gue ngeprint tiga jilid 90 halaman draft skripsi gue hari itu.

Intinya, ada terlalu banyak hal yang di luar kontrol lu dan elu ngga sehebat yang elu kira. Berdo’a dan berserah diri ngebantu banget. It worked for me, at least. If it worked for me, I think it should work for you too.

#7
Lakukan semua yang elu bisa sampai batas waktu benar-benar habis, setelah itu berserah karena lu udah lakukan yang terbaik.

#8
Don’t be cocky. Jangan kepedean. Pernah kejadian gue kepedean dan tiba-tiba situasi jadi memburuk. Percaya diri itu penting, tapi jangan arogan. IMO, mendingan harap-harap cemas sambil berdo’a daripada kepedean. Don’t jinx it. Anything could happend. Anything disini bisa jadi positif dan bisa juga jadi negatif. Pertanyaannya udah jelas: gimana caranya supaya jadi positif?

#9
Minta dido’ain sama orang tua, terutama Ibu. Gue ngga tau kenapa tapi tiap nyokap bilang “tenang aja a, mamah do’ain” urusan gue selalu jadi lebih lancar dan gue relatif lebih tenang. It’s magical. Gue sampe mikir gini:

Mother’s prayer is a thing that can bend the universe.

Gue ngga punya bukti scientific tentang hal ini kecuali pengalaman subjektif gue yang terjadi berkali-kali. You don’t need to believe me, just try it yourself.

#10
Terakhir, semua ini ngga mungkin terjadi kalo ngga ada tujuan yang jelas. Dari pengalaman gue, kalo lu punya tujuan yang sangat jelas seperti terjadinya kapan, bagaimana, dll, “the universe conspires to help you” itu relatif lebih kejadian daripada kalo tujuan lu ngegantung atau ngga jelas.

***

Itu sih beberapa poin yang gue pelajari beberapa bulan terakhir dari proses pengerjaan skripsi dan ngejar sidang. Semoga bermanfaat buat elu :)

Standard