Kamu Bilang Uang Tidak Penting?
Merasa beruntung karena dipecut-pecut mamah secara verbal untuk bisa segera mandiri sesegera mungkin.
Counting UFOs & signal them with my lighter
Merasa beruntung karena dipecut-pecut mamah secara verbal untuk bisa segera mandiri sesegera mungkin.
.
Saya teringat obrolan dengan seorang kawan semasa sekolah menengah beberapa hari yang lalu. Dia adalah seorang mahasiswa di bidang pertanian terpadu. Ditengah obrolan kami, dia mengeluarkan beberapa pemikirannya tentang pangan: bagaimana distribusi pangan seharusnya, bagaimana cita-cita dia tentang pertanian, dan betapa menyeramkannya kehidupan masyarakat sekarang karena semua yang kita makan hampir tidak pernah lepas dari zat aditif.
Semenyeramkan itu kah?
Read More
Saya yakin beberapa diantara anda menyukai yoghurt, si susu fermentasi berasa asam yang memiliki khasiat baik untuk tubuh: mulai dari memperlancar masalah pencernaan, menurunkan berat badan (ada yang sedang diet?
), juga menurunkan kadar kolesterol dalam darah jika diminum secara teratur (source: hanyawanita.com )
Ada banyak yoghurt yang dijual di luar sana. Berbagai merek tersedia dalam berbagai range harga. Namun pernahkah terpikir oleh anda untuk membuat yoghurt sendiri? Terlepas dari isu zat aditif yang digunakan oleh produsen untuk membuat produk mereka tahan dalam mengarungi mata rantai distribusi, memasak bagi sebagian orang adalah kegiatan yang menyenangkan kan?
Beruntungnya, saya mendapatkan tips ini dari seseorang yang kompeten. Tidak lain dan tidak bukan adalah Kakak saya sendiri
Beliau adalah lulusan pendidikan kimia Universitas Pendidikan Indonesia, merangkap Mahasiswa teknologi pangan Universitas Padjajaran semester 6, juga pembicara produk dari salah satu perusahaan makanan kesehatan besar di Indonesia, yang juga hobi membuat yoghurt
selalu ada yoghurt buatan beliau di kulkas rumah kami
Caranya ternyata sederhana saja:
Hasilnya nanti seperti ini, yoghurt dengan rasa susu yang sangat terasa. Lain dengan yang di jual di pasaran deh. Beda tipis dengan yoghurt cisangkuy lah
. Coba lihat video dimana saya menjelaskan seperti apa yoghurt ini:
Mudah kan? Sederhananya hanya 4 langkah saja:
Menyantapnya bisa langsung (tapi tambahkan gula dulu agar manis) atau di blender dengan buah – sehingga jadi yoghurt dengan rasa buat – ASLI!
Tertarik? Anda bisa mencoba membuatnya. Namun untuk anda yang tidak memiliki waktu untuk membuatnya (FYI, sebelum kombinasi nikmat yang sekarang jadi, kami sekeluarga mencicipi hasil eksperimen yang belum berhasil selama satu bulan lebih loh
) anda bisa memesannya langsung kepada kakak saya.
Harganya? Hanya Rp 15,000 / liter. Lima belas ribu rupiah per liter.
Murah kan?
FYI, Jika anda berada di wilayah Bandung, bisa delivery service / layanan antar juga. charge Rp 5,000 biaya transportnya. Untuk pembelian diatas 5 liter, biaya transport gratis
Amazing kan?
Untuk pemesanan, silahkan langsung hubungi Kakak saya saja y:
Sany Ulfah Mumtazah
022 70884836
http://id-id.facebook.com/people/Sany-Ulfah-Mumtazah/1357942098
Oya. Saran saya, jika pemesanan ingin menjadi lebih lancar, katakan saja bahwa anda mendapat informasi mengenai yoghurt tersebut dari fikrirasyid.com , blog Adiknya
Selamat menikmati yoghurt!
Saya menemukan satu artikel menarik, dan tidak tahan untuk mempublikasikan ulang disini saking menariknya. Dari Majalah Alia no II Tahun V Rabiul Sani – Jumadil Awal 1429 H / Mei 2008, dan saya temukan versi digitalnya yang dipublikasikan di internet di http://www.bali-organic.com/latest/the-great-eshop.php
Here we go :
Khalifah Ar Rasyid memiliki seorang dokter yang pernah berkata kepada Ali bin Husain, “Dalam kitab kalian tidak terdapat ilmu kedokteran. Padahal ilmu itu ada dua, yaitu ilmu agama dan ilmu tubuh. “
Ali bin Husain menjawab, “Allah telah menghimpun ilmu kedokteran hanya dalam setengah ayat dari kitab kami. “ Sang dokter bertanya, “Apakah itu?” Ali menjawab, “Makanlah dan minumlah kalian, tapi jangan berlebihan…!” (QS Al A’raf (7):31)
Well, sumber berbagai penyakit modern saat ini memang kesalahan pola makan. Benarlah firman Allah di Al-Qur’an
Kita sebagai warga negara Indonesia terbiasa makan tiga kali sehari, dengan nasi sebagai “menu wajib”. Belum bisa dikatakan makan jika tanpa nasi. Makan tanpa nasi digolongkan sebagai ngemil, tidak lebih.
Masalahnya adalah, apakah pola makan seperti itu sehat?
Beberapa hari yang lalu saya ngobrol dengan seorang kawan dari Bandung Rukyat Center (Lembaga pengobatan Ala Nabi), dan hasil obrolan tersebut, cukup mengejutkan saya :
Pola makan tiga kali sehari dengan nasi sebagai menu utama ternyata kurang sehat.
Mengapa? Karena suplai karbohidratnya jadi berlebihan. Jika ditilik efek jangka panjangnya, kadar gula dalam darah akan tinggi jika dibiasakan seperti itu.
Pantas banya penderita diabetes di Indonesia
Pola makan yang lebih sehat : Lima kali sehari.
Yep, itu pola yang direkomendasikan kawan saya. kalau diperhatikan, sebenarnya ada polanya : Makan setiap 3 jam sekali, karena perut memang merasa lapar setiap 3 jam sekali, namun kadarnya terkait dengan waktu.
Catatan tambahan :
Jika anda hendak memakan buah, makanlah buah sebelum anda memakan makanan lengkap. Orang Indonesia terbiasa memakan buah – buahan setelah makan nasi, dan ternyata pola ini kurang baik. Makan buah dulou baru makan berat. Ketika saya menanyakan hal ini ke ahli kimia makanan, ternyata memang ada alasan ilmiahnya : Buah sebaiknya di makan lebih dahulu agar mikronutrisi dari buah masuk duluan.
Well, Semoga bermanfaat!