Posts categorized into internet :

Lelaki Idaman & Facebook Questions

Written by Fikri Rasyid on April 2, 2011 filed under internet, Pengembangan Diri and tagged with , , , ,

Jika kamu laki-laki yang jomblo, belum menikah, belum menemukan pasangan hidup yang tepat atau belum laku-laku, judul tulisan saya yang agak alay dan heboh ini seharusnya menarik perhatian kamu. Jadi saat Facebook Questions akhir-nya tersedia untuk pengguna luas, saya mencobanya dengan menanyakan pertanyaan ini:

buat para wanita: SEPERTI APAKAH LAKI-LAKI IDAMAN KAMU? Untuk para laki2, terutama yang jomblo, harap duduk yang tenang. Pastikan kecengan kamu ikut jawab. *eaaa

Pertanyaan saya diatas mendapatkan cukup banyak jawaban, terutama dari teman-teman sejurusan saya di Pendidikan Bahasa Inggris UPI yang memang kebanyakan perempuan. Ini jawaban-jawaban mereka:

  1. Cerdas (37 votes)
  2. Tajir karena usahanya sendiri, bukan turunan orang tua (36 votes)
  3. Soleh, pintar, bertanggung jawab (34 votes)
  4. BERTANGGUNG JAWAB (32 votes)
  5. Tidak memiliki niat untuk berpoligami (30 votes)
  6. Bisa ngaji (29 votes)
  7. Mandiri (26 votes)
  8. Tidak gaptek (22 votes)
  9. Dewasa (19 votes)
  10. Bisa nyetir (18 votes)
  11. Bisa main gitar / alat musik (18 votes)
  12. Engga merokok (16 votes)
  13. Pintar (16 votes)
  14. Humoris (13 votes)
  15. Suka baca dan nulis (12 votes)
  16. Suka tahajud / solat duha (11 votes)
  17. Suka berolahraga (10 votes)
  18. Bisa masak (10 votes)
  19. Romantis (9 votes)
  20. Kebapakan (7 votes)
  21. Kaya ilmu, hati, harta (6 votes)
  22. Pandai mengambil hati mertua (6 votes)
  23. SUKA MENABUNG (6 votes)
  24. Mahir masalah pertukangan, terutama masalah rumah (5 votes)
  25. Hafal verb patterns (5 votes)
  26. Bisa ceritain bed story sebelum anaknya tidur ;p (4 votes)
  27. IPK diatas 3 (4 votes)
  28. Punya brewok keren kaya Dave Grohl (4 votes)
  29. Berjiwa ksatria muda -_- (4 votes)
  30. Sabar (3 votes)
  31. Manja (3 votes)
  32. Tajir (3 votes)
  33. Yang bisa bawa kita selamat dunia dan akhirat (3 votes)
  34. Ngga urakan (3 votes)
  35. Cameuh xixixi (3 votes)
  36. Suka berpetualang (3 votes)
  37. Jujur (2 votes)
  38. Takut akan Tuhan, setia, percaya, tanggung jawab, dewasa (2 votes)
  39. Suka menyiram bunga (2 votes)
  40. ganteng (2 votes)
  41. Ngga kolot (2 votes)
  42. Polos (2 votes)
  43. Posesif (2 votes)
  44. Pendiam dan tidak suka terong (1 vote)
  45. Oriental (1 vote)

Haha, hasilnya menarik-menarik dan aneh-aneh. Ngomong-ngomong, jawaban ini saya repost tanpa saya edit satu katapun dan facebook user yang ikut menjawab bisa menambahkan sendiri opsi jawaban mereka jika opsi yang ada tidak merepresentasikan jawaban mereka. Berdasarkan fakta itu, hasil survey kecil-kecilan ini seharusnya cukup valid.

Pesan moral dari tulisan ini, perhatikan sepuluh opsi yang paling banyak di-vote. Yang belum cerdas banyak-banyak lah belajar, yang belum tajir cepatlah mulai usaha dan jangan main melulu kerjaannya, yang belum soleh cepetlah soleh, yang belum bertanggung jawab belajarlah bertanggung jawab jangan dibiasakan ngga ngaku kalau berbuat kesalahan, yang berniat poligami mungkin bisa direvisi niatnya, yang belum bisa ngaji bisa cepet-cepet belajar ngaji selagi belum ditolak calon mertua karena tidak bisa ngaji, yang gaptek mulai mendekati teknologi, yang belum dewasa dewasalah, yang belum bisa nyetir cepat-cepat belajar nyetir, dan lain-lain. Haha, saya cukup terpukul juga membaca jawaban-jawaban ini sih. Ada beberapa hal yang saya belum miliki sama sekali.

Anyway, semoga hasil pertanyaan usil ini bermanfaat buat kamu :)

Tentang Facebook Questions

Facebook Questions, seharusnya, sekarang bisa diakses dari facebook kamu: caranya persis seperti menulis status, lokasinya juga persis ada di sisi post status, photo, link dan video:

Facebook Questions

Jika kamu tidak menemukan opsi Question akun facebook kamu, tenang saja. Di kalangan developer, Facebook memang dikenal dengan ghost release-nya dimana mereka sering merilis fitur secara bertahap untuk pengguna tertentu sebelum dirilis untuk umum. Hal ini dilakukan untuk menguji performa fitur terbarunya. :)

P.S.: Kepikiran, kalau Facebook Questions ini ada fitur embedd on web page-nya seperti Google Form, it would be very cool :D

Merilis “Essential Theme”

Written by Fikri Rasyid on March 19, 2011 filed under Fikri's Craft, internet and tagged with , , ,

The Essential Theme

Sudah lama saya tidak merilis WordPress theme gratis untuk publik. Agak memalukan juga, karena semangat WordPress yang saya tahu adalah open-source dan berbagi. Sementara saya pribadi mendapatkan banyak sekali manfaat dari WordPress, saya belum banyak “memberi” untuk komunitas pengguna WordPress.

Oleh karena itu, pagi ini saya (akhirnya) merilis WordPress theme bernama “Essential Theme“, sebuah hasil pembelajaran membuat WordPress theme selama ini. Theme ini bebas diunduh & digunakan, lisensi-nya GPL. Kamu bebas memakai & memodifikasinya semau kamu. Tampilannya simple & minimalistik tapi tetap estetis serta dibuat untuk dapat dikembangkan lagi dengan mudah, mengingat saya membuat-nya sebagai starter theme untuk proses pengembangan themes yang akan saya buat kedepannya.

Untuk kamu yang berminat mengunduh Essential Theme, silahkan buka laman blog outstando ini. Tautan unduh (download link, agak aneh juga ya mencoba berbahasa Indonesia yang tertib ini)-nya dapat kamu temukan dibawah tulisan tersebut.

Semoga kedepannya saya bisa lebih banyak lagi berbagi untuk komunitas pengguna WordPress dan semoga kamu menyukai Essential theme. Saran, masukan atau project *eaa, teuteup* bisa kamu sampaikan kepada saya melalui twitter, facebook atau email.

Selamat menikmati! :)

Optimasi Internet Untuk Pengajar & Pelajar

Written by Fikri Rasyid on February 18, 2011 filed under internet, Pendidikan, Software, Tips and tagged with , , , , ,

Panggilan untuk semua mahasiswa, dosen, guru, pelajar SMP/SMA dan siapapun yang aktif di bidang pendidikan! Internet bukan sekedar media untuk berkicau di twitter, upload foto di facebook dan browsing-browsing ngga jelas untuk menghabiskan waktu menunggu kelas berikutnya. Berikut ini adalah beberapa lima tips praktis dari saya tentang bagaimana memanfaatkan internet untuk tujuan pendidikan.

1. Get an email. Get a Gmail.

Serius, tahun 2011 dan masih belum punya email? Segera buat akun email! Akun email itu seperti identitas de facto dalam ranah online, sangat berguna untuk -let’s say- kamu perlu mengirim pesan atau mengumpulkan tugas kepada dosen kamu. Ada banyak pihak yang menawarkan layanan email, tapi saya merekomendasikan untuk membuat akun email di Gmail milik Google. Alasannya:

  • Reliable. C’mon dude, it’s Google
  • Dapat diakses dari berbagai platform dengan optimal: Web, HTML Version for slow internet connection, BlackBerry App, Mobile Web version, you name it.
  • Akun gmail = Google account yang dapat digunakan untuk mengakses puluhan service Google lainnya.

Email making 101: Daripada menggunakan nama email yang aneh-aneh, gunakan nama anda saja. Simple, dan mudah dieja. Contoh: jika nama kamu Barney Stinson, saya menyarankan alamat email kamu: barneystinson@gmail.com

Buat akun gmail kamu disini.

2. Buat blog. Publikasikan catatan kamu

Adalah sangat ketinggalan zaman jika masih kamu berfikir bahwa blog hanyalah “sekedar” diary online tempat curhat ngga penting. Saran saya, buat blog lalu publikasikan catatan kuliah kamu disitu. Tujuannya? Agar apa yang kamu pelajari bisa jadi lebih bermanfaat. Mungkin ada teman sekelas yang tidak masuk yang membutuhkan catatan anda. Mungkin ada orang lain yang sebenarnya ingin masuk jurusan yang kamu masuki namun sekarang berkuliah di jurusan lain. Masih banyak lagi kemungkinan yang dapat terjadi. The point is, sharing your knowledge is a good thing. Lagipula, dengan memiliki niat untuk berbagi ke audience yang lebih luas, kamu akan lebih tergerak untuk memahami apa yang kamu pelajari di kelas.

Anyway, i’m practicing what i preach. Saya sudah membuat blog berisi catatan akademik saya di sini:

http://fikrirasyid.wordpress.com

Sudahkah kamu mempublikasikan catatan akademik kamu?

3. Buat akun di slideshare. Publikasikan Slide Presentasi Kamu

Ini penting sekali terutama untuk dosen / guru: Sederhananya, Slideshare adalah aplikasi web untuk berbagi slideshow. Pikirkan YouTube namun alih-alih berbagi video, kamu bisa berbagi slideshow. Upload slideshow, lalu nanti kamu bisa set untuk meng-embed slideshow-mu di blog-mu, atau mengatur agar semua orang bisa men-download slideshow yang kamu upload.

Saya suka nyengir sendiri kalau ada yang bilang “nanti saya email slide-nya ya” untuk slideshow-slideshow yang memang ingin disebarkan ke publik. Sekarang tahu alasannya apa kan? FYI, ini akun slideshare saya. Untuk membuat akun slideshare, klik tombol ini:

Buat akun slideshare disini.

FYI, tingkatkan skill presentasi kamu. Baca Presentonomics.

4. Miliki akun Dropbox

Dropbox adalah kombinasi desktop app dan web app yang memungkinkan kamu untuk syncing file-file di komputer satu dengan komputer mu yang lain melalui jaringan web. Pikirkan situasi ini:

Kamu sedang online di twitter / facebook lalu seorang teman bilang: “ntar filenya gue kirim lewat email ya”.

Gosh, that’s sooo yasterday. Yang membuatnya ketinggalan zaman adalah fakta bahwa kamu perlu buang-buang waktu untuk:

  1. membuka akun email kamu
  2. meng-attach file
  3. mengirim email
  4. kembali ke tab facebook untuk mengatakan pada teman kamu kalau filenya sudah kamu kirim
  5. teman kamu membuka alamat emailnya
  6. teman kamu membuka email dari kamu
  7. teman kamu men-download attachment
  8. teman kamu kembali ke tab facebook untuk bilang “thanks man, filenya udah gue terima

It’s a total waste of time. Coba kamu daftar & miliki akun dropbox (free up to 2 GB), lalu kamu download & install aplikasinya untuk Windows/Linux/Mac/iPhone kamu. Yang kamu lakukan:

  1. Copy file yang akan dikirim ke direktori dropbox/public
  2. Setelah filenya beres terupload ke server dropbox (begitu kamu paste filenya, dia akan otomatis di-upload) klik kanan, Dropbox > Copy public link
  3. Kembali ke tab facebook. Paste public link di wall yang kamu inginkan
  4. Teman kamu klik link yang kamu post, dan filenya langsung ter-download

A time-saver, huh? Kalau untuk mengirim file saja, kamu tidak perlu membuka akun email.

Daftar Dropbox, gratis hingga 2 GB storage disini.

5. Manfaatkan Google Docs

Kalau kamu sudah punya Google Account (atau akun gmail. Akun gmail = Google Account) kamu sudah bisa mengakses Google Docs. Pada dasarnya, Google Docs adalah office suite untuk document, spreadsheet, presentation, drawings & form (seperti Microsoft Word / PowerPoint / Excel) namun diakses melalui browser dan data-datanya dapat diedit secara kolaboratif dalam waktu bersamaan oleh beberapa orang.

Satu contoh kasus: beberapa hari yang lalu salah satu mata kuliah menugaskan saya untuk menyebarkan kuisioner ke teman-teman satu jurusan. Alih-alih membuat kuisioner secara konvensional, saya membuat form kuisioner via Form-nya Google Docs lalu menyebarkan link formnya untuk diisi kepada teman-teman satu jurusan via Facebook. Efisiensi penggunaan kertas, waktu dan tenaga.

Lihat contoh form yang saya buat disini

Daftar Google Account disini

Oke, untuk saat ini lima tips dulu. Ada tambahan, saran, komentar atau masukan?

Open Source Education

Written by Fikri Rasyid on November 17, 2010 filed under internet, Pendidikan and tagged with , ,

Hari ini, pendidikan merupakan kebutuhan pokok. Masalahnya:

  1. Membuat pendidikan yang berkualitas tidak mudah
  2. Poin pertama menyebabkan pendidikan yang berkualitas membutuhkan biaya yang tidak sedikit
  3. Kita harus akui bahwa keberdayaan finansial kebanyakan masyarakat masih rendah

Beberapa hari yang lalu, saya tengah mengerjakan tugas kuliah ESP material development dan mendapati betapa sulitnya mendapatkan material, sumber dan referensi pembelajaran yang reliable. Ada materialnya, sumbernya terlalu anonim. Ada sumber yang reliable, harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Solusinya bagaimana? Di ranah software, ada yang disebut Free and Open Source Software (FOSS): software / program yang source code-nya terbuka sehingga programmer manapun dapat ikut serta mengembangkan lagi software tersebut. Kebanyakan FOSS dapat digunakan secara gratis sementara beberapa yang lain memerlukan biaya / lisensi untuk menggunakannya.

Hal ini membuat saya berpikir: bagaimana jika hal yang sama diterapkan kepada pendidikan?

Bentuknya bisa jadi sebuah platform online: semacam github / wiki, tapi spesifik untuk pendidikan. Di pendidikan formal, kompetensi dasar sudah fix dari Depdiknas. Tinggal pengguna yang bisa berbagi pengembangan silabus, indikator, materi pembelajaran, lesson plan, media pembelajaran, ide, diskusi, dan lain-lain. Untuk pendidikan non formal, formatnya bisa lebih bebas lagi.

Wow, terdengar sangat menarik bagi saya. Apa pendapatmu?

Background image is made by psd (on Flickr). Thanks to him for make it licensed under creative common. I edited it using GIMP to make it fit the layout.

Facebook: What’s next?

Written by Fikri Rasyid on October 30, 2010 filed under internet and tagged with , , , ,

Image used above, titled Facebook Logo Sticker, is courtesy of jaycameron

Facebook, dengan social-approach-nya, adalah satu-satunya perusahaan web yang hari ini diprediksikan “mampu” menyaingi Google. Berbeda dengan twitter yang berjaya karena kemudahan dan kesederhanaan fiturnya, facebook melengkapi dirinya dengan segudang fitur dan layanan yang mampu mengakomodir berbagai kebutuhan user.

Beberapa bulan lalu, saya sempat berandai-andai bahwa akan sangat bagus jika facebook memiliki fitur group chat / multiuser chat seperti layanan CampFire yang dimiliki oleh 37signals. Beberapa bulan kemudian, perandai-andaian saya menjadi nyata: Facebook merilis ulang layanan groups mereka dan salah satu fiturnya adalah Group Chat yang memungkinkan user-user yang tergabung dalam group tersebut chatting bersama-sama. Reaksi saya? Wow, fitur Group Chat ini sangat-sangat bermanfaat! Beberapa malam lalu, H-1 sebelum salah satu tugas kuliah saya dikumpulkan, saya dan teman-teman sekelas tidak lagi “kesepian” dalam mengerjakan tugas tersebut.

Saya jadi berandai-andai lagi: fitur apalagi ya yang akan membuat facebook menjadi lebih useful? Fitur-fitur penting apalagi yang belum dimiliki oleh facebook saat ini?

File Sharing

Teks, gambar dan video saja tidak cukup. Terkadang kita perlu bertukar file dengan rekan sejawat. Opsi yang ada sekarang adalah mengupload file ke situs file sharing seperti 4shared atau menggunakan dropbox yang jauh lebih usable lalu men-bagikan tautan ke halaman downloadnya. Bagaimanapun, akan lebih mudah jika facebook membuat layanan file sharing-nya sendiri: facebook lebih dikenal, dan akan lebih mudah bertukar file dengan teman di facebook menggunakan layanan yang built-in dengan fitur dari native-platformnya.

Native Desktop App

Masih ingat diskusi mengenai post-internet era? Saya rasa membuat native desktop application seperti yang dilakukan (lagi-lagi, saya belum menemukan contoh aplikasi lain) dropbox adalah cara yang sangat ideal dalam membuat suatu aplikasi “menyatu” dengan kehidupan user.

Tagging

Hashtag yang secara otomatis terkonversi menjadi search link dan secara kontekstual dapat dipahami sebagai topik suatu tweet di twitter merupakan salah satu hal yang membuat twitter menjadi sangat menarik. Jika post di facebook dapat diberi tag, efeknya adalah:

  • Pengguna lebih mudah memahami suatu post
  • Post-post di facebook dapat diklasifikasikan, dan bukannya tidak mungkin memunculkan related-post
  • Pengguna dapat mencari pendapat pengguna facebook lain terkait dengan apa yang sedang ada di pikirannya (what’s on my mind)

Trending Topics

Yeah, ini akan membuat facebook menjadi sangat ke-twitter-twitter-an, tapi coba bayangkan jika kita mampu mengetahui apa yang sedang “trend” di facebook berdasarkan user likes atau link facebook share, mengingat karakter pengguna facebook dan twitter yang sangat berbeda (twitter lebih terbuka, facebook lebih personal)? Bisa menghasilkan digg-alike site dengan hasil yang difilter berdasarkan banyak parameter nih :D

Re-post

Melihat fenomena retweet di twitter dan reblog di tumblr, saya merasa kalau sekedar “like” atau “share” saja tidak cukup. Ada kebutuhan untuk “mempublikasikan ulang” konten yang mana hal ini belum ter-cover di facebook.

#nowPlaying feature

#nowplaying atau #np mungkin merupakan salah satu hashtag paling populer di twitter. Salah satu dugaan saya, hal ini menunjukkan betapa pengguna twitter sangat ingin menunjukkan selera musiknya. Musik, disatu sisi, merupakan bisnis yang sangat besar, terbukti dengan masuknya Apple ke ranah musik melalui iPod dan iTunes music store. Jika di facebook share sekarang kita mampu meng-attach photo, video, calendar dan link, mengapa tidak ditambah musik yang sedang dimainkan? It will be uber cool.

Closing Thought

Sebenarnya banyak pihak selain facebook yang mampu menciptakan aplikasi-aplikasi tersendiri untuk fitur-fitur yang saya bayangkan ini. Hanya saja, salah satu kekuatan facebook yang belum bisa dikejar oleh pihak lain (IMHO) adalah kemudahan penggunaan UI-nya dan kekuatan brand facebook dimana pengguna awam non-tech savvy pun sudah mengetahui apa itu facebook dan bagaimana menggunakannya (well, setidaknya secara garis besarnya). Belum lagi besarnya jumlah pengguna facebook yang tinggal “di-drive” kedalam aplikasi-aplikasi buatan mereka.

Di lain pihak, facebook, saya rasa, mampu saja membuat berbagai fitur yang mampu kita pikirkan (even the craziest one). Tantangannya adalah apakah user mampu menggunakannya secara maksimal? Seperti kasus Google: Google mampu membuat berbagai macam aplikasi canggih (terlalu banyak untuk dapat kita ketahui dan gunakan semua, saya rasa), bahkan ‘aplikasi masa depan’ seperti Google Wave. Tapi berapa banyak dari pengguna Google yang tahu dan kemudian menjadi pengguna tetapnya? Berapa banyak dari kamu yang sudah pernah -minimal- mendengar mengenai facebook community page, facebook places atau facebook questions?

It’ll be something worth to think about.

Photo credit: Background image is manipulated and taken from boltron‘s photo Facebook’s Secret Message to Me. I got it thru Flickr’s advanced search. Thanks for make it available under Creative Commons liscense, Boltron. Your picture is amazing :)

Post-Internet Era

Written by Fikri Rasyid on October 27, 2010 filed under Culture, internet, Uncategorized and tagged with , , , , , ,

…How much of the really revolutionary things people are going to do in the next five years are done on the PCs or how much of it is really focused on the post-PC devices. And there’s a real temptation to focus it on the post-PC devices because it’s a clean slate and because they’re more focused devices and because, you know, they don’t have the legacy of these zillions of apps that have to run in zillions of markets…

- Steve Jobs

Saat ini dan di masa depan, ukuran komputer semakin menyusut dan komputer “ditanamkan” pada berbagai macam device untuk menyelesaikan satu masalah tertentu. Steve Jobs dalam wawancaranya bersama dengan Bill Gates di acara D5 All Things Digital mendefinisikan hal ini sebagai era Post-PC device: Era dimana komputer mulai dibenamkan di berbagai macam gadget untuk satu tujuan tertentu dan kita tidak lagi menyebutnya dengan istilah “PC” namun kita menyebutnya dengan istilah iPod untuk PC yang “ditananamkan” di pemutar musik, iPhone untuk PC yang “ditanamkan” di telpon genggam, dll (jika mengacu kepada produk-produk Apple).

Pertanyaannya: mengapa era post-PC penting? Karena itulah masa depan. PC memang dapat melakukan banyak hal, tapi bukan itu yang dibutuhkan masyarakat. Menurut Steve Jobs, masyarakat membutuhkan device yang dapat menyelesaikan satu masalah spesifik dengan baik, bukan pisau lipat yang serba ada.

Post-Internet Era

Selain era post-PC, ada satu post-something era yang saya rasa menarik untuk diperhatikan: Post-Internet Era.

Ada beberapa “titik-titik” poin yang membuat gagasan ini tercetus di kepala saya:

  • Gagasan mengenai Post-PC devices: satu gadget yang menyelesaikan satu fungsi spesifik tertentu dengan baik
  • Cukup banyak pengguna internet (terutama yang non-tech-savvy) yang berkata “saya tidak pernah mengakses internet, tapi saya punya facebook
  • Fakta bahwa PC mulai booming setelah era Graphical User Interface: UI (kemudahan penggunaan) merubah banyak hal
  • Salah satu poin yang disampaikan oleh @dWirianto di acara FOWAB #2: people are lazy. Facebook launcher di handphone2
    kelas mid-low yang notabene mempermudah satu langkah user sampai ke facebook itu sangat membantu facebook.
  • Banyaknya aplikasi yang dibuat untuk twitter (dari penggunaannya, bisa dibilang bahwa API Twitter merupakan salah satu contoh API tersukses yang pernah diluncurkan) diciptakan. Seriously, sebelum #newTwitter dirilis, berapa banyak sih dari kita yang mengakses twitter via web?
  • Kesuksesan App Store Apple yang mana banyak aplikasi iPhone yang dibuat untuk berinteraksi dengan web service tertentu. Hal ini pula diikuti dengan Android app market, BlackBerry AppWorld, dan app market smartphone lainnya. Hari gini, web service / web app besar mana sih yang tidak punya iPhone app / Android App / BlackBerry App?

Jika semua “titik-titik” ini digabungkan, maka “garis” yang terbentuk mengenai Post-Internet Era adalah:

  • Koneksi ke internet dan cloud database / cloud software yang mengorganisir data-data tersebut adalah sesuatu yang default / lumrah
  • Data di cloud tersebut dapat diakses via web / mobile interface
  • Namun karena alasan kemudahan / kompatibilitas dengan gadget / device, device-based app adalah suatu kewajiban.
  • Orang tidak akan lagi berfikir untuk “mengakses internet” ketika mencari data / informasi tertentu melainkan “mengakses (letakkan nama brand aplikasinya disini)”

IMHO, salah satu contoh aplikasi yang sangat menggambarkan gagasan Post-Internet Era dengan baik adalah dropbox: bekerja dengan jaringan internet sebagai platform-nya, memiliki cross-platform app (Windows / Mac / Linux desktop App, iPhone App, Android App) dan user tidak lagi “memikirkan internet” saat menggunakannya (setidaknya saya berfikir demikian). Contoh: “backup file dulu ah, masukkan ke dropbox“.

Oke, itu yang terfikirkan oleh saya sekarang. Bisa jadi banyak hal yang belum terlewat: ada yang mau menambahkan?

Can You Imagine That?

Written by Fikri Rasyid on July 25, 2010 filed under internet and tagged with , , , , ,

in my speech 2

Ini teks yang saya tulis untuk speech competition PIMNAS 2010 yang sayangnya saya belum berkesempatan menang disana. Well, saya rasa masih relevan untuk di post disini :) Speech saya ini mengambil salah satu topik yang disediakan panitia: how technology impact our daily life, dan saya mengambil tema bagaimana internet merubah kehidupan kita -terutama anak muda- dalam tahun-tahun kedepan karena ada lebih banyak kesempatan yang tersedia karena “ketertautan” yang disediakan internet.

Well, lupakan urusan PIMNAS. Here’s the speech: ;)

Read More

#optimism, today and tomorrow

Written by Fikri Rasyid on July 15, 2010 filed under internet, Pengembangan Diri, Personal and tagged with , , , ,

trip to bali. goal taun 2009

Jadi ceritanya, tadi pagi saya bangun terlambat. Semalam saya telat tidur karena mengulik gallerific (jQuery plugin) dan melakukan in browser design (mendesain web langsung di browser, tidak lewat mockup graphic editor terlebih dahulu) untuk salah satu project pribadi yang sudah sangat lama saya ingin kerjakan. Setelah shalat subuh, saya tidur lagi. Tahu-tahu sudah jam 8 saja. -_-”

Read More

The Google Generation

Written by Fikri Rasyid on July 11, 2010 filed under internet and tagged with , , , ,

trip to bali. goal taun 2009

sudah ingin ke Bali dari tahun 2009, ternyata di-pending satu tahun hingga tercapai. Well, setidaknya akhirnya tercapai :)

Jum’at tanggal 16 saya akan terbang ke Bali bersama seorang teman untuk mewakili Universitas Pendidikan Indonesia dalam speech competition yang diselenggarakan oleh PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) 2010 yang berlokasi di Universitas Mahasaraswati Bali. Untuk pembaca blog saya yang tinggal di Bali, mungkin kita bisa bertemu untuk ngobrol-ngobrol sambil melihat keeksotisan Bali. Kontak saja saya lewat form komentar / twitter :)

Sudah lama sekali saya berkeinginan untuk ke Bali tapi dengan usaha sendiri jadi kesempatan ini seperti dream comes true (again) ;) . Pemilihan wakil kemarin diselenggarakan dengan cara seleksi dan karena diselenggarakan untuk PIMNAS, jadilah saya membahas mengenai teknologi (lebih tepatnya Google – teknologi informasi) dan bagaimana kehidupan kita dipengaruhi olehnya. Eh ternyata Alhamdulillah lolos juga :p

Anyway, ini dia naskah speech yang saya gunakan saat seleksi kemarin. Kalau untuk lombanya sih beda lagi. Saya tulis sendiri. I hope it’d be useful for you. Di bawah teks aslinya turut saya sertakan terjemahannya, siapa tahu ada yang lebih suka menggunakan bahasa :)

Here it goes:

Read More

Ulasan Buku What Would Google Do

Written by Fikri Rasyid on July 4, 2010 filed under internet, Review and tagged with , , , , , ,

What Would Google Do - by Jeff Jarvis

Google is the true giant. Jika anda berkecimpung di dunia web, anda pasti akan langsung paham apa maksud saya. Google menggiring kita masuk ke era informasi dengan Google search-nya. Google dengan mau-tahu-sesuatu-googling-saja nya merubah pola pikir dan kebiasaan milyaran manusia kedalam mindset “Google pasti tahu apa yang aku cari”. Secara finansial, Google adalah perusahaan internet paling kaya. Mereka selamat dari dotcom crash yang meluluhlantakkan industri web di tahun 2000an. Alih-alih hancur, mereka menjadi semakin kuat. Selain Google Searchnya, sekarang mereka memiliki puluhan aplikasi web -dan terus bertambah- baik hasil inovasi engineer-engineer mereka maupun hasil akuisi mereka terhadap setiap “startup company dengan produk menjanjikan”.

Google merupakan “raja” informasi yang sesungguhnya. Bahkan kedigdayaan Microsoft di dunia desktop software pun tidak mampu membuat mereka sanggup menyaingi Google di bidang web dengan Bing-nya. Tidak heran, secara de facto Google dianggap “kiblat” bagi industri web. Setiap langkah mereka diawasi jutaan pemerhati dan penggiat web. Hal itulah yang membuat Jeff Jarvis, seorang jurnalis dan blogger senior, menulis buku yang sudah merebut perhatian saya sejak berbulan-bulan lalu: What Would Google Do? (Apa yang akan Google Lakukan?)

What this book is all about?

Di buku ini, Jeff mengulas tingkah polah Google dan mem-formulasikannya ke dalam suatu jalan pikiran dilengkapi dengan dialog nyata dengan para pelaku sejarah tersebut. A real kick ass book, a must read book. Apa tujuan Google menciptakan menciptakan begitu banyak aplikasi web yang sangat keren dan membuatnya dapat digunakan publik dengan gratis? Apa yang merubah landscape internet menjadi internet yang kita hidupi hari ini? Bagaimana Google menyikapi berbagai macam hal -yang membuatnya raksasa tunggal di dunia internet hari ini-?

Semua hal itu dibahas di What Would Google Do oleh Jeff Jarvis.

The keypoints

Ada banyak sekali poin menarik yang dibahas dalam buku ini. Terlalu banyak sehingga saya menyarankan anda membacanya langsung. Meskipun begitu, berikut ini beberapa keypoint yang sangat menarik perhatian saya:

Menciptakan produk saja tidak cukup, ciptakanlah platform

Platform yang memungkinkan agar pihak ketiga dapat berkreasi diatas produk anda dan membuat efek viral yang gila. Well, selain dilakukan Google dengan berbagai aplikasinya (let’s say Google Map – secara de facto menjadi default pengguna web untuk “peta dunia” dewasa ini karena dapat digunakan dan dikolaborasikan secara mudah), berbagai produk dari perusahaan teknologi terkemuka pun sudah melakukan hal ini – dan terbukti sukses. Lihatlah iPhone yang menjadi platform dari berbagai aplikasi yang didistribusikan AppStore-nya dan Facebook App yang mengizinkan pengembang pihak ketiga meciptakan social games dan berbagai aplikasi yang menjarah streamline facebook kita.

Tautan mengubah segalanya

Google tidak memproduksi informasi, ia mengorganisasikannya. Ia menghubungkan pencari jawaban kepada penyedia informasi. Tahukah anda bagaimana Google Search bekerja? Ia menyimpan sebuah copy dari semua halaman web yang ia mampu temukan, lalu me-ranking halaman-halaman tersebut berdasarkan algoritma PageRank-nya, yang salah satu variabelnya adalah hubungan antar tautan (link) dari satu website yang memiliki reputasi terhadap website lainnya. See? Siapa yang mengetahui anda menjadi jauh lebih bernilai daripada siapa yang anda ketahui dewasa ini.

The dead of mass media, The rise of mass of niches

Di episentrum ekonomi dunia, Amerika, media massa kini tengah mengalami masa-masa yang kritis. Berita perampingan struktur organisasi atau bahkan kebangkrutan mungkin sudah menjadi hal yang asing lagi. Generasi yang duduk manis menyaksikan televisi berjam-jam dan membiarkan dirinya dibombardir oleh informasi dan iklan sudah mulai uzur, dan generasi yang lebih proaktif -mencari alih-alih disodori, lebih mempercayai integritas independensi teman sebaya alih-alih rayuan gombal iklan- mulai muncul. Tautan menautkan mereka. Alih-alih menjadi satu “massa besar”, masyarakat -dengan bantuan internet- kini mulai menciptakan crowd mereka sendiri berdasarkan keyakinan, pandangan, atau kesamaan minat mereka. Massa menjadi lebih spesifik dan terpisah-pisah. Mass of niches instead of one big damned mass.

You have to be “searchable”

Sebagai implikasi dari tautan, semua hal yang penting harus searchable. Semua hal yang penting harus dapat dicari. Ingin mengetahui siapa gerangan pelamar kerja yang melamar ke perusahaan anda? Google saja namanya. Portofolio dan pola cerita kerja kerasnya yang muncul? Bagus. Kedunguan dan makian di social media yang mendominasi? Jangan buang waktu untuk menginterviewnya.

Transparansi

Era dimana segala sesuatunya harus dapat dicari bermakna sebaik apapun anda menyimpan kebobrokan, ujung-ujungnya pasti bocor ke publik juga. Produk yang jelek akan dihujat habis di internet melalui blog, tweets dan lainnya. Hal ini bermakna, anda harus menjadi autentik dan benar-benar bagus dalam artian sebenarnya – bukan sekedar bagus di iklan saja. Anda mungkin berujar “ah, itukan hanya blog dengan sejumlah kecil pembaca“. Tunggu dulu, di Internet, “efek bola salju” sudah bukan merupakan hal yang asing. Siapa yang menyangka remaja yang iseng-iseng memposting videonya bernyanyi di YouTube akan menjadi the next big thing (Justin Bieber)? Siapa yang menyangka keluhan Jeff Jarvis atas notebook Dell mampu menumbangkan pendapatan perusahaan tersebut yang menyebabkan revolusi manajemen di tubuh Dell yang kini lebih terbuka?

Berfikir terdistribusi, berfikir partisipasi, berfikir dengan cara open source

We are smarter than me. Google mendorong inovasi, yang mana kemungkinan gagalnya sama tingginya dengan kemungkinan berhasilnya. “Saya harap anda gagal lebih cepat agar anda belajar lebih cepat”, ujar CEO Google Eric Schmidt kepada karyawannya. Di banyak bidang di hari ini (kecuali bidang yang berkaitan dengan keselamatan jiwa tentunya), menunggu produk anda sempurna baru dirilis adalah blunder, jika tidak disebut tindakan bodoh. Buat inovasi, lempar ke publik (seperti Gmail dengan status beta-nya yang bertahun-tahun) dan biarkan Publik yang menguji produk anda. Dengarkan mereka, dan lakukan perbaikan secara bertahap atas saran dan masukan mereka.

Concluding thoughts

Wow, akan sangat sulit bagi saya untuk men-summary semua pandangan visioner Jeff Jarvis di What Would Google Do dalam sebuah blog post. Saran saya, segeralah ke toko buku terdekat dan beli buku ini (saya beli buku ini di Rumah Buku Bandung, sekitar 90ribuan waktu itu. Diskon, ;) ) lalu pahami bagaimana bentuk dunia di masa depan akan terbentuk. Pahami, lalu ambil tindakan. Sebelum anda terlambat.

Hope it helpful ;)